NovelToon NovelToon
Semesta Untuk Langit Dan Bumi

Semesta Untuk Langit Dan Bumi

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Contest / Tamat
Popularitas:87k
Nilai: 5
Nama Author: Hulapao

Kisah tentang langit dan bumi yang meskipun sama luasnya, namun tak dapat bersatu.

Angkasa adalah anak hasil perselingkuhan ibunya. Dia dibenci banyak orang. Kekerasan dan pembullyan yang sering dia dapatkan membuatnya ingin mengetahui alasan untuknya hidup.

Suatu hari Angkasa bertemu dengan seorang Gadis. Gadis itu membuatnya tersadar bahwa selama ini dia terlalu pengecut untuk menolak ketidakadilan yang dia dapatkan. Dari situ, hidup Angkasa mulai berubah.

Kisah tentang seseorang yang ingin hidup bertemu dengan seseorang yang sangat menginginkan mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hulapao, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KESALAHAN

“Hai kita bertemu lagi.” Dia duduk di sebelahku.

Aku masih tertegun menatapnya. Dia kini berpakaian lebih rapi sangat berbeda dari terakhir kali aku melihatnya. Bau parfum yang sama, rambut panjangnya disisir rapi, pakaiannya juga lebih feminim dari sebelumnya, dan dia juga memakai sedikit riasan wajah. Apa dia juga sedang melihat lomba band ini? Band mana yang akan dia dukung?

“Eh apa? Kenapa kau terus melihatku seperti itu?” Dia sedikit gugup, segera menarik rok selututnya.

“Eh, bukan, maaf.” Aku segera mengalihkan pandangan. “A-Aku tidak bermaksud macam-macam.”

Dia tertawa. “Ah… aku tak pernah menduga kita akan bertemu lagi.”

Aku pelan mengangguk.

“ANG!” Seseorang berteriak.

Aku berdiri, mencari sumber suara. “Awan?”

Awan melambaikan tangan dari kejauhan. “Kak Lang menyuruh kita kumpul, ayo buruan. Lomba sebentar lagi mulai.”

Aku mengangguk mantap kemudian menatap gadis itu.

“Semua akan baik-baik saja, kau pasti bisa. Bukankah kau selalu mencoba latihan dimanapun kau berada?” Dia tersenyum mengangguk. “Pergilah.”

Benar. Bahkan saat ini aku masih mengingat pukulan-pukulannya, komposisi lagunya, semuanya.

“ANG AYO!” Awan lagi-lagi berteriak.

Dia membuatku semakin bingung. “Eh, itu, anu…”

Gadis itu tertawa. “Aku tak akan kemana-mana kok. Aku akan menemuimu lagi nanti.”

Aku sedikit tersentak kemudian mengangguk. “Sampai nanti.”

Kami membawa alat musik sendiri kecuali drum. Kak Lang sudah memberitahuku sebelumnya dan tadi sempat aku coba-coba. Syukurlah drumnya punya jenis yang sama dengan milik sekolah. Kami berlatih sebentar sebelum lomba dimulai. Peserta nomor 21 diantara 30 peserta lain. Saingan yang cukup banyak menurutku yang baru pengalaman pertama.

“Ang kau baik-baik saja kan?” Tanya kak Lang memastikan.

Aku mengangguk.

Giliran kami sudah makin dekat. Para panitia menyuruh kami agar menunggu di dekat panggung. Kak Lang dan Awan sudah siap dengan gitarnya, kak Mawar sudah tampak cantik dengan riasan tipisnya. Dia sejak tadi tak banyak bicara, aku tak pernah melihatnya seserius ini.

“Peserta nomor 21.”

Mereka sudah memanggil kami. Kami mulai menaiki panggung, dari sini aku bisa melihat para juri dan penonton. Mataku mulai menyapu, ada kak Jay, Fajar, Bunga, dan… gadis itu. Dia melihat penampilanku. Aku mengangguk mantap, aku tak boleh mengecewakan orang-orang yang memberikan harapannya padaku, terutama club band.

Dimulai dari kak Mawar yang basa basi menyapa penonton namun tak lama. Kami hanya memiliki waktu maksimal tujuh menit untuk tampil. Aku memberi pukulan pertama untuk memulai, kak Mawar mulai bernyanyi, begitu pula kak Lang dan Awan juga mulai bermain. Tenang, aku masih bisa mengingat pukulan-

Seketika mataku terpaku pada seseorang yang berada di barisan penonton. Aku kehilangan fokus. Lihatlah, dia sedang menatapku dengan senyum sinisnya. Seketika aku kehilangan fokus, aku lupa komposisi lagunya, pukulannya, segalanya. Aku berhenti.

Aku menatap punggung kak Mawar yang masih terus bernanyi tanpaku, kak Lang dan Awan juga masih terus bermain. Bagaimana ini? Aku tak tahu harus memukul apa? Aku menatap lagi orang-orang yang sedang melihat penampilan kami. Gadis itu tersenyum seakan-akan tahu apa yang sedang kualami, dia mengangguk. Aku memejamkan mata, mencoba mengingat.

"Kuncinya adalah bagaimana kau bisa masuk ke dalam melodi yang kau mainkan. Seluruh tubuhmu nanti akan bergerak dengan sendirinya."

Benar. Aku tak perlu mengingat apapun. Aku hanya perlu tahu kemana musik yang kami bawakan. Tanganku mulai memukul, kakiku juga bergerak singkron. Perlahan aku mulai bisa masuk ke dalam lagu kami. Aku bermain seolah-olah menyeimbangkan musik mereka, menjaga temponya. Tubuhku seolah bergerak dengan sendirinya.

“Terimakasih.” Kak Mawar yang mengakhirinya juga.

Napasku tak teratur. Keringat seakan membasahi seluruh tubuhku. Ini benar-benar gila, aku tak penah merasakan sensasi ini. Kami turun panggung, giliran peserta berikutnya.

“Maaf!” Aku membungkukkan badan.

Kak Mawar tampak terkejut sedangkan Kak Lang dengan cepat memegang pundakku, menatap serius. “Ang, bagaimana bisa kau bermain seperti itu?”

Aku sedikit terkejut melihatnya. Aku benar-benar mengacau. “A-Aku tadi sempat kehilangan fokus dan berhenti sejenak.” Rasa bersalah menghampiriku.

“Kau tadi berhenti? Benarkah?” Kak Mawar berseru. “Aku tak tahu itu.”

“Eh?” Aku heran. Tadi aku benar-benar berhenti sebentar.

“Ang, kau bermain sangat baik, bahkan lebih baik dari yang kukira. Makanya aku bertanya bagaimana kau bisa bermain seperti itu? Tak ada yang menyadari jika kau sempat berhenti karena mereka akan berpikir itu bagian dari improvisasimu. Bahkan Mawar sendiri tak menyadarinya.”

“Benar Ang.” Kak Mawar ikut menambahi. “Apa kubilang, kau pasti bisa melakukan ini.”

Kak Lang menyipitkan matanya. “Heh kapan kau bilang begitu?”

“Tapi meski begitu, para juri menyadarinya.” Kataku.

“Benar juga.” Kak Lang sedikit berpikir. “Tapi menurutku mereka pasti akan senang dengan improvisasi tapi tidak berlebihan karena kau seorang drummer yang harus menjaga tempo lagu. Menurutku improvisasimu tidak berlebihan, kupikir itu masuk pada bagian penting dari penilaiannya.”

Aku manggut-manggut. Aku jadi penasaran seberapa sering kak Lang mengikuti lomba band seperti ini. Dia bahkan sudah mengetahui kriteria penilaiannya.

Awan menghampiriku, dia menepuk pundakku. “Ang, sepertinya aku tak akan pernah menyesal sudah menyuruh Fajar mencarikan anggota club.”

Aku tersenyum. Padahal kupikir, aku telah mengacau penampilan namun nyatanya mereka semua memberiku pujian. Aku masih belum tahu standar permainan musik yang baik seperti apa. Karena pengumuman masih lama, aku memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar.

Aku mulai celingukan. Memutari area penonton, mataku menyapu bersih. Aku sama sekali tak melihat tanda keberadaannya. Aku coba cari di bangku terakhir kali kita bertemu, juga tak ada. Ah baiklah mungkin dia sudah pulang. Aku memutuskan pergi membeli minuman.

“Kau mencariku?” Suara seseorang datang dari belakangku.

Aku menoleh, mengangguk. “Kupikir kau sudah pulang.”

“Bukankah sudah kubilang, aku akan menemuimu.” Dia mendengus. “Jahat sekali, kau tak mempercayaiku.”

“Eh, bukan begitu.” Aku gugup. Tapi benar apa yang dikatakannya. Aku menghembuskan napas. “Maaf.”

Dia tertawa. “Aku cuma bercanda. Lagipula jelas saja kau masih belum bisa mempercayai orang yang baru kau temui. Aku pun juga mungkin akan seperti itu.”

Aku menghela napas, kupikir dia akan marah tapi ternyata tidak.

“Kau hebat ya?” Dia berkata sambil menerawang langit. “Padahal kau tak punya basic drum. Kau hanya bisa bermain gitar dulu saat kita pertama kali bertemu. Tapi sekarang kau bisa melakukannya. Benar kan apa yang kubilang, kalau itu kau, pasti bisa.”

“Itu semua karenamu.”

“Eh?” Dia menatapku heran. “Aku?”

Aku mengangguk. “Sejak saat itu, saat pertama kali kita bertemu, kau selalu menolongku. Aku minta maaf, waktu itu aku melampiaskan semuanya padamu.”

Dia menggeleng. “Bukankah aku yang menyuruhmu?”

Aku diam, menunduk. “Kenapa? Kenapa kau menolongku?”

Hening. Aku mencoba melirik, gadis itu hanya diam dan lagi-lagi menerawang langit. Apa aku salah bertanya? Aku hanya ingin tahu.

“Itu karena-“

“Hai Adikku tersayang.” Suara besar itu mengagetkan kami berdua.

Aku sontak menoleh ke sumber suara. Aku tersentak, kenapa bisa aku melupakan keberadaannya setelah tadi dia yang membuatku hilang fokus. Aku menatap gadis itu. kakak tiriku itu pasti akan bicara aneh-aneh tentangku. “Kita harus pergi dari sini.” Aku hendak menarik tangannya.

Kakak tiriku lebih dulu menarik pundakku. “Hei, aku sangat merindukanmu. Tak sopan jika kau langsung pergi begitu saja.”

1
Joshua Andhika
agak nyesek si saat dhara meninggal/Cry//Cry/
☠️⃝🖌️Deep ⃟🌴
Hallo othor, semangattt yaa
Dani irwandi
mampir jga ya kak kalo ada waktu
Inru
Seorang anak tidak bisa memilih lahir dalam kondisi seperti apa.
Inru
Nggak bisa bayangin 😫
Inru
Duh, baru baca langsung ada umpatan. Kaget aku thor....
~🌹eveliniq🌹~
hadir lagi nih memberi semangat
~🌹eveliniq🌹~
hadir meninggalkan jejak semangat
~🌹eveliniq🌹~
mampir lg baca lg semangat selalu
Elly Setia Ningsih
jangan sad ending dong thor, gak kuat
Elly Setia Ningsih
gadis itu mungkin adiknya mawar
~🌹eveliniq🌹~
hadir lg memberikan semangat dari find the Perfect Love dan cinta online
~🌹eveliniq🌹~
kerennn aku sukaaa❤️❤️❤️❤️❤️🌹🌹🌹🌹
~🌹eveliniq🌹~
suka mampir baca lg
~🌹eveliniq🌹~
nyicil baca lg ya support selalu
Your name
Mulia banget...
Your name
Setidaknya sudah berani mencoba
Sedang Bersemedi
kereen...
aku bacanya nyicil ya kak, udah aku fav
Sedang Bersemedi
awal yg menyedihkan, semoga happy anding
~🌹eveliniq🌹~
hadir nyicil baca lg nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!