NovelToon NovelToon
Lebih Sekadar Tante

Lebih Sekadar Tante

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Agatha soul

Bagi Arvin, Karin bukan sekadar tante dari sahabatnya. Karin adalah tempatnya pulang, tawa yang selalu ia cari, dan masa depan yang ingin ia tuju. Di saat kedekatan mereka mulai mencairkan dinding perbedaan usia, sebuah kencan tak sengaja justru membawa kembali bayang-bayang masa lalu Karin yang belum usai.
Ketika masa lalu menuntut tempatnya kembali, akankah Karin bertahan pada zona nyamannya, atau berani melangkah demi rasa yang lebih dari sekadar tante?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agatha soul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamu Pagi Hari

Sabtu pagi, jarum jam baru menunjukkan pukul enam ketika suara deru motor matic Karin berhenti di halaman rumah Maya—kakaknya. Dengan langkah santai, Karin melenggang masuk ke dalam rumah.

Di dapur, Maya yang sedang sibuk menyiapkan sarapan langsung menoleh dengan mata membelalak.

"Tumben pagi-pagi banget datang ke sini? Berangkat dari jam berapa kamu, Rin?" tanya Mbak Maya heran.

"Iya, Kak. Karin berangkat jam lima pagi tadi," jawab Karin sambil nyengir.

Maya menggeleng-gelengkan kepala. "Ngapain jam segitu rajin banget? Biasanya juga kamu baru nongol siang."

"Biarin dong. Oh ya, Eja ada, kan? Belum bangun dia?"

"Belum."

Belum sempat Maya menyelesaikan kalimatnya, Karin sudah melesat pergi menuju tangga. "Tapi..." Mbak Maya hanya bisa menghela napas menatap punggung adiknya yang sudah menghilang ke lantai atas.

Karin langsung menuju kamar keponakannya. Tanpa ragu, ia membuka pintu kamar Reza yang tidak terkunci. Di atas ranjang, tampak seorang lelaki sedang tidur telungkup memunggungi pintu, bertelanjang dada dengan selimut yang hanya menutupi batas pinggang.

Si Eja masih tidur rupanya, pikir Karin jahil.

Dengan sekali gerakan, Karin meloncat ke atas ranjang. "Hey! Karin datang!" serunya heboh.

Klek.

Tiba-tiba lampu kamar menyala terang.

"Tante! Ngapain masuk kamarku sembarangan?!"

Karin tersentak. Suara protes itu bukan berasal dari bawahnya, melainkan dari arah ambang pintu kamar mandi di dalam kamar. Karin menoleh ke sumber suara, lalu menatap horor ke arah lelaki yang sedang ia duduki.

Merasakan ranjangnya berguncang hebat, lelaki yang tidur telungkup itu mulai terusik. Dia berbalik, mengucek matanya yang masih mengantuk, lalu menoleh ke arah Karin dengan wajah bingung sekaligus kaget.

Sadar dirinya salah sasaran, Karin buru-buru turun dari pinggang laki-laki itu dan bergeser duduk di tengah-tengah ranjang dengan canggung.

Reza berjalan mendekat sambil bersedekap dada, wajahnya masam. "Tante ngapain sih? Eja kan udah gede, harusnya Tante ketuk pintu dulu, jangan main masuk sembarangan!"

"Tante gak tahu kamu bakalan bawa teman tidur di sini..." Karin membela diri, lalu buru-buru menatap laki-laki di sampingnya dengan wajah bersalah. "Maaf ya..."

Laki-laki itu hanya diam. Dia mengangguk kecil, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Reza, meminta penjelasan.

"Itu tante gue, Tante Karin," kata Reza memperkenalkan dengan nada malas. "Udah ah, sana lo keluar aja, Tan. Ganggu tahu!"

Karin malah mengerucutkan bibirnya. "Ih, kamu tuh ya, gak kangen apa sama aku?"

"Gak!" jawab Reza ketus.

Bukannya keluar seperti yang diperintahkan, Karin malah dengan santai merebahkan tubuhnya di kasur Reza, tepat di samping teman Reza yang kini sudah mengubah posisi menjadi duduk.

Merasa situasi kamar mulai aneh, teman Reza itu akhirnya berdeham. "Gue ke kamar mandi dulu," pamitnya pelan.

Karin menengok, sedikit terkejut saat mendengar suara laki-laki itu. Suaranya terdengar sangat berat dan ngebas. Persis kayak karakter cowok di novel-novel yang sering gue tulis, batin Karin. Sudut bibirnya refleks terkekeh kecil.

Setelah laki-laki itu masuk ke kamar mandi, Reza langsung duduk di tepi ranjang dengan gusar. "Tante, malu-maluin banget ih! Itu kan temen Eja!"

Karin mengubah posisinya menjadi tidur menyamping, menahan kepalanya dengan tangan kanan sambil menatap keponakannya dengan jeli. "Siapa namanya?"

"Arvin," jawab Reza singkat dan padat.

Karin tersenyum misterius. Dia kemudian bangkit berdiri, lalu dengan gemas mengacak-ngacak rambut Reza sampai berantakan.

"Ya udah, ayo turun. Sarapan!" seru Karin riang, melangkah keluar kamar seolah tidak baru saja membuat kehebohan.

Di meja makan, aroma nasi goreng dan telur dadar buatan Maya sudah menguar. Karin langsung menarik kursi dan cemberut ke arah kakaknya.

"Kakak kok gak kasih tahu sih kalau Eja bawa temennya nginep di sini?" protes Karin setengah berbisik.

Mbak Maya memutar bola matanya gemas. "Kamu yang main pergi gitu aja tadi, Rin! Kakak baru mau ngasih tahu, kamunya udah ngibrit ke atas. Tapi... mereka udah pada bangun?"

"Udah," jawab Karin singkat, agak tengsin kalau ingat kejadian tadi.

Tak lama kemudian, Hendra—kakak ipar Karin—muncul dari arah kamar sambil menuntun anak bungsu mereka yang baru berusia 5 tahun dan masih mengantuk, Lulu.

"Tante Alin!" seru Lulu dengan suara serak khas anak baru bangun tidur.

Melihat keponakan kecilnya yang menggemaskan itu, Karin langsung bangkit. "Sini sama Tante Alin," ucapnya sambil mengambil alih Lulu ke dalam gendongannya, membuat Lulu langsung menyandarkan kepala di bahu Karin.

Saat sarapan sudah siap di meja, Reza dan Arvin akhirnya turun. Arvin kini sudah rapi mengenakan kaos hitam santai. Kebetulan, posisi duduk Karin berhadapan langsung dengan Arvin. Dengan telaten, Karin memangku Lulu, menyuapinya sesekali, dan dengan sabar memberikan minum menggunakan sedotan agar tidak tumpah ke baju sang keponakan.

Hendra yang memperhatikan ketelatenan adiknya itu tersenyum kecil. "Makanya nikah, Rin. Biar kamu punya anak sendiri, gak cuma ngasuh keponakan terus."

Karin mendengus pelan sambil mengelus rambut Lulu. "Gak ah, gak mau ya," jawab Karin santai, enggan membahas topik sensitif itu pagi-pagi.

Saat Karin hendak meraih gelas minumnya sendiri, tanpa sengaja tatapan matanya bertemu langsung dengan Arvin. Laki-laki 17 tahun itu ternyata sedang memperhatikannya sejak tadi. Begitu mata mereka beradu, Arvin langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam, dan mendadak sibuk melanjutkan makannya.

Setelah beres makan, suasana hangat itu sedikit berubah ketika mereka bersantai di ruang tamu. Karin duduk di sofa panjang sambil meluruskan kakinya.

Hendra membuka koran digital di ponselnya, lalu menatap Karin. "Rin, kamu kenapa gak cari kerjaan yang beneran sih? Yang kantoran gitu, biar kamu punya penghasilan tetap."

Karin menghela napas, sudah hafal dengan arah pembicaraan ini. "Ya emang kenapa kalau kerja di rumah, Mas? Yang penting aku bisa makan dari hasil keringat sendiri."

Maya ikut menimpali sambil melipat sisa pakaian di sudut ruangan. "Ya kan setidaknya kalau kerja kantoran, kamu gak kekurangan uang, Rin. Masa depan juga lebih jelas."

Merasa jengah karena pekerjaannya sebagai penulis fiksi dianggap sebelah mata, Karin langsung memotong omongan kakaknya dengan nada tegas namun tenang.

"Emangnya kapan aku minta jatah buat hidup aku ke kalian? Gak, kan? Aku ke sini cuma mau main dan ketemu keponakan-keponakan aku, bukan mau minta uang jajan."

Mendengar jawaban telak dari Karin, kedua kakaknya itu seketika terbungkam. Maya dan Hendra hanya bisa saling pandang lalu menghela napas panjang, tahu kalau adik mereka yang satu ini memang keras kepala dan mandiri.

Di sudut ruangan, Arvin yang sedang bermain ponsel bersama Reza diam-diam mencuri dengar. Ada rasa kagum yang terselip di hatinya melihat cara Karin mempertahankan prinsip hidupnya di depan orang tua yang kolot.

Mencoba mencairkan suasana yang sempat tegang, Karin menoleh ke arah keponakan remajanya. "Eja, weekend ini kalian mau ke mana?"

"Mau ke curug. Mau ikut?" jawab Reza santai tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya.

Mata Karin langsung berbinar. "Ikut lah! Karin ke sini kan emang mau liburan!" serunya riang, melupakan kekesalannya pada kakaknya barusan.

Di sebelahnya, Arvin diam-diam menyunggingkan senyum tipis. Liburan ke curug kali ini tampaknya akan jauh lebih menarik dari yang dia bayangkan.

1
Bunga
Karya terbaik😍semangat 💪
Agatha soul: terima kasih
total 1 replies
Bunga
Terbaik
mary dice
sepertinya ada yang mau nembak nih... lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!