Di usianya yang menginjak 40 tahun, Alena—seorang wanita yang kerap dijuluki perawan tua—terpaksa menuruti permintaan orang tuanya untuk menghadiri sebuah acara perjodohan di rumah makan. Berdasarkan foto yang ia terima, ia dijadwalkan bertemu dengan seorang pria bernama Ferry yang berusia 45 tahun.
Setelah menunggu begitu lama hingga berniat pulang, Alena akhirnya dihampiri oleh seorang lelaki tampan. Namun, kejutan besar menanti ketika pria tersebut memperkenalkan diri bukan sebagai Ferry, melainkan Baskara, anak kandung mendiang Ferry yang baru saja berpulang.
Demi memenuhi wasiat terakhir sang ayah, Baskara dengan tegas meminta Alena untuk meneruskan pernikahan tersebut. Meski sempat ragu dan berniat menolak akibat perbedaan usia yang terpaut jauh, keteguhan hati Baskara membuat Alena dihadapkan pada pilihan tak terduga dalam hidupnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
"Aku sudah pakai mata, Bas. Mereka yang mendorongku," jawab Alena membela diri, sedikit cemberut sambil memperhatikan suaminya yang masih fokus membalut lututnya dengan plester transparan.
Baskara mendengus pelan, lalu merapikan plester itu dengan ibu jarinya.
Ia berdiri dan menatap Alena dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Dasar kamu. Kalau dinasehati, selalu saja ada jawabannya."
Alena tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat tulus dan langka bagi Baskara.
Melihat istrinya yang kini kembali ceria, Baskara pun tidak bisa menahan senyum tipisnya yang jarang terlihat.
"Seharusnya kamu yang menasehati aku," gumam Baskara tiba-tiba, suaranya terdengar lebih dalam dan serius.
Alena menghentikan tawanya, menatap Baskara dengan dahi berkerut.
"Kenapa?"
Baskara menarik napas panjang, menatap sekeliling butik sebelum kembali menatap mata Alena.
"Mengingat usia kita yang terpaut jauh... secara logika, seharusnya kamu yang lebih dewasa dan memberikan nasihat padaku, bukan sebaliknya. Tapi nyatanya, aku malah yang selalu harus mengatur hidupmu," ucapnya dengan nada sedikit menyesal, meski tatapannya tetap menyimpan dominasi yang kuat.
Alena terdiam sesaat, merenungi kalimat suaminya.
"Mungkin karena kamu terlalu terburu-buru ingin mengendalikan segalanya, Bas. Bahkan untuk hal-hal kecil sekalipun."
Baskara hanya terdiam, tidak membantah. Ia kemudian berdiri tegak dan memberi isyarat kepada pelayan yang masih membawa deretan gaun malam.
"Sudah, lupakan. Sekarang pilih gaunnya. Aku ingin melihatmu tampil paling memukau malam nanti di depan keluarga besar," perintah Baskara, mengalihkan pembicaraan dengan gaya khasnya yang mutlak.
Alena melangkah keluar dari ruang ganti dengan balutan gaun malam berwarna hitam pekat berbahan silk sutra yang sangat halus.
Kain mewah itu jatuh sempurna mengikuti lekuk tubuhnya, memantulkan kilau elegan setiap kali ia bergerak.
Desain gaun dengan potongan punggung terbuka tipis dan belahan tinggi di bagian kaki memberikan kesan anggun sekaligus memukau, membuat siapa saja yang melihatnya akan terpesona.
Baskara, yang sejak tadi berdiri melipat tangan di dada sambil menunggu, seketika menghentikan napasnya.
Pria itu menelan salivanya dengan susah payah saat matanya menangkap siluet sang istri yang tampil begitu luar biasa di hadapannya.
Aura dewasa dan kecantikan Alena berpadu sempurna dengan gaun malam tersebut, memusnahkan seluruh keraguan atau pandangan remeh siapa pun tentang wanita itu.
Baskara terdiam terpaku, dadanya bergemuruh hebat menyadari bahwa wanita bergaun hitam di depannya ini adalah istri sah yang sepenuhnya miliknya.
Baskara melangkah perlahan mendekati Alena dari arah belakang.
Tanpa aba-aba, kedua lengannya yang kokoh melingkar erat di pinggang ramping sang istri, menarik tubuh Alena hingga bersandar sempurna pada dada bidangnya.
Ia membenamkan wajahnya di lekuk leher Alena, menghirup aroma lembut yang menguar dari sana.
Alena sedikit tersentak kaget. Jantungnya berdegup kencang bukan hanya karena pelukan itu, tetapi juga karena mereka masih berada di tengah butik dengan beberapa pelayan dan Tanti yang mencuri-curi pandang.
"Bas, tolong jangan mesum," bisik Alena tertahan, pipinya merona merah padam hingga menjalar ke leher.
Baskara terkekeh pelan di dekat telinga Alena. Getaran tawa itu terasa jelas di punggung wanita tersebut.
"Aku tidak mesum," sangkal Baskara dengan suara rendah yang serak dan menggoda.
"Aku ingin memeluk istriku sendiri, apa itu salah?"
"T-tidak salah, Bas..." cicit Alena gugup, mencoba menggeser tubuhnya sedikit. "...hanya saja banyak orang melihat kita."
Baskara mengeratkan pelukannya, sama sekali tidak berniat melepaskan.
Ia mengecup sekilas puncak kepala Alena dengan penuh kelembutan.
"Biarkan saja, Sayang," bisik Baskara mutlak.
"Biar mereka tahu, wanita sehebat dan seindah ini adalah milikku seutuhnya"
Beberapa pasang mata di dalam butik tak mampu melepaskan pandangan dari pemandangan di hadapan mereka.
Bisik-bisik pelan seketika mengudara, menciptakan dengungan halus di ruangan yang mewah itu.
"Wah, lihat pasangan itu... Suaminya kelihatan begitu muda, tampan, dan mapan, tapi istrinya kelihatan jauh lebih dewasa. Beruntung sekali wanita itu bisa mendapatkan pria sesempurna itu," bisik salah seorang pengunjung wanita kepada temannya dengan nada penuh kekaguman dan sedikit rasa iri.
"Ah, paling juga wanita itu menggunakan pelet atau pria muda itu hanya mengincar harta sang wanita senior. Padahal usianya jelas terpaut jauh, kok ya mau-maunya jalan berdua dengan gaya mesra begitu di tempat umum," timpal seorang sosialita lain dengan cibiran sinis sambil memutar bola matanya malas.
Tanti yang mendengar bisikan-bisikan miring itu langsung melirik tajam ke arah sumber suara, sementara Gerald hanya memasang wajah datar seolah mengabaikan setiap mulut yang bergosip di sekeliling mereka.
Baskara mengendurkan pelukannya secara perlahan, namun tatapannya masih terkunci lekat pada pantulan bayangan Alena di cermin besar butik tersebut.
Jemarinya merapikan juntaian rambut sang istri yang sedikit berantakan di dekat tengkuk.
"Ayo lepas gaun itu dan kita pulang ke rumah sebelum acara nanti malam," bisik Baskara tepat di dekat telinga Alena dengan nada yang menyiratkan perintah sekaligus kelembutan.
Alena menoleh sedikit, menatap suaminya lewat pantulan cermin dengan sebelah alis terangkat.
"Kenapa harus pulang sekarang? Acara keluarga malam nanti kan masih lama, Bas."
Baskara menyunggingkan senyum penuh arti yang membuat jantung Alena berdetak dua kali lebih cepat.
"Karena aku tidak mau punggung indah dan gaun terbuka ini dilihat oleh pria lain terlalu lama, Sayang," jawab Baskara tanpa ragu, lalu menepuk pelan pinggang Alena agar wanita itu bergegas kembali ke ruang ganti.
Baskara menoleh ke arah Gerald, pengawal setianya yang masih berdiri tegak di dekat pintu.
"Gerald, antarkan Tanti pulang dan ajak dia makan dulu. Pastikan dia sampai dengan aman."
Gerald menundukkan kepala singkat, "Baik, Tuan."
Tanti yang mendengar instruksi itu langsung menyunggingkan senyum tipis—kombinasi antara rasa senang dan malu-malu—kemudian melambaikan tangannya dengan semangat ke arah Alena sebagai tanda perpisahan.
Setelah memastikan pembayaran gaun selesai dilakukan dengan black card-nya, Baskara merangkul pinggang Alena dan menuntunnya keluar dari butik menuju lobi mal.
Namun, langkah mereka terhenti tepat di depan sebuah gerai es krim yang populer.
Mata Alena tertuju pada deretan es krim coklat yang terlihat sangat menggoda di balik kaca etalase.
"Bas, aku ingin beli itu dulu," pinta Alena sambil menunjuk gerai tersebut dengan tatapan memohon seperti anak kecil.
Baskara mengikuti arah telunjuk istrinya, lalu beralih menatap wajah Alena yang terlihat begitu antusias.
Ia menghela napas, namun sudut bibirnya justru terangkat membentuk senyuman hangat yang tidak bisa ia sembunyikan.
"Hm, baiklah. Seperti anak kecil," ucap Baskara lembut sambil mengusap puncak kepala Alena, kemudian berjalan mendekati gerai es krim untuk membelikan apa yang diinginkan oleh istrinya itu.
Alena berdiri di depan etalase kaca gerai es krim, matanya berbinar memperhatikan sang penjual yang cekatan melumuri dinding kerucut wafel dengan lelehan cokelat pekat sebelum menyendok es krim vanila tebal ke atasnya.
"Alena, duduk sini..." panggil Baskara dari kursi kayu tinggi di dekat meja kafe kecil di samping gerai, menepuk kursi kosong di sebelah posisinya.
Alena melambaikan tangan tanpa menoleh, mengabaikan panggilan suaminya.
*Sebentar, Bas... aku ingin melihat prosesnya. Kapan lagi bisa lihat langsung?" serunya antusias.
Melihat istrinya yang mengabaikannya demi sebuah es krim, Baskara menggelengkan kepala pelan.
Ia bangkit dari duduknya, melangkah menghampiri Alena, lalu dengan lembut namun pasti meraih pergelangan tangan sang istri dan menariknya agar menjauh dari etalase.
"Kamu ini seperti anak kecil. Padahal, seharusnya aku yang kelakuan seperti anak kecil," protes Baskara sambil membawa Alena duduk di kursi yang sudah ia siapkan tadi.
Alena menerima sodoran tisu dari suaminya, lalu mendengkus pelan sambil tersenyum geli.
Ia menopang dagunya dengan kedua tangan di atas meja.
"Bas, meskipun umurku sudah kepala empat, kalau di hadapan makanan manis... aku tetap saja merasa seperti anak kecil," jawab Alena santai tanpa beban.
Baskara menatap lurus wanita di hadapannya itu. Sorot matanya melembut, menyadari betapa sederhananya kebahagiaan Alena hari ini—sesuatu yang sama sekali tidak ia temukan di kalangan sosialita egois atau di ruang rapat perusahaan yang penuh intrik.
Tak lama kemudian, pesanan mereka datang. Dua cone es krim cokelat tebal tersaji rapi di atas meja.
Baskara mendorong salah satunya ke hadapan Alena, membiarkan istrinya menikmati camilan manis tersebut dengan senyum yang tak kunjung surut dari bibirnya.
kayaknya sih gt,apa lagi usia mereka yg beda jauh dan pernikahan yg hanya di kalangan keluarga aja,duh Alena kasihan km,bagus kamu mati aja lah😭😭😭😭😭,tp lok iya gt ceritanya AQ ud baca yg mirip2 sih Thor...jadi bsk2 lagi AQ gak mau lah bacanya,soalnya buat asam lambung q bs naik Thor...gak rela lok perempuan tu di buat seperti itu😭😭😭😭