WARNING!! HANYA UNTUK DEWASA!!
Cecilia tidak menyangka, baru saja pindah jiwa ke tubuh wanita lain malah terjebak jadi simpanan Tuan Douglas yang dingin.
Cecilia pun berpikir untuk bisa kabur dari jeratan Tuan Douglas, semakin Cecilia menjauh maka semakin kuat juga Tuan Douglas ingin memilikinya.
"Kau hanya milikku sayang, sampai kapanpun akan tetap menjadi milik ku!" Douglas
"Enak saja! Lebih baik aku mati saja daripada jadi simpanan!" Cecilia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nyaman Dalam Dekapan Douglas (Revisi)
Setelah mengeringkan rambut Douglas dengan handuk, pria itu langsung melangkah keluar kamar tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Hingga waktu makan malam tiba, batang hidung Douglas tak kunjung nampak. Dorothy, sang pelayan setia, datang mengantarkan nampan berisi hidangan malam ke kamar.
Cecilia yang melihat nampan itu ditaruh di atas meja hanya bisa menghela napas lega. Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia justru bersyukur.
"Syukurlah kalau dia pergi dan kalau bisa nggak pulang sekalian. Rumah ini bakal jauh lebih damai tanpa aura es batunya," gumam Cecilia pelan seraya memandang nampan makanan tersebut.
Karena merasa energi terkuras habis dan emosinya terlalu banyak keluar sejak kedatangan Douglas hari ini, tubuhnya mendadak terasa sangat lelah. Cecilia akhirnya memutuskan untuk mengabaikan makan malam dan memilih tidur. Lagi pula, ranjang milik Douglas ini kelewat empuk dan nyaman, membuatnya cepat mengantuk. Tidak butuh waktu lama bagi Cecilia untuk jatuh ke dalam tidur yang pulas.
Beberapa jam kemudian...
Cecilia mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia merasa ada sesuatu yang janggal. Sentuhan-sentuhan aneh, asing, dan terasa hangat mulai merayapi permukaan kulit tubuhnya. Rasa mengantuk yang tadinya mendominasi perlahan-lahan buyar, digantikan oleh gelombang kepanikan yang mendadak melonjak.
Dengan jantung yang berdegup kencang, Cecilia perlahan membuka matanya.
Betapa terkejutnya ia saat mendapati wajah Douglas berada tepat di dekat lehernya. Pria itu tengah sibuk mengecupi kulit lehernya berulang kali dengan gerakan yang lambat namun menuntut.
"Ehh?! Apa-apaan ini?!" teriak Cecilia histeris. Tanpa pikir panjang, ia mengerahkan seluruh tenaganya untuk mendorong dada bidang Douglas.
"Douglas! Lepasin! Kamu ngapain, hah?!"
Dorongan itu membuat kepala Douglas sedikit terangkat. Pria itu menatap Cecilia dengan tatapan tajam yang mampu membekukan darah siapa pun yang melihatnya. Sebaliknya, Cecilia membalas tatapan itu dengan mata melotot penuh kemarahan. Napasnya memburu tidak beraturan.
"Jangan menatapku seperti itu," ucap Douglas dengan suara baritonnya yang dingin dan berat, nyaris seperti berbisik di kegelapan malam.
"Aku sedang melakukan tugasku."
"Tugas kepala bapakmu! Kamu nggak punya hak buat nyosor-nyosor kayak tadi tanpa izin!" tukas Cecilia, sifat cerewetnya langsung keluar tanpa bisa dicegah saat emosinya tersulut.
"Aku nggak suka seperti ini Douglas!"
Douglas mengerutkan keningnya. Alis tebal pria itu menukik tajam, menunjukkan ketidaksukaan yang amat sangat karena kegiatannya dihentikan secara sepihak oleh wanita di bawah kurungannya.
"Kamu berisik sekali, Cecilia," desis Douglas dingin, auranya yang mendominasi seketika melingkupi seluruh penjuru kamar, membuat ruangan terasa sesak.
"Dan menghentikanku adalah sebuah kesalahan besar."
Cecilia seketika bergidik ngeri. Aura intimidasi yang dipancarkan Douglas benar-benar nyata, membuat nyalinya yang tadinya sebesar gunung mendadak menciut jadi sebesar biji kedelai. Tatapan tajam pria itu seolah menguliti pertahanannya hidup-hidup.
Melihat Cecilia yang mulai ciut dan terdiam ketakutan, Douglas kembali merapatkan tubuhnya, menarik pinggang wanita itu agar tidak bisa kabur, lalu mendekapnya erat-erat.
"Bi... biarkan aku lepas..." cicit Cecilia gugup, protesnya melemah drastis karena takut melihat mata biru Douglas yang menatapnya tajam.
"Diam dan jangan banyak bergerak," perintah Douglas dengan nada mutlak yang tidak bisa dibantah.
Meskipun sudah dipeluk, tangan besar Douglas tidak bisa diam. Jari-jari pria itu mulai bergerak ke sana kemari, menyusuri punggung hingga turun ke pinggang Cecilia, menciptakan sensasi geli bercampur risih yang membuat bulu kuduk wanita itu berdiri. Cecilia merasa sangat tidak nyaman, seperti tengah dikurung oleh predator buas yang sedang mempermainkan mangsanya.
"Mana bisa aku diam kalau tangannya grasak-grusuk nggak jelas gini?!"protes Cecilia dalam hati, mencoba menyingkirkan tangan nakal itu, namun sia-sia karena tenaga Douglas jauh lebih besar darinya.
"Tidur," titah Douglas singkat, sama sekali tidak mempedulikan protes panjang lebar dari wanita cerewet di dalam dekapan.
"Jangan membantah."
"Gimana caranya aku bisa tidur kalau situasinya kayak gini, hah?! Kamu peluk-peluk, tangan kamu sibuk sendiri, terus leher aku hampir habis gara-gara kamu ciumin terus! Lepaskan Douglas?!" Cecilia kembali nyerocos, melampiaskan kekesalannya lewat kata-kata karena fisiknya sudah tidak mampu melawan.
Douglas tidak menjawab. Pria itu hanya memejamkan matanya, mempererat dekapannya seolah Cecilia adalah guling kesayangannya yang tidak boleh lepas barang sedikit pun.
Menit demi menit berlalu. Omelan Cecilia yang tadinya mengalir deras perlahan-lahan mulai melambat. Suara protesnya berubah menjadi gumaman-gumaman tidak jelas. Pada dasarnya, sisa kelelahan akibat pertarungan emosi seharian penuh tadi belum sepenuhnya hilang. Ditambah lagi dengan kehangatan tubuh Douglas dan aroma parfum maskulin yang menguar dari pakaian pria itu, pertahanan Cecilia runtuh seketika.
Rasa ngantuk yang teramat sangat kembali menyerang kesadarannya. Tanpa bisa ia cegah, mata Cecilia perlahan-lahan menutup rapat. Napasnya mulai teratur, menandakan bahwa ia telah jatuh tertidur pulas di dalam dekapan pria dingin yang sedari tadi ia protes.
Di sisi lain, Douglas yang merasakan gerakan di tubuh Cecilia perlahan melemah, membuka matanya sebentar. Ia menunduk, menatap wajah wanita itu yang kini tampak damai dalam balutan tidur lelapnya. Alis tajam Douglas sedikit mengendur.
Melihat Cecilia yang sudah benar-benar terlelap, Douglas menghela napas pelan sebuah gestur langka yang menunjukkan sisi lelahnya setelah seharian mengurus urusan bisnis yang melelahkan di luar sana.
Tanpa mengubah posisinya, Douglas perlahan membenamkan wajahnya di lekukan bahu Cecilia, menghirup aroma sabun mandi wanita itu yang tertinggal di kulitnya.
"Kamu memang wanita paling berisik yang pernah kutemui," bisik Douglas pelan di keheningan malam, suaranya nyaris tak terdengar.
Namun, alih-alih melepaskan pelukannya atau merasa terganggu, Douglas justru semakin mengeratkan rengkuhan tangannya di pinggang Cecilia. Kehangatan yang terpancar dari tubuh wanita itu entah bagaimana berhasil meredakan ketegangan di dalam dada Douglas.
Tidak lama setelah itu, napas Douglas pun mulai teratur. Pria dingin itu menyusul Cecilia ke alam mimpi, membiarkan malam berlalu dalam dekapan hangat yang tak biasa di antara dua insan yang dipersatukan dalam ikatan pernikahan penuh rahasia ini.
Bersambung...
Halo guyss... Untuk kenyamanan bersama author merevisi part ini lebih enak dibaca karena part sebelumnya terlalu vulgar dan banyak adegan dewasanya, jika kalian penasaran dengan part sebelumnya silahkan komentar di grup saja ya, nanti author kasih liat deh. Selamat membaca.🥰
ati2 cecil🤭🤭🤭
ati2 doughlas klo cecilia kabur🤣🤣🤣🤣
thor plis kasih doughlas pelajaran dong,jdi gemes nih🤣🤣🤣🤣
mungkin methong kedua kali cil baru bebas