Kaoru menghabiskan malam panas dengan CEO Organisasi tempat Sang Kakak menjualnya. Tanpa diduga peristiwa di malam tersebut memberikan Kaoru anak kembar yang sangat genius.
Sakaki Akira, CEO dingin dengan tatapan mata rajawali. Pria tampan yang menguasai alam semesta, menundukkan siapa saja yang berani menatapnya, menyibak habis semua status dan menjadikan mereka rakyat jelata.
Terjadi kesalahpahaman tentang peristiwa 8 tahun lalu diantara Si Kembar dan Sang Ayah...
Si kembar akan membalas dendam Kaoru. Hancurkan Organisasi Sakaki Akira, beri hukuman terberat pada Sang Kakak yang berani menjual ibu mereka.
Perang yang sebenarnya menanti, kita hidup dalam different world, tak ada yang tak mungkin dalam dunia Paralel. Petualangan balas dendam Twins menjadi kunci penghubung antar dunia.
Dimulailah perjalanan mereka melakukan pembalasan dan mencari kebenaran...
Novel ini adalah karya pertama dan masih dalam tahap pengembangan.
Genre: Action, Adventure, Comedy, Drama, Fantasy, Romance, School, Slice of Life, Thriller, Supernatural, Super power.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nagi Sanzenin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Kedatangan Sang Ayah
Tin! Tin! Klakson mobil kembali berbunyi...
"Itu mobil papa brengsek, dia datang lagi!" Rin berbisik di telinga Rei dengan panik.
"Apa? Dari mana kau tahu?" Rei balas berbisik dengan heran.
"Dia datang ke sini saat kau pergi dengan Nico! Ayo halangi dia! Cepat!" Rin menarik tangan Rei, mereka pergi ke pintu depan.
"Ada siapa Rei?" Kaoru bertanya dari ruang makan, baru saja mereka akan makan malam dan ada yang menggangu.
"Teman ma, sepertinya ada sesuatu yang penting jadi dia datang malam-malam, aku pergi ke sana dulu." Rei membuka pintu dan Rin mengikuti.
"Malam Rei, Rin." Sapa Presdir Akira ketika turun dari mobilnya. Seperti biasa, dengan suara datar dan terkesan kaku.
"Bukan malam! Ada keperluan apa datang ke rumah kami? Mau membunuh?" Rei mengecilkan volume suaranya sampai hanya bisa di dengar oleh mereka saja.
"Jahatnya, kau memberikan tantangan satu bulan dan sudah tiga hari berlalu sejak saat itu... Apakah segitu lamanya untuk sebuah bukit? Tak ada yang harus ditunda lagi." Presdir Akira menjawab dengan kalem.
"Sepertinya Rin belum memberitahu tentang surat tes DNA yang kuberikan tadi pagi... Aku mungkin sudah ingat semuanya, biarkan aku bertemu ibumu untuk menjelaskan." Lanjut Presdir Akira.
"Saat ini tidak tepat! Mama membencimu! Bisa-bisa mama pergi meninggalkan rumah ini kalau melihatmu..." Rin juga mengecilkan volume suaranya.
"Tidak akan, dia tak bisa lari dariku. Biarkan kami bicara dan semua akan jelas." Presdir Akira tetap bertahan pada pendapat pertamanya, keras kepala.
"Tidak! Pulanglah, coba lakukan pendekatan sebelum bertemu langsung." Rin mendorong Presdir Akira masuk kembali ke dalam mobil.
"Aku tak punya waktu untuk bolak-balik ke rumah kalian. Pulang pergi kesini makan waktu 1 jam." Presdir Akira menangkap tangan Rin yang mendorongnya.
"Pokoknya pulang! Kalau mama akan membunuhmu kalau tidak pulang!" Rei mengarang apa saja cerita agar Presdir Akira tidak bertemu Kaoru, dia ikut mendorong Presdir Akira.
"Benarkah? Aku mau lihat dia bisa atau tidak." Jawab Presdir Akira dengan datar.
"Sana pulang! Pulang!" Rei dan Rin mendorong Presdir Akira bersama-sama.
"Karena sudah di sini, langsung saja." Presdir Akira memegang tangan anak kembarnya dan menariknya ikut ke arah rumah Kaoru.
"Tunggu! Berhenti! Kubilang berhenti!" Rei berusaha menahan tapi kalah tenaga.
"Rei, Rin... Lama sekali di luar, kepentingan apa sampai malam-malam begini?" Kaoru berjalan ke arah pintu dan membuka pintunya.
"Hanya ada satu cara! Rin lakukan!" Rei memerintah dengan panik, "Satu... Dua... Tiga!"
Bruk! Rei dan Rin melakukan gerakan bersama, membanting ayahnya kembali ke dalam mobil, "Shh... Hei... Hei!" Presdir Akira mengerutkan alis.
BUMM!
Rei melempar bom asap sulap, asap itu menyelimuti seluruh halaman tepat sebelum Kaoru membuka pintu, "Rei? Rin? Apa-apaan asap ini?" Kaoru bertanya dengan cemas.
Brak!
Rin menutup dengan cepat pintu belakang tempat dia membanting ayahnya dan naik ke kursi pengemudi.
Brumm! Rin langsung tancap gas meninggalkan halaman rumah.
"Luar biasa, rupanya bisa mengemudi mobil... Akan kupikirkan hukuman karena membanting ayahmu, dan seorang penguasa dunia..." Kata Presdir Akira sambil membetulkan posisi duduknya di kursi belakang.
"Terserah! Rei lebih parah lagi, dia akan mengikatmu di belakang mobil lalu menyeretmu sepanjang jalan. Salah sendiri juga tidak membawa pengawal untuk melindungi, penguasa dunia apaan?" Rin membelokkan mobil kekiri di persimpangan jalan, "Akan kuantar kau pulang." Lanjutnya pada Presdir Akira.
"Kau tahu dimana rumahku?" Presdir Akira bertanya.
"Jangan meremehkan aku, sudah ku-pasang alat pemancar dalam gedung putih itu waktu kau berdebat dengan Rei. Sinyalnya terhubung dengan jepit rambut setengah bintang ini. Dan tadi sudah aku sambungkan pada GPS mobil."
Rin menjawab sambil mengemudikan mobilnya masuk kejalan tol... Apa tidak ada polisi? Atau tak berani menilang karena ini mobil CEO Organisasi?
"Kau sangat jenius, bagaimana kalau ku-pekerjakan kalian didalam Organisasi rahasia?" Presdir Akira bersandar di kursi mobil.
"Tak perlu mengantar, tanganku tidak patah, aku bisa mengemudikan mobil sendiri untuk pulang." Presdir Akira menyisir rambutnya dengan jari, "Berhentikan saja diparkiran mini dekat sini."
"Terus papa suruh aku pulang jalan kaki? Akan kuantar lalu mobilnya menjadi milikku." Rin berguyon sambil terus menaikkan kecepatan mobilnya.
"Mau mobil? Kubelikan 10 buah untukmu. Kita sekarang di kota Himegami, kota ini milikku seluruhnya. Kau berhenti dan bajak mobil pakai namaku pasti langsung di beri dengan sukarela." Presdir Akira masih menyisir rambutnya dengan jari, membuang waktuku saja... Aku sangat sibuk.
"Ya sudah, papa saja yang bajak. Karena ini kota papa pasti langsung diberi, sukarela." Rin mengulang kalimat Presdir Akira, sekarang dia membelokkan mobil ke arah kanan.
"Benar-benar keras kepala." Presdir Akira mengerutkan alisnya, persis seperti aku...
Sementara itu disaat yang bersamaan, di rumah Kaoru...
"Mana Rin?" Tanya Kaoru pada Rei yang berdiri sendirian di halaman, asap bom sulap sudah menghilang.
"Rin di ajak pergi ke rumah teman kami untuk percobaan kimia... Tadi bahan kimianya tumpah dan bercampur, makanya meledak dan keluar asap... Rin titip salam sama mama, dia bilang akan pulang satu-dua jam lagi." Rei mengarang alasan sambil menepis debu bom sulap di bajunya.
"Ohh begitu, ya sudah terserah Rin saja. Ayo Rei masuk dan makan malam." Kaoru percaya saja dengan apa yang dikatakan Rei, dia sangat mudah dibohongi. Kaoru dan Rei kembali masuk ke dalam rumah, mereka makan malam berdua saja.
Rei segera naik ke kamar Rin setelah makan. Dia menghubungi earphone berbentuk setengah bintang Rin menggunakan laptop di kamar Rin.
Pip! Pip! Pip!
"Halo Rei?" Terdengar suara Rin dari laptop, segera menjawab setelah bunyi dering ke dua.
"Halo Rin, dimana kau sekarang? Jangan bilang kamu mengantar orang itu atau di sandera orang itu." Terdengar pula suara Rei dari earphone berbentuk setengah bintang milik Rin.
"Bukan di sandera lagi, tapi sudah di bunuh." Presdir Akira menyambung percakapan Rei dan Rin.
"Brengsek! Rin, cepat balik, suruh dia kemudi sendiri!" Rei mencari lokasi Rin menggunakan laptop, "Ahh! Kau sekarang ada di kota Himegami! Itu sudah jauh dari sini! Cepat balik, tinggalkan dia di tengah jalan!"
"Sudahlah, cepat berhenti. Berhenti disini, akan kupanggilkan taksi untuk mengantarmu pulang." Ujar Presdir Akira sambil menghela nafas.
Rin memarkirkan mobilnya diparkiran minimarket. Presdir Akira melempar segulung uang sejuta ke arah Rin, "Pakai itu untuk bayar taksi" Lalu Presdir Akira pergi meninggalkan Rin di parkiran minimarket.
"Kunjungan berikutnya kalian tak akan bisa menghentikan aku lagi." Pesan Presdir Akira sebelum meninggalkan Rin.
Taksi pun sampai beberapa menit kemudian. Rin naik kedalam taksi itu.
"Hei Rin, aku bilang pada mama kau pergi belajar kimia di rumah teman." Suara Rei terdengar dari earphone berbentuk setengah bintang Rin saat berada didalam taksi.
"Oke, akan kusesuaikan ceritanya dengan alasanmu." Rin menjawab sambil berpangku tangan.
30 menit kemudian Rin sampai di halaman rumah. Dia membayar ongkos taksi dan masuk ke dalam rumah... Apa tidak terlalu berlebihan? Dia menghabiskan sejuta untuk ongkos taksi yang hanya 100 ribu saja.
"Aku pulang." Rin mengucapkan salam sambil melepas sepatu.
"Rin sudah pulang, bagaimana belajarnya?" Tanya Kaoru yang datang dari ruang keluarga.
"Sangat hebat, bahan-bahannya meledak semua... Jadi pesta percikan bunga api." Bohong Rin, "Aku sudah makan ma, sekarang mau pergi tidur saja."
"Baiklah, selamat tidur." Kaoru melambai pada Rin yang naik kelantai 2.
"Kau lama!" Rei sudah menunggu di kamar Rin, "Tidak luka? Tidak apapun?" Tanya Rei sambil memperhatikan dengan seksama.
"Begitulah, tak terjadi apapun." Jawab Rin dengan gaya kalem Presdir Akira.
"Sekarang aku mau tidur saja, keluar kau." Rin mengusir Rei keluar dari kamarnya.
Keesokkan harinya, datang paket sebuah mobil dan setumpuk uang dalam map coklat ke rumah Rei dan Rin...
"Hebat, beneran dikasih mobil yang kemarin." Rin memegang mobil yang kemarin dia kemudikan. Mobil itu merek Yukikun, merek paling terkenal di seluruh dunia pada saat itu.
Mobil itu bewarna hitam, dilengkapi satu set GPS, ABS, dan semi-otonom yaitu cruise control yang adaptif. Sistem pemantauan jalur mengemudi, blind spot serta pengereman otomatis yang meningkatkan fungsi kemudi otomatis dan pemindaian dari teknologi terbaru. mampu mengambil-alih kemudi dari pengendara jika terjadi situasi bahaya untuk menghindari tabrakan.
Ada pula Televisi, sistem hiburan yang mengakomodasi perangkat media streaming Singbox sehingga penumpang bisa mengakses saluran televisi secara streaming saat berada dalam perjalanan.
Dilengkapi juga Audio berkualitas tinggi yang mampu memperbaiki file digital yang telah tereduksi menjadi utuh, sehingga suara yang di hasilkan lebih jernih, tajam, luas, dan dinamis. Mobil itu juga bisa menemukan tempat parkir jika diminta pengemudi.
"Mobil yang sangat sempurna..." Rin berputar-putar di sekeliling mobil itu.
"Uang dan mobil ini dari siapa? Tidak ditulis nama pengirimnya..." Kaoru membalik amplop coklat berisi uang itu, sedikit mengerutkan alis.
"Mungkin dari FBI ma? Kan mereka biasa memberikan barang mewah." Rei menatap datar mobil yang diberikan ayahnya itu, jelas aku tahu ini dari siapa.
Setelah kejutan uang dan mobil mewah, Kaoru menyiapkan sarapan pagi untuk Rei dan Rin.
Setelah sarapan, Rei dan Rin pergi ke sekolah. Seperti biasa, Nico sudah menunggu kedatangan Rei dan Rin di depan gerbang sekolah... Apa lagi sekarang?
"Met pagi! Rei! Rin!" Sapa Nico saat melihat Rei dan Rin.
"Pagi..." Jawab Rei dan Rin bersamaan, "Ada perlu apa?" Tanya Rin memulai perbincangan.
"Ulang tahunku tiga minggu lagi! Datanglah ke pesta ulang tahunku yah! Bawa kado yah!" Nico mengangkat kedua tangannya dengan riang.
Hari ini hari Senin, seragam yang dipakai siswa adalah kemeja putih dengan dasi dan rompi hitam, semua sama baik perempuan maupun laki-laki.
"Ohh baiklah, kami akan datang." Jawab Rin singkat.
"Ohh... Mungkin aku tidak." Rei memalingkan wajahnya dari Nico.
"Ehh?! Rei harus datang! Kau harus datang ke pesta ulang tahunku! Akan kulakukan apa saja!" Nico memohon pada Rei.
"Hoo... Baiklah, apa saja kan?" Rei sedikit tertarik, dia memasang tatapan merendahkan.
"Ya! Apa saja!" Nico menjawab dengan sangat yakin.
"Baiklah... Aku akan datang pada hari ulang tahunmu 3 minggu lagi." Rei kembali memalingkan wajahnya, semua dilakukan karena terpaksa, aku sudah trauma di biarkan berdua saja denganmu.
"Hore! Rei dan Rin harus datang yah! Dadah!" Nico berlari masuk kedalam sekolah meninggalkan Rei dan Rin.
To be continued...
Gubrak!