"Dia seorang pria tua, Elena. Tapi dia sangat kaya dan royal. Tugasmu hanya melayaninya satu malam dengan mata tertutup."
Setelah kabur dari rumah tanpa uang dan tanpa tujuan, Elena menerima tawaran yang seharusnya tidak pernah ia ambil. Satu malam dan bayaran yang cukup untuk menyelamatkan hidupnya.
Namun malam itu meninggalkan sesuatu yang tidak pernah Elena duga.
Elena Hamil.
Demi melindungi bayinya, Elena melarikan diri ke Indonesia.
Tujuh tahun kemudian, takdir membawanya bekerja di sebuah perkebunan teh yang ternyata adalah milik Leonard—miliarder misterius yang selalu bersembunyi di balik topeng dan penampilan seorang pria tua yang rapuh.
Sementara itu, Leonard masih terus mencari keberadaan Elena, satu-satunya wanita yang sentuhannya tidak memicu penyakit alergi langka yang selama ini membuatnya menjauhi semua orang.
Saat kebenaran mulai terkuak, mampukah Elena menjaga rahasianya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 1
"Dia seorang pria tua, Elena. Tapi dia sangat kaya dan royal. Tugasmu hanya melayaninya satu malam dengan mata tertutup."
Elena yang sedang membasuh wajahnya di wastafel seketika membeku. Ia menoleh dengan mata membelalak lebar, mengabaikan sisa air yang menetes dari dagunya.
"Apa kamu bilang? Membayar ku mahal-mahal hanya untuk ons dengan lansia? Kamu sudah gila, ya?!"
"Yang gila itu kamu, Elena Anastasia. Kamu kabur dari rumah tanpa rencana. Meninggalkan semua fasilitas yang selama ini kamu nikmati hanya karena tidak terima ayahmu menikahi sahabat mendiang ibumu. Sekarang lihat dirimu."
"Aku tahu, Bel. Tidak usah diperjelas," lirih Elena membela diri.
"Aku harus memperjelasnya supaya otakmu terbuka! Kamu sudah tiga bulan hidup sebagai pelarian. Awalnya kamu mengira kebebasan dari ayahmu akan terasa indah, kan? Tapi kenyataannya berbeda. Dunia tidak peduli apakah kamu putri seorang pengusaha kaya atau bukan. Dunia hanya peduli apakah kamu punya uang atau tidak!"
Perut Elena tiba-tiba kembali berbunyi pelan.
Bella menghela napas, nadanya sedikit melunak. "Lihat? Kamu bahkan lapar."
"Ini tidak separah itu," elak Elena dengan suara cicitan.
"Jangan bohong. Aku dengar jelas suara perutmu," ketus Bella.
Elena memejamkan mata sesaat. Benar. Sejak siang ia hanya makan sepotong roti tawar yang dibagi dua dengan Bella agar cukup sampai malam. Rasa lapar ini mulai membuatnya pusing.
"Tapi kenapa harus pria tua, Bella? Dan kenapa mataku harus ditutup?" tanyanya akhirnya, mulai goyah.
Bella mengangkat bahu santai. "Aku juga tidak tahu detailnya. Yang jelas, klien ini sangat kaya raya. Katanya dia punya kelainan atau alergi aneh terhadap sentuhan wanita biasa."
"Hah? Alergi wanita? Aneh sekali," gumam Elena heran.
"Sangat aneh. Karena itu dia punya banyak syarat tak masuk akal. Salah satunya, identitasnya harus dirahasiakan rapat-rapat."
Elena mengernyit curiga. "Jadi dia semacam selebriti?"
"Bisa jadi."
"Atau jangan-jangan dia buronan?"
Bella langsung tertawa renyah. "Kalau dia buronan, mana mungkin berani menyewa presidential suite hotel paling mahal di kota ini, Elena?"
Itu masuk akal. Namun tetap saja, semuanya terdengar terlalu misterius bagi Elena.
"Kalau dia ternyata menyeramkan atau psikopat bagaimana?"
"Elena, dengar aku. Semua orang kaya itu menyeramkan dengan caranya masing-masing. Tapi serius, kamu hanya perlu datang, menutup mata, ikuti aturannya, lalu pulang membawa uang. Selesai."
Uang.
Satu kata yang belakangan terus menghantui Elena setiap detik. Tagihan kos harus dibayar minggu depan, dan pemilik kos sudah mengancam akan melempar barang-barangnya ke jalanan. Elena lelah berpura-pura kuat di atas kakinya sendiri.
"Berapa bayaran yang ditawarkan?" tanyanya lirih.
"Cukup untuk membuatmu hidup sangat nyaman selama beberapa tahun ke depan tanpa perlu memikirkan kerja keras," bisik Bella.
Elena menatap sahabatnya tidak percaya. "Jangan bercanda! Mana ada orang membuang uang sebanyak itu hanya untuk satu malam?"
"Aku serius, Ele Sayang. Aku tidak pernah bercanda soal uang."
"Yakin untuk beberapa tahun ke depan?" ulang Elena memastikan.
Bella mengangguk mantap. "Ya, beberapa tahun. Kata asistennya pria tua itu royalnya bukan main."
Nominal sebesar itu bahkan tidak pernah Elena pegang sendiri dalam bentuk tunai saat masih hidup mewah bersama ayahnya. Akal sehatnya berteriak agar menolak pekerjaan gila ini, namun kenyataan hidup berteriak jauh lebih keras di telinganya.
"Aku masih tidak percaya dengan tawaranmu ini, Bel. Ini terasa seperti jebakan."
"Percaya saja padaku. Kesempatan emas seperti ini tidak akan datang untuk kedua kalinya dalam hidupmu."
Elena menatap pantulan dirinya di cermin. Rambut berantakan, wajah pucat, dan lingkar hitam di bawah mata membuat dirinya terlihat menyedihkan. Gadis yang dulu hidup berkecukupan kini bahkan kesulitan membeli makan malam.
Akhirnya, ia mengembuskan napas panjang, menyerah pada ego.
"Oke."
"Kamu setuju?"
"Aku mau melakukannya. Aku butuh uang itu," jawab Elena mantap.
Bella tertawa keras dan langsung memeluk Elena. "Ini baru Elena yang aku kenal! Realistis!"
"Tapi ingat ya, kalau ternyata dia benar-benar kakek tua bangka yang keriput dan bau tanah, aku akan menyalahkanmu seumur hidup!" ancam Elena kesal.
"Silakan, salahkan saja aku sesukamu asal kantongmu penuh," sahut Bella abai.
"Bagaimana kalau dia bau minyak angin dan mendengkur keras?"
"Sudah, berhenti mencari alasan! Sekarang ganti pakaianmu," ujar Bella sambil menarik tangan Elena keluar dari kamar mandi.
"Mobil jemputan sudah menunggu di bawah."
Satu jam kemudian, Elena sudah duduk kaku di tepi ranjang hotel mewah yang ukurannya bahkan lebih besar daripada keseluruhan kamar kosnya. Yang lebih parah, matanya kini telah tertutup rapat oleh selembar kain sutra hitam. Ia sama sekali tidak bisa melihat apa pun.
"Kenapa aku bodoh sekali sampai mau melakukan ini?" gumamnya pelan pada diri sendiri.
Klek!
Suara pintu terbuka membuat tubuh Elena langsung menegang. Langkah kaki seseorang perlahan terdengar mendekat ke arah ranjang.
Elena menelan ludahnya dengan susah payah, tangannya meremas sprei kasur.
"K—kakek, apa kamu sudah datang?" tanya Elena dengan panik. "Aki-aki? Opa? Atau harus aku panggil apa?"
Di sisi lain ruangan, Leonard hampir saja menyemburkan tawanya. Sudah lama sekali tidak ada orang yang berani memanggilnya dengan sebutan aki-aki.
"Panggil saja apa yang membuatmu nyaman," jawab Leonard.
Elena langsung merinding ngeri. Suara itu benar-benar mirip kakek-kakek renta yang setiap pagi menyiram tanaman di depan kos Bella.
Perlahan, Leonard melangkah semakin dekat hingga jarak mereka mengikis.
Elena refleks mengangkat kedua tangannya ke depan.
"Tunggu! Jangan mendekat dulu!"
Leonard menghentikan langkahnya, menatap Elena heran dari balik topengnya.
"Ada apa?"
Elena menggigit bibir bawahnya. "Kakek pakai gigi palsu tidak?"
Ruangan mewah itu mendadak hening total selama beberapa saat. Untuk pertama kalinya dalam hidup seorang Leonard yang berkuasa, ia kehilangan kata-kata karena pertanyaan konyol seorang wanita.
"Apa katamu?!" geram Leonard tertahan, merasa harga dirinya agak tercoreng.
"Gigi palsu," ulang Elena dengan polos tanpa dosa. "Aku cuma penasaran saja, Kek."
Leonard memijat pelipisnya. "Tidak!Gigiku masih utuh."
"Oh, syukurlah kalau begitu." Elena mengembuskan napas lega.
Leonard mengangkat sebelah alisnya. "Kenapa harus bersyukur soal itu?"
"Soalnya aku takut kalau nanti giginya copot saat kita... ya, begitulah. Pasti menyeramkan," ucap Elena dengan kejujuran yang teramat sangat.
Leonard hampir tersedak oleh ludahnya sendiri mendengar kepolosan gadis di hadapannya.
Saat Leonard akhirnya berdiri tepat di depan Elena, aroma parfum maskulin yang sangat mahal dan elegan langsung menyergap indra penciuman gadis itu.
Elena mengernyitkan dahinya di balik kain penutup mata. "Lho? Kok aromanya begini?"
"Apalagi kali ini!" gumam Leonard mulai gemas.
"Kakek kok wanginya mahal sekali? Aromanya seperti pria-pria eksekutif muda di televisi," komentar Elena.
Leonard menahan senyumnya agar tidak lolos. "Lalu menurut imajinasimu, aku harus wangi seperti apa?"
"Minyak kayu putih atau minyak telon."
Kini Leonard benar-benar harus sekuat tenaga menahan tawa yang hampir meledak di dadanya. Namun, saat tangannya bergerak maju dan menyentuh pundak mulus Elena, ekspresi jenakanya seketika lenyap. Tubuh Leonard seolah membeku di tempat.
Tidak ada rasa panas yang membakar kulitnya. Tidak ada rasa gatal yang menyiksa. Bahkan tidak ada ruam merah yang biasanya langsung menyerang tubuh Leonard setiap kali ia tidak sengaja bersentuhan dengan orang lain akibat penyakit alergi psikosomatis akutnya.
"Ini mustahil," batin Leonard berteriak syok sekaligus takjub.
Sementara Leonard masih tenggelam dalam keterkejutan yang luar biasa, Elena justru sibuk memikirkan hal lain. Karena tangan Elena tanpa sengaja meraba dada bidang pria tua itu untuk memastikan keberadaannya.
Tunggu dulu! Bukankah pria ini seharusnya seorang kakek tua bangka yang keriput dan lemas? Lalu kenapa dadanya begitu bidang sekeras batu, lengannya begitu kokoh bak baja, dan otot perutnya terasa sangat sempurna seperti pria muda yang rutin berolahraga setiap hari?
kamu belum bertemu semua anggota keluargamu yang di luar negri
semuanya sombong🤣🤣
🤣🤣🤔🤔
bukan hanya mengerjai
TPI akan menjadi musuh bebuyutanmu
sebab sedari awal bertemu
kalian sudah saling bertengkar🤣🤣🤣
asik nih gak sabar menunggu kelanjutannya
Oma Naomi saya mengagumi anda🤣
tetang bagaimana jadinya ada anak kecil yng mirip
Elena pasti panik melihat Naomi , berasa jadi wanita simpanan
🤣🤣
Leon siap siap jadi asisten opa dan oma mu🤣