Arya Sena adalah seorang anak yang tidak diketahui publik dari pasangan Tunggul ametung dan seorang wanita yang merawatnya ketika dia mengalami luka parah akibat perintah penguasa Kediri yang memerintahkannya untuk menumpas pemberontakan disuatu daerah, setelah terluka Tunggul Ametung dirawat oleh seorang perempuan didesa bersama beberapa orang setianya, dan disaat itu mereka tidak sengaja jatuh cinta, ketika sudah benar-benar pulih, Tunggul Ametung menyuruh gadis itu untuk melupakannya, ditambah dihatinya hanya ada istrinya Dedes, lalu tanpa diketahui perempuan itu mengandung, setelah kurang lebih sembilan bulan lahirnya anak di kandungnya seorang laki-laki, tapi tak lama bayi itu kemudian meninggal tak kuasa menahan kesedihan tanpa suami sekarang ditinggal anak yang baru dilahirkan, perempuan itu kemudian juga meninggal, lalu jiwa dari timeline modern merasuki tubuh bayi itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon subspace_illusion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PEMBANTAIAN SEPIKAH
Di waktu yang sama, di pusat Kerajaan Tumapel Singhasari, suasana berubah menjadi sangat mencekam.
Para pengawal yang selamat dari penyergapan akhirnya tiba di keraton dengan napas terengah-engah dan luka-luka. Mereka segera melapor ke hadapan Ken Arok. Mereka bersujud gemetar, melaporkan bahwa sisa-sisa pemberontak Kediri telah menyergap rombongan saat Dewi Rimbu, dan sang putri kini raib diculik.
Mendengar putri kesayangannya diculik oleh musuh bebuyutannya, murka Ken Arok meledak. Aura membunuhnya membuat seluruh pejabat istana menunduk ngeri.
"Kirim semua telik sandi! Sisir setiap jengkal hutan! Kalau putriku lecet sedikit saja, aku akan memenggal kepala kalian semua!" raung Ken Arok, langsung memerintahkan pengerahan pasukan besar-besaran untuk mencari jejak para pemberontak.
Di sinilah Mpu Parwa memainkan perannya sebagai agen ganda yang tak tersentuh.
Di satu sisi, ia menyembunyikan Dewi Rimbu rapat-rapat di ruang rahasia padepokan nya, memastikan tidak ada mata-mata Tumapel yang bisa mencium keberadaan sang putri. Di sisi lain, Mpu Parwa mengirimkan seorang kurir kilat membawa gulungan surat bersegel langsung ke meja Ken Arok.
Isi surat itu bagaikan tamparan keras di wajah Ken Arok:
"Untuk Penguasa Tumapel yang mengaku sakti, Kabar memalukan telah sampai ke telingaku, Pengawal macam apa yang kau tugaskan untuk melindungi darah daging Ken Dedes. Kalian menyebut diri sebagai ksatria Tumapel, tapi menjaga satu putri saja gagal dan membiarkannya diseret oleh sisa-sisa tikus Kediri. Dengar baik-baik, Arok. Jika sampai terjadi apa-apa pada cucuku, jika sampai sehelai saja rambutnya terluka karena ketidakbecusan mu, aku sendiri yang akan turun tangan menindak mu.
Ketika surat itu dibacakan di balairung istana Singhasari, wajah Ken Arok merah padam menahan malu dan amarah yang meledak-ledak. Dihina langsung oleh Mpu Parwa di depan para senopatinya membuat ego sang raja terluka parah.
Terlebih lagi, ancaman Mpu Parwa bukanlah gertakan sambal. Kutukan Mpu Parwa di masa lalu sudah cukup melegenda.
"Kerahkan seluruh prajurit sandi! Sisir setiap jengkal hutan, geledah semua desa di perbatasan!" raung Ken Arok, menggebrak takhta singgasananya. "Pencarian besar-besaran! Jangan ada satu pun pasukan yang beristirahat sebelum Rimbu ditemukan."
Di keputren istana, suasana berubah menjadi lautan duka. Ken Dedes, sebagai ibu kandung yang sangat menyayangi anak-anaknya, menangis tersedu-sedu meratapi nasib Dewi Rimbu yang diculik oleh pemberontak kejam. Ia tak henti-hentinya memanjatkan doa, membayangkan hal-hal buruk menimpa putrinya.
Kondisi ini membuat saudara-saudara Rimbu yang lain seperti Mahisa Wonga Teleng dan Panji Saprang ikut tegang dan gelisah. Mereka mondar-mandir dengan wajah cemas, merasa tidak enak hati melihat kesedihan ibunda mereka, sekaligus ngeri melihat kemurkaan ayahanda mereka yang bisa memenggal siapa saja yang salah bicara hari itu. Istana Tumapel benar-benar dilanda stres massal.
Namun, di tengah hiruk-pikuk dan kepanikan massal tersebut, ada satu pemandangan yang sangat kontras. Anusapati.
Sang pangeran yang biasanya selalu diawasi dan disisihkan itu tampak duduk tenang di sudut ruangan. Sesekali ia menyesap minuman hangatnya dengan raut wajah datar, nyaris tanpa ekspresi. Ketika saudara-saudaranya yang lain panik menebak-nebak nasib Rimbu, Anusapati hanya menghela napas pelan.
Dalam batinnya, Anusapati justru menahan senyum geli yang ingin meledak.
"Ibu tidak perlu menangis seperti itu," batin Anusapati sambil menatap Ken Dedes dari kejauhan. "Anak perempuan kesayangan Ibu itu tidak sedang disiksa pemberontak. Dia sedang aman di padepokan Kakek, dan kemungkinan besar sekarang sedang sibuk mencari cara untuk menggoda Sena."
Ketenangan Anusapati yang tidak wajar itu luput dari perhatian Ken Arok yang sedang dibutakan oleh amarah. Rencana Sena berjalan dengan sangat mulus. Istana Tumapel kini berada dalam kondisi kacau balau, fokus penjagaan terpecah ke luar istana, membuka celah selebar-lebarnya bagi langkah mematikan selanjutnya.
Rencana berlanjut dengan presisi yang mematikan. pihak Mpu Parwa tidak memberitahukan langsung kepada prajurit Tumapel tetapi melalui pihak lain mereka berbagi titik kordinat pasti berkumpulnya sisa-sisa pemberontak Kediri.
Di Panawijen, persiapan terakhir tengah dilakukan.
Sena mengenakan zirah pelindung ringan di balik jubahnya, memastikan pedang Bharadasura tergantung di pinggang. Auranya ditekan hingga titik terendah, namun sorot matanya tajam bagai elang yang mengincar mangsa. Ia melangkah ke pendopo utama, bersimpuh dengan satu lutut di hadapan Mpu Parwa.
"Umpannya sudah digigit, Guru. Arok sedang bergerak ke sana bersama pasukan elitnya,"
"Aku berangkat sekarang."
Mpu Parwa menatap pemuda di hadapannya. Sang Resi meletakkan tangannya di atas bahu Sena, menyalurkan sedikit hawa murni sebagai bentuk restu.
"Ken Arok bukan petarung sembarangan, Sena. Ia licik, kejam, dan memiliki insting bertahan hidup layaknya iblis. Jangan gegabah, dan ingat tujuan utamamu," pesan Mpu Parwa.
Sena menyeringai tipis. "Tenang saja. Aku tidak akan membunuhnya hari ini. Kematiannya adalah panggung milik Anusapati. Tugasku hari ini hanya memastikan taring dan cakarnya patah."
Setelah mencium punggung tangan sang guru, Sena melangkah keluar. Seekor kuda jantan hitam pekat peninggalan fasilitas padepokan sudah disiapkan. Dengan satu lompatan ringan, Sena menaiki pelana, menarik tali kekang, dan melesat membelah malam menuju panggungnya.
---
Lembah yang sunyi itu kini berubah menjadi neraka. Ken Arok yang dibutakan oleh amarah memimpin langsung pasukan elit Tumapel menyerbu perkemahan sisa pemberontak Kediri.
Serbuan itu terjadi tiba-tiba.
Para pemberontak yang masih kebingungan karena kehilangan target buruan mereka tak sempat mengangkat senjata.
"Di mana putriku. Keluarkan Rimbu atau kubakar kalian semua hidup-hidup." raung Ken Arok sambil menebaskan pedangnya, membelah dada seorang pemberontak Kediri.
"P-Putri apa?! Kami tidak menyandera putri siapa pun!" teriak salah satu pemberontak yang ketakutan, namun kata-katanya terputus oleh hujaman tombak prajurit Tumapel.
Pembantaian sepihak terjadi. Pasukan Kediri yang kalah jumlah dan persenjataan dibantai tanpa ampun. Darah menggenangi tanah lembah. Di tengah kekacauan itu, Ken Arok mengamuk layaknya singa terluka, mencari-cari keberadaan putrinya di setiap sudut tenda yang terbakar.
Namun, sebelum sisa pemberontak terakhir tewas dieksekusi, sebuah tekanan energi yang mengerikan tiba-tiba meledak dari arah tebing lembah.
Sesosok penunggang kuda hitam melompat dari atas tebing, mendarat dengan hantaman tenaga dalam yang meretakkan tanah dan menghempaskan belasan prajurit Tumapel ke udara. Debu dan asap tebal membubung tinggi.
Dengan jubah berkibar, Sena sengaja memposisikan dirinya di depan sisa-sisa pasukan Kediri yang sekarat, menciptakan ilusi seolah ia datang untuk menyelamatkan mereka.
Mata Ken Arok menyipit tajam menembus debu. Insting pembunuhnya yang telah terasah puluhan tahun seketika berdering waspada melihat sosok pemuda asing di depannya.