NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Pada Mahluk Legenda

Jatuh Cinta Pada Mahluk Legenda

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:793
Nilai: 5
Nama Author: DeeSCe

Keiko selalu menganggap legenda hanyalah cerita pengantar tidur.

Saat pulang ke desa terpencil tempat neneknya dimakamkan, ibunya memaksa ia membawa sebuah jimat pelindung dan memperingatkannya agar tidak mengucapkan sembarang permohonan selama Festival Dewa Kucing.

Bagi Keiko, semua itu terdengar konyol.

Di tengah festival yang dipenuhi lampion, topeng kucing, dan kisah-kisah tentang Bakeneko, ia hanya tertawa.

"Aku bahkan bersedia menikah dengan Bakeneko kalau memang mereka benar-benar ada."

Ia tak pernah menyangka, candaan itu didengar oleh sesuatu yang telah menunggu selama ratusan tahun.

Sejak hari itu, batas antara mitos dan kenyataan mulai menghilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jimat yang Hilang

Keiko berdiri mematung di tengah jalan yang mulai lengang. Tangannya kembali merogoh setiap saku yukatanya, lalu membuka tas kecil yang sejak tadi dibawanya. Dompet, ponsel, dompet koin, sapu tangan... semuanya masih ada.

Hanya jimat pemberian ibunya yang menghilang.

Ia mengembuskan napas panjang sambil menoleh ke belakang, berusaha mengingat kembali setiap tempat yang sempat disinggahinya malam itu.

"Jangan panik dulu," gumamnya pelan. "Mungkin jatuh di sekitar panggung."

Ia segera berbalik menuju lokasi pertunjukan boneka. Sebagian besar pengunjung sudah mulai pulang. Beberapa pedagang tengah membereskan gerobak, sementara panitia festival menurunkan lampion yang sejak sore menghiasi jalan utama.

Keiko berjalan perlahan sambil sesekali menyorotkan senter ponselnya ke tanah. Setiap benda kecil yang berwarna merah langsung membuatnya berhenti, tetapi ternyata hanya bungkus permen atau potongan kain dari dekorasi festival.

"Permisi," sapanya kepada seorang panitia yang sedang menggulung kabel lampu. "Apa Bapak melihat jimat kecil berwarna merah? Bentuknya seperti kantong kain."

Pria itu menghentikan pekerjaannya sejenak lalu menggeleng. "Maaf. Sejak selesai pertunjukan kami belum menemukan barang seperti itu."

"Kalau ada yang menemukannya, biasanya dibawa ke mana?"tanya gadis ini gelisah

"Ke balai desa. Tapi malam ini sepertinya belum ada laporan barang hilang."

Keiko mengangguk pelan. "Terima kasih."

Ia kembali menyusuri jalan yang tadi dilewatinya. Semakin lama dicari, semakin besar pula keyakinannya bahwa jimat itu benar-benar hilang.

"Padahal Ibu sudah berkali-kali mengingatkanku..."

Ia menghela napas panjang. Bayangan wajah ibunya yang begitu serius siang tadi tiba-tiba terlintas di kepalanya.

"Jangan sampai hilang." Keiko menepuk dahinya pelan "Aku memang keras kepala."

Keiko mengembuskan napas pelan. Ia belum menyerah. Kalau memang jimat itu terjatuh di area festival, kemungkinan besar masih berada di sekitar sini.

Ia kembali menyusuri jalan utama dengan langkah lebih lambat. Kali ini perhatiannya tidak lagi tertuju pada keramaian, melainkan ke setiap sudut jalan yang diterangi lampion. Sesekali ia berhenti, membungkuk, lalu memungut benda kecil yang tampak mencolok di antara bebatuan. Sayangnya, setiap kali diperiksa, benda itu bukan jimat yang dicarinya.

Di depan sebuah kios taiyaki yang baru saja tutup, seorang nenek sedang menyapu halaman.

"Permisi, Nek," sapa Keiko sopan. "Apa Nenek melihat jimat kecil berwarna merah di sekitar sini?"

Perempuan tua itu menghentikan sapunya. Ia memperhatikan wajah Keiko beberapa saat sebelum menggeleng pelan.

"Tidak nak. Tapi kalau itu jimat dari kuil, biasanya tidak mudah hilang."

Bibir Keiko melengkung tipis. "Bukan dari kuil nek, Itu pemberian ibu saya."

Nenek itu mengangguk pelan. "Begitu ya." Keiko lalu membungkuk sebelum ia hendak pamit, "Terimakasih nek, kalau begitu, saya permisi " tetapi nenek itu kembali bersuara.

"Kadang ada benda yang tidak benar-benar hilang Nak."

Keiko menoleh kembali ke wajah nenek tua itu

"Maksud Nenek?"

"Bisa saja... benda itu sedang dibawa oleh orang yang memang ingin kau temui."Sambung wanita tua tersenyum lembut

Keiko terkekeh pelan. "Kalau begitu saya berharap orang itu segera mengembalikannya."

Nenek tersebut hanya membalas dengan senyum yang nyaris tidak terlihat tanpa menjawab lagi.

Keiko kembali berjalan. Semakin jauh ia meninggalkan keramaian, suara festival mulai memudar. Yang tersisa hanyalah desir angin malam dan langkah kakinya sendiri.

Di sebuah persimpangan jalan, ia berhenti sejenak.

Di sana berdiri sebuah kuil kecil yang bahkan belum sempat ia perhatikan sebelumnya. Ukurannya tidak besar, hanya terdiri dari gerbang torii merah, kotak persembahan, dan beberapa papan kayu tempat warga menggantungkan ema berbentuk kepala kucing.

Karena penasaran, Keiko menghampiri.

Sebagian besar papan itu berisi tulisan tangan yang mulai pudar.

"Semoga panen tahun ini berhasil."

"Semoga ayah lekas sembuh."

"Terima kasih karena telah mempertemukanku dengannya lagi."

Keiko tersenyum kecil membaca doa-doa sederhana itu.

"Masih banyak juga yang percaya begini."

Tangannya tanpa sadar menyentuh salah satu ema yang sudah kusam dimakan usia.

Di bagian bawah papan itu tertulis sebuah kalimat yang berbeda dari yang lain.

"Jangan pernah mengingkari janji yang diucapkan pada malam Festival Dewa Kucing."

Keiko mengernyit."Pesan apa an ini,, Serius sekali."

Ia menganggap kalimat itu hanya bagian dari tradisi desa. Tanpa berpikir panjang, ia melanjutkan perjalanan pulang.

Namun baru beberapa langkah berjalan, ada perasaan aneh yang membuatnya menoleh ke belakang. Entah mengapa, ia merasa sedang diperhatikan.

Di bawah cahaya lampion, beberapa orang masih mengenakan topeng kucing. Mereka berdiri berjauhan di sisi jalan tanpa saling berbicara. Tidak ada yang membeli makanan ataupun menikmati pertunjukan yang masih berlangsung di kejauhan.

Mereka hanya... berdiri.

Keiko sempat mengamati salah seorang di antaranya, seorang pria bertopeng putih dengan kimono hitam yang menghadap ke arah jalan. Sikapnya begitu tenang hingga tampak seperti patung.

"Aneh..."

Begitu Keiko berkedip dan menoleh sesaat ke arah lain, pria itu sudah tidak ada.

Ia spontan melihat ke kiri dan kanan.

Jalan itu lurus. Tidak ada gang kecil maupun rumah yang cukup dekat untuk dimasuki dalam hitungan detik.

"Mungkin aku terlalu lelah."

Keiko menggeleng pelan, mencoba mengusir pikiran aneh yang mulai muncul. Ia mempercepat langkah menuju rumah neneknya tanpa menyadari bahwa dari kejauhan, sepasang mata keemasan diam-diam mengikuti setiap langkahnya hingga ia menghilang di balik tikungan.

Ia memilih mengabaikannya dan melanjutkan perjalanan pulang.

Sesampainya di rumah, Keiko langsung merebahkan tubuh di ruang tamu. Rumah tua peninggalan neneknya terasa jauh lebih sunyi dibanding siang tadi. Tanpa suara ibunya, hanya bunyi jam dinding dan desir angin yang menemani malam.

Ia mengambil ponsel, berniat menelepon ibunya, tetapi jarinya berhenti di atas layar.

"Besok saja."

Kalau ibunya tahu jimat itu hilang malam ini, perempuan itu pasti langsung memintanya pulang ke Tokyo.

"Besok pagi aku cari lagi. Pasti ketemu."

Setelah menenangkan diri, Keiko mematikan lampu ruang tamu dan masuk ke kamar.

Di luar rumah, angin pegunungan bertiup lebih kencang daripada sebelumnya.

Di kejauhan, dari arah gunung, terdengar dentang lonceng kuil.

Dung...

Dung...

Dung...

Keiko membuka sebelah matanya, dengan mata yang khas orang bangun tidur ia melirik jam di samping tempat tidur.

Pukul dua belas tepat. "Kuil masih buka selarut ini?"

Tak lama kemudian suara itu menghilang, berganti keheningan yang kembali menyelimuti desa. Keiko menarik selimut hingga menutupi bahunya. "Mungkin memang ada upacara malam."

Dengan pikiran itu, ia akhirnya memejamkan mata.

Ia tidak tahu bahwa pada saat yang sama, di puncak gunung yang diselimuti kabut, pintu gerbang Kuil Dewa Kucing perlahan terbuka dengan sendirinya. Dan di anak tangga batu paling atas... Seseorang sedang memegang jimat merah miliknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!