NovelToon NovelToon
Kaisar Bela Diri Legendaris

Kaisar Bela Diri Legendaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha

Ribuan tahun sebelum dunia belum mengenal sekte atau Aliran Putih. Era ini adalah Zaman Kekacauan Primordial, di mana dunia dikuasai oleh ras "Keturunan Dewa" tiran yang memperbudak manusia biasa.

Ye Cangtian, seorang budak rendahan yang terlahir dengan meridian cacat bawaan, secara tidak sengaja menemukan inti meteorit purba di tambang kematian. Alih-alih tunduk pada nasib, ia mematahkan aturan langit. Ia menciptakan sistem kultivasi dari nol untuk umat manusia, memimpin pemberontakan terbesar dalam sejarah, dan berperang untuk menyatukan benua.

Namun, perjalanannya tidak berujung pada kebahagiaan abadi. Ia harus menghadapi pengkhianatan sahabatnya sendiri yang kelak melahirkan kutukan "Bayangan Gerhana", serta menciptakan sebuah makam rahasia dan pusaka "Mahkota Kehampaan" sebagai jaminan bagi generasi ribuan tahun di masa depan. Ini adalah kisah tentang bagaimana manusia pertama menjadi Dewa, dan dewa itu mati demi manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 : Gadis Berkeranjang Bambu

Tiga bulan telah berlalu sejak puluhan ribu budak fana menjejakkan kaki di lembah yang kini dikenal sebagai Desa Fajar.

Di bawah kepemimpinan Xing Yun yang brilian, desa itu berkembang pesat. Gubuk-gubuk batu berjejer rapi di sepanjang sungai hangat. Ladang-ladang lumut dan jamur mulai dibudidayakan. Anak-anak kembali tertawa, dan untuk pertama kalinya, rasa takut terhadap cambuk dewa digantikan oleh harapan akan hari esok.

Namun, kedamaian itu tidak dirasakan oleh semua orang.

Di kedalaman Hutan Jamur Purba, jauh dari kebisingan desa, suara tebasan pedang membelah udara berulang kali.

Ye Cangtian bergerak seperti bayangan. Zirah peraknya telah lama ia tinggalkan, digantikan oleh jubah kulit serigala tipis yang memperlihatkan otot-otot lengannya yang kencang. Ia memutar tubuhnya, memusatkan Qi ke bilah pedang peraknya, lalu menebas ke arah sebuah batu obsidian raksasa.

Sringgg!!

Ujung pedang itu membelah udara, memancarkan dengungan tajam seperti saat ia membunuh serigala terbesar. Namun, tepat sebelum mata pedang itu menyentuh batu...

"Ughh!"

Cangtian membatalkan serangannya secara mendadak. Pemuda itu terhuyung ke belakang, menjatuhkan pedangnya, dan jatuh bertumpu pada satu lutut.

Tangan kirinya mencengkeram dadanya dengan kuat. Detik kemudian, ia memuntahkan gumpalan darah berwarna kehitaman yang berbau anyir ke atas lumut hijau.

Napasnya memburu liar. Keringat dingin sebesar biji jagung mengucur dari dahinya.

Ini bukan kali pertama. Selama sebulan terakhir, kultivasinya mandek total di ranah Ahli Persilatan Tingkat 2. Setiap kali ia mencoba memadatkan Qi-nya untuk mencari terobosan ke Tingkat 3, rasa sakit yang melumpuhkan akan meledak dari dadanya.

‘Terobosan paksaku saat melawan Xie Tu... telah meninggalkan cacat,’ batin Cangtian dengan frustrasi, menyeka sisa darah di bibirnya. ‘Tulang rusukku yang patah menyambung dengan posisi yang salah, menekan jalur meridian utamaku. Jika aku terus memaksakan diri menyerap Qi tanpa memperbaikinya, tubuhku akan meledak.’

Saat Cangtian mencoba mengatur ritme pernapasannya untuk menenangkan Qi yang bergejolak, telinganya yang sangat tajam menangkap sebuah suara.

Kres... kres...

Suara langkah kaki. Sangat pelan.

Mata hitam Cangtian menyipit. Dalam sekejap, rasa sakit di dadanya diabaikan. Ia memungut pedangnya, memutar tubuhnya, dan melesat ke arah semak-semak jamur bercahaya biru di belakangnya.

"Keluar!" gertak Cangtian sedingin es, ujung pedang peraknya ditodongkan tepat menembus celah dedaunan.

Semak-semak itu tersibak.

Namun, alih-alih seorang pembunuh atau monster, sosok yang muncul membuat Cangtian tertegun selama dua detik penuh.

Itu adalah seorang gadis.

Ia mengenakan gaun sederhana berwarna hijau pucat. Di punggungnya terdapat sebuah keranjang bambu anyaman yang berisi penuh dengan jamur beracun berbintik ungu dan lumut.

Wajah gadis itu sangat memesona, dengan kulit yang sangat putih, dan sepasang mata cokelat jernih yang memancarkan ketenangan. Rambut hitamnya diikat ke atas menggunakan jepit kayu sederhana.

Hal yang paling mengejutkan bukanlah kecantikannya, melainkan reaksinya. Dengan ujung pedang tajam yang hanya berjarak satu jengkal dari lehernya, gadis itu sama sekali tidak berkedip, apalagi berteriak ketakutan.

Ia hanya menatap pedang perak itu sejenak, lalu memindahkan pandangannya ke wajah pucat Ye Cangtian. Hidung mungilnya sedikit berkerut saat mencium bau darah.

"Turunkan pedangmu, orang bodoh," ucap gadis itu. Suaranya merdu, mengalir seperti air sungai, namun nada bicaranya setajam pisau bedah. "Kau membuang-buang napas yang seharusnya kau gunakan untuk menahan jantungmu agar tidak meledak."

Mata Cangtian melebar. "Siapa kau? Bagaimana kau bisa melewati penjagaan desaku?"

Gadis itu mendesah pelan, sama sekali mengabaikan todongan pedang Cangtian. Ia justru melangkah maju, memaksa Cangtian menarik pedangnya sedikit agar tidak melukai leher gadis itu secara tidak sengaja.

"Penjagaan? Maksudmu puluhan orang bodoh yang berjaga di luar lembah sambil membuat api unggun yang asapnya bisa dilihat dari jarak dua mil?" Gadis itu menggelengkan kepalanya. "Aku mengikuti aliran uap ini sejak tiga hari lalu. Desamu sangat bising. Aku lebih suka berada di hutan pinggiran ini, tempat di mana jamur-jamur ini tumbuh tanpa diganggu."

Cangtian menatap tajam gadis di hadapannya. Ia tidak merasakan Qi yang besar dari gadis ini, kemampuannya nyaris seperti manusia fana biasa. Namun, cara berjalannya, ritme pernapasannya... semuanya seolah menyatu sempurna dengan alam di sekitarnya.

"Kau bukan bagian dari klan dewa," simpul Cangtian, masih tidak menurunkan pedangnya. "Tapi kau juga bukan budak yang melarikan diri. Siapa kau?"

"Namaku Su Ling'er," jawab gadis itu tenang. Ia menurunkan keranjang bambunya, lalu tanpa ragu, mendekati genangan darah hitam yang baru saja dimuntahkan Cangtian. Ia berjongkok, mengamati darah itu dengan mata menyipit.

"Hitam, kental, dan berbau belerang," gumam Su Ling'er pada dirinya sendiri. Ia lalu berdiri dan menunjuk tepat ke ulu hati Cangtian. "Tulang rusuk ketiga dan keempatmu patah, lalu menyambung secara tumpang tindih. Tulang itu sekarang menekan pembuluh energi utama di dadamu."

Cangtian membeku. Tubuhnya menegang. "Bagaimana kau tahu?"

Su Ling'er menatap Cangtian seolah menatap seorang anak kecil yang habis bermain lumpur.

"Karena aku melihat udara yang masuk ke hidungmu tidak keluar secara utuh," jelasnya.

"Kau menyerap sesuatu dari udara, sebuah energi yang tidak terlihat... sesuatu yang membuat tubuhmu memanas. Tapi energi itu sekarang terperangkap di dalam sangkar sempit di dadamu. Ia merobek pembuluh darahmu dari dalam."

Jantung Cangtian berdegup kencang. Selama ini, bahkan Xing Yun tidak benar-benar memahami konsep kultivasi secara mendalam. Xing Yun hanya meniru apa yang diajarkan Cangtian.

Namun gadis fana di depannya ini, hanya dengan melihat dan mencium bau darah, mampu menganalisis pergerakan Qi di dalam tubuhnya secara presisi!

"Kau... kau bisa melihat aliran Qi?" tanya Cangtian, menurunkan pedangnya sepenuhnya.

"Aku tidak menyebutnya Qi, aku menyebutnya Napas Kehidupan," jawab Ling'er santai sambil memungut keranjang bambunya.

"Aku telah mengembara selama lima tahun, mempelajari bagaimana tanaman purba menyerap Napas Kehidupan dari tanah dan udara untuk menjadi racun atau obat. Tumbuhan sangat pintar mengatur alirannya. Sementara kau..."

Ling'er menunjuk dada Cangtian dengan tatapan mencemooh. "...kau menyerapnya secara brutal seperti orang kelaparan. Memalukan. Jika kau mengayunkan pedang itu satu kali lagi dengan memaksakan energi, aku jamin jantungmu akan pecah berkeping-keping."

Ye Cangtian, kini hanya bisa berdiri terdiam, diceramahi habis-habisan oleh seorang gadis fana pemetik jamur.

Anehnya, alih-alih marah, sebuah senyum tipis mulai terbentuk di sudut bibir Cangtian. Rasa putus asa yang sedari tadi menghantuinya karena kultivasi, mendadak sirna. Ia baru saja menemukan potongan puzle yang hilang dari sistem kultivasinya.

Jika Cangtian adalah pedang yang meretas jalan dengan kekerasan, maka gadis ini adalah air yang memahami bagaimana menyembuhkan dan mengarahkan aliran kehidupan.

Cangtian menyarungkan pedangnya, menangkupkan kedua tangannya di depan dada, dan membungkuk sedikit—sebuah gestur penghormatan yang tidak pernah ia berikan bahkan kepada dewa sekalipun.

"Nona Su Ling'er," ucap Cangtian serius. "Jika kau tahu penyakitnya, kau pasti tahu obatnya. Maukah kau menyembuhkan luka dalamku?"

Su Ling'er menatap Cangtian dari atas ke bawah, seolah sedang menilai sebuah barang antik yang rusak.

"Kau berantakan, brutal, dan ceroboh," komentar Ling'er jujur. "Tapi, tubuhmu adalah bencana yang sangat menawan. Aku belum pernah melihat manusia fana yang bisa menampung energi sebesar ini tanpa meledak. Ini akan menjadi bahan penelitian medis yang sangat bagus untukku."

Mata Ling'er berbinar penuh antusiasme seorang ilmuwan gila, yang entah mengapa membuat Cangtian sedikit bergidik.

"Aku akan membongkar letak tulang rusukmu, meluruskan jalur energimu, dan mengajarimu cara bernapas seperti pohon, bukan seperti babi kelaparan," kata Ling'er sambil menepuk keranjang bambunya.

"Sebagai gantinya, kau harus melindungiku saat aku mencari ramuan langka di pusat Gurun Kematian atau di dalam sarang monster. Bagaimana?"

Cangtian tertawa. Tawa yang murni dan lepas untuk pertama kalinya sejak ia keluar dari tambang.

"Sepakat," jawab Cangtian.

1
Hendra
mantap thor👍
Hendra
awal yang bagus👍
Deevy Tresiyana
keren awal Kultivathor di dunia fans..💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!