Tujuh tahun lalu, Alena melarikan diri dari Kerajaan Aveloria dalam keadaan hamil. Ayah anaknya adalah Pangeran Adrian, pewaris takhta yang dicintainya diam-diam. Takut dihukum mati dan kehilangan bayinya, Alena memilih menghilang tanpa memberitahu kebenaran. Kini, ia kembali sebagai selir kerajaan bersama Elian, putranya yang berusia tujuh tahun. Adrian membencinya karena mengira Alena meninggalkannya, tetapi kemiripan Elian perlahan membangkitkan kecurigaan. Di tengah intrik istana, pertunangan politik, dan ancaman terhadap putranya, Alena harus mempertahankan rahasia terbesar hidupnya. Namun semakin dekat Adrian dengan Elian, semakin sulit Alena menyembunyikan kebenaran yang dapat mengubah masa depan kerajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 — PERINTAH UNTUK KEMBALI
Udara sore di pekarangan rumah panggung itu mendadak terasa begitu pekat, seakan-akan oksigen di sekitarnya tersedot habis oleh kehadiran Sang Ratu Aveloria. Keheningan yang mencengkeram begitu tebal hingga suara desir angin di antara dedaunan pohon apel terdengar bagai dentangan lonceng kematian bagi Alena.
Ratu Eleanor Valerian melangkah satu demi satu, mendekati teras kayu. Gerakannya lambat, terukur, dan dipenuhi keanggunan seorang wanita yang lahir dan dibesarkan di pusat kekuasaan. Namun di balik topeng keagungan itu, mata Sang Ratu tidak pernah lepas dari sosok Elian yang bersembunyi di balik gaun Alena.
Alena menjatuhkan dirinya ke lutut, merendahkan tubuh di atas papan kayu kasar teras. Itu adalah naluri kaku dari masa lalunya—sebuah gestur penghormatan yang telah tertanam selama bertahun-tahun di istana.
"Yang Mulia Ratu..." bisik Alena. Suaranya pecah, nyaris tak terdengar.
"Berdirilah, Alena," ujar Ratu Eleanor pelan. "Kau bukan lagi bawahan di istanaku, dan tempat ini bukan ruang tahta."
Alena perlahan berdiri, walau kedua kakinya terasa bagai terbuat dari timah yang siap runtuh kapan saja. Tangan kirinya meraba ke belakang, menggenggam jemari mungil Elian yang makin erat mencengkeram kain gaunnya. Anak itu gemetar, kebingungan oleh atmosfir mencekam yang melingkupi ibunya.
"Ibu..." bisik Elian polos, matanya yang berwarna abu-abu pekat berkedip cepat menatap Ratu Eleanor. "Siapa nenek ini? Kenapa dia pakai baju seperti raja di cerita Ibu?"
Pertanyaan polos itu menghantam dada Alena bagai pukulan tajam. Nenek. Elian menyebut Ratu Eleanor dengan sebutan yang, tanpa disadari anak itu, adalah hubungan darahnya yang sebenarnya.
Mata Ratu Eleanor bergetar sekilas mendengar kata itu. Sebuah retakan tipis muncul pada wajah anggun Sang Ratu, memperlihatkan kilatan emosi yang dipendamnya rapat-rapat—rasa terkejut, haru, dan kepedihan yang dalam. Namun, dengan cepat ia menguasai dirinya kembali.
"Anak yang tampan," kata Ratu Eleanor, suaranya melunak beberapa tingkat ketika menatap Elian. "Dia memiliki mata yang sangat kuat, Alena. Mata yang sangat berbahaya untuk disembunyikan di desa terpencil seperti ini."
"Yang Mulia, saya mohon..." Alena memberanikan diri menatap mata Sang Ratu, membuang semua rasa takutnya demi keselamatan Elian. "Anak ini tidak ada hubungannya dengan Aveloria. Dia hanyalah anak seorang rakyat biasa. Saya membesarkannya di sini, jauh dari siapa pun. Kami tidak pernah mengganggu kerajaan—"
"Apakah kau pikir aku datang ke sini tanpa kepastian, Alena?" potong Ratu Eleanor lembut, namun di balik kelembutan itu ada ketegasan yang tak terimbangi. "Apakah kau pikir aku akan menempuh perjalanan tiga hari melewati Hutan Elaris hanya berdasarkan rumor kosong?"
Ratu Eleanor merogoh sebuah lipatan kain dari dalam jubah bulunya. Ia mengulurkan tangannya, memperlihatkan selembar surat tua berdusta lilin yang segelnya sudah pecah.
"Dua bulan lalu, Penasihat Rowan jatuh sakit keras," ungkap Ratu Eleanor, matanya mengunci mata Alena. "Di ambang kematiannya, ketakutan akan dosa masa lalu membuatnya menulis pengakuan ini kepadaku. Dialah yang memberitahuku bahwa tujuh tahun lalu, seorang juru tulis muda tidak pergi karena berpaling kepada pria lain... melainkan melarikan diri membawa benih Putra Mahkota."
Darah di tubuh Alena serasa membeku seketika. Rowan. Pria tua yang dulu mengancam akan membunuh bayinya, ternyata menyimpan rahasia itu hingga napas terakhirnya dan menyerahkannya pada Sang Ratu.
"Adrian tidak tahu," tambah Ratu Eleanor cepat, seolah membaca ketakutan terbesar di pikiran Alena. "Adrian masih percaya pada surat kejam yang kau tinggalkan tujuh tahun lalu. Dia tidak tahu aku berada di sini hari ini."
Alena menarik napas tersengal-sengal. "Jika Pangeran Adrian tidak tahu... maka biarkan tetap seperti itu, Yang Mulia! Saya memohon pada Anda, sebagai seorang ibu! Jangan bawa anak saya ke tempat bernoda itu. Di istana, dia hanya akan menjadi sasaran empuk keluarga Ardent, dewan, dan siapa pun yang menginginkan takhta!"
"Dan apakah kau pikir dia aman di sini?" balas Ratu Eleanor, suaranya menajam. "Rowan mungkin sudah mati, tetapi surat-suratnya tidak semuanya terbakar. Duke Darius Ardent mulai mencium ketidakberesan mengenai kepergianmu tujuh tahun lalu. Jika orang-orang Ardent yang menemukan anak ini terlebih dahulu, Alena, mereka tidak akan membawanya kembali dengan kereta emas. Mereka akan memastikan anak ini membusuk di dasar sungai sebelum dia sempat menyebut nama ayahnya!"
Ancaman itu menghantam Alena seperti badai dingin. Selama tujuh tahun ia berpikir bahwa lari dan bersembunyi adalah benteng terkuatnya. Ia lupa bahwa dalam permainan kekuasaan para bangsawan tinggi, tempat tersembunyi pun hanyalah masalah waktu sebelum ditemukan oleh belati pembunuh.
"Raja Cedric telah menitahkan peritah resmi," kata Ratu Eleanor, menurunkan tangannya. "Keberadaan anak ini tidak bisa lagi diabaikan. Kehadiranmu dibutuhkan di istana—bukan lagi sebagai juru tulis, melainkan sebagai selir kerajaan."
"Selir?" Alena membelalak. "Bagaimana bisa—"
"Itu adalah satu-satunya status legal yang bisa diberikan Raja untuk membawamu dan anakmu masuk ke dalam perimeter perlindungan Istana Valerian tanpa memicu perang terbuka dengan keluarga Ardent," potong Ratu Eleanor tajam. "Seraphina telah menjadi Putri Mahkota resmi selama lima tahun terakhir, meskipun hingga hari ini mereka belum dikaruniai seorang pun pewaris. Kedatanganmu sebagai selir akan dilindungi oleh hukum tradisi tua Aveloria."
Pikiran Alena berputar hebat. Menjadi selir berarti ia akan dilemparkan tepat ke tengah-tengah sarang serigala. Ia akan berada di bangunan yang sama dengan Adrian—pria yang membencinya karena surat palsu itu—dan Seraphina, wanita yang tidak akan ragu menghancurkannya.
Namun menolak berarti membiarkan Elian diburu oleh orang-orang Duke Ardent tanpa perlindungan apa pun.
Mira, yang sejak tadi berdiri kaku di ambang pintu rumah panggung, melangkah maju dengan wajah pucat namun penuh nekat. "Alena, tidak! Kita bisa lari lagi! Kita bisa pergi ke Kerajaan Oakhaven atau menyeberangi laut barat—"
"Tidak ada tempat lari lagi, Mira," bisik Alena, air mata perlahan menetes di pipinya. Ia menatap sahabatnya dengan kepedihan yang mendalam. "Kereta kerajaan sudah berada di depan rumah. Jika kita lari, kita hanya menjadi buronan yang ditangkap di jalanan."
"Tapi Alena..." Mira terisak, berlutut di sampingnya.
Alena berlutut di hadapan Elian. Ia memegang kedua bahu kecil putranya, menatap dalam-dalam ke dalam mata abu-abu yang begitu mirip dengan pria yang pernah dicintainya.
"Elian, dengarkan Ibu," kata Alena, berusaha menahan agar suaranya tidak bergetar. "Kita harus pergi ke sebuah tempat baru. Tempat yang sangat besar... dengan tembok batu yang tinggi."
Elian menatap ibunya dengan bingung, jemari mungilnya mengusap air mata di pipi Alena. "Apakah itu tempat tinggal Ayah?"
Dada Alena terasa bagai diremas oleh tangan besi. Ia memeluk Elian erat-erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher anaknya yang berbau wangi minyak kayu putih.
"Itu tempat di mana Ibu harus melindungimu," bisik Alena tepat di telinga anak itu. "Apapun yang terjadi di sana nanti, Elian... jangan pernah lepas dari genggaman tangan Ibu. Jangan pernah percaya pada siapa pun kecuali Ibu dan Bibi Mira. Maukah kau berjanji pada Ibu?"
Elian, meski tidak sepenuhnya memahami beratnya situasi itu, mengangguk pelan dalam pelukan ibunya. "Aku berjanji, Ibu. Aku akan selalu menjaga Ibu."
Alena melepaskan pelukannya. Ia berdiri tegak, menyapu air matanya, dan membalikkan tubuh menghadap Ratu Eleanor. Pengorbanan tujuh tahun lalu telah membawanya ke titik ini, dan kini ia harus memasuki neraka yang sama sekali lagi demi nyawa anaknya.
"Saya akan ikut bersama Anda, Yang Mulia," tegas Alena, suaranya kini membeku oleh keteguhan hati seorang ibu. "Tetapi saya minta satu syarat."
Ratu Eleanor menaikkan sebelah alisnya. "Sebutkan."
"Mira harus ikut bersama kami sebagai pelayan pribadi saya. Dan tidak ada seorang pun—termasuk Pangeran Adrian—yang boleh menyentuh atau mengintimidasi Elian sebelum saya sendiri yang memberi izin."
Ratu Eleanor menatap Alena cukup lama, sebelum akhirnya sebuah anggukan pelan diberikan oleh Ratu Kerajaan Aveloria tersebut. "Disetujui. Berkemaslah. Kita berangkat sebelum matahari terbenam."
Alena menatap rumah panggung kecil yang telah memberinya kedamaian selama tujuh tahun untuk terakhir kalinya. Masa lalunya telah mengejarnya, dan kini, roda-roda kereta kerajaan siap membawanya kembali ke tempat di mana hatinya hancur—Istana Valerian.