Rian Prasetyo dapat sistem gila: rugi = uang pribadi.
Masalahnya, setiap kali dia mencoba bangkrut, bisnisnya malah meledak sukses. Gaji karyawan selangit? Mereka jadi super loyal. Jual murah-murah? Pelanggan membludak.
Bikin game asal? Jadi bestseller dunia. Semua orang yakin dia jenius. Padahal dia cuma mau rugi.
Dari sarjana pengangguran dengan Rp 15.000 di kantong, Rian terpaksa menjadi bos konglomerat terkaya se-Indonesia — dan dia BENCI setiap rupiahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Bab 033: Taman Hijau Lestari
Setelah Takeshi Yamamoto jatuh, Rian Prasetyo akhirnya menemukan kembali pemandangan yang membuat hatinya tenang.
Bangunan mangkrak.
Beton retak.
Besi berkarat.
Rumput liar setinggi pinggang.
Perumahan Taman Hijau Lestari berdiri di pinggiran Jakarta seperti janji yang dibiarkan membusuk. Dari kejauhan, rangka-rangka rumah itu tampak seperti tulang rusuk raksasa yang tertinggal di tanah.
Rian menatapnya dari dalam mobil dan merasakan sesuatu yang hampir mirip damai.
Ini dia.
Tidak ada antrean pelanggan.
Tidak ada investor memuji.
Tidak ada karyawan yang membuat operasional menjadi terlalu bagus.
Hanya proyek besar, hukum rumit, pemilik lama kabur, ribuan korban, dan kebutuhan uang yang tidak masuk akal.
Sempurna.
Sebelum datang ke lokasi, ia sudah menerima laporan keuangan terbaru. Portofolio IDX yang dulu ia beli dengan rasa putus asa kini membengkak mendekati Rp 3 triliun karena pasar terus menganggapnya Dewa Saham. Dana dari transaksi Es Madu Kopi juga membuat struktur kas grup terlihat seperti bendungan yang terlalu penuh.
Rian membaca angka itu dan hanya bisa tertawa tanpa suara.
Kalau uang terus datang, ia harus mencari lubang yang lebih besar.
Taman Hijau Lestari terlihat seperti lubang itu.
Di lokasi, Pak Haryono menunggu bersama Teguh Prasetya dan beberapa perwakilan teknis. Pak Haryono berusia lebih tua dari sebagian besar tim Rian, wajahnya tegas, kulitnya gelap terbakar matahari proyek, dan cara ia memandang bangunan rusak menunjukkan pengalaman panjang menghadapi kontraktor yang berbohong.
"Pak Rian," katanya, "saya sudah cek awal. Kondisinya buruk."
"Seberapa buruk?"
Pak Haryono menunjuk blok pertama.
"Struktur sebagian harus diuji ulang. Drainase hampir tidak ada. Jalan internal rusak sebelum pernah dipakai. Beberapa fondasi terendam air terlalu lama. Dokumen tanah bercampur antara sertifikat induk, pemecahan yang belum selesai, dan klaim pembeli lama."
Teguh menambahkan, "Dari sisi hukum, ada ribuan kontrak pembelian. Sebagian bayar penuh, sebagian lewat KPR, sebagian masih cicilan ketika pengembang lama kabur. Banyak yang sudah berhenti bayar bank karena rumahnya tidak pernah ada."
Rian melihat deretan bangunan setengah jadi.
"Berapa jumlah pembeli terdampak?"
"Data awal lebih dari dua ribu keluarga," kata Teguh. "Masih diverifikasi."
Rian diam.
Dua ribu keluarga.
Bagi sistem, itu mungkin angka dalam spreadsheet.
Bagi orang-orang itu, itu bisa berarti sepuluh tahun tabungan, pernikahan yang tertunda, anak yang tumbuh di rumah kontrakan, orang tua yang meninggal sebelum sempat pindah.
Rian datang untuk mencari kerugian.
Tetapi sekali lagi, manusia berdiri di tengah rencananya.
Sore itu, ia meminta pertemuan dengan perwakilan pembeli lama di aula kecil dekat lokasi. Kursi plastik disusun seadanya. Orang-orang datang dengan map lusuh, fotokopi kontrak, bukti transfer, dan wajah yang sudah terlalu lama tidak percaya pada janji.
Seorang pria paruh baya berdiri pertama.
"Pak, kami sudah berkali-kali didatangi orang yang bilang mau menyelamatkan proyek ini. Ujung-ujungnya minta uang lagi."
Rian mengangguk.
"Saya tidak akan meminta uang dari Bapak-Ibu."
Seorang perempuan di belakang tertawa pahit.
"Semua orang bilang begitu di awal."
Teguh berdiri di sisi Rian, tetapi Rian mengangkat tangan kecil. Ia ingin menjawab sendiri.
"Saya mengerti kalau Bapak-Ibu tidak percaya. Jadi saya tidak minta percaya hari ini. Saya hanya menyampaikan keputusan yang akan ditulis resmi."
Ruangan perlahan diam.
Rian membuka map.
"PT Garuda Emas Group akan mengambil alih proses penyelesaian Taman Hijau Lestari. Untuk semua pembeli lama yang datanya terverifikasi, kami akan mengembalikan seluruh uang pembelian yang sudah dibayarkan."
Bisik-bisik langsung pecah.
Rian melanjutkan, "Bukan hanya pokoknya. Jika ada bunga bank yang timbul dari KPR terkait unit yang tidak pernah diserahterimakan, bunga itu juga akan kami hitung dan bayarkan sesuai hasil verifikasi."
Seorang lelaki yang tadi berdiri mematung.
"Pak... maksud Bapak, uang kami kembali?"
"Ya."
"Penuh?"
"Penuh."
"Termasuk bunga bank?"
"Termasuk bunga bank yang sah dan terkait pembelian."
Lelaki itu membuka mulut, tetapi tidak ada suara keluar. Tangannya yang memegang map mulai bergetar.
"Saya menabung sepuluh tahun," katanya akhirnya. "Istri saya meninggal dua tahun lalu. Dia selalu bilang ingin punya rumah sendiri. Saya kira semuanya hilang."
Ruangan tidak lagi berbisik.
Rian menatapnya.
"Saya tidak bisa mengembalikan waktu Bapak. Tapi uang Bapak tidak boleh hilang."
Pria itu menutup wajahnya dengan map dan menangis.
Tangisan satu orang membuat beberapa orang lain runtuh. Ada ibu yang memeluk anaknya. Ada pasangan muda yang saling menggenggam tangan. Ada lelaki tua yang hanya menunduk sambil berulang kali mengucap syukur.
Rian merasa dadanya berat.
Ia tahu angka pengembalian itu akan besar.
Sangat besar.
Bagian dirinya yang mengejar rugi seharusnya bersorak.
Tetapi di ruangan itu, uang bukan lagi alat untuk mengalahkan sistem.
Uang menjadi cara mengembalikan sesuatu yang pernah dirampas.
Setelah pertemuan, Teguh langsung membentuk tim verifikasi. Setiap kontrak akan dicek. Setiap bukti transfer dicocokkan. Setiap klaim bunga bank dihitung. Tidak ada pembayaran asal-asalan, tetapi tidak ada korban yang sengaja dipersulit.
Malamnya, Rian ikut mendatangi rumah kontrakan salah satu perwakilan lama. Ruang tamunya sempit, dindingnya penuh foto keluarga, dan di atas lemari masih ada brosur Taman Hijau Lestari yang warnanya sudah pudar.
Istri pemilik rumah menunjukkan buku cicilan bank dengan tangan gemetar.
"Kami masih simpan semuanya, Pak. Takut kalau suatu hari ada orang yang benar-benar mau mendengar."
Rian menerima fotokopi dokumen itu dengan dua tangan.
"Mulai sekarang, dokumen ini bukan beban Ibu sendiri. Tim kami akan bantu hitung sampai selesai."
Pak Haryono membawa Rian kembali ke lokasi proyek saat matahari turun.
"Pak, setelah refund, Bapak ingin proyek ini bagaimana? Dilanjutkan seadanya atau dijual lagi?"
Rian menatap bangunan-bangunan mangkrak.
"Kita bongkar yang tidak layak. Bangun ulang."
Pak Haryono terdiam.
"Bangun ulang seluruh kawasan?"
"Ya."
"Itu biayanya..."
"Saya siapkan Rp 10 triliun."
Angin sore lewat di antara besi berkarat.
Pak Haryono menoleh pelan.
"Sepuluh triliun?"
"Semua masuk ke Taman Hijau Lestari. Refund, bunga, legal, pembongkaran, desain ulang, konstruksi, fasilitas umum."
Pak Haryono memegang pulpen lebih erat, seolah takut benda itu jatuh.
"Dengan budget sebesar itu, standar apa yang Bapak inginkan?"
Rian menatap langit yang mulai oranye.
Kalau ia membangun biasa, mungkin masih bisa untung.
Kalau ia membangun bagus, bisa jadi makin untung.
Maka solusinya harus lebih ekstrem.
"Standar terbaik," katanya. "Lebih baik dari apartemen mahal di Jakarta. Ruang hijau luas, drainase sempurna, fasilitas publik lengkap, material premium, desain yang benar-benar manusiawi."
Pak Haryono mencatat cepat.
"Lalu harga jual?"
Rian tersenyum tipis.
"Paling rendah yang masih bisa diterima secara legal."
Pulpen Pak Haryono jatuh ke tanah.
Ia menatap Rian seperti baru mendengar seseorang memesan istana lalu ingin menjualnya seharga warung.
"Pak... itu bukan strategi normal."
Rian melihat hamparan Taman Hijau Lestari yang rusak.
"Bagus," katanya.
"Saya memang tidak mencari yang normal."