Arthur Fabian Kell adalah vampir yang dianugerahi kekuatan terlarang dari Lucifer. Bukannya dipuja, ia justru dibenci oleh klannya sendiri dan ditolak oleh ayahnya, pemimpin Dark Moon.
Saat sang ibu mengorbankan nyawanya demi menyelamatkannya, Arthur berubah menjadi sosok kejam yang hidup hanya untuk membalas dendam. Untuk menyempurnakan kekuatan hitamnya, ia harus meminum darah manusia yang diberkahi.
Setelah berabad-abad menunggu, Arthur akhirnya bertemu Sonja, gadis yang memiliki darah tersebut. Namun, alih-alih membunuhnya, ia justru jatuh cinta.
Kini Arthur harus memilih, menyempurnakan dendamnya atau mempertahankan satu-satunya orang yang mampu menghidupkan kembali hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Arthur
Semilir angin laut membelai wajah Sonja, yang tengah berbaring santai di atas kap mobil sport hitam milik Arthur. Langit malam dipenuhi taburan bintang, sementara debur ombak yang memecah pantai menjadi satu-satunya suara yang menemani mereka. Udara mulai terasa semakin dingin, tetapi Arthur sama sekali tidak berniat menyalakan mesin mobil atau mengajak pulang.
Sonja memiringkan kepalanya menatap pria di sampingnya. Sejak tadi Arthur hanya diam, menatap hamparan laut yang gelap dengan sorot mata yang sulit ditebak.
"Arthur," panggil Sonja pelan.
"Hmm."
"Ayo kita pulang. Di sini semakin dingin."
Arthur menoleh. Tatapannya yang biasanya dingin mendadak melembut. Tanpa berkata apa-apa, ia meraih tangan Sonja yang membeku lalu menggenggamnya erat. "Masih dingin?"
Sonja tersenyum tipis."Sedikit."
Arthur kemudian menarik tubuh gadis itu hingga bersandar di dadanya. Kedua lengannya melingkar erat, menghalangi angin malam yang terus berembus."Begini?"
Sonja mengangguk kecil. "Jauh lebih hangat."
Sesaat mereka hanya menikmati keheningan. Sonja bisa mendengar detak jantung Arthur yang tenang, membuatnya enggan melepaskan pelukan itu. Namun tiba-tiba Arthur membuka suara."Aku memiliki masalah penting yang harus segera diselesaikan Sonja, sepertinya membutuhkan waktu yang sedikit lama, jadi aku ingin kau menjaga sikapmu selama aku pergi."
Sonja mengernyit. "Masalah? Ada apa Arthur? Masalah apa?" Sonja langsung bersikap waspada.
"Tidak perlu khawatir, ini hanya masalah sepele. Setelah selesai, aku akan langsung menemui mu."
Raut wajah Sonja perlahan sendu."Kau selalu seperti ini, bersikap semaunya sendiri."
Arthur mengusap pelan pipi Sonja yang mulai memerah diterpa angin."Percayalah padaku."
"Aku selalu percaya." Sonja tersenyum, meski matanya mulai berkaca-kaca. "Tapi aku tetap akan merindukanmu."
Arthur menatap wajah gadis itu lama, seolah ingin menghafal setiap lekuknya."Aku juga." Sebuah kecupan lembut mendarat di kening Sonja.
Keesokan paginya Sonja terbangun oleh sinar matahari yang menyelinap melalui celah gorden. Dengan mata yang masih setengah terpejam, ia meraba sisi ranjang tempat Arthur semalam berbaring.
Kosong.
Seketika kantuknya lenyap."Arthur?"
Tidak ada jawaban.
Sonja bergegas memeriksa setiap sudut flat kecil mereka. Ruang tamu, dapur, balkon, bahkan kamar mandi. Semuanya kosong. Arthur benar-benar telah pergi. Dia mengembuskan napas panjang sambil memeluk tubuhnya sendiri.
Sebenarnya Sonja sudah terbiasa dengan kebiasaan Arthur yang kerap menghilang tanpa kabar lalu kembali seolah tidak pernah terjadi apa pun. Namun kali ini berbeda. Ada sesuatu dalam tatapan Arthur semalam yang membuat hatinya dipenuhi firasat buruk.
Urusan apa yang sebenarnya harus diselesaikan pria itu? Apakah berkaitan dengan keluarganya? Atau masa lalu yang selama ini selalu ia sembunyikan?
Sonja tidak pernah tahu.
Setiap kali ia mencoba menanyakan tentang keluarga Arthur, pria itu selalu memilih diam, seakan ada luka yang tak ingin disentuh siapa pun.
Kini yang bisa Sonja lakukan hanyalah menunggu, berharap Arthur akan menepati janjinya untuk kembali.
***
Rumah itu terlihat begitu besar bahkan tampak seperti istana dengan interior yang sangat indah. Terlihat seorang pria muda sedang melakukan percakapan serius dengan seorang pria yang terlihat sudah menua.
“Apakah Ayah tidak bisa merasakan sedikit saja tanda dari gadis itu?” tanya pria muda itu kepada ayahnya.
Pria tua menggeleng pelan."Kondisiku yang seperti ini tidak akan bisa melacak siapapun. Lagipula, hanya kakakmu yang bisa merasakan tanda keberadaan gadis itu." Napasnya sedikit tersengal. "Tapi kau memiliki tiga Liontin Naga yang bisa mengantarkan mu untuk menemukan gadis itu Alex. Dan sepertinya kita harus cepat bergerak karena bulan purnama akan segera datang." Lanjutnya, dengan ekspresi wajah yang terlihat begitu khawatir.
“Aku akan berusaha menemukan gadis itu sebelum kakak menemukannya,” janji pria muda yang bernama Alex itu.
Alex Fabian Kell, mengemban tugas cukup berat dari ayahnya yang merupakan pemimpin tertinggi Klan. Dia harus menemukan gadis yang diberkati sebelum gadis itu ditemukan oleh kakaknya. Gadis terberkati memiliki darah yang bisa membangunkan kekuatan besar kakaknya, kalau sampai saudaranya meminum darah gadis yang diberkati itu, kekuatan terkutuk yang ada di tubuh kakaknya akan keluar dan saudaranya akan menjadi vampir terkuat.
Masih jelas dalam ingatan, ketika saudara kandungnya itu mengancam akan menghabisi seluruh klan, jika dia berhasil membebaskan kekuatan besar yang bersarang di tubuhnya.
Alex meninggalkan ayahnya dan memasuki aula besar yang dimiliki rumah itu. Dia harus segera bergerak, karena beberapa hari lagi bulan purnama akan muncul.“Bastian. Panggil Elleanor dan Alea. Aku memiliki tugas penting untuk mereka berdua."