NovelToon NovelToon
Istri Seksi Gus Ibra

Istri Seksi Gus Ibra

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Nikahmuda
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Elma Grace

​"Bagaimana jadinya kalau gadis nakal harus takluk menghadapi anak dari pemilik pesantren?"


Tsabita Azzahra, sebagai bentuk protes karena selalu dibanding-bandingkan dengan kakaknya, Safira, yang nyaris sempurna, Bita memilih hidup bebas: nongkrong di lounge elite, pulang subuh, dan akrab dengan kehidupan malam.

​Puncaknya, setelah mabuk berat akibat patah hati, Bita membuat kekacauan terbesar dalam hidupnya. Di area parkir remang-remang, ia mengira seorang cowok jangkung yang sedang duduk tenang di atas moge hitamnya adalah tukang parkir. Dengan lancang, Bita memaki-maki cowok itu, menarik kerah bajunya, dan... muntah tepat di atas sepatu sneakers mahal si cowok sebelum akhirnya pingsan.

Sepanjang insiden itu, si cowok hanya diam, menatap Bita dengan pandangan dingin yang tidak terbaca, lalu menolongnya dengan tenang.

​​Kehabisan kesabaran, orang tua Bita memberikan hukuman final: Bita dijodohkan dengan anak pemilik salah satu Pesantren.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elma Grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23

​Langkah kaki Bita terasa jauh lebih ringan saat mereka menapaki koridor yang menghubungkan aula utama dengan area privat ndalem. Di luar, riuh rendah suara wartawan perlahan memudar, digantikan oleh kesunyian yang menenangkan.

​Ibra masih setia menyandarkan telapak tangannya di punggung Bita, memastikan istrinya tidak kehilangan keseimbangan akibat sisa-sisa adrenalin yang merosot drastis.

​"Kita langsung ke atas saja, ya? Kamu butuh istirahat," kata Ibra, memecah keheningan dengan suara baritonnya yang lembut.

​Bita mengangguk pelan. "Iya, Gus. Rasanya sendi-sendiku kayak mau lepas semua. Ternyata berhadapan dengan puluhan kamera itu lebih menyeramkan daripada ujian semester."

​Ibra terkekeh pelan, menuntun Bita menaiki tangga minimalis. "Tapi kamu melakukannya dengan sangat baik, Bita. Aku bahkan sempat terpesona melihat bagaimana kamu menjawab pertanyaan wartawan tadi. Tegas, jujur, dan tidak bertele-tele."

​Wajah Bita mendadak terasa hangat. Ia memalingkan wajahnya sedikit ke arah dinding, mencoba menyembunyikan senyuman yang terbit di bibirnya. "Kamu jangan mulai deh, Gus. Aku ini tadi cuma berusaha gak pingsan di depan mikrofon. Oh iya... makasih ya, karena kamu gak membiarkan aku terpojok."

​"Itu sudah menjadi tugas aku, Bita. Sejak akad, seluruh keamanan dan kebahagiaanmu adalah tanggung jawab yang aku pikul," jawab Ibra mantap saat mereka melangkah masuk ke dalam kamar utama.

​Ibra menutup pintu rapat-rapat, mengunci dunia luar yang bising di balik daun pintu tebal itu. Bita langsung berjalan menuju sofa panjang di dekat jendela, melepas sepatu hak tingginya dengan helaan napas lega yang panjang, lalu menyandarkan kepalanya di bantalan sofa.

​Baru saja keheningan menyelimuti mereka selama dua menit, tiba-tiba keheningan itu pecah. Ponsel Bita yang diletakkan di atas meja kaca bergetar hebat. Layarnya menyala, menampilkan sebuah nomor tidak dikenal.

​Bita mengernyitkan dahi. Perasaan tidak enak mendadak merayap kembali ke ulu hatinya. "Gus... ada nomor gak dikenal telepon."

​Ibra yang baru saja melepas peci hitamnya dan meletakkannya di meja kerja langsung menoleh. Ia berjalan mendekat, menatap layar ponsel yang masih bergetar berisik. "Angkat saja. Pasang mode pengeras suara."

​Dengan tangan yang sedikit ragu, Bita menggeser tombol hijau lalu meletakkan ponselnya di atas meja.

​"Halo?" sapa Bita hati-hati.

​"Hebat ya kamu sekarang, Bita! Sudah pinter main drama di depan media nasional!"

​Suara di seberang sana melengking tinggi, sarat akan kemarahan yang meledak-ledak dan napas yang memburu cepat. Bita seketika membeku. Ia mengenali suara itu dengan sangat baik. Itu suara Reno.

​"Reno..." desis Bita, tangannya otomatis mencengkeram ujung jilbabnya. "Mau kamu apa lagi, sih? Buat apa kamu telepon aku?"

​"Mau aku? Kamu nanya mau aku apa?!" Reno tertawa sarkas, terdengar sangat frustrasi di seberang telepon. "Gara-gara press conference sampah suami kamu itu, saham perusahaan bapak aku langsung anjlok siang ini! Berita soal somasi dan keterlibatan keluarga aku sudah masuk ke meja redaksi media bisnis! Kamu benar-benar mau hancurin hidup aku, hah?!"

​Bita merasakan emosinya memuncak. Rasa takut yang sempat menghantuinya semalam kini menguap, digantikan oleh rasa muak yang luar biasa. "Aku yang hancurin hidup kamu? Sadar gak sih, Ren? Kamu yang mulai semua kekacauan ini! Kamu yang sebar foto-foto lama aku, kamu yang bayar agensi buat bikin fitnah di Twitter! Kamu yang coba hancurin pernikahan aku!"

​"Halah, jangan sok suci kamu, Bita! Kamu pikir setelah kamu nikah sama anak Kiai itu, masa lalu kamu yang menjijikkan di kelab malam bisa hilang begitu saja?!" teran Reno berapi-api, mencoba mengintimidasi. "Dengar ya, cabut laporan kamu di Polda sore ini juga! Kalau tidak, aku punya rekaman dan foto-foto lain yang jauh lebih parah dari kemarin. Aku pastikan pesantren suci kalian itu bakal beneran tutup muka karena malu!"

​Mendengar ancaman terang-terangan itu, tubuh Bita bergetar karena amarah. Namun, sebelum ia sempat membalas, sebuah tangan kekar bergerak cepat mengambil ponsel tersebut.

​Gus Ibra membawa ponsel itu mendekat ke arah wajahnya. Sorot mata teduh pria itu kini telah sepenuhnya lenyap, digantikan oleh pandangan sedingin es yang mampu membekukan siapa saja yang melihatnya.

​"Silakan sebarkan, Saudara Reno," ucap Ibra. Suaranya terdengar begitu datar, tenang, namun memiliki tekanan intimidasi yang luar biasa berat.

​Keheningan sempat tercipta selama beberapa detik di seberang telepon. Reno tampaknya terkejut mendengarkan suara pria lain.

​"Siapa ini? Oh... si Gus sok suci itu?" cibir Reno, meski nada suaranya terdengar sedikit goyah.

​"Aku Ibra, suami sah dari Tsabita," jawab Ibra lempeng, sama sekali tidak terpancing oleh cibiran murahan Reno. "Dan untuk informasi Anda, setiap tambahan data, foto, atau ancaman yang Anda lontarkan mulai detik ini, hanya akan memperpanjang masa hukuman Anda di dalam sel penjara."

​"Jangan sok jagoan kamu ya! Kamu gak tahu siapa keluarga aku! Uang kami bisa membeli hukum di kota ini!" ancam Reno, mencoba menggertak dengan kekayaan keluarganya.

​Ibra tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terdengar dingin melalui desah napasnya. "Aku tahu persis siapa keluarga Anda, Reno. Termasuk aliran dana ilegal dan manipulasi pajak perusahaan cangkang milik ayah Anda yang digunakan untuk mendanai agensi buzzer tersebut. Dokumen lengkapnya sudah ada di meja penyidik siber dan KPK sejak satu jam yang lalu."

​Mendengar kata 'KPK', Reno terdengar tercekat. Suara napasnya mendadak memburu panik. "Kamu... kamu jangan mengada-ada ya!"

​"Pesantren ini berdiri di tengah kota Jakarta bukan hanya dengan doa, Reno, tapi juga dengan sistem hukum korporat yang matang," lanjut Ibra dengan nada bicara yang sangat terstruktur. "Kamu salah memilih lawan sejak awal. Kamu mengira istriku adalah wanita tanpa perlindungan yang bisa kamu injak-injak harga dirinya sesuka hati. Sekarang, hadapi akibatnya. Somasi kami tidak akan pernah dicabut, dan proses hukum akan berjalan sampai kamu mengenakan rompi tahanan."

​"Bita! Kamu tega hancurin aku?!" teriak Reno histeris melompati suara Ibra, mencoba memanggil Bita dengan nada putus asa. "Kita pernah saling menyayangi, Bita! Kamu tega lihat aku dipenjara?!"

​Bita memajukan tubuhnya mendekati ponsel yang dipegang Ibra. Matanya menatap lurus, suaranya terdengar begitu dingin dan tanpa keraguan sedikit pun. "Kamu yang menghancurkan dirimu sendiri, Reno. Hubungan kita sudah lama mati karena kelakuan toxic kamu. Dan hari ini, kamu harus bayar semua air mata yang sudah kamu buat jatuh dari mata Umi dan orang-orang yang aku sayang. Jangan pernah hubungi aku lagi."

​Pip.

​Ibra langsung menekan tombol merah, memutuskan sambungan telepon sepihak. Ia mematikan daya ponsel Bita sepenuhnya, lalu meletakkannya kembali ke atas meja kaca. Ruangan itu kembali diselimuti oleh kesunyian, namun kali ini atmosfernya terasa jauh lebih bersih.

​Bita terduduk lemas di sofa, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Bahunya naik turun saat ia mencoba menstabilkan emosinya yang sempat terkuras habis akibat konfrontasi barusan.

​Ibra berjalan mendekat, lalu duduk di samping Bita. Dengan gerakan yang penuh kehati-hatian, ia menarik kedua tangan Bita dari wajahnya, lalu menggenggamnya erat.

​"Kamu terluka mendengar ucapan dia?" tanya Ibra lembut, matanya menatap lekat ke dalam manik mata Bita yang tampak berkaca-kaca.

​Bita menggeleng cepat, sebuah senyuman lega justru terukir di bibirnya yang sedikit pucat. "Enggak, Gus. Sama sekali enggak. Aku justru merasa... bebas. Bebas dari bayang-bayang masa lalu yang selama ini selalu bikin aku merasa gak berharga."

​Bita menatap balik sepasang mata tajam suaminya. "Terima kasih banyak ya, kamu beneran jadi benteng buat aku hari ini. Aku gak tahu apa jadinya kalau aku harus menghadapi Reno sendirian."

​Ibra membawa telapak tangan Bita ke depan bibirnya, mengecup punggung tangan istrinya dengan kelembutan yang teramat dalam, membuat pipi Bita kembali merona merah.

​"Badai di luar sudah kita jinakkan bersama, Bita," tutur Ibra dengan senyuman hangatnya yang khas. "Sekarang, yang ada hanya aku dan kamu di sini. Tidak perlu ada lagi ketakutan akan masa lalu, karena masa depan kita baru saja dimulai hari ini."

1
Anita Rahayu
kapan ni buat dedek bayi yg gemoy
Elma Grace: eh tenang aja. ada kok nanti. tunggu yaa, bikin sedikit konflik biar makin deket dulu merekanyaa
total 1 replies
merry
kyky reno ngk bergerak sndrian dehh,, x Safira itu terlibat krn iri sm bita x y
Clarisa Putri: aku juga mikir gini
total 1 replies
Sri Jumiati
apa safira suka sm gus ibra ya
Elma Grace
/Rose//Heart/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!