Arga Pratama adalah suami yang selama ini dikenal dingin, pekerja keras, dan mencintai istrinya sepenuh hati. Demi memenuhi semua keinginan sang istri, Nabila, ia rela bekerja siang malam hingga menjadi pengusaha sukses.
Namun, di balik kesibukannya, Nabila justru menjalin hubungan terlarang dengan Reza, sahabat terbaik Arga sendiri.
Pengkhianatan itu terbongkar pada hari ulang tahun pernikahan mereka.
Alih-alih langsung menceraikan, Arga memilih diam.
Ia mulai menyusun pembalasan yang begitu rapi, membuat semua orang yang telah mengkhianatinya kehilangan kehormatan, harta, dan kepercayaan satu per satu.
Tetapi di tengah balas dendam itu, muncul seorang wanita sederhana bernama Aisyah yang perlahan mengubah hati Arga.
Akankah Arga tetap menjadi suami yang kejam, atau memilih memaafkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mabuok Hape, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji di Bawah Hujan
Awan kelam menggantung rendah di atas langit kota sejak sore, membawa aroma tanah basah dan hawa dingin yang perlahan mengepung sudut-sudut jalanan. Tak lama kemudian, hujan turun deras. Rintiknya menghantam kaca-kaca jendela restoran kecil yang tenang di pinggiran kota, menciptakan melodi konstan yang memisahkan keheningan hangat di dalam ruangan dari hiruk-pikuk dingin di luar.
Di balik meja kayu melingkar dekat jendela, Arga duduk dengan tenang.
Ia mengenakan kemeja kasual berwarna abu-abu tua dengan lengan yang tergulung rapi hingga siku—sebuah penampilan yang jauh lebih rileks dibandingkan setelan jas tiga lapis yang biasa ia kenakan di ruang direksi. Wajahnya yang biasa kaku dan dingin kini tampak lebih lembut, meski keteguhan di matanya tak pernah benar-benar pudar. Di hadapannya, asap tipis masih mengepul dari cangkir teh chamomile yang hangat.
Di seberang meja, duduk Kirana.
Wanita itu adalah pengacara muda yang selama beberapa bulan terakhir berdiri tegak di samping Arga—sosok cerdas, tenang, dan jujur yang dengan gigih membongkar benang kusut penggelapan aset yang dilakukan Reza dan Nabila. Kirana mengenakan sweater rajut berwarna krem. Rambut panjangnya yang sedikit basah oleh tirisan air hujan diapit rapi di belakang telinganya.
Chemistry di antara mereka berdua di meja itu terasa sangat berbeda. Tidak ada aura pengkhianatan yang beracun seperti masa lalu Arga bersama Nabila, tidak ada pula ketegangan taktik bisnis yang penuh kepura-puraan. Yang ada hanyalah rasa saling percaya yang tumbuh secara alami dari tengah puing-puing badai yang telah berlalu.
"Semua berkas putusan pengadilan sudah resmi diarsip, Pak Arga," ujar Kirana seraya mengusap jemarinya pada cangkir teh hangatnya. Suaranya halus, mengalun jernih menembus suara gemericik hujan di luar. "Nabila dan Reza sudah memulakan masa hukuman mereka. Kasus penggelapan aset Pratama Group resmi ditutup malam ini."
Arga mengangguk pelan. Ia menyesap tehnya, lalu menatap rintik air yang mengalir meliuk-liuk di permukaan luar kaca jendela.
"Terima kasih, Kirana," kata Arga. Nada suaranya dalam, namun kali ini terasa sangat ringan—sebuah kebebasan sejati yang akhirnya menyusup masuk ke dalam jiwanya setelah sekian lama terkunci oleh amarah dan dendam. "Tanpa kejelianmu mengejar jejak rekening cangkang itu, badai ini mungkin akan berlangsung lebih lama."
Kirana menyunggingkan senyum tipis yang tulus. "Saya hanya menjalankan tugas saya sebagai penasihat hukum Anda. Tapi lebih dari itu... saya senang melihat Anda yang sekarang. Anda terlihat jauh lebih tenang, Pak Arga."
Arga mengalihkan pandangannya dari jendela, menatap lurus ke dalam iris mata Kirana yang bening dan jujur.
Ada jeda keheningan yang mengalir di antara mereka—bukan keheningan yang canggung, melainkan sebuah ruang bernapas di mana dua jiwa saling memahami tanpa perlu banyak kata. Logika narasi hidup Arga telah bergeser total. Selama bertahun-tahun, Arga mengira bahwa puncak kebahagiaan adalah memberi kemewahan tanpa batas kepada orang yang dicintai, meski harus dibayar dengan pengkhianatan. Namun, pertemuannya dengan Kirana mengajarkan Arga satu hal penting: bahwa ketulusan tidak pernah meminta panggung kemewahan, melainkan kejujuran dan rasa hormat yang sejajar.
"Hujannya makin deras," bisik Kirana pelan, melirik ke arah jalanan luar yang mulai tergenang air.
Arga melihat jam tangannya, lalu berdiri dari kursi. "Mari, aku antar kamu pulang. Kamu tidak membawa payung, kan?"
Mereka berjalan berdampingan menuju pintu keluar restoran. Begitu pintu kaca terdorong terbuka, hawa dingin dan hempasan angin beraroma hujan langsung menyergap kulit. Hujan turun bagaikan tirai air yang tebal, membasahi pelataran restoran.
Arga membuka payung hitam besar yang dibawanya. Ia melangkah keluar terlebih dahulu, lalu merentangkan payung itu di atas kepala Kirana, memastikannya terlindung sepenuhnya dari curahan air.
"Pak Arga, pundak Anda basah," potong Kirana refleks, menyadari bahwa Arga memiringkan payung itu lebih banyak ke arahnya hingga bagian kiri kemeja Arga tersiram rintik hujan.
"Tidak apa-apa," jawab Arga halus. "Sedikit air hujan tidak akan melukai siapa pun."
Mereka berjalan perlahan menyusuri trotoar menuju mobil Arga yang terparkir beberapa meter di depan. Langkah kaki mereka selaras dengan irama hujan yang menggelegar di sekitar mereka. Di bawah perlindungan payung hitam itu, jarak di antara mereka begitu dekat—cukup dekat untuk merasakan kehangatan napas dan detak jantung masing-masing.
Tiba-tiba, langkah Kirana terhenti di tengah pelataran parkir.
Arga menoleh, memiringkan payung agar tetap menutupi tubuh wanita itu. "Ada apa, Kirana?"
Kirana mendongak, menatap Arga dengan binar mata yang penuh rasa ingin tahu dan ketulusan yang murni. "Setelah semua ini selesai... setelah rasa sakit, pengkhianatan, dan pembalasan dendam itu berlalu... apa yang ingin Anda cari selanjutnya dalam hidup Anda, Arga?"
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Kirana memanggil namanya tanpa sebutan formal "Pak".
Arga terpaku sejenak. Suara gemuruh hujan yang menghantam kubah payung hitam di atas kepala mereka terasa memudar di dalam pendengarannya. Ia menatap wajah Kirana yang terangkat, menatap ketulusan yang selama ini belum pernah ia dapatkan dari siapa pun di masa lalunya.
Di dalam pikiran Arga, bayangan kelam tentang Nabila, kekejaman Reza, dan jeruji besi yang dingin menguap sepenuhnya. Pengalaman pahit itu telah membentuknya menjadi pria yang lebih bijaksana, pria yang tak lagi bisa dibodohi oleh kebohongan yang manis.
Arga menghembuskan napas perlahan, lalu mengulurkan tangannya yang bebas. Dengan jemarinya yang hangat, Arga menyeka setetes air hujan yang hinggap di pipi Kirana dengan gerakan yang teramat lembut.
"Aku tidak lagi mencari kemewahan atau pengakuan dari siapa pun, Kirana," ujar Arga. Suaranya terdengar begitu dalam, berat, namun sarat akan kehangatan yang jujur. "Yang aku cari adalah kedamaian... dan seseorang yang bisa berdiri di sampingku tanpa ada topeng di wajahnya."
Kirana menahan napasnya, merasakan getaran emosi yang begitu nyata mengalir dari sentuhan dan tatapan mata Arga.
"Dan malam ini... di bawah hujan ini..." lanjut Arga seraya menatap lurus ke dalam mata Kirana, "aku ingin berjanji pada diriku sendiri, dan padamu... bahwa aku tidak akan pernah lagi melangkah ke belakang. Aku akan membuka lembaran baru, dan aku ingin kamu ada di dalam lembaran itu, Kirana. Bukan sebagai pengacaraku... tapi sebagai seseorang yang berjalan di sampingku."
Sebuah Janji di Bawah Hujan terucap—bukan janji muluk yang diikat oleh harta atau obral kata-kata manis, melainkan sebuah komitmen jiwa dari seorang pria yang telah sembuh dari lukanya dan siap mencintai kembali dengan cara yang paling dewasa dan jujur.
Pipi Kirana merona merah di tengah hawa dingin malam itu. Sebuah senyuman paling indah terukir di bibirnya. Ia mengangguk pelan, lalu mengulurkan jemarinya, menyentuh lengan kemeja Arga yang basah.
"Aku akan ada di sana, Arga," bisik Kirana penuh keyakinan. "Aku akan berjalan di sampingmu."
Hujan deras terus mengguyur kota, menyapu bersih sisa-sisa debu dan kenangan pahit masa lalu yang pernah meracuni hidup Arga Pratama. Di bawah naungan payung hitam dan deru rintik air yang menenangkan, Arga dan Kirana melangkah bersama menuju mobil—menyambut masa depan yang murni, terbebas dari bayang-bayang pengkhianatan, dan dipenuhi oleh harapan yang baru.
laju dikit Thor biar gereget bacanya ini slowly Banggt