"Bagaimana jika kau tahu rahasia kehancuran dunia, tapi kau tidak boleh memberitahu siapa pun?"
Di masa depan, Wei Changqing adalah legenda tertinggi dunia persilatan—sang Mata Pedang Hijau yang ditakuti sekaligus dihormati. Namun gelar itu tak ada artinya ketika ia berdiri di atas puing-puing dunia yang hancur oleh perang agung, memeluk jasad wanita yang setia menantinya hingga akhir hayat.
Mengorbankan seluruh tingkat latihannya, Changqing memutar balik roda waktu dan terbangun di dalam tubuh mudanya yang berusia 19 tahun. Kembali menjadi pendekar mentah yang belum memiliki reputasi apa pun.
Kali ini, tujuannya hanya satu: Mencegah perang berdarah itu terjadi dan menyelamatkan wanita yang ia cintai.
Namun, merubah takdir memiliki harga mahal. Setiap peristiwa yang ia cegah melahirkan musuh baru yang lebih mengerikan. Lebih buruk lagi, demi menyatukan sekte-sekte yang egois agar tidak saling berperang, Changqing mungkin harus menelan fitnah terbesar dalam sejarah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 : Tarian Satu Napas
Empat bilah senjata, dua golok lebar, satu tombak pendek, dan satu rantai besi berujung duri, melesat serentak menuju empat titik vital Wei Changqing.
Serangan komplotan Bayangan Gerhana itu kejam dan terkoordinasi. Mereka terbiasa membantai musuh dalam hitungan detik dengan memanfaatkan keunggulan jumlah dan kebuasan tenaga dalam. Angin berdesir tajam saat keempat senjata itu tinggal berjarak tiga jengkal dari leher, dada, dan kaki Changqing.
Di belakangnya, Baii Ling kecil menahan napas. Bocah sebelas tahun itu meremas tanah berdebu, yakin bahwa pemuda berjubah abu-abu ini akan terkoyak menjadi serpihan daging dalam sekejap.
Namun di mata Changqing, waktu seolah membeku.
‘Langkah kiri penyerang rantai terlalu maju tiga sentimeter, merusak keseimbangannya sendiri,’ batin Changqing tenang. ‘Penyerang tombak bernapas lewat mulut, tanda napas tenaganya sedang berada di titik terendah. Dua pengguna golok... hanya mengandalkan tenaga bahu tanpa fondasi pinggang.’
Sring!
Pedang besi hitam yang kusam itu keluar dari sarungnya. Suaranya tidak nyaring, tidak memancarkan ledakan energi yang menyilaukan mata.
Changqing bergerak. Tarikan napas pertama.
Batu kecil di bawah sepatu Changqing bergeser satu inci. Tubuh mudanya miring ke kanan dengan sudut yang sangat tidak wajar, membiarkan mata tombak pendek lawan melesat hanya setengah milimeter di samping telinganya—menyentuh ujung rambutnya tanpa melukai kulit.
Di saat yang sama, gagang pedang hitam Changqing menghantam ke belakang, menghujam tepat ke ulu hati sang penyerang tombak.
Buagh!
Tenaga dalam Pendekar Menengah Tahap 3 yang dipusatkan pada satu titik kecil membuat penyerang tombak itu memuntahkan darah segar dari mulutnya. Meridian jantungnya hancur seketika, tubuhnya ambruk tanpa sempat menjerit.
Tarikan napas kedua.
Rantai besi berujung duri berdesing menyapu pergelangan kaki Changqing. Tanpa menoleh, Changqing memutar pedang hitamnya ke bawah, menggunakan punggung pedang yang tumpul untuk mengait rantai besi tersebut. Dengan satu sentakan pergelangan tangan yang lembut, rantai itu berbalik arah dengan kecepatan dua kali lipat, melilit leher pemiliknya sendiri!
Krak!
Suara tulang leher yang patah terdengar renyah di udara. Penyerang kedua tumbang dengan mata melotot.
Tarikan napas ketiga.
Dua pengguna golok yang tersisa terkejut setengah mati. Mereka belum pernah melihat pembantaian yang begitu kejam seperti ini. Tidak ada benturan logam yang keras, tidak ada percikan api—hanya ketepatan yang mengerikan!
"Mati kau!" teriak salah satu dari mereka yang panik, mengayunkan goloknya secara membabi buta ke arah kepala Changqing.
Changqing tidak menangkis. Ia cuman menunduk rendah, membiarkan golok itu menebas udara kosong di atas kepalanya. Pedang hitam kusam di tangannya meluncur mendatar seperti kilatan kilat.
Crasss! Crasss!
Dua tebasan pendek, masing-masing hanya sepanjang tiga inci. Namun ujung pedang Changqing tepat memotong urat di lutut kedua penyerang golok itu sekaligus, memutus urat nadi di pergelangan tangan mereka. Kedua penjahat itu menjerit tidak tertahan dan jatuh berlutut di tanah, senjata mereka terlepas, dan mereka lumpuh total seumur hidup!
Tiga tarikan napas. Empat pendekar tingkat Pendekar Menengah Tahap 4 telah tumbang. Dua mati, dua lumpuh tak berdaya.
Baii Ling kecil membuka mulutnya lebar-lebar. Mata hitamnya yang tadi dipenuhi amarah liar kini tergantikan oleh rasa takjub yang mendalam. Ia lupa pada rasa sakit di perutnya. Ia belum pernah melihat keindahan bela diri seperti ini, begitu sepi, begitu bersih, bagaikan seorang pelukis yang sedang meneteskan tinta di atas kanvas putih.
"S-Sialan!" jerit pemimpin bermata satu yang baru saja berhasil menguasai kembali pergelangan tangannya yang lumpuh akibat lemparan daun tadi.
Wajah penjahat tingkat Pendekar Tinggi Tahap 1 itu pucat pasi. Ia menyadari pemuda di depannya ini bukanlah murid sekte biasa. "Kau... kau menyembunyikan tingkat kekuatanmu! Siapa kau sebenarnya?!"
Membara oleh rasa takut yang berubah menjadi nekat, pemimpin bermata satu itu mengaum keras. Seluruh tenaga dalam tingkat Pendekar Tinggi-nya meledak keluar, membungkus golok besarnya dengan aura asap hitam beracun yang berbau busuk.
"Jurus Golok Gerhana Pemakan Jiwa!"
Ia melompat setinggi tiga meter ke udara, menebaskan goloknya dengan tenaga tebasan gila-gilaan ke arah ubun-ubun Wei Changqing. Angin badai hitam menyapu dedaunan kering di sekitar mereka. Daya rusak dari serangan tingkat Pendekar Tinggi ini cukup untuk membelah batu karang sebesar kerbau!
"Kakak, awas!" teriak Baii Ling spontan, hatinya berdegup kencang mengkhawatirkan pemuda yang telah menyelamatkannya.
Changqing mendongak menatap golok hitam yang meluncur turun ke arahnya. Wajahnya tetap setenang es.
‘Jurus aliran sesat tingkat rendah yang mengorbankan umur demi ledakan sesaat,’ batin Changqing ironis. ‘Titik pusat beratnya ada di pergelangan tangan kanan, sementara jalur meridian di bawah ketiaknya terbuka lebar tanpa pertahanan.’
Tarikan napas keempat.
Changqing tidak melompat. Ia juga tidak mengerahkan tenaga untuk melawan badai asap hitam itu. Ia hanya melangkah satu inci ke depan. Pedang hitam kusamnya terangkat lurus ke atas dengan gerakan yang sederhana.
Ujung pedang besi biasa itu menembus tepat di tengah pusaran badai hitam lawan.
Ting!
Suara benturan kecil bergema.
Seketika itu juga, badai asap hitam yang menggelegar padam bagaikan lilin yang ditiup angin. Aliran tenaga dalam pemimpin bermata satu itu terputus di tengah jalan karena titik kunci senjatanya dikunci oleh ujung pedang Changqing.
Sebelum penjahat itu sempat bereaksi saat tubuhnya melayang turun, Changqing memutar gagang pedangnya sedikit ke kiri.
Slat!
Bilah pedang hitam kusam itu menyayat melewati tenggorokan pemimpin bermata satu dengan kelembutan.
Pria bermata satu itu mendarat di atas kedua kakinya di belakang Changqing. Golok besarnya terlepas dari tangan dan menancap ke tanah. Ia berdiri kaku selama dua detik, tangannya meraba lehernya sendiri, sebelum garis merah tipis muncul di kulitnya. Darah menyembur ke udara, dan tubuh penjahat tingkat Pendekar Tinggi itu ambruk ke tanah tak bernyawa.
Keheningan total kembali menguasai jalan raya perbukitan itu.
Hanya butuh empat tarikan napas sejak Changqing mencabut pedangnya.
Changqing mengibaskan pedang hitamnya ke samping dengan gerakan santai. Satu tetes darah yang menempel di ujung bilahnya terlepas dan jatuh ke atas daun kering. Pedang itu kembali bersih tanpa noda, lalu disarungkan kembali.
Ia berbalik, menatap bocah sepuluh tahun yang masih duduk di atas tanah berlumuran lumpur.
Baii Ling menatap Changqing tanpa berkedip. Di dalam hati kecil bocah yatim piatu yang selama ini hanya mengenal kekejaman dan penderitaan dunia, sosok pemuda berjubah abu-abu dengan pedang hitam ini baru saja terukir sebagai dewa penyelamat.
Changqing berjalan mendekat kemudian berlutut dengan satu lutut di depan Baii Ling. Ia mengeluarkan sebuah saputangan putih bersih dari balik jubahnya, lalu dengan sangat lembut mengusap darah dan lumpur di pipi kotor bocah perempuan itu.
"Apakah kau terluka parah, Adik kecil?" tanya Changqing dengan suara yang begitu hangat dan penuh kasih—sebuah kehangatan dari seorang kakek yang akhirnya berhasil menyelamatkan cucu yang dulu ia sia-siakan.
Mendengar suara yang begitu lembut setelah mengalami penyiksaan berhari-hari, pertahanan mental Baii Ling runtuh seketika. Bocah yang tadi meludah dan mengumpat di depan golok penjahat itu kini meneteskan air mata hangat. Ia menangis terisak-isak, memegangi ujung jubah Changqing dengan erat seolah takut pemuda ini akan menghilang jika ia melepaskannya.
"T-Tidak... aku tidak apa-apa..." isak Baii Ling serak. "Terima kasih... terima kasih, Kakak Pendekar..."
Changqing tersenyum kecil, menepuk pucuk kepala Baii Ling dengan lembut.
Rantai takdir pertama telah resmi dipatahkan. Bocah yang di masa depan seharusnya terjerumus ke lembah kegelapan dan menjadi Iblis Wanita Darah Dingin pemicu perang besar, kini telah menemukan cahaya bimbingannya.
lanjutkan Thor.....👍👍🙏