NovelToon NovelToon
Satpam Sakti: Sang Raja Serigala

Satpam Sakti: Sang Raja Serigala

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem
Popularitas:9.4k
Nilai: 5
Nama Author: Vyrkon

Bima hanyalah satpam bergaji kecil di apartemen mewah Surabaya. Ia diremehkan preman, diinjak atasan, dan dipandang rendah penghuni kaya. Tak ada yang tahu, pria ini dulunya Sang Raja Serigala, pemimpin tentara bayaran legendaris, pewaris Aji Surya Candra, serta pemilik rahasia yang bisa mengguncang kota.
Kembali ke tanah air untuk menepati janji melindungi kerabat rekan seperjuangan yang gugur, Bima bersembunyi sebagai satpam dan menanggung segala hinaan. Musuhnya datang beruntun: korlap satpam, konglomerat pengirim pembunuh, hingga Padepokan Giri Wesi. Ia menumbangkan lawan di ring maut Sayembara Pedang Emas, membongkar konspirasi Kelab Arwah, dan mencapai puncak ilmu silat Manunggal.
Di sisinya berkumpul berbagai wanita: janda anggun, polisi cantik keturunan jenderal, direktur muda, dan pesilat wanita misterius. Cinta, dendam, kuasa dan rahasia saling bertaut.
Mereka memerintahnya berlutut. Bima membuat semua orang mendongak kepadanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Bab 26: Darah di Atas Matras

Pukulan pertama Guntur membelah udara.

Telapak tangannya turun ke arah kepala Bima dengan berat seperti palu. Bima memutar kaki melalui Langkah Kijang dan meluncur setengah meter ke samping.

Pukulan Karang Pecah menghantam matras.

DUK!

Lapisan putih mengempis. Retakan menjalar pada lantai keras di bawahnya dan membuat ujung matras terangkat seperti gelombang.

Belum sempat gema benturan hilang, Bima sudah berada di sisi kanan Guntur. Kepalan pertamanya menghantam rusuk. Pukulan kedua menyusul ke ulu hati. Pukulan ketiga masuk di bawah ketiak.

Tiga dentuman pendek terdengar berurutan.

Guntur hanya mundur setengah telapak.

Napasnya turun ke perut. Kulit, otot, dan tenaga dalamnya merapat dalam satu irama Kebal Karang. Tubuh itu tidak benar-benar berubah menjadi batu, tetapi daya pukul Bima tersebar ke seluruh rangka sebelum sempat menembus satu titik.

Bima mengubah sasaran. Tumitnya menyapu pergelangan kaki Guntur, disusul tendangan rendah ke sisi lutut. Guntur menghentakkan telapak ke matras dan mengunci pusat berat. Kakinya bergeser, tetapi tidak roboh.

Serangan balasan datang melalui bahu.

Guntur menabrak seperti banteng. Bima meloncat menyamping, telapak kakinya nyaris keluar garis, lalu kembali dengan pukulan ke pelipis. Guntur memiringkan kepala dan mengeraskan leher pada saat yang tepat. Kepalan itu terpental.

Bima melihat polanya.

Kebal Karang bukan dinding yang menyala terus-menerus. Guntur mengalirkan napas ke bagian yang akan menerima serangan. Dada, rusuk, leher, lalu kaki. Perpindahannya sangat cepat, tetapi setiap perpindahan tetap membutuhkan waktu, sekecil kedipan.

Untuk menembusnya, Bima harus memaksa Guntur menjaga bagian yang salah.

"Pukulan bagus," kata Guntur. "Tapi belum cukup."

Sikutnya menyapu.

Bima menunduk. Angin dari gerakan itu menyentak rambutnya. Lutut Guntur sudah menyusul dari bawah, memaksa Bima menahan dengan kedua lengan.

Benturan mengirim tubuh Bima mundur tiga langkah.

Anindya mencengkeram tepi kursi. Vanya menahan napas. Gita hampir berdiri, tetapi tangan Laras lebih dahulu menyentuh lengannya.

"Jangan melewati garis," kata Laras pelan.

Gita mengepalkan tangan dan kembali duduk. Satu kaki saja masuk ke matras dapat dianggap campur tangan serta membatalkan perlindungan klausul mereka.

Di sisi lain, Darman tersenyum lebar. "Kang Guntur baru mulai."

Guntur memang baru mulai.

Ia maju tanpa memberi ruang. Setiap injakan membuat matras bergetar. Pukulan lurusnya tidak rumit, tetapi beratnya memaksa Bima memilih menghindar. Sekali saja menahan dengan tubuh, tulang bisa menerima seluruh daya yang tadi memecahkan lantai.

Bima bergerak melingkar.

Kiri.

Kanan.

Setengah langkah ke belakang.

Langkah Kijang membuat serangan Guntur terus meleset beberapa senti. Namun aula bukan medan terbuka. Batas matras makin dekat di belakang Bima.

Guntur melihatnya.

Ia mengangkat tangan kanan seolah hendak memukul kepala, lalu mengubah arah ke dada pada detik terakhir.

Bima sempat memutar badan, tetapi buku jari Guntur masih menyentuh bahu kirinya.

BUK!

Sentuhan itu terasa seperti dihantam balok. Bima terlempar, berguling sekali, lalu menahan tubuh sebelum keluar garis. Bahu kirinya mati rasa. Jahitan lengan baju putih robek sepanjang jengkal.

"Bang Bima!" suara Anindya dan Gita bertabrakan.

Bima bangkit tanpa menjawab. Lengan kirinya masih bisa diangkat. Tidak patah, tetapi satu pukulan bersih akan mengubah keadaan.

Ki Sardu memandang Ki Broto. Keduanya tidak bicara. Mereka sama-sama melihat sesuatu yang berbeda dari penonton lain: Bima tidak sekadar lari. Setiap langkahnya mengukur durasi napas Guntur, sudut bahu, dan bagian tubuh yang paling lambat kembali mengeras setelah menyerang.

Bima masuk lagi.

Kali ini ia tidak menargetkan dada. Ia menghantam rusuk kanan dengan Pukulan Gludug, memindah ke pinggang, lalu naik ke bawah rahang. Tenaga dilepaskan dalam ledakan pendek, seperti guntur yang pecah sebelum hujan.

Guntur menerima semuanya.

Duk! Duk! DUK!

Kepalanya terdorong sedikit pada pukulan terakhir, tetapi tak ada darah dan tak ada goyah nyata.

"Itu Pukulan Gludug," gumam Ki Lanang. "Namun alirannya tidak menunjukkan satu padepokan yang kukenal."

"Dia membangun ulang gerakannya sendiri," jawab Ki Broto.

Guntur menggeram dan menghantamkan kedua telapak ke depan. Bima menyilang tangan untuk mengalihkan arah, tetapi daya bentur tetap menghantam dada. Udara terpaksa keluar dari paru-parunya.

Ia jatuh pada satu lutut.

Denny menatap tanpa berkedip. Baru tiga hari lalu ia menyebut Bima pegawai biasa. Sekarang satu-satunya orang yang masih berdiri melawan Guntur adalah orang yang ia hina.

"Selesai," bisik Darman.

Guntur mengangkat Pukulan Karang Pecah untuk mengakhiri pertarungan.

Bima mendengar tarikan napasnya.

Panjang.

Dalam.

Tenaga berkumpul dari telapak kaki, naik ke pinggang, lalu menuju bahu kanan. Pada saat itulah pertahanan Guntur berpindah. Tubuh bagian depan mengeras, tetapi sendi bahunya harus terbuka sepersekian detik agar lengan dapat turun penuh.

Itulah celahnya.

Bima tidak mundur.

Ia justru menjatuhkan tubuh ke arah dalam serangan. Telapak Guntur lewat di samping kepala dan menyobek udara. Tangan kanan Bima menangkap pergelangan, tangan kiri menyelip di bawah siku, sedangkan kakinya mengait tumit Guntur.

Satu gerak menyatukan tiga titik.

Tarik pergelangan.

Angkat siku.

Putar bahu berlawanan arah.

Teknik itu belum pernah memiliki nama. Ia lahir dari naluri tempur, bentuk sendi manusia, dan kebutuhan untuk mematahkan pertahanan yang tak bisa ditembus dari permukaan.

Cengkeraman Naga Patah Sayap.

KRAK!

Bahu kanan Guntur terlepas dari tempatnya. Ligamen robek, kain putih di sekitar ketiak pecah, dan darah tipis membasahi sisi lengan.

Jerit Guntur mengguncang aula.

Kebal Karang melindungi otot yang menerima benturan. Ia tidak dapat mengubah arah sendi yang dipaksa melewati batas.

Bima melepaskan kuncian dan mundur satu langkah. Ia memberi lawannya kesempatan untuk berhenti.

"Menyerah," katanya.

Guntur berlutut dengan lengan kanan menggantung. Keringat membasahi wajahnya. Namun ketika ia mengangkat kepala, tatapannya belum padam.

"Murid Giri Wesi tidak menyerah karena satu lengan."

Ia menubruk maju.

Bima menghindari bahu yang rusak, tetapi Guntur sengaja menjatuhkan seluruh berat tubuh. Kedua kakinya melilit pinggang Bima seperti gunting raksasa. Mereka jatuh bersama ke matras.

Lilitan itu mengencang.

Rusuk Bima tertekan sampai nyeri tajam. Udara yang baru masuk kembali terjepit. Ia mencoba membuka kaki Guntur, tetapi lengan kirinya kehilangan sudut, sementara bahu kirinya masih mati rasa akibat pukulan sebelumnya.

Wajah Anindya memucat. Vanya menutup mulut. Gita berdiri setengah badan sebelum Laras menahannya sekali lagi.

"Dia masih sadar," kata Laras, meski kuku jarinya menekan telapak sendiri.

Guntur menarik tubuh Bima lebih dekat. Lengan kirinya mencari leher.

"Mati bersamaku," desisnya.

Pandangan Bima mulai menyempit.

Ia tidak punya ruang untuk mengayunkan pukulan. Tidak punya udara untuk menunggu. Maka ia menghentikan usaha membuka lilitan dan mengumpulkan sisa tenaga dalam pada telapak kanan.

Semua suara di aula menjauh.

Yang tersisa hanya denyut nadi Guntur di bawah kulit kepala dan satu janji dari dapur kecil semalam.

Pulang.

Telapak Bima terangkat tidak lebih dari dua puluh senti.

Pukulan Gludug meledak tepat di ubun-ubun Guntur.

BRAK!

Tubuh besar itu kejang satu kali.

Lilitan kakinya terlepas.

Bima berguling menjauh sambil menarik udara dengan suara kasar. Guntur tetap telentang. Darah tipis keluar dari hidung, telinga, sudut mulut, dan tepi matanya. Bukan semburan liar, melainkan tanda bahwa benturan telah merusak bagian dalam yang tak dapat dilindungi Kebal Karang.

Ki Sardu mengangkat kedua tangan. "Berhenti!"

Petugas medis berlari masuk. Satu memeriksa jalan napas, satu meraba nadi leher, dan satu lagi menyorot pupil. Mereka melakukan pemeriksaan ulang sebelum kepala tim memandang para saksi.

"Tidak ada nadi. Tidak ada napas spontan."

Aula membeku.

Anindya ingin berlari kepada Bima, tetapi menahan diri sampai Ki Sardu memberi isyarat bahwa duel telah selesai. Vanya dan Gita berdiri bersamaan. Laras tetap memandang sisi kiri arena.

Ia melihat Darman.

Si Mata Satu bergerak saat perhatian semua orang tertuju pada jasad Guntur. Tangannya masuk ke lapisan ikat pinggang dan mengeluarkan pisau keramik tipis yang lolos dari pemeriksaan logam karena sengaja disembunyikan.

"Bajingan!" teriak Darman.

Ia menerjang punggung Bima yang masih berlutut dan kesulitan bernapas.

Laras melesat.

Tumitnya menghantam pergelangan Darman. Pisau terlempar dan berputar di atas matras. Tendangan berikutnya masuk ke dada, menjatuhkan Darman telentang sebelum ujung senjata sempat menyentuh Bima.

"Pelanggaran!" bentak Ki Lanang.

Wisnu dan Bayu tetap di luar garis karena para sesepuh belum memerintahkan masuk. Laras menekan lengan Darman dengan lutut. Darman mencoba menyikut, tetapi Bima sudah memaksa tubuhnya berdiri.

Napasnya belum pulih. Bahu kirinya nyeri, rusuknya terasa seperti diikat kawat, dan tenaga dalamnya tinggal separuh. Namun satu tangan masih cukup.

Bima menangkap pergelangan Darman, memutarnya ke belakang, lalu menekan pria itu ke matras bersama Laras.

"Kemarin pipa," kata Bima di dekat telinganya. "Hari ini pisau. Kau selalu membutuhkan tangan lain karena tanganmu sendiri tidak cukup."

Darman berhenti meronta.

Ki Sardu berjalan ke tengah arena. Ki Broto mengambil pisau keramik dengan sarung bukti dari petugas klub. Ki Lanang meminta Pak Yudi mengunci rekaman kamera, daftar pemeriksaan, dan seluruh dokumen. Panggilan medis darurat serta pemberitahuan insiden wajib dilakukan; Surat Tanding tidak menghapus kewajiban negara.

Setelah bukti diamankan, ketiga sesepuh berdiri sejajar.

"Guntur kalah dan meninggal dalam pertarungan yang ia masuki secara sukarela," kata Ki Sardu. "Bima Prawira menang secara sah. Jaminan Rp50 miliar tidak terpicu. Larissa Couture tidak kehilangan saham maupun aset."

Ki Broto menunjuk Darman. "Kau melanggar larangan campur tangan dan melakukan serangan tersembunyi setelah duel dihentikan. Semua perlindungan pihakmu gugur."

Ki Lanang menyelesaikan putusan. "Sesuai klausul, Darman wajib meninggalkan Surabaya permanen setelah proses keterangan resmi selesai. PT Garda Hitam menghentikan tekanan kepada Larissa. Padepokan Giri Wesi tidak boleh lagi memakai perkara Darman sebagai alasan menyerang Bima, langsung ataupun melalui suruhan."

Selvi jatuh terduduk. Denny menundukkan kepala. Para pengawal dan tokoh silat yang hadir mulai mengulang satu nama dengan suara pelan.

Bima.

Bukan satpam murahan.

Bukan sopir biasa.

Di atas matras putih yang ternoda darah, nama itu untuk pertama kalinya berdiri di dunia persilatan Surabaya.

1
GEMBONG SAKTI
hilangkan penyebutan saya, pakai aku malah lebih bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!