Nikah muda? ✅
Nikah online? ✅
Satu kelas sama suami sendiri yang ternyata idola sekolah? Nah, yang ini di luar prediksi BMKG!
Satu tahun lalu, sebuah ijab kabul via video call mengikat takdir Ellea dengan seorang pria di kota. Tanpa cinta, tanpa tatap muka langsung.
Kini, Ellea harus menyusul sang suami ke kota setelah kepergian neneknya. Namun, saat tiba di sana, justru pria itu kabur dari rumah dan takdir membawa mereka untuk bertemu kembali di koridor sekolah.
Pria itu bernama Albiru, pria yang paling dielu-elukan, sang kapten tim basket yang dingin dan tak tersentuh, ternyata adalah pemilik cincin yang sama dengan yang melingkar di jari Ellea.
Bagaimana cara Ellea menyembunyikan rahasia besar ini di depan teman-teman barunya? Dan mampukah sang kapten basket mengenali istrinya sendiri yang bercadar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aqilazahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa anak Bunda sebenarnya?
Langkah kaki Ellea terasa mengambang saat menyusuri aspal area parkir sekolah yang mulai lengang. Di depannya, Andra berjalan santai menuntun sepeda motor sport besarnya keluar dari barisan. Namun, sebelum Ellea sempat meraih helm yang diulurkan Andra, sepasang matanya menangkap sebuah pemandangan di dekat mobil sedan hitam milik Albiru.
Tepat di bawah rindangnya pohon peneduh, Albiru berjalan santai, jemari tangannya menggenggam erat jemari Sandra, seolah sengaja memamerkan kedekatan mereka di hadapan beberapa murid yang tersisa. Tatapan mata elang Albiru bergerak lurus, mengunci pandangan Ellea dengan sorot menantang.
Rasa kecewa yang teramat dalam kembali menghunjam dada Ellea. Di balik balutan cadar hitamnya, ia mengembuskan napas panjang, lalu dengan tegas membuang muka. Ia menolak untuk terus menjadi penonton dari sandiwara menyakitkan yang diciptakan suaminya sendiri.
"Silakan naik, El," panggil Andra hangat, membuyarkan lamunan singkat gadis itu.
"Iya, Kak," jawab Ellea seraya menata posisinya di jok belakang.
Sebelum Andra menarik tuas gas, Ellea dengan sigap melepas tas ranselnya yang cukup tebal. Ia memosisikan tas tersebut tepat di tengah-tengah, menjadi pembatas kokoh agar tidak ada bagian tubuhnya yang bersentuhan dengan punggung Andra.
Melihat tindakan Ellea yang lucu itu dari kaca spion, Andra tidak tersinggung sama sekali. Sebaliknya, seulas senyum kagum terbit di wajah pria itu. Ia memajukan sedikit duduknya demi menghormati batas yang diciptakan Ellea.
"Pegangan ke besi belakang ya, El. Kita jalan," ujar Andra sebelum motor mereka melesat membelah gerbang sekolah, meninggalkan kepulan debu tipis serta sepasang mata Albiru yang kian meredup dipenuhi amarah.
Saat Ellea pergi tanpa menatapnya, justru membuat Albiru uring-uringan tak jelas.
“Awas saja kamu, Ellea!” gerutu batinnya.
**
Setibanya di pusat kota, motor Andra berhenti dengan mulus di pelataran sebuah toko buku besar di pusat kota. Begitu melangkah masuk ke dalam ruangan ber-AC yang tenang dan dipenuhi aroma kertas baru, binar antusiasme yang sempat padam di mata abu-abu Ellea seketika berkobar kembali. Langkah kakinya bergerak cepat, menelusuri rak demi rak yang memuat jajaran kitab dan novel sastra.
Andra berjalan santai di belakangnya, memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana abu-abunya sambil terus mengamati Ellea.
"Kamu suka membaca genre sejarah juga, El?" tanya Andra saat melihat jemari Ellea mengusap sebuah buku tebal tentang peradaban Islam.
"Iya, Kak. Membaca sejarah membuat kita paham bahwa ruang waktu selalu berputar," tutur Ellea tanpa mengalihkan pandangannya dari jajaran buku.
Andra semakin kagum dengan wanita bercadar di depannya. “Ya Tuhan, sisakan satu saja wanita seperti ini, tapi kalau dikasih Ellea pun nggak apa-apa, suer Tuhan, aku janji akan jadi anak Sholeh,” batin Andra.
Setelah hampir tiga puluh menit berputar, Ellea membawa dua buah buku menuju meja kasir. Namun, sebelum ia sempat membuka dompetnya, sebuah kartu debit sudah lebih dulu diulurkan oleh Andra kepada petugas kasir.
"Eh, Kak Andra? Biar saya bayar sendiri," tukas Ellea panik.
"Santai saja, El. Anggap ini hadiah sambutan sebagai tanda persahabatan kita," jelas Andra disertai senyuman tulus, mengabaikan penolakan halus dari gadis di sampingnya.
Melihat keteguhan Andra, Ellea hanya bisa menunduk pasrah. "Terima kasih banyak, Kak. Semoga Allah membalas kebaikanmu," bisik Ellea tulus.
“Sama-sama, santai saja ya.”
*
Di belahan jalan yang lain, ketenangan menjadi barang langka di dalam mobil sedan hitam Albiru. Musik yang berdentum keras dari dashboard sama sekali tidak mampu meredam gemuruh di dalam kepalanya. Pikirannya terus berputar pada fakta bahwa Ellea saat ini sedang berduaan dengan Andra.
Albiru tahu betul siapa Andra. Di kalangan murid laki-laki, Andra dikenal cukup playboy karena kerap berganti teman dekat wanita dalam waktu singkat. Sifat Andra yang supel dan penuh pesona selalu berhasil memikat siapa saja.
"Sialan! Kenapa gue harus kepikiran terus? Mau dia jalan sama buaya darat sekalipun, bukan urusan gue," gerutu Albiru dalam hati, memukul setir dengan gusar.
Namun, egonya menolak mentah-mentah ucapan logis tersebut. Hatinya merasa tidak rela jika hak milik sahnya meski tidak ia inginkan disentuh atau didekati oleh pria lain.
"Al, setelah dari kafe, kita mampir ke butik nyokap gue sebentar, ya?" seru Sandra manja, memutus paksa lamunan Albiru.
"Kita batal ke kafe. Gue mau pulang," tukas Albiru dingin, mendadak menginjak rem dan menghentikan mobilnya di tepi jalan, tepat di depan sebuah halte.
Sandra terperanjat, matanya membelalak tidak percaya. "Lho! Al, elo kok egois banget sih hari ini? Elo udah janji mau temanin gue!" protes Sandra dengan nada meninggi.
"Turun, San. Gue lagi nggak pengen diganggu," perintah Albiru tanpa menoleh sedikit pun.
Melihat rahang Albiru yang mengetat kaku dan sorot matanya yang menggelap, Sandra tidak berani membantah lebih jauh. Dengan hentakan kaki yang kasar, ia keluar dari mobil dan membanting pintu dengan keras. Tanpa memedulikan kekesalan gadis itu, Albiru langsung menginjak pedal gas dalam-dalam, melesat menuju rumah dengan satu misi, mengadukan kelakuan "kegatelan" Ellea pada ibunya, Mahira. Ia ingin ibunya tahu bahwa menantu pilihan beliau tidak se-suci yang dikira.
Setibanya di sana, pintu utama rumah kediaman Samudra terbuka dengan hentakan keras. Albiru melangkah masuk dengan napas memburu, langsung menuju ruang tengah di mana Mahira biasanya sedang bersantai.
Benar saja, Mahira sedang duduk di sofa sambil menikmati teh hangat. Namun, ekspresi wajah wanita paruh baya itu sama sekali tidak menunjukkan keterkejutan saat melihat putranya pulang dengan wajah merah padam.
"Bun! Bunda harus tahu kelakuan menantu pujaan Bunda itu di sekolah!" ucap Albiru berapi-api, langsung mendudukkan diri di sofa seberang ibunya. "Hari pertama sekolah, dia sudah berani kelayapan naik motor berduaan sama cowok lain! Padahal dia pakai cadar, tapi kelakuannya—"
"Albiru, jaga bicaramu," potong Mahira dengan nada tenang namun sarat akan ketegasan seorang ibu. Ia meletakkan cangkir tehnya perlahan ke atas meja.
"Kok Bunda malah bela dia? Dia itu istri aku, Bun! Tapi dia sengaja mempermalukan aku dengan dekat-dekat cowok playboy di sekolah!" sanggah Albiru tidak terima, merasa suaranya diabaikan.
Mahira mengembuskan napas panjang, menatap putra tunggalnya dengan pandangan penuh arti. "Bunda sudah tahu semuanya dari Alisa sebelum kamu sampai di rumah, Al. Alisa menceritakan bagaimana kamu merundung Ellea di kelas, mengatainya aneh, bahkan sengaja bermesraan dengan pacarmu yang bernama Sandra itu di depan matanya."
Albiru seketika bungkam, lidahnya mendadak kelu mendapati fakta bahwa sang adik telah membongkar semuanya lebih dulu.
"Dengar, Albiru," lanjut Mahira, mencondongkan tubuhnya ke depan. "Jika kamu tidak bisa memberikan kebahagiaan untuk Ellea sebagai suaminya, jika kamu terus memperlakukannya seperti sampah sementara dia terus menjaga kehormatanmu, maka bunda sama sekali tidak keberatan jika Ellea mencari kebahagiaannya sendiri lewat pria lain yang lebih bisa menghargainya."
Bagai disambar petir di siang bolong, seluruh pasokan udara di paru-paru Albiru serasa menguap habis mendengar pernyataan sang ibu. Egonya hancur berkeping-keping.
"Bun?! Bunda bicara apa sih?!" bentak Albiru frustrasi, berdiri dari duduknya dengan emosi yang sudah meluap hingga ke ubun-ubun. "Sebenarnya di rumah ini, anak kandung Bunda itu aku atau Ellea?!"
Mahira tidak gentar menghadapi amarah putranya. Ia ikut berdiri, menatap lurus ke dalam sepasang mata elang Albiru yang kini bergetar hebat.
"Secara darah, kamu memang anak bunda, Al. Tapi secara nurani, bunda tidak akan pernah sudi melahirkan seorang pria yang bermental pengecut dengan menyakiti hati seorang wanita yang telah sah menjadi istrinya."
Kata-kata telak dari Mahira sukses membungkam seluruh pembelaan diri di kepala Albiru.
“Terserah Bunda! Pokoknya, Al tetap tidak terima dengan pernikahan ini, titik!”