NovelToon NovelToon
Terlempar Ke Dunia Kecil

Terlempar Ke Dunia Kecil

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:908
Nilai: 5
Nama Author: Zhu Ge Liang

Xue Yao, murid pertama Sekte Yiyuan, kehilangan segalanya ketika Raja Iblis menghancurkan sektenya. Sebagai satu-satunya yang selamat, ia melarikan diri membawa pusaka sekte, Cincin Zhutian, demi membalas dendam.

Namun saat dikepung musuh, ia menghancurkan kultivasi dan memecah kesadarannya sendiri. Takdir justru membuat seluruh serpihan kesadarannya terserap ke dalam Cincin Zhutian dan tersebar ke berbagai dunia. Setelah hampir seratus tahun tertidur, Xue Yao terbangun dan mendapati setiap serpihan hidup dalam penderitaan akibat keterikatan batin yang dapat melahirkan iblis hati.

Kini, dengan kekuatan Cincin Zhutian, ia harus kembali ke setiap dunia untuk menyelamatkan, mengumpulkan, dan menyatukan kembali seluruh serpihan jiwanya. Namun, mampukah Xue Yao mengembalikan dirinya yang utuh... atau justru kehilangan segalanya untuk kedua kalinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhu Ge Liang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Takdir yang Tertukar¹⁴

    Lin Zhi Du menyewa sebuah apartemen untuk Lin Ling, lalu duduk berhadapan dengannya dan membicarakan sebuah 'urusan besar'.

    "Aku tahu kamu memandang rendah aku, merasa aku tidak berguna dan tidak bisa dibandingkan dengan dengan ayahmu yang kaya raya itu. Namun nak, kamu juga harus sadar. Kamu bukan darah daging keluarga Xue. Sekarang mereka sudah menemukan kembali putri kandung mereka. Lihat saja kemegahan pesta ulang tahun itu. Jika tidak bisa lagi menjadi putri mereka, lebih baik ganti jalur. Jadilah menantu keluarga mereka."

    Lin Ling terikat tangan dan kakinya, matanya penuh kebencian.

    "Kamu bermimpi apa? Menantu keluarga Xue haruslah nona dari keluarga yang setara. Kalau kamu sedikit saja berguna, mungkin aku masih bisa berusaha. Sekarang? Angan-angan disiang bolong!"

    Lin Ling telah menangis dan memohon, tetapi segera menyadari bahwa ayah kandung yang belum pernah ia temui ini bukanlah orang yang tahu belas kasih. Maka, ia segera menahan air matanya.

    Sejak kecil ia tahu, air mata hanya berguna pada orang-orang tertentu. Jelas, Lin Zhi Du bukan salah satunya.

    "Omong kosong nona bangsawan. Kalau Tuan Muda Xue menyukaimu, apa gunanya status itu? Kalau perlu, kalian buat saja nasi sudah menjadi bubur, hamilkan dirimu. Orang tuanya memang bisa melarang? Kalaupun seratus langkah mundur, setelah anak lahir mereka tetap tak mengizinkanmu masuk rumah, kita masih bisa menuntut sejumlah besar uang. Masa depan kita pun terjamin."

    Lin Zhi Du sama sekali tidak peduli pada dampak kata-katanya terhadap Lin Ling. Bahkan, ia berharap bisa segera menyerahkan Lin Ling ke ranjang Xue Mo. Selama ada uang, ia tak peduli apa yang akan terjadi pada Lin Ling.

    "Kamu gila? Aku ini anak kandungmu! Kamu mau cari uang dengan menjual anak perempuanmu sendiri?"

    Sindirannya entah menyentuh amarah Lin Zhi Du dimana. Ia bangkit dan menendang perut bawah Lin Ling dengan keras.

    Sepuluh menit berikutnya adalah sepuluh menit terpanjang dalam ingatan Lin Ling. Ia ditendang di lantai seperti sampah. Barangkali karena masih menganggap wajahnya 'berguna', pukulan tidak diarahkan ke wajah.

    Akhirnya, pemukulan mengerikan itu berhenti. Lin Zhi Du meludah.

    "Berhenti bergaya nona bangsawan di depanku. Putri kandung keluarga Xue pun pernah kupukul, apalagi kamu yang sekarang cuma putri palsu. Jangan coba kabur. Aku ayah yang tertera di kartu keluargamu. Kemanapun kamu lari, aku akan menemukannya."

    Selesai berkata demikian, ia mengunci pintu dari luar dan pergi makan.

    Lin Ling meringkuk disana, menangis dalam diam.

    Mengapa Xue Yao harus kembali? Bukankah akan baik-baik saja jika Xue Yao tetap menjadi Lin Yao, dan dirinya tetap menjadi Xue Ling? Mengapa harus membuatnya merasakan pemandangan dari awan, lalu menjatuhkannya ke lumpur?

    Ia begitu membenci semuanya.

    Di bawah siksaan Lin Zhi Du, Lin Ling akhirnya menunduk, setidaknya dipermukaan. Ia mengirim pesan kepada Xue Mo, tetapi tak pernah mendapat balasan. Menelepon pun tak diangkat.

    Hal itu membuat Lin Zhi Du semakin mudah tersulut, dan Lin Ling kian cemas.

    Ia menghubungi teman-teman yang dikenalnya ketika masih bernama Xue Ling, namun mendapati dirinya telah diblokir. Sesekali ada yang masih berbaik hati tidak memblokir, tetapi hanya menasihatinya agar tidak lagi mendekati keluarga Xue.

    Akhirnya, tak ada pilihan lain. Ia menelepon Kediaman Shanse.

    Namun yang mengangkat bukan kepala pelayan, melainkan Xue Yao.

    "Aku tahu siapa yang ingin kamu cari. Lin Ling, kakak akan segera bertunangan. Jangan lagi mengganggunya. Panggilan ini akan kuanggap tidak terjadi. Jika tidak, bila ibu mengetahuinya, kamu harus berhati-hati."

    Apa?

    Bagaimana mungkin kakak Mo bertunangan?

    Wajah Lin Ling seketika pucat.

    "Xue Yao, jangan bohongi aku. Kakak adalah Tuan Muda keluarga Xue. Mana mungkin pertunangannya secepat ini? Aku tidak akan percaya!"

    Belum berapa lama sejak pesta ulang tahun. Keluarga seperti Xue tentu akan menyeleksi dengan cermat dan mempertimbangkan matang-matang. Mana mungkin tergesa-gesa?

    Ia berusaha tetap tenang, tak ingin menjadi bahan tertawaan Xue Yao.

    Namu dari seberang telepon, hanya terdengar tawa pelan Xue Yao.

    "Memang tak seharusnya tergesa-gesa. Tapi siapa suruh kamu dan kakak memiliki perasaan yang tidak semestinya. Demi kebaikan kakak, ibu tentu harus bertindak cepat menetapkan tunangannya. Lalu segera menikah dan memiliki keturunan, agar ia berjalan dijalur yang seharusnya, bukan terjerumus ke dalam skandal denganmu di masa depan."

    Xue Yao tidak menganggap cinta Lin Ling dan Xue Mo sebagai kesalahan. Mereka tidak sedarah. Pria belum menikah, perempuan belum bersuami saling menyukai adalah hal wajar.

    Namun, waktunya salah.

    Dan terlebih lagi, cinta itu tak seharusnya melukai Xue Yao yang dahulu.

    Lin Ling baru saja melepaskan marga Xue, tetapi berupaya kembali merebut kemewahan keluarga Xue. Xue Mo bahkan kehilangan akal demi 'adik' ini dan berkali-kali dimarahi kakek.

    Baik ayah dan ibu Xue, baik secara etika maupun psikologis, itu tak dapat diterima.

    Namun keduanya seolah tak pernah memikirkan semua itu.

    "Jika kamu tidak percaya, tak lama lagi kamu akan melihat kabar pertunangan itu dimuat di surat kabar."

    Usai berkata demikian, Xue Yao menutup telepon.

    Beberapa waktu ini, ia telah menyaksikan drama keluarga Xue dengan puas. Jimat bayangan yang melekat pada Xue Mo membuatnya tanpa sengaja melihat hal-hal yang seharusnya tak ia lihat.

    Maka, setelah Xue Mo kembali mogok makan pada suatu hari, Xue Yao dengan 'niat baik' mengusulkan kepada ibunya, "Ibu, bagaimana kalau menjenguk kakak? Terus tidak makan dan hanya bergantung pada infus bukanlah solusi. Lebih baik ibu menasihatinya dengan baik."

    Ia bahkan tersenyum penuh pengertian.

    "Mungkin kakak tidak ingin melihatku. Aku tidak akan naik."

    Sikap Xue Yao yang jarang melunak, ditambah sarannya yang masuk akal, membuat sang ibu mengangguk. Belakangan ini, ia memang gelisah memikirkan putranya. Maka ia pun menuju kamar Xue Mo di lantai dua.

    Di depan kamar, ia semula hendak mengetuk. Namun teringat bahwa Xue Mo sedang bersitegang dengannya, ia memberi isyarat kepada kepala pelayan untuk membuka dengan kunci.

    Pemandangan di dalam membuatnya hampir pingsan.

    Xue Mo memanggil nama Lin Ling sambil melakukan perbuatan yang tak pantas dilihat.

    Sang ibu bertindak cepat, masuk dan menutup pintu rapat-rapat, menghalangi pandangan dari luar.

    Xue Mo pun terkejut setengah mati, segera menarik selimut untuk menutupi diri.

    Amarah membuncah ke kepala sang ibu. Ia melangkah cepat dan melayangkan beberapa tamparan keras ke wajah Xue Mo.

    "Pantas saja kamu hilang akal, mati-matian membela perempuan hina itu. Ternyata begini! Baik, sangat baik!"

    Dari 'Lin Ling tersayang' menjadi 'Perempuan hina', hanya perlu sekejap.

    Sang ibu menatap Xue Mo dengan amarah yang belum pernah ada sebelumnya.

    "Aku katakan padamu, Xue Mo. Selama aku masih hidup, aku tidak akan mengizinkan ini. Kejadian hari ini kuanggap tidak pernah terjadi. Mulai sekarang, kamu dilarang bertemu dengannya lagi."

    "Ibu, dia kan bukan adik kandungku. Mengapa kita—"

    Tak ingin mendengar bantahan yang hanya memanaskan hati, sang ibu memotongnya tegas.

    "Jika kamu berani menemuinya lagi, aku akan membuatnya benar-benar menghilang dari dunia ini."

    "Xue Mo, kamu tahu aku tidak hanya bicara."

    Mengingat latar belakang keluarga kakek dari pihak ibunya, darah Xue Mo seakan membeku. Ia tahu, ibunya sanggup melakukannya.

    Saat ini, ia tak mampu melawan kakek dan juga tak mampu melawan ibunya.

    Setelah lama terdiam, dengan suara serak ia berkata, "Aku mengerti."

1
xuer jinghao
kak lanjut semangat terus 😍💪💪
xuer jinghao
lanjut
xuer jinghao
lanjut 🤭
xuer jinghao
lanjut💪
xuer jinghao
lanjut wuy💪😍
xuer jinghao
lanjut 💪
anyelin stephania
mantap😍😍😍😍😍😍 seru ceritanya
xuer jinghao
lanjut 💪🥰🥰
xuer jinghao
lanjut 😍
xuer jinghao
lanjut 💪
xuer jinghao
lanjut terus 💪
xuer jinghao
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!