NovelToon NovelToon
KUTUKAN GAUN PENGANTIN

KUTUKAN GAUN PENGANTIN

Status: tamat
Genre:Misteri / Horor / Kutukan / Tamat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Andhig Rosdiana

Anindiya dikenal sebagai seorang makeup artist berbakat yang memiliki sanggar rias pengantin ternama di kotanya. Setiap hari, ia membantu para calon pengantin mewujudkan impian mereka tampil sempurna di hari bahagia. Hidupnya berjalan tenang hingga suatu hari ia mengunjungi sebuah butik tua untuk mencari beberapa gaun pengantin baru.
Di antara deretan gaun mewah, pandangannya terpaku pada sebuah gaun putih yang dipajang anggun di atas manekin. Ada sesuatu yang aneh sekaligus memikat dari gaun itu. Seolah memiliki kehidupan, gaun tersebut memanggilnya tanpa suara. Meski sang pemilik butik memperingatkan agar tidak menyentuhnya, Anindiya justru membawanya pulang.
Sejak saat itu, kejadian-kejadian mengerikan mulai menghantui hidupnya. Bisikan misterius terdengar di tengah malam, bayangan pengantin berlumuran darah muncul di setiap cermin, dan setiap pengantin yang mengenakan gaun tersebut mengalami nasib tragis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 23

​Pintu kamar kembali tertutup rapat.

​Di luar, suasana rumah masih dipenuhi riuh tawa para tamu yang datang silih berganti. Suara musik pelan mengalun dari area halaman. Sesekali terdengar pekak tawa anak-anak berlarian diselingi obrolan hangat para kerabat yang saling menyapa.

​Tak seorang pun di luar sana yang menyangka...

​Di dalam kamar pengantin, sesuatu yang teramat mengerikan sedang berlangsung.

​Lestari masih berdiri di depan cermin besar. Ia merapikan sedikit mahkota di atas kepala, senyum bahagia di wajahnya belum juga pudar. Ia bahkan kembali mengangkat ponselnya untuk mengambil beberapa foto swafoto lagi.

​Klik! Klik! Klik!

​Saat ia memeriksa hasil foto di layar ponsel, senyumnya perlahan-lahan luntur.

​Pada foto terakhir yang baru saja ia ambil... tampak ada siluet bayangan putih kusam berdiri tepat di belakang punggungnya.

​Lestari mengernyitkan alis. Ia langsung memutar tubuh ke belakang.

​Kosong. Tak ada siapa-siapa.

​"Ah... paling cuma efek pencahayaan kamera," gumamnya menenangkan diri.

​Ia menghapus foto tersebut, lalu mencoba mengambil foto ulang.

​Klik!

​Kali ini hasilnya tampak normal. Lestari menghembuskan napas lega.

​Namun, ketika ia mendongakkan kepala kembali menatap kaca cermin...

​Tubuhnya seketika membeku kaku.

​Di dalam pantulan cermin...

​Ada seorang perempuan berdiri tepat di belakangnya. Jaraknya amat dekat, nyaris menempel.

​Perempuan itu mengenakan gaun pengantin putih yang sudah kusam dan kotor. Rambut hitam panjang yang lengket menutupi sebagian wajahnya. Kulitnya pucat pasi bagai mayat tanpa darah, sementara warna bibirnya membiru kehitaman.

​Dan yang paling membuat dada Lestari sesak hingga tak sanggup bernapas...

​Seluruh sepasang mata perempuan itu berwarna hitam kelam—tanpa ada bagian putih sedikit pun! Tatapan mata kelam itu mengunci lurus ke arahnya.

​Lestari refleks membalikkan badan secara histeris!

​Kosong. Kamar tetap sunyi. Tak ada siapapun di sana.

​Jantung Lestari bertubrukan hebat di dalam dada. Tangannya mulai gemetar gemetaran.

​Ia memutar kepalanya kembali menatap kaca cermin.

​Perempuan itu masih berada di sana!

​Kali ini, sudut bibir pucat milik sosok itu perlahan-lahan terangkat melebar... membentuk senyuman dingin yang sarat akan dendam dan kebencian murni.

​"S... siapa kamu...?" suara Lestari bergetar hebat.

​Tak ada jawaban.

​Hanya aroma bunga melati busuk yang mendadak meledak memenuhi seluruh ruangan kamar. Wanginya merebak begitu tebal dan menusuk, menciptakan hawa pengap yang membuat dada terasa dihimpit batu besar.

​Lestari melangkah mundur satu langkah . Lalu mundur lagi. Matanya tak sanggup lepas dari cermin.

​Perempuan di dalam cermin itu perlahan-lahan mengangkat tangan kanannya. Gerakannya amat lambat dan kaku. Jari-jarinya kurus memanjang dengan kuku-kuku hitam runcing. Ia seperti sedang memberi isyarat memaksa agar Lestari mendekat.

​Lestari menggelengkan kepala kuat-kuat seraya terisak. "Enggak... jangan...!"

​Ia berniat memutar badan dan berlari menembus pintu. Namun, kedua kakinya mendadak terasa amat berat bagai tertanam di lantai—seolah ada beban tak kasat mata yang mencengkeram pergelangan kakinya.

​Ia mencoba berteriak sekuat tenaga. "Ibuuu...!"

​Tak ada sepatah kata pun yang sanggup meluncur keluar. Mulutnya menganga lebar, namun tenggorokannya seolah terkunci rapat.

​Air mata ketakutan mulai menetes deras membasahi pipinya. Ia memukul-mukul dadanya sendiri dalam keputusasaan, berjuang keras mengeluarkan suara. Tetap nihil.

​Sementara itu...

​Sosok perempuan di dalam cermin mulai melangkah maju. Anehnya, ia tak menembus keluar dari kaca. Namun, bayangannya di dalam pantulan makin lama makin membesar dan merapat, seolah batas jarak di dalam cermin itu mendadak menguap.

​Lestari menggigil hebat dalam cengkeraman teror. Ia terus beringsut mundur hingga punggungnya membentur dinding kamar.

​"Tolong..." bisiknya amat lirih.

​Tiba-tiba...

​Perempuan di dalam cermin itu mengulurkan tangannya menggapai lurus. Dalam pantulan cermin, jemari hitamnya nampak menyentuh bagian dada gaun pengantin yang sedang melekat di tubuh Lestari.

​Pada detik yang bersamaan...

​Lestari merasakan kain gaun di tubuhnya mendadak mengetat!

​Bagian korset gaun yang semula pas melekat di badan mulai menekan dadanya. Perlahan pada awalnya... lalu mengencang dengan kekuatan yang teramat dahsyat!

​Lestari tersentak panik. Ia buru-buru menggapai ke belakang punggungnya, berusaha melonggarkan ikatan tali gaun. Namun, tali-tali di bagian belakang itu justru seperti ditarik oleh kekuatan tak terlihat—Makin rapat! Makin mencengkeram kencang!

​"A-aduh...!"

​Lestari makin kesulitan menghirup udara. Jemarinya sibuk mencakar-cakar kain gaun di dadanya, namun remasan kain itu justru makin beringas mencekik tubuhnya. Seolah-olah ada jemari raksasa tak kasat mata yang terus memutar dan menarik tiap simpul benangnya.

​Ketakutan Lestari memuncak. Ia menyeret kakinya menggapai gagang pintu kamar, berusaha membukanya. Pintu itu sama sekali tidak terkunci dari dalam. Namun entah mengapa, gagang pintunya mengeras kaku, tak sanggup diputar sedikit pun. Seolah-olah daun pintu kayu itu telah menyatu mati dengan dinding.

​Pasokan oksigen ke paru-parunya makin menipis. Dadanya serasa remuk ditekan dari berbagai arah. Lestari memukul-mukul permukaan pintu kayu itu dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki.

​Namun, ketukan lemah itu kalah nyaring oleh riuh alunan musik dan gelak tawa pesta di area luar. Tak ada satu orang pun yang menyadari jeritan bisu dan kepanikan di dalam kamar.

​Di dalam cermin...

​Perempuan itu masih memamerkan senyum dinginnya. Bibir kebiruannya perlahan-lahan bergerak, membisikkan desis yang terdengar amat jelas memekakkan telinga Lestari:

​"...i...tu... gaun...ku..."

​Air mata Lestari mengalir makin deras. Ia kembali mencakar-cakar gaun yang kini terasa seperti rantai besi yang melilit erat tubuhnya. Namun, tiap kali ia mencoba memberontak, cengkeraman di dadanya justru bertambah ganas.

​Lestari mulai terbatuk-batuk hebat. Pandangan matanya perlahan-lahan mendadak mengabur dan berkunang-kunang. Kedua kakinya kehilangan daya untuk menopang tubuh.

​Brak!

​Ia jatuh berlutut di atas lantai.

​Dengan napas yang makin memburu dan pendek-pendek, ia mendongakkan wajahnya menatap kaca cermin untuk terakhir kali.

​Sosok perempuan itu kini berdiri amat rapat di dalam pantulan. Wajah pucat pasi bagai mayat itu nyaris memenuhi seluruh permukaan cermin. Sepasang mata hitam kelamnya menatap tanpa berkedip sedikit pun.

​Senyuman lebar di bibirnya perlahan memudar, berganti dengan ekspresi dingin, kaku, dan tanpa ampun.

​Aroma bunga melati busuk kian meledak memenuhi seluruh penjuru ruangan.

​Lestari merasakan dadanya tak lagi sanggup mengembang. Pandangannya perlahan menggelap total. Jemari tangannya yang semula mencakar gaun perlahan terkulai lemas di atas lantai.

​Dalam selang hitungan detik... kesadarannya menguap lenyap. Tubuhnya ambruk.

​Beberapa saat kemudian...

​Suasana kamar pengantin itu kembali berubah menjadi amat tenang dan sunyi.

​Harum melati yang tadi menusuk hidung perlahan-lahan memudar dan menghilang tanpa bekas. Gaun pengantin putih gading yang membungkus tubuh Lestari kembali tampak anggun dan rapi, seolah tak pernah terjadi gejolak apa pun.

​Di luar kamar, para tamu masih asyik bercengkerama dengan gembira. Anindiya sedang sibuk merias wajah kerabat keluarga yang lain di ruangan sebelah, sementara Rina tetap telaten menyiapkan perlengkapan.

​Tak ada satu jiwa pun yang menyadari bahwa di balik pintu kamar yang tertutup rapat itu...

​Kebahagiaan manis yang baru saja membuncah di rumah tersebut telah resmi berubah menjadi awal dari Tragedi—tragedi yang terus mengintip dari balik gaun pengantin terkutuk itu.

1
Mega Arum
bagus kak.. cm kurang dlm dialog dan tokoh pemeran
andhig Rosdiana: siap kak ,sudah memberikan dukungan like dan komen ..untuk kedepannya saya akan lebih baik lagi dalam berkarya 💪
total 1 replies
MARQUES
semoga author lekas sembuh dan tetap semangat berkarya saya menantikan karya terbarunya 🙏
MARQUES
karya yang bagus author
andhig Rosdiana
jelas padat dan tamat 🤭
MARQUES
nah gitu dong cari tahu setelah kehilangan orang yang bisa di andalkan baru ngerasa janggal kan kalau ga sadar juga dah lha selanjutnya Anindya aja yang di incar🤣🙏
andhig Rosdiana
untuk beberapa hari kedepan author belum bisa melanjutkan bab berikutnya ,asam lambung author kambuh ,doain author cepat sembuh ya .jangan lupa tinggalkan like dan koment ya ...🙏
MARQUES: semangat terus buat author semoga lekas sembuh dan bisa up cerita baru🙏
total 1 replies
MARQUES
asli kesal banget sama Anindya jelas depan mata kenyataan begitu hadeh kalau didunia nyata ada orng begitu juga ku gaplok beneran kepalanya kesel asli🤣🙏
MARQUES: susah buat sabar Thor karna cerita nya menarik🤣🙏
total 2 replies
MARQUES
keras banget kepala si Anindya pingin ku gapluk biar sadar 🤣
MARQUES: sama sama author tetap semangat upload walaupun masih sepi pembaca terus up jangan berhenti ya author soalnya cerita nya bagus tanpa ada drama percintaan 🤣🙏
total 2 replies
andhig Rosdiana
jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen supaya author tambah semangat berkarya👍🤭
andhig Rosdiana
jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen ya suy🤭 supaya author lebih semangat lagi nulisnya 💪
MARQUES
mantap author sekali up banyak saya sangat senang tapi ga ada notif nya jadi telat baca🙏
andhig Rosdiana
jangan lupa tinggalkan jejak ya suy like dan koment, terimakasih sudah memberikan dukungan
MARQUES
biasanya cewe keras kepala gini yang suka mencari masalah
MARQUES
absen author keliatan bagus nih ceritanya 🙏
andhig Rosdiana: siap .... terimakasih udah hadir dan memberikan dukungan ,
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!