Dikejar tenggat waktu menikah oleh sang nenek, Sari Maheswara CEO kaya raya yang dingin dan perfeksionis. Mobilnya mogok di dekat pasar subuh. Namun, kesialan itu membawanya bertemu dengan Arka, seorang duda tampan penjual kue basah yang karismatik. Hanya dengan sebutir kue klepon buatan Arka, lidah dan hati Sari langsung meleleh.
Terbiasa mendapatkan apa pun dengan uang, Sari dengan angkuh menyodorkan Black Card-nya untuk membeli seluruh dagangan, gerobak, sekaligus sang penjual! Bukannya tergiur, Arka yang berprinsip justru menolak mentah-mentah keangkuhan sang CEO.
Penolakan itu malah menyulut jiwa kompetitif Sari. Demi menaklukkan hati sang duda, Sari rela menanggalkan gengsinya: bangun jam 4 subuh, menerjang beceknya pasar dengan high heels, hingga berebut kue dengan emak-emak berdaster. Meski Arka berulang kali memintanya mundur karena perbedaan kasta dan status dudanya, Sari justru makin tertantang untuk membuktikan bahwa cinta sejatinya tidak bisa dibeli melainkan diperjuangkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Dua hari telah berlalu di ruang perawatan yang sunyi. Berkat penanganan medis yang intensif dan antibiotik dosis tinggi yang masuk ke tubuhnya, kondisi fisik Sari Maheswara berangsur-angsur pulih.
Dokter penanggung jawab akhirnya memberikan lampu hijau dan menyatakan bahwa ia diperbolehkan pulang untuk melanjutkan istirahat total di rumah.
Sari menurunkan kedua kakinya dari brankar, menjejakkan alas kakinya ke lantai rumah sakit yang dingin.
Tubuhnya memang masih sedikit lemas, namun jiwanya yang mandiri menolak untuk terlihat rapuh.
Dengan tangan yang masih sedikit kaku, ia meraih sendiri pegangan koper besarnya, menolak dibantu oleh perawat yang berjaga.
Saat melangkah keluar dari koridor ruang rawat menuju lobi utama, mata Sari langsung menangkap punggung tegap yang sangat familier berjalan beberapa meter di depannya. Arka.
Lelaki itu berjalan dengan bahu yang tampak merosot, membawa tas ransel kumal miliknya sendiri.
Selama dua hari penuh, Arka benar-benar menepati janjinya; ia tidak pernah pergi sejengkal pun dari rumah sakit, tidur di kursi tunggu koridor, dan memastikan semua kebutuhan administrasi Sari selesai tanpa cacat.
Namun, ia juga menjaga jarak, tidak ingin membuat Sari merasa terganggu.
Langkah kaki keduanya membawa mereka sampai ke halaman depan rumah sakit yang teduh oleh rindangnya pohon beringin.
Sinar matahari pagi yang hangat menyiram pelataran parkir.
Arka tiba-tiba menghentikan langkahnya, lalu membalikkan badan, menghadap langsung ke arah Sari yang berdiri tegak memegangi kopernya.
Suasana seketika berubah hening, hanya menyisakan deru kendaraan yang sayup-sayup terdengar dari jalan raya.
Arka menatap wajah Sari yang kini sudah kembali merona, mengagumi kecantikan wanita itu untuk yang terakhir kalinya.
Ada binar kesedihan dan keikhlasan yang teramat dalam di sepasang mata kuyu milik pria itu.
Arka menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan.
Ia memaksakan sebuah senyuman tulus di bibirnya yang kering.
"Saya pamit, Mbak. Dan, semoga Mbak lekas mendapatkan jodoh yang terbaik," ucap Arka, suaranya terdengar sangat parau namun mantap.
Arka menundukkan kepalanya sejenak, menatap ujung sepatunya sendiri dengan rasa sesal yang kini telah ia pasrahkan pada takdir.
"Mbak Sari terlalu baik untuk saya yang seperti lelaki pengecut ini. Lelaki yang tidak bisa menjaga kepercayaan, dan hanya bisa menorehkan luka."
Sari terpaku di tempatnya berdiri. Dadanya mendadak bergemuruh hebat mendengar kata-kata itu.
Ada rasa sesak yang menghimpit ulu hatinya, seolah ada bongkahan es yang menyumbat tenggorokannya hingga ia tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun.
Ego dan rasa sakitnya tempo hari membuat mulutnya terkunci rapat.
Setelah keheningan yang menyiksa selama beberapa detik, Sari akhirnya hanya mampu menganggukkan kepalanya pelan.
Sebuah anggukan kaku yang menandakan bahwa ia menerima pamit dari lelaki di hadapannya.
Melihat anggukan itu, Arka tersenyum getir. Tidak ada lagi yang perlu dikatakan.
Ia telah menyelesaikan tugasnya untuk memastikan wanita yang dicintainya itu kembali sehat.
"Jaga diri baik-baik, Mbak," bisik Arka lirih.
Pria tegap itu kemudian membalikkan badannya membelakangi Sari.
Dengan langkah yang terasa berat namun dipaksakan untuk tetap tegap, Arka mulai berjalan meninggalkan pelataran lobi rumah sakit.
Ia melangkah menyusuri jalur pejalan kaki, menuju ke arah gerbang luar yang berbatasan langsung dengan jalan raya.
Sari berdiri bergeming seperti patung, sepasang matanya tidak berkedip menatap punggung hoodie kusut Arka yang perlahan kian menjauh.
Lelaki sederhana itu terus berjalan tanpa sekali pun menoleh ke belakang, bersiap mencari angkutan umum yang bisa membawanya menuju ke terminal untuk pulang ke Jakarta.
Di bawah terik matahari pagi yang kian meninggi, jarak di antara mereka kembali membentang lebar, menyisakan sebuah akhir yang menggantung di pelataran rumah sakit.
"ARKA!!"
Suara lengkingan itu memecah riuh rendah suasana pelataran rumah sakit.
Langkah kaki Arka mendadak terkunci di atas aspal panas.
Jantungnya berdentang dua kali lebih cepat. Suara itu, suara tegas yang selama beberapa hari ini terdengar dingin dan transaksional, kini memanggil namanya dengan nada yang teramat rapuh.
Arka membalikkan tubuhnya dengan cepat. Di kejauhan, ia melihat Sari telah melepaskan pegangan pada koper besarnya.
Wanita itu berlari kecil ke arahnya. Namun, karena kondisi fisiknya yang belum pulih seratus persen, keseimbangan Sari goyah di atas paving blok yang tidak rata.
Tubuhnya terhuyung, hampir jatuh tersungkur ke depan.
"Mbak Sari!"
Melihat hal itu, seluruh akal sehat Arka runtuh. Tas ransel di bahunya ia lepaskan begitu saja hingga terjatuh ke tanah.
Arka berlari sekuat tenaga menembus jarak yang memisahkan mereka.
Dengan gerakan refleks yang begitu cepat dan lancar, ia menyergap tubuh Sari sebelum wanita itu menyentuh aspal, langsung menariknya ke dalam sebuah pelukan yang teramat erat.
Tubuh Sari bergetar hebat di dalam dekapan dada tegap Arka.
Kedua tangan wanita itu langsung meremas kain hoodie kusut Arka, mencengkeramnya seolah takut pria itu akan menguap ditiup angin pagi jika ia melepaskannya.
"Kamu tega meninggalkan aku sendirian di sini?" bisik Sari, suaranya parau, tersedat oleh tangis yang mendadak tumpah.
"Kamu, benar-benar ikhlas kalau aku mencari jodoh lain?"
Arka mempererat dekapannya, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Sari.
Ia menggelengkan kepalanya dengan kuat, menolak mentah-mentah premis yang baru saja ia ucapkan sendiri beberapa menit lalu.
Ego, rasa malu, dan sekat status sosial yang sempat ia pasang kini melebur tak bersisa.
"Tidak, Mbak... tidak ikhlas," jawab Arka, suaranya bergetar hebat menahan badai emosi di dalam dadanya.
Air mata yang sejak tadi ia tahan di kelopak matanya akhirnya luruh juga, membasahi bahu Sari.
"Aku mencintaimu, Mbak. Sangat mencintaimu... Maafkan aku karena aku terlambat menyadarinya. Maaf karena kebodohanku sudah membuatmu sesakit ini," bisik Arka, mengulang kalimat sakral itu berkali-kali di dekat telinga Sari.
Sari tidak lagi menjawab dengan kata-kata tajam. Pertahanan terakhir dari seorang CEO Maheswara Group itu runtuh sepenuhnya di pelukan seorang tukang kue sederhana.
Sari menangis sesenggukan, menumpahkan seluruh rasa lelah, rasa sakit hati akibat kesalahpahaman kemarin, dan rasa lega yang luar biasa karena lelaki ini ternyata memilih untuk berbalik arah.
Di bawah rindangnya pohon beringin rumah sakit, di hadapan lalu lalang orang-orang yang menatap mereka dengan pandangan haru, dua hati yang sempat terpisah oleh jarak dan kesalahpahaman itu akhirnya kembali bertaut dengan erat. Badai telah berlalu, dan kali ini, mereka tidak lagi saling melepaskan.
Arka perlahan melonggarkan pelukannya, namun kedua tangannya tetap kokoh memegangi kedua bahu Sari, seolah memastikan bahwa wanita di hadapannya ini benar-benar nyata dan tidak akan pergi lagi.
Ia menghapus sisa air mata di pipi Sari dengan ibu jarinya yang kasar dengan sangat lembut.
"Sekarang kita pulang atau tetap ke Yogyakarta, Mbak?" tanya Arka.
Sari mengembuskan napas lega, senyum manis yang selama beberapa hari ini hilang kini kembali terukir indah di wajahnya.
"Kita pulang. Pulang ke rumah kamu dan membuat klepon bersama lagi," jawab Sari mantap.
"Tapi, kita harus menemui Nenek dulu yang sekarang sedang bersama Nanda di Jakarta. Aku harus meluruskan semuanya."
Arka tertegun sejenak. Mendengar kata 'Nenek' dan 'Jakarta' membuat dadanya kembali berdesir agak ragu.
Menemui keluarga besar Maheswara adalah ujian besar bagi pria biasa seperti dirinya.
Arka menatap Sari lekat-lekat, menyuarakan keraguan terkecil yang masih tersisa di sudut hatinya.
"Mbak, benar-benar yakin mau menikah dengan saya? Saya ini hanya seorang duda penjual kue, Mbak. Jarak kita terlalu jauh."
Sari terkekeh kecil, sebuah tawa renyah yang paling dirindukan Arka.
Ia menepuk dada tegap Arka dengan manik mata yang berbinar jenaka.
"Aku sangat yakin, Arka. Anggap saja ini investasi terbaikku. Lagipula, ini sistemnya buy 1 get 1."
Arka mengernyitkan dahinya bingung, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Hah? Buy 1 get 1? Artinya apa, Mbak?" tanya Arka.
Sari menahan senyumnya, lalu menatap Arka dengan tatapan menggoda yang membuat wajah kuyu pria itu mendadak merona merah.
"Artinya, aku dapat paket lengkap. Dapat suami yang sudah berpengalaman dalam membina rumah tangga, sekaligus dapat bonus koki andalan pembuat kue basah terbaik se-Jakarta. Kurang untung apa lagi coba?"
Mendengar jawaban tak terduga dari sang CEO, tawa Arka akhirnya pecah.
Rasa canggung dan sisa kesedihan di antara mereka seketika menguap begitu saja. Arka menggeleng-gelengkan kepalanya, tak menyangka jiwa bisnis Sari bahkan terbawa sampai ke urusan asmara.
"Bisa saja Mbak ini," ujar Arka sambil tersenyum lebar, wajah lelahnya kini berganti dengan gairah hidup yang baru.
Arka segera berbalik untuk memungut kembali tas ransel kumalnya yang sempat tergeletak di atas tanah.
Dengan langkah ringan, ia menuntun Sari kembali ke arah lobi untuk mengambil koper besar milik wanita itu yang sempat tertinggal.
"Biar saya yang bawa kopernya, Mbak. Mbak jangan angkat yang berat-berat dulu," ucap Arka sigap, langsung mengambil alih pegangan koper sebelum tangan Sari menyentuhnya.
Sari hanya menurut sambil tersenyum manis, membiarkan dirinya kini dijaga sepenuhnya oleh Arka.
Kemudian Arka mengangkat tangan kirinya ke arah jalan raya, melambaikan tangan memanggil sebuah angkutan umum yang sedang melintas lambat di depan gerbang rumah sakit.
Angkutan umum tersebut bergerak membelok dan berhenti tepat di depan mereka.
Arka dengan cekatan memasukkan koper dan tas ke dalam bagasi belakang, lalu membukakan pintu penumpang untuk Sari.
Setelah Sari masuk dengan nyaman, Arka memutari mobil dan duduk di sampingnya.
Angkutan umum pun perlahan melaju, meninggalkan pelataran rumah sakit daerah yang menjadi saksi bisu runtuh dan bangkitnya cinta mereka.
Arka mengulurkan tangannya, dan kali ini Sari menyambutnya dengan jemari yang saling bertautan erat.
Perjalanan kembali ke Jakarta kini terasa jauh lebih singkat, karena mereka tahu, badai telah usai dan masa depan yang manis—semanis kue-kue subuh mereka—telah menanti di depan mata.
klo mas duda menolak cinta sih 1000 : 1...
di dunia kita laki2 tu ibarat kucing garong...ikan asin bejejer j di cuntan makinya awewe bungas ✌️✌️✌️🤎