"Tiga minggu di surga tersembunyi, atau tiga minggu terjebak di istana para penguasa abadi?"
Liburan akhir semester yang seharusnya menjadi momen healing bagi empat sahabat Elena, Aldara, Keisha, dan Amanda berubah menjadi awal dari petualangan lintas dimensi yang berbahaya sekaligus mendebarkan. Tergiur oleh foto-foto estetik di internet, mereka sepakat untuk melakukan camping selama tiga minggu di Pulau Tirta Asri, sebuah pulau terpencil tak berpenghuni di wilayah laut selatan.
Mereka tidak pernah tahu bahwa di balik keindahan pasir putih dan air kristalnya, pulau itu memiliki nama asli yang terhapus dari peta manusia Pulau Bai She. Pulau tersebut adalah domain suci yang menyembunyikan empat istana kolosal kuno, rumah bagi empat raja klan siluman tertinggi dengan rupa ketampanan yang mematikan.
Bai Yuanjun, Sang Raja Ular Putih yang dingin Mo Chenxi, Sang Raja Buaya Putih yang tak tersentuh Su Lingkong, Sang Raja Rubah Putih yang penuh tipu daya dan Lang Ye, Sang Raja Serigala
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Divya bharti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keras Kepala Sang Raja dan Ambisi Bangau Perak
Meskipun Bai Yuanjun telah menegaskan status Elena dengan segenap wibawa yang ia miliki, dinding ketegaran kedua orang tuanya tidak runtuh begitu saja. Aula Pertemuan Utama Istana Bai Long justru semakin dicekam oleh tekanan spiritual yang saling berbenturan. Aura keemasan purba milik Bai Tianlang terus menekan, mencoba mematahkan pendirian putra mahkotanya yang dianggap telah melangkah terlalu jauh dari garis tradisi agung klan ular putih.
"Cukup, Yuanjun!" bentak Bai Tianlang, suaranya menggelegar hingga membuat pilar-pilar pualam istana bergetar halus. "Kau boleh membangun kerajaanmu sendiri di pulau terpencil ini, tapi kau tidak akan pernah bisa menghapus darah leluhur yang mengalir di tubuhmu! Kami tetap tidak merestui hubunganmu dengan istri manusiamu itu! Bagaimana pun juga, kau harus menerima perjodohanmu dengan Putri Huanying dari klan Bangau Perak! Itu adalah keputusan mutlak demi menjaga kemurnian dan masa depan klan kita!"
Permaisuri Meilan menatap putrinya dengan pandangan mata yang menyiratkan kekecewaan mendalam. "Manusia itu hanya akan menjadi kelemahanmu, Anakku. Keberadaannya di sampingmu hanya akan mengundang cemoohan dari klan-klan siluman agung lainnya. Pikirkanlah matang-matang sebelum segalanya terlambat."
Namun, Bai Yuanjun tetap bergeming di atas singgasananya. Tatapan mata keperakannya mengunci pandangan sang ayah dengan ketegasan yang dingin dan tak tergoyahkan. Keheningan yang sarat akan penolakan membisu menjadi jawaban akhir dari sang raja ular putih. Menyadari bahwa watak keras kepala putra mereka tidak akan bisa dilunakkan hanya dengan kata-kata ataupun ancaman spiritual di hari yang sama, Bai Tianlang akhirnya bangkit berdiri dengan napas yang memburu karena menahan amarah.
Setelah perdebatan sengit yang berujung pada jalan buntu tersebut, tak lama kemudian orang tua Bai Yuanjun memutuskan untuk pulang ke kerajaannya di dimensi atas. Mereka melangkah keluar menuju pelataran dengan jubah yang berkibar kasar, lalu naik ke atas kereta kencana kayu cendana hitam. Dua ekor ular bersayap perak segera mengepakkan sayap mereka, membawa kereta itu melesat membelah langit kabut Pulau Bai She, meninggalkan Istana Bai Long yang kembali diselimuti oleh kesunyian yang dingin dan mencekam.
Keesokan harinya, di belahan dimensi seberang yang dipenuhi oleh pegunungan berbatu putih dan pepohonan berdaun perak, berdiri sebuah kompleks istana yang sangat megah dan anggun. Tempat itu adalah Kerajaan Siluman Bangau Perak, sebuah wilayah yang terkenal dengan keindahan arsitekturnya yang menjulang tinggi menembus awan.
Di dalam Paviliun Sayap Kanan, seorang gadis cantik bertubuh semampai sedang berdiri di depan sebuah cermin giok besar. Gadis itu adalah Putri Huanying. Ia mengenakan gaun sutra putih salju dengan hiasan bulu-bulu perak halus di sepanjang lengan jubahnya, mencerminkan keanggunan klan bangsawan burung bangau yang terhormat.
Hari ini, Putri Huanying berencana untuk pergi berkunjung ke Istana Bai Long. Setelah mendengar pembicaraan rahasia antara ayahnya dan utusan dari klan ular leluhur mengenai rencana perjodohan, rasa penasaran yang luar biasa besar langsung membuncah di dalam dadanya. Ia sangat ingin ke istana Bai Yuanjun karena ia penasaran seperti apa kerajaan yang dibangun oleh pria itu, terutama setelah mendengar rumor yang beredar di kalangan dimensi gaib bahwa Bai Yuanjun berhasil membangun kerajaan mandiri yang sangat kokoh dan disegani di Pulau Bai She tanpa bantuan sepeser pun dari kekayaan leluhurnya.
Sembari merapikan tatanan rambutnya yang dihiasi tusuk konde mutiara, seulas senyuman manis terukir di bibir tipis Putri Huanying. Di dalam lubuk hatinya, ia menyimpan sebuah harapan yang sangat besar. Ia berharap jika ia bisa menjadi permaisuri di kerajaan yang didirikan oleh Bai Yuanjun itu, mendampingi sang raja ular memerintah wilayah baru yang makmur tersebut.
Bagi Putri Huanying, perjodohan ini bukanlah sekadar urusan politik antar klan belaka. Jauh di balik itu, Bai Yuanjun adalah cinta pertamanya. Intinya, sang raja ular putih itu adalah pujaan hatinya yang selama ratusan tahun ini selalu hadir di dalam mimpi-mimpinya.
Terakhir kali Putri Huanying bertemu dengan Bai Yuanjun adalah beberapa abad yang lalu, tepatnya ketika ada pesta perayaan agung yang diselenggarakan oleh Kerajaan Siluman Naga Langit. Pada saat itu, seluruh pangeran dan putri bangsawan dari berbagai klan berkumpul mengenakan pakaian terbaik mereka. Namun, di antara ratusan siluman tinggi yang hadir, pandangan mata Huanying langsung terkunci pada sosok Bai Yuanjun yang berjalan dengan keanggunan yang dingin dan tatapan mata keperakan yang tajam.
Putri Huanying sangat mengagumi ketampanan Bai Yuanjun pada saat itu. Wajah sang raja ular yang seolah dipahat sempurna tanpa cela oleh dewa pencipta, dipadukan dengan aura kepemimpinan yang angkuh namun memikat, telah membuat jantung sang putri bangau berdetak dua kali lebih cepat. Dan pada momen pertama kali itulah, Putri Huanying merasa jatuh cinta untuk yang pertama kalinya dalam hidupnya yang abadi. Sejak hari itu, ia menolak setiap pangeran siluman yang datang melamarnya, hanya demi menanti waktu di mana namanya bisa bersanding dengan sang pangeran ular putih.
"Tuan Putri, kereta kencana sudah siap di pelataran," ucap seorang pelayan bangau bertubuh kecil, membungkuk hormat di ambang pintu paviliun.
Huanying membalikkan tubuhnya, matanya berkilat penuh ambisi dan keyakinan. "Bagus. Mari kita lihat seberapa megah istana yang dibangun oleh pujaan hatiku itu. Aku akan memastikan bahwa akulah satu-satunya wanita yang pantas bersanding di samping singgasananya," bisiknya penuh percaya diri, tanpa pernah mengetahui bahwa di dalam istana yang ditujunya, sebuah takdir rumit berdarah manusia telah lebih dulu bertahta di atas ranjang sang raja.