Naya Aurelia hanya ingin menjalani tahun terakhirnya di SMA dengan tenang. Sayangnya, ayahnya justru membuat keputusan gila: menikahkannya dengan anak sahabatnya. Lebih buruk lagi, calon suaminya adalah Arka Pradipta, ketua OSIS sekaligus laki-laki yang paling Naya benci. Demi menjaga reputasi keluarga, pernikahan itu harus dirahasiakan sampai mereka lulus sekolah. Setiap hari mereka bertengkar karena hal-hal sepele, saling menjahili, bahkan berlomba membuat satu sama lain kesal. Namun, ketika orang lain mulai mendekati Naya, Arka mendadak berubah posesif. Begitu pula Naya yang mulai merasa tidak nyaman melihat Arka bersama gadis lain. Tanpa mereka sadari, kebencian perlahan berubah menjadi perasaan yang jauh lebih berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12 — SARAPAN BERUJUNG PERANG
Sabtu pagi di rumah keluarga Pradipta harusnya menjadi momen menenangkan setelah sepekan penuh dihantam rutinitas sekolah yang melelahkan. Tante Elena dan Om Adrian sedang pergi melayat ke rumah kerabat di luar kota sejak subuh, meninggalkan dua pengantin remaja itu menguasai rumah megah dua lantai tersebut sendirian.
Naya terbangun pukul tujuh pagi dengan semangat membara yang langka. Berdiri di depan cermin kamar mandi, ia mengepalkan tangannya di udara.
"Gue harus buktiin kalau gue bukan cuma cewek pembuat masalah yang taunya cuma makan sama tidur!" gumam Naya mantap pada bayangannya sendiri. "Hari ini gue bakal masak sarapan. Biar tuh Ketua OSIS kaku tahu kalau gue bisa jadi calon istri—eh, maksudnya teman rumah yang berguna!"
Dengan rambut yang dikuncir kuda asal-asalan dan apron bermotif bunga milik Tante Elena yang melilit tubuhnya, Naya turun ke dapur bersih di lantai bawah. Dapur itu sangat luas, didominasi warna putih murni dengan peralatan memasak berbahan stainless steel yang mengkilap tanpa noda.
Pilihan menu Naya jatuh pada hal yang terkesan simpel namun elegan di kepalanya: Nasi Goreng Spesial Seafood.
Naya mulai menyalakan kompor, mengiris bawang merah, bawang putih, dan cabai dengan gerakan asal yang membuat matanya perih dan berair beberapa kali. Saat menumis bumbu, aroma gurih mulai memenuhi ruangan. Naya tersenyum bangga. "Wah, gila... ternyata bakat memasak gue membara juga!"
Namun masalah dimulai saat Naya hendak menambahkan bumbu perasa.
Karena tidak terbiasa dengan letak wadah-wadah bumbu di dapur Tante Elena, Naya mengambil sebuah stoples kaca tanpa label. Mengira isi stoples itu adalah kaldu jamur polos, Naya menaburkannya sebanyak tiga sendok makan penuh ke dalam wajan. Tak puas sampai di sana, ia menambahkan dua jumput garam dapur yang ia kira garam halus biasa—padahal itu adalah garam kristal konsentrasi tinggi.
Srettt! Srettt!
"Sempurna!" seru Naya kegirangan sambil mematikan kompor dan memindahkan nasi goreng berwarna kecokelatan itu ke atas dua piring porselen putih.
Tepat saat Naya meletakkan piring-piring itu di atas meja makan, Arka turun dari lantai dua.
Laki-laki itu mengenakan kaus oblong abu-abu polos dan celana kain santai. Rambutnya masih sedikit basah seusai mandi, tanpa tatanan minyak rambut kaku seperti di sekolah. Di matanya yang jernih, terpancar raut heran saat melihat Naya berdiri jumawa di samping meja makan lengkap dengan apron bunga-bunga.
Arka menghentikan langkahnya di ambang dapur, menaikkan sebelah alisnya tinggi-tinggi. "Kamu... ngapain, Naya?"
Naya melipat kedua tangannya di dada, menyunggingkan senyum paling sombong yang bisa ia produksi. "Gue habis masak sarapan! Karena Tante Elena sama Om Adrian lagi pergi, berhubung gue cewek baik hati dan tidak sombong, gue masakin nasi goreng buat lo juga."
Arka mendekati meja makan dengan langkah penuh kecurigaan. Matanya mengamati piring nasi goreng bertabur irisan timun di hadapannya, lalu berpindah menatap wajah Naya yang penuh dengan noda kecap tipis di pipi kirinya.
"Kamu yakin ini aman dimakan?" tanya Arka datar, menarik salah satu kursi kayu mahoni. "Dapur tidak dalam bahaya kebakaran, kan?"
"Sialan lo ya!" sembur Naya, langsung memasang muka galak. "Gue udah susah-susah masak dari jam tujuh pagi! Udah kepedesan gara-gara ngiris cabai! Tinggal makan apa susahnya sih?!"
Arka menghembuskan napas pelan. "Iya, iya. Terima kasih," sahutnya menenangkan, lalu meraih sendok stainless steel.
Arka menyendok sedikit nasi goreng buatan Naya, meniupnya pelan, lalu memasukkannya ke dalam mulut.
Naya menahan napasnya, menatap Arka dengan mata berbinar-binar menunggu respons pujian. "Gimana? Enak kan? Gurih kan?"
Arka mengunyah nasi itu perlahan. Dalam hitungan dua detik, ekspresi wajahnya yang datar berubah drastis. Dahi Arka berkerut sangat dalam. Matanya terbelalak kecil, dan tenggorokannya bergerak kasar berusaha menelan masakan tersebut.
Arka refleks mengambil gelas berisi air putih di sebelahnya dan meminumnya hingga kandas dalam satu tegukan panjang.
"Uhuk! Uhuk!" Arka batuk-batuk pelan, memegangi lehernya dengan wajah yang sedikit memerah.
Naya melotot panik sekaligus tersinggung. "Eh! Lo ngapain sih dramatis banget?! Masa nasi goreng gue bikin lo mau mati gitu?!"
Arka meletakkan gelasnya kembali ke atas meja dengan dentuman pelan. Ia menatap Naya dengan pandangan prihatin yang teramat jujur.
"Naya..." suara Arka terdengar agak serak. "...kamu berniat meracuni saya, ya?"
"Apa lo bilang?!" jerit Naya tak terima.
"Ini bukan nasi goreng," tegas Arka sambil mengusap bibirnya dengan tisu. "Ini rasanya seperti lumpur laut mati yang dikeringkan. Asin sekali, Naya! Ini bisa bikin orang kena serangan darah tinggi mendadak dalam satu piring!"
"Bohong banget lo!" pekik Naya histeris. "Gue tadi bumbunya nakar pakai perasaan ya!"
"Perasaan kamu lagi ngajak perang berarti," sahut Arka tenang tapi menusuk ulu hati. "Kalau tidak percaya, coba makan sendiri."
Naya menyambar sendoknya dengan emosi yang sudah memuncak sampai ubun-ubun. "Gue buktiin kalau mulut lo yang kelewat kaku itu cuma mau nyari masalah sama gue!"
Naya menyendok satu porsi besar nasi goreng buatan tangannya sendiri dan langsung melahapnya tanpa ragu.
Sreeek!
Seketika itu juga, mata Naya melotot lebar. Lidahnya serasa mati rasa dihantam rasa asin yang luar biasa tajam, bercampur dengan rasa gurih pekat dari kaldu berlebihan yang membuat tenggorokannya gatal hebat. Rasa asinnya begitu dahsyat hingga matanya refleks berair.
"Uhuk! A—asin banget..." bisik Naya tertahan, berniat membuang nasi itu ke tisu. Tapi karena gengsi yang membumbung tinggi di depan Arka, Naya memaksa dirinya menelan nasi itu dengan susah payah.
"Kan," ujar Arka datar dari seberang meja, bertopang dagu menatap Naya. "Saya bilang juga apa. Masa membedakan garam sama micin saja tidak bisa?"
"I—ini... ini gara-gara tempat bumbu Tante Elena nggak ada labelnya!" selak Naya gelagapan, pipinya merona merah padam gara-gara malu luar biasa. "Lagian harusnya lo bisa ngehargai usaha gue dong! Minta maaf nggak?!"
"Meminta maaf untuk apa? Untuk kejujuran saya?" Arka menggeleng-gelengkan kepala. "Dalam tata tertib mana pun, menyajikan makanan tidak layak konsumsi itu kesalahan koki, bukan konsumennya."
Kata-kata tata tertib dan nada bicara Arka yang begitu tenang dalam mengejeknya menjadi jerami terakhir yang memutus tali kesabaran Naya.
Naya menyambar botol selai cokelat plastik yang ada di meja, lalu mengarahkannya ke arah Arka. "Arka Pradipta! Lo bener-bener manusia paling menyebalkan se-dunia!"
"Naya, jangan kekanak-kanakan," tegur Arka sambil berdiri dari kursinya. "Taruh botol itu."
"Nggak mau! Sini lo!"
Naya mengejar Arka yang dengan sigap memutari meja makan. Terjadilah aksi kejar-kejaran yang ricuh di area dapur dan ruang makan. Naya berlari sambil mengacungkan botol selai, sementara Arka menghindar dengan langkah lincah, memanfaatkan kursi-kursi kayu sebagai penghalang.
"Sini nggak lo, Robot!" teriak Naya sambil tertawa campur kesal.
"Naya, atur emosi kamu!" balas Arka yang mulai agak terengah-engah, wajah biasanya yang dingin kini dipenuhi ekspresi panik yang lucu saat Naya hampir berhasil menarik ujung kausnya.
Naya melompat melewati karpet ruang tengah, berniat menerkam Arka dari samping. Namun, ujung apron panjang yang dikenakannya mengikat kakinya sendiri.
"Eh—eh! Arka!"
"Naya, awas—!"
Brak!
Naya hilang keseimbangan dan jatuh menimpa tubuh Arka. Mereka berdua berguling di atas karpet tebal ruang keluarga, berakhir dengan Naya yang berada di atas dada bidang Arka, sementara botol selai cokelat terlepas dari tangannya dan menggelinding ke kolong sofa.
Suara napas mereka berdua memburu hebat, berpacu di dalam ruangan yang mendadak hening.
"Aww..." ringis Naya, memegangi dahinya yang sempat terbentuk dada keras Arka.
"Kamu itu... bener-bener pemicu bahaya berjalan," gumam Arka dari bawahnya. Suaranya terdengar sangat dekat, bernapas agak tersengal-sengal.
Naya membuka matanya, dan seketika menyadari posisi mereka yang teramat intim. Tangannya menempel di dada Arka, sementara satu tangan Arka secara refleks melingkar di pinggang belakang Naya untuk menahannya agar tidak terantuk lantai.
Wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. Naya bisa melihat dengan sangat jelas kilat kekesalan yang berbaur dengan rasa geli di mata hitam Arka, serta deru napas hangat cowok itu yang menerpa dahinya.
Klek.
Suara pintu depan yang terbuka tiba-tiba menghentikan waktu.
"Lho? Pintu depannya kok nggak dikunci, Pa?" suara Tante Elena terdengar dari lorong depan, diikuti suara langkah kaki Om Adrian. "Anak-anak... Ibu sama Papa pulang cepat nih, rapat kerabatnya ternyata ditunda—"
Tante Elena dan Om Adrian melangkah masuk ke ruang keluarga, lalu mendadak berhenti total di tempat mereka berdiri.
Di atas karpet, Naya dan Arka masih dalam posisi menempel rapat satu sama lain, dengan apron bunga-bunga yang kusut dan rambut Naya yang berantakan.
Naya membeku. Arka ikut menegang sempurna.
Tante Elena membelalakkan matanya kaget, namun dalam hitungan detik, senyum menggoda yang sangat lebar mengembang di wajah wanita anggun itu. Ia buru-buru menutup mata Om Adrian menggunakan telapak tangannya.
"Aduh! Maaf ya, Ibu sama Papa ganggu momen pagi kalian!" goda Tante Elena sambil tertawa renyah. "Ayo Pa, kita balik ke mobil dulu! Lanjutin aja dulu anak-anak!"
"Bukan begitu, Bu! Ini kecelakaan!" jerit Naya dan Arka serentak dengan nada panik yang sangat kompak.
Naya buru-buru bangkit berdiri dengan wajah yang merah padam sampai ke telinga, sementara Arka mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan sambil menghembuskan napas pasrah yang paling dalam sepanjang hidupnya.
Pagi itu, sarapan berujung perang mereka memang gagal total, tapi keheningan kaku di antara mereka telah sepenuhnya hancur—digantikan oleh kehangatan konyol yang makin sulit dipisahkan.