NovelToon NovelToon
Seporsi Kekalahan Dari Kehidupan, Aku Bangkit!

Seporsi Kekalahan Dari Kehidupan, Aku Bangkit!

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Mandul
Popularitas:12.9k
Nilai: 5
Nama Author: Rere ernie

Selama tujuh tahun, Zahira Narapati mengorbankan karier dan mimpinya demi mendampingi Deris Adikara membangun usaha. Namun, saat kesuksesan akhirnya diraih, Deris justru menceraikannya karena menganggap Zahira tak lagi sejalan dengan kehidupannya dan memilih wanita lain.

Semua orang mengira perceraian itu akan menghancurkan Zahira. Nyatanya, ia bangkit dari nol, membangun kembali kariernya hingga menjadi perempuan sukses yang berdiri di atas kakinya sendiri.

Dalam perjalanan itu, Zahira bertemu Revan Wiranata, pria yang menghargai kesetiaan dan memberinya kebahagiaan baru. Ketika Deris menyesali keputusannya dan ingin kembali, Zahira memilih melangkah bersama seseorang yang benar-benar menghargainya. Sebab, setiap luka bukanlah akhir, melainkan awal dari kebangkitan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode — 30.

Puluhan kamera kini mengarah kepada Zahira. Beberapa peserta tampak membuka tablet untuk mencari profil singkat General Manager Wiranata Corp yang baru saja diperkenalkan.

Zahira menarik napas perlahan, Ia sempat menoleh ke arah Revan. "Yakin?"

“Aku percaya padamu,” ucap Revan tanpa ragu.

Ia tidak hanya mencintai Zahira, tetapi juga menghargainya. Di matanya, Zahira adalah perempuan yang layak berdiri sejajar dengannya, bukan seseorang yang diabaikan atau dipandang rendah seperti saat wanita itu masih bersama Deris.

Zahira berdiri merapikan blazer yang dikenakannya, lalu melangkah menuju panggung dengan langkah tenang dan penuh percaya diri.

Tatapan Deris mengikuti setiap langkah wanita itu.

Dulu aku selalu menganggap kemampuannya biasa saja. Ternyata... yang tidak mampu melihat kilauannya adalah aku.

Sementara itu, Kayla menggertakkan giginya. Almira tetap diam, tetapi sorot matanya semakin tajam.

Di atas panggung, moderator menyambut Zahira dengan ramah.

"Selamat datang, Ms. Zahira."

"Terima kasih."

"Investor kami sangat tertarik dengan keberhasilan Wiranata Corp meningkatkan efisiensi operasional dalam waktu yang relatif singkat. Bolehkah Anda membagikan pendekatan yang digunakan?"

Zahira menerima mikrofon, tatapannya menyapu seluruh isi ruangan lebih dulu. Ratusan pasang mata menunggunya, lalu dengan suara tenang dan jelas ia mulai berbicara.

"Menurut saya, efisiensi bukan sekadar memangkas biaya."

Beberapa peserta langsung mengangkat kepala.

"Efisiensi adalah memastikan setiap sumber daya menghasilkan nilai terbaik tanpa mengorbankan kualitas maupun kepercayaan pelanggan."

Layar besar di belakangnya mulai menampilkan beberapa grafik yang telah dipersiapkan panitia berdasarkan materi Wiranata Corp.

"Di perusahaan kami, perubahan dimulai dari hal sederhana. Kami memetakan ulang seluruh proses distribusi, menghilangkan tahapan yang tidak memberi nilai tambah, lalu memperkuat koordinasi antardivisi."

Ia menjelaskan setiap poin dengan bahasa yang lugas, tidak berlebihan tetapi mudah dipahami. Beberapa peserta mulai mengangguk-anggukkan kepala. Seorang CEO dari Jepang bahkan terlihat sibuk mencatat.

Moderator kemudian mengajukan pertanyaan berikutnya. "Perubahan sebesar itu biasanya mendapat banyak penolakan dari internal perusahaan. Bagaimana Anda mengatasinya?"

Zahira tersenyum tipis. "Orang tidak takut pada perubahan."

"Lalu?" Moderator tampak penasaran.

"Mereka takut kehilangan rasa aman. Karena itu, sebelum meminta karyawan berubah... kami lebih dulu menjelaskan alasan perubahan tersebut, manfaatnya bagi perusahaan, dan dampaknya bagi mereka. Ketika seseorang merasa dihargai, perubahan akan lebih mudah diterima."

Tepuk tangan mulai terdengar, semakin lama semakin meriah.

Revan memperhatikan Zahira tanpa melepaskan pandangan, sudut bibirnya terangkat tipis penuh kekaguman.

Sementara Deris hanya mampu menatap dengan dada yang terasa sesak. Mantan istrinya itu sangat percaya diri dan cerdas. Dan mampu berdiri di atas panggung internasional tanpa sedikit pun kehilangan ketenangannya.

Di sisi lain ruangan, wajah Kayla semakin gelap. "Aku muak melihatnya."

"Tenang." Almira tetap memasang ekspresi datar.

"Bagaimana aku bisa tenang? Semua orang mulai memperhatikannya."

"Justru itu yang kita butuhkan."

Kayla menoleh.

"Maksudmu?"

Almira menyunggingkan senyum tipis. "Semakin tinggi reputasinya hari ini, semakin besar kehebohan yang akan terjadi saat reputasi itu dihancurkan."

Kayla akhirnya ikut tersenyum.

Sementara itu, seorang anggota tim keamanan internal Wiranata Corp yang menyamar sebagai staf acara memperhatikan percakapan keduanya dari kejauhan.

Ia tidak bereaksi, hanya menekan tombol kecil pada alat komunikasi di balik kerah jasnya.

"Pak Revan... target mulai menunjukkan pergerakan. Mereka tampak menunggu waktu yang tepat."

Suara Revan terdengar tenang melalui earpiece. "Tetap awasi, jangan hentikan mereka."

"Baik, Pak."

Revan kembali mengalihkan pandangannya ke arah panggung. Permainan akan segera dimulai, dan kali ini... dia berniat mengakhiri semuanya sekaligus.

Tepuk tangan bergema memenuhi ballroom ketika sesi tanya jawab berakhir.

Moderator tersenyum lebar. "Terima kasih, Ms. Zahira. Presentasi Anda sangat inspiratif."

"Terima kasih." Zahira membungkukkan badan singkat sebagai bentuk penghormatan, lalu turun dari panggung.

Begitu kembali ke tempat duduknya, beberapa delegasi dari perusahaan lain langsung menghampiri.

"Perkenalkan, saya Daniel Wong dari Apex Holdings, Singapura." Pria paruh baya itu mengulurkan tangan. "Saya sangat tertarik dengan strategi yang Anda jelaskan, mungkin nanti kita bisa berdiskusi lebih lanjut."

"Tentu, dengan senang hati."

Belum sempat percakapan berakhir, seorang wanita berkebangsaan Jepang ikut mendekat. "Saya Naomi Tanaka dari Mirai Logistics."

"Konnichiwa." Zahira menyapa.

Naomi tersenyum ramah. "Kami sedang melakukan restrukturisasi distribusi, penjelasan Anda tadi sangat relevan dengan kondisi perusahaan kami."

"Terima kasih, semoga bisa menjadi referensi yang bermanfaat." Zahira tersenyum ramah.

Satu demi satu peserta mulai menghampiri Zahira. Sebagian meminta bertukar kartu nama, dan sebagian lagi ingin berdiskusi mengenai strategi operasional.

Revan hanya berdiri beberapa langkah di belakang sambil memperhatikan keadaan.

Sekretarisnya mendekat. "Pak."

"Hm?"

"Bu Zahira benar-benar menjadi perhatian."

"Itu memang tujuan saya."

"Kalau begini, nama Wiranata Corp akan semakin dikenal." Sekretaris tersenyum kecil.

Revan mengangguk pelan. "Perusahaan berkembang karena orang-orang hebat di dalamnya, sudah seharusnya mereka mendapat kesempatan."

Tak jauh dari sana, Deris menyaksikan semua itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Seorang investor asing yang pernah menjadi rekan bisnis Adikara Group bahkan memilih menghampiri Zahira lebih dulu dibanding dirinya.

Pria itu tersenyum pahit, semua kemampuan itu sudah dimiliki Zahira sejak dulu. Hanya dirinya yang tidak pernah memberi ruang agar wanita itu bersinar.

"Pak Deris." Sekretarisnya menghampiri. "Sesi networking akan segera dimulai."

"Aku tahu."

Mereka pun berjalan menuju area jamuan.

Di sudut lain ballroom, Kayla menggertakkan rahangnya.

"Aku benar-benar tidak tahan melihatnya."

Almira tetap meminum kopinya dengan tenang. "Emosi tidak akan menyelesaikan apa pun. Semakin banyak orang mengenalnya hari ini, semakin besar dampaknya saat skandal itu meledak."

Senyum tipis kembali muncul di bibirnya.

"Nanti malam adalah gala dinner. Itulah saat semua CEO, investor, media bisnis, dan tamu kehormatan berkumpul dalam satu ruangan."

Tatapan Kayla mulai berbinar. "Kamu ingin bergerak saat gala dinner?"

"Tidak ada panggung yang lebih sempurna."

Dua anggota keamanan internal Wiranata Corp masih mengawasi dari kejauhan. Salah seorang berbicara pelan melalui alat komunikasi. "Pak Revan."

"Ya."

"Target tampaknya akan melakukan sesuatu saat gala nanti malam."

"Terus pantau."

"Perlukah kita mencegahnya?"

Revan terdiam beberapa detik. "Belum."

"Baik, Pak."

"Semakin cepat mereka bergerak, semakin sedikit bukti yang kita dapat." Lanjut Revan.

"Apa Bapak ingin menunggu sampai mereka benar-benar bertindak?"

Tatapan Revan tertuju pada Zahira yang sedang berbincang dengan beberapa investor internasional. "Iya, tapi pastikan... sebelum mereka menyentuh Zahira, kita sudah lebih dulu mengendalikan keadaan."

"Dimengerti."

Revan memutus sambungan komunikasi. Ia tahu, permainan itu sudah memasuki babak terakhir. Dan kali ini, ia tidak hanya ingin menggagalkan rencana Almira dan Kayla. Ia ingin memastikan, setelah Business Leadership Summit berakhir, kedua wanita itu tidak lagi memiliki kesempatan untuk mengganggu Zahira maupun Wiranata Corp.

1
Muft Smoker
tenang aj almira Kayla ,, harus ny km bersyukur masuk penjara ,, kalian gx perlu repot2 mikirin makan tiap hari ,, semua udh dtanggung pihak penjara ,, Selamat menempuh hidup baruuuu ,, duo kuntiii ,, 😏😏😏😏
Muft Smoker
nah kan ,, anda bermain dg org yg slah almira😏😏😏😏
Muft Smoker
untung pak bos peka yx ,,
Mundri Astuti
jangan sampai ada jaminan dari keluarganya, Revan jaga tetu jangan kasih kendor
Aditya hp/ bunda Lia
rasain ... merasa diri pintar padahal Revan lebih jenius .. selamat bobo cantik di hotel prodeo 👍
Aditya hp/ bunda Lia
mampus kalian lampiiirrr . gerandong
Muft Smoker: sabar bunda ,, mereka emnk turunan makhluk astral ,, tp jgn di perjelas juga ,,
🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
gina altira
Hayo loh Almira
gina altira
untung ada revan
Uba Maoludin
Almira, Kayla kamu sebentar lagi mendapatkan kehancuran arena kamu berdua biangnya kerusuhan karena hati busukmu
Muft Smoker
orang panik biasa ny akan melakukan kesalahan ,, 😒😒😒
Dan kesalahan tu yg bikin mereka gx ingin melihat Dunia luar lgii ,, 😏😏😏😏😏😏
Muft Smoker
orang sirik tanda tak mampu ,,
dsnii bakal keliatan ,,
mana yg berdiri dg kaki ny ,,
Dan mana yg berdiri msh menggunakan kaki orang tuany ,, 😒😒😒😒🤭🤭🤭🤭
Aditya hp/ bunda Lia
duh gantung udah pinisirin bingit padahal ... gak sabar
Rita Rita
makin seru dan makin ingin tau aksi brutal 2 Mak Lampir.🤔🤭 yg udah sebenarnya udah kalah talak dengan Zahira,,
Mundri Astuti
gitu dong Revan, itu baru laki" keren
Rita Rita
gimana Kayla,,, dapet merebut pria mandul 🤭🤔🤣🤣🤣
Rere🌠: ngetawainnya puas banget kayaknya 🤣🤭
total 1 replies
Rita Rita
merebut dan akhirnya kena tampar ditengah perkumpulan orang banyak betapa rendahnya nilai harga diri. Kayla,,, Kayla wkwkwk,,,
Rita Rita
nyesel ya RIS,,,? makanya jangan tergiur dengan batu kali
Rita Rita
yang merebut milik orang hidup nya tak tenang ia akan selalu dibayangi rasa takut khawatir dan tak percaya
Rita Rita
lah,, ngapain juga Zahira noleh loe lagi Daris,,,? sesuatu yang udah loe buang ga bakalan balik lagi,dan Zahira pasti nganggap loe sampah yg tidak perlu dipungut.
Aditya hp/ bunda Lia
buat senjata makan tuan Thor kayaknya dia mau kasih Zahira obat setan terus ... ya gitu lah tapi buat si Almira yang kena sama si kayla
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!