Katanya Paris adalah kota paling romantis di dunia.
Entahlah.
Aku belum pernah punya waktu untuk jatuh cinta.
Namaku Maël. Enam belas tahun. Pagi menjual koran, siang berlari dari polisi, malam mencari tempat tidur yang tidak terlalu dingin. Kadang hidup memaksaku mencopet, tapi percayalah, itu bukan bagian yang paling berbahaya dari kota ini.
Kalau kalian ingin melihat Paris dari balik jendela hotel, kalian salah memilih buku.
Tapi kalau kalian berani menyusuri lorong-lorong sempit, stasiun métro yang penuh sesak, dan jalanan tempat orang-orang seperti kami belajar bertahan hidup...
Bienvenue à Paris.
Aku akan menjadi pemandu kalian.
Oh, dan satu lagi...
Jaga dompet kalian. Aku mungkin sudah berubah. Teman-temanku belum. 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yossi anugrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7 Nama yang Hilang
Aku menatap foto tua itu.
Lama.
Sampai suara kereta yang melintas di atas kepala pun seperti menghilang.
Anak kecil dalam foto itu...
Memakai mantel biru tua.
Sepatunya mengilap.
Rambutnya tersisir rapi.
Dan...
Ia sedang tertawa.
Aku belum pernah melihat diriku tertawa seperti itu.
"Maël?"
Suara Léo membuyarkan lamunanku.
"Kau tidak apa-apa?"
Aku mengangguk pelan.
"Kurasa..."
"...aku baru saja bertemu diriku sendiri."
Pria tua itu masih berdiri tenang.
Tidak terburu-buru.
Seolah ia tahu cepat atau lambat aku akan mulai bertanya.
Dan benar saja.
"Apa maksud tulisan ini?"
Aku mengangkat foto itu.
"'Jika suatu hari kau membaca ini, berarti kami gagal melindungimu.'"
"Gagal dari apa?"
"Hah?"
"Gagal melindungiku dari siapa?"
Pria itu tidak langsung menjawab.
Sebaliknya, ia malah melihat langit Paris yang mulai dipenuhi awan kelabu.
"Paris..."
gumamnya.
"...pandai menyimpan rahasia."
Aku mendesah.
"Orang-orang tua memang suka menjawab pertanyaan dengan teka-teki, ya?"
Léo mengangguk mantap.
"Iya."
"Marcel juga begitu."
Marcel melirik kami.
"Aku masih bisa mendengar."
"Telingamu masih bagus."
kataku.
"Sayangnya emosimu juga."
Untuk pertama kalinya sejak pria itu datang...
Marcel hampir tersenyum.
Hanya sebentar.
Lalu wajahnya kembali serius.
── Maël kepada kalian ──
Kalian pernah mencoba bertanya kepada orang tua?
Kadang jawabannya seperti ini.
"Ayah, jam berapa sekarang?"
"Nanti juga sore."
...
Aku tidak mengerti kenapa mereka tidak bisa menjawab dengan normal.
── Kembali ke cerita ──
"Aku akan menjelaskan."
kata pria tua itu akhirnya.
"Tapi bukan di sini."
"Kenapa?"
Ia melirik ke sekeliling.
Jalanan tampak biasa.
Seorang pengantar bunga melintas dengan sepeda.
Dua turis sedang berfoto.
Seorang pemain biola memainkan lagu pelan di ujung jalan.
Tidak ada yang aneh.
Setidaknya...
Menurutku.
"Karena..."
ucap pria itu lirih.
"...ada orang yang sedang mengawasi kita."
Refleks aku menoleh ke belakang.
Ke kanan.
Ke kiri.
Tidak ada siapa-siapa.
"Hah?"
"Di mana?"
Pria itu tersenyum tipis.
"Kalau kau bisa melihat mereka..."
"...berarti mereka tidak pandai bekerja."
Aku menggaruk kepala.
"Semakin lama ngobrol sama Bapak..."
"...aku semakin pusing."
Léo menyahut cepat.
"Aku dari tadi sudah pusing."
"Kenapa?"
"Aku belum makan croissant kedua."
Aku menatap kantong roti di tangannya.
"Kau sudah makan dua."
"Oh."
"Kalau begitu aku lapar lagi."
Aku menggeleng.
"Perutmu punya pintu rahasia, ya?"
Marcel akhirnya angkat bicara.
"Apa yang kau inginkan, Henri?"
Aku langsung menoleh.
Henri.
Akhirnya aku tahu nama pria tua itu.
Henri membuka sarung tangan kulitnya perlahan.
Tangannya dipenuhi bekas luka tipis.
Luka yang sudah sangat lama.
"Aku datang..."
"...untuk menepati janji."
"Janji?"
tanyaku.
Henri mengangguk.
"Dua belas tahun lalu."
"Aku berjanji kepada seseorang."
"Kalau suatu hari keadaan sudah aman..."
"...aku akan menemukanmu."
Aku mengerutkan dahi.
"Siapa orang itu?"
Henri menatapku.
"Ibumu."
...
Dunia seakan berhenti.
Aku bahkan lupa cara bernapas.
"Ibu..."
ulangku lirih.
"Aku..."
"Aku punya ibu?"
Léo langsung memukul dahiku pelan.
"Tentu saja kau punya."
"Maksudku..."
"...aku tidak pernah tahu apa pun tentang dia."
Henri mengangguk.
"Itulah sebabnya aku datang."
Marcel memalingkan wajah.
Aku melihat rahangnya mengeras.
Ia tahu.
Ia tahu semua ini.
Dan selama bertahun-tahun...
Ia memilih diam.
"Marcel."
kataku pelan.
"Kau bohong padaku?"
Marcel menutup mata.
"Bukan."
"Lalu?"
"Aku..."
Suaranya pecah.
"...melindungimu."
"Lalu kenapa tidak pernah cerita?"
"Karena..."
Ia menatapku untuk pertama kalinya.
"Kalau kau tahu siapa dirimu..."
"...mereka juga akan mencarimu."
Aku tertawa kecil.
Bukan karena lucu.
Karena bingung.
"Marcel..."
"Siapa sebenarnya 'mereka'?"
Belum sempat ada yang menjawab...
Brak!
Suara keras terdengar dari ujung jalan.
Sebuah motor melaju kencang.
Terlalu kencang.
Pengendaranya mengenakan helm hitam.
Ia sama sekali tidak memperlambat laju motornya.
Arahnya...
Ke arah kami.
"Maël!"
teriak Marcel.
"Menunduk!"
Aku bahkan belum sempat berpikir.
Tubuhku refleks menjatuhkan diri.
Duar!
Bukan suara tabrakan.
Bukan juga suara mesin.
Melainkan...
Suara tembakan.
Peluru menghantam tiang besi tepat di belakang tempatku berdiri.
Percikan logam beterbangan.
Burung-burung di bawah jembatan langsung terbang berhamburan.
"Cours!"
teriak Henri.
"Lari!"
Aku menatap mereka bergantian.
"APA YANG TERJADI?!"
"TIDAK ADA WAKTU MENJELASKAN!"
teriak Marcel.
Léo menarik lenganku.
"Maël!"
"LARI DULU!"
Motor itu berputar kembali.
Kali ini...
Bukan untuk menakut-nakuti.
Melainkan...
Untuk memastikan kami tidak sempat kabur.
── Maël kepada kalian ──
Pagi itu aku belajar satu hal.
Kalau seseorang mulai menembakmu...
Biasanya itu tanda yang cukup jelas...
Bahwa obrolan kalian sudah berubah menjadi sangat serius.
Dan sayangnya...
Aku bahkan belum sempat menghabiskan cokelat panasku.