Karena kepergian Jelita, Amora terpaksa menggantikan posisi sang kakak sebagai pengantin dalam pernikahan yang sejatinya ditujukan untuk Jelita dan Razka.
"Tidak ada pilihan lain. Aku harus menyelamatkan nama baik keluarga Atmojo."
Amora tidak ada pilhan lain selain menikah dengan laki-laki yang seharusnya menjadi suami dari kakaknya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Dwi Febriana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Mencoba Membiasakan Diri
Setibanya di apartemen, Amora mengambil kartu aksesnya lalu menempelkannya pada panel di samping pintu. Bunyi beep singkat terdengar, disusul pintu yang terbuka perlahan.
Ia melangkah masuk sambil membawa beberapa kantong belanja di kedua tangannya. Apartemen itu tampak bersih dan tertata rapi seperti terakhir ia lihat kemarin. Seluruh perabot berada pada tempatnya dengan suasananya yang terasa begitu lengang. Hanya bunyi langkah kakinya sendiri yang terdengar memantul di lantai.
Amora menarik napas perlahan ketika hawa sejuk dari pendingin ruangan menyambutnya. Pandangannya berkeliling, mengamati ruang tamu hingga area pantry. Meski ini bukan hari pertama ia menginjakan di sini, tempat ini masih terasa asing baginya. Keheningan yang memenuhi setiap sudut membuatnya sesekali merindukan rumah keluarga Atmojo yang selalu ramai.
Saat melewati lorong, pandangannya tanpa sengaja tertuju pada pintu kamar Atharazka yang tidak tertutup rapat.
Amora menghentikan langkah sejenak. Dengan sedikit rasa penasaran, ia mengintip ke dalam. Ranjang tampak sudah dirapikan, selimut terlipat rapi di ujung kasur, sementara aroma parfum khas Atharazka masih samar memenuhi ruangan. Namun, pria itu tidak berada di sana.
"Mas Razka pasti sudah berangkat," gumamnya lirih.
Ia menduga suaminya telah pergi bekerja sejak pagi. Pikiran itu membuatnya kembali teringat bahwa pernikahan mereka baru berjalan tiga hari. Sampai sekarang pun ia masih sering merasa canggung menyebut pria itu sebagai suaminya. Pernikahan yang terjadi begitu mendadak, bahkan bukan dirinya yang semestinya duduk di pelaminan, membuat semuanya terasa belum benar-benar nyata.
Meski begitu, Amora menyadari satu hal. Apa pun alasan yang melatarbelakangi pernikahan mereka, kini ia telah resmi menjadi istri Atharazka. Cepat atau lambat, ia harus belajar menyesuaikan diri dengan kehidupan baru yang sedang dijalaninya.
Mengusir pikirannya yang akhirnya malah membuat galau, Amora langsung menuju pantry sambil membawa seluruh kantong belanja. Plastik-plastik itu ia letakkan di atas meja marmer, lalu tanpa membuang waktu membuka pintu kulkas.
Begitu melihat isinya, ia terdiam beberapa saat.
"Eh..."
Rak-rak di dalamnya masih tampak lengang. Beberapa apel dan anggur masih tersimpan di sudut, begitu pula beberapa botol air mineral. Perhatiannya kemudian beralih pada wadah-wadah makanan yang kemarin ia bawa dari rumah.
Rendang, Tuna pedas, Ayam woku, Sambal teri, ada sesuatu yang berbeda.
Amora mengambil salah satu wadah rendang, lalu memperhatikannya lebih saksama. Isinya tidak lagi penuh seperti sebelumnya. Hal yang sama juga terjadi pada tuna pedas yang jumlahnya berkurang cukup banyak. Sementara ayam woku dan sambal teri masih hampir utuh.
Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum kecil.
"Berarti Mas Razka makan masakan yang kubawa."
Entah mengapa, perasaan hangat perlahan memenuhi dadanya. Ia sempat mengira pria itu akan membiarkan semua lauk tersebut tersimpan begitu saja sampai akhirnya basi. Ternyata dugaannya keliru.
"Kirain enggak bakal disentuh sama sekali," bisiknya pelan sambil menutup kembali wadah makanan itu.
Perasaan yang semula terasa hampa kini sedikit berubah. Setidaknya, ada hal kecil yang membuatnya merasa kehadirannya di apartemen itu tidak sepenuhnya diabaikan.
Amora kemudian mulai merapikan seluruh bahan makanan hasil belanjanya. Sayuran hijau seperti bayam, kangkung, dan buncis ia susun di laci khusus sayur. Wortel, brokoli, kentang, dan tomat ia letakkan di rak berikutnya agar mudah dijangkau.
Untuk bahan yang harus disimpan lebih lama, seperti dada ayam dan salmon, ia memasukkannya ke dalam freezer setelah memastikan kemasannya tertutup rapat.
Tidak lupa, beras disimpan di dalam wadah penyimpanan, sementara berbagai bumbu dapur, mulai dari minyak goreng, garam, gula, lada, kecap manis hingga saus tiram, ditata rapi di rak dekat kompor.
"Nah, sekarang kan udah penuh, " gumam Amora sambil memandangi kulkas yang kini jauh lebih penuh dibanding sebelumnya.
Sesekali ia memperhatikan dapur bergaya modern itu. Kabinet putih berpadu dengan meja marmer memberikan kesan elegan, tetapi suasananya tetap terasa sunyi karena hanya dirinya seorang yang berada di sana.
Belanjaan terakhir yang ia keluarkan adalah roti gandum, susu rendah lemak, dan sebungkus kopi hitam bubuk. Saat hendak menyimpannya, matanya kembali tertuju pada kemasan kopi tersebut.
"Kalau Mas Razka memang biasa minum kopi setiap pagi, mungkin besok aku bisa coba bikinin," ucapnya pelan sambil tersenyum sendiri.
Tidak ada seorang pun yang mendengar kalimat itu. Hanya dirinya dan keheningan apartemen.
Setelah semua selesai dibereskan, Amora mengamati pantry dan kulkas yang kini tampak lebih rapi serta penuh dengan berbagai bahan makanan.
Ia mengembuskan napas panjang, lalu menyandarkan tubuhnya sebentar pada meja pantry.
"Kamu harus bisa menjalani semua ini, Amora," bisiknya pelan kepada dirinya sendiri. "Sekarang ini rumahmu juga ada di sini. Jadi, mau enggak mau, kamu harus mulai beradaptasi."
Senyum kecil kembali menghiasi wajahnya, meski masih menyimpan sedikit rasa canggung. Perlahan ia mencoba menerima kenyataan bahwa apartemen yang sebelumnya terasa asing itu kini menjadi tempat ia memulai kehidupan barunya bersama Atharazka, meskipun hubungan mereka masih dipenuhi batas yang belum mampu dihapus oleh waktu.
.
Setelah seluruh bahan makanan selesai ditata rapi di dalam kulkas dan lemari dapur, Amora mengembuskan napas lega. Dapur yang semula tampak kosong kini terlihat lebih berwarna dengan deretan bumbu masak dan berbagai bahan makanan yang tersusun rapi. Meski begitu, suasana apartemen tetap terasa sunyi. Kesunyian itu seakan memenuhi setiap sudut ruangan hingga langkah kakinya pun terdengar jelas.
Amora mengedarkan pandangan ke ruang tengah. Semuanya tampak begitu bersih dan tertata. Sofa berada pada tempatnya, meja tanpa noda, bahkan tidak ada barang yang perlu dirapikan lagi.
"Aku enaknya ngapain sekarang, ya?" gumamnya pelan sambil melangkah menuju kamar.
Sesampainya di dalam kamar, ia meletakkan tas tangannya di atas meja rias. Setelah itu, ia membuka lemari pakaian dan mengambil setelan rumahan berupa kaus berwarna abu-abu muda serta celana pendek berbahan katun yang nyaman dikenakan. Beberapa menit kemudian, usai berganti pakaian, ia merapikan rambut panjangnya yang terurai sebelum berdiri menatap bayangan dirinya di depan cermin.
"Hari ini juga cuma di apartemen. Enggak perlu dandan atau pakai baju yang terlalu rapi," bisiknya sambil tersenyum tipis.
Ia lalu keluar dari kamar dan berjalan santai menyusuri apartemen. Semakin lama berada di sana, semakin ia menyadari betapa berbeda suasana tempat itu dibanding rumah keluarga Atmojo. Tidak terdengar suara orang mengobrol, tidak ada aroma masakan dari bibi atau mama.
Tatapannya berkeliling ke seluruh ruang utama. Interior apartemen itu memang modern dan elegan. Sofa abu-abu tersusun rapi menghadap televisi berukuran besar, meja marmer tampak mengilap, sementara jendela kaca yang membentang dari lantai hingga langit-langit memperlihatkan pemandangan kota yang sibuk di kejauhan. Namun di balik kemewahan itu, ada kesan dingin yang sulit dijelaskan.
Amora akhirnya menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Ia mengambil sebuah bantal kecil lalu memeluknya sebelum meraih remote televisi.
"Enggak ada yang perlu diberesin lagi. Apartemen ini terlalu rapi," gumamnya lirih.
Ia menyalakan televisi hanya untuk mengusir keheningan. Suara penyiar berita segera memenuhi ruangan, tetapi perhatiannya tidak benar-benar tertuju ke layar. Jemarinya terus menekan tombol remote, berpindah dari satu saluran ke saluran lain. Berita, acara kuliner, film, hingga drama televisi silih berganti muncul, tetapi tak satu pun berhasil menarik minatnya.
Dengan kedua kaki ditekuk di atas sofa, Amora memeluk bantal itu semakin erat. Pandangannya mengarah ke televisi, tetapi pikirannya justru mengembara ke mana-mana.
Sesekali ia teringat rumah orang tuanya yang selalu ramai, kemudian teringat Jelita yang kini mulai berusaha memperbaiki semuanya. Tidak lama kemudian, bayangan Atharazka kembali muncul di benaknya.
Apa yang sedang Atharazka lakukan? Mungkin pria itu sedang sibuk bekerja di kantor. Yang jelas pasti Atharazka disibukkan dengan berbagai urusan perusahaan. Amora sama sekali tidak tahu.
crt2 yg lain nya aku msh nunggu kelanjutan nya lho... 🥰🥰🥰