NovelToon NovelToon
Menimbun Perbekalan, Aku Santai Menonton Kiamat Es Turun

Menimbun Perbekalan, Aku Santai Menonton Kiamat Es Turun

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Hari Kiamat
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Surya Mandala

Hendra Wijaya bertahan empat tahun di neraka beku pasca-kiamat, hingga orang terdekat meracuninya. Ia terlahir kembali tiga bulan sebelum bencana—kini hafal jadwal gelombang panas, banjir, dan badai −50°C.

Kali ini ia bersiap di bunker mewah, sambil menyaksikan dunia saling bunuh. Cincin tembaganya mampu menyimpan kapal tanker, mengawetkan makanan, dan naik level via Lima Unsur. Ia borong logistik, bangun benteng, dan balas dendam pada perampas perusahaan serta pembunuh orang tuanya.
Namun kiamat ini bukan alamiah—ada konspirasi, Bestia, dan ras kuno dari Antartika. Hendra menjelma jadi senjata pamungkas umat manusia.

Pertanyaan: apa sebenarnya cincin itu, dan sejauh mana ia bisa naik—hingga jadi penguasa dunia baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Surya Mandala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Bab 013: Pengakuan di Hutan

Tanah di bawah pohon jati itu belum menjadi kuburan saat matahari condong ke barat.

Dua jam kemudian, Hendra berdiri di depannya dengan ponsel menyala di tangan.

Di layar, satu file rekaman baru tersimpan.

Suara Om Rusli ada di dalamnya.

Nama Handoko juga.

Hendra menatap gundukan tanah yang masih gelap. Malam tenang, hanya bunyi serangga dari tepi perkebunan dan napasnya sendiri yang terlalu teratur.

Balas dendam kadang tidak terdengar seperti ledakan.

Kadang hanya berbunyi klik.

Rekaman berhenti.

Beberapa jam sebelumnya, Om Rusli masih duduk di sebuah ruang privat restoran Jakarta, mengaduk kopi tanpa minum.

"Kau akhirnya mau bicara baik-baik juga," katanya.

Hendra duduk di seberangnya. Jasnya rapi. Wajahnya sedikit lebih pucat daripada biasa. Ia sengaja membiarkan kelelahan terlihat.

Orang seperti Rusli lebih mudah membuka mulut saat melihat lawannya tampak retak.

"Saya sudah menjual saham," kata Hendra. "Tiga vila juga sudah lepas."

Rusli tersenyum.

Senyum keluarga.

Senyum orang yang dulu menepuk bahunya di pemakaman orang tuanya, lalu memakai tangan yang sama untuk merebut dokumen perusahaan.

"Om dengar," kata Rusli. "Sayang sekali. Kalau dari awal kau patuh, hidupmu bisa lebih nyaman. Tidak perlu berlarian jual aset seperti orang dikejar utang."

"Saya memang dikejar."

Rusli mengangkat alis.

Hendra menaruh satu map tipis di meja. Isinya bukan dokumen penting. Hanya salinan data lama, foto rapat, dan beberapa catatan yang sengaja dibuat terlihat kacau.

"Saya mau pergi jauh," kata Hendra. "Tapi sebelum itu, saya ingin tahu satu hal."

"Apa?"

"Kecelakaan orang tua saya."

Sendok kecil berhenti di cangkir.

Hanya sepersekian detik.

Cukup.

Rusli lalu tertawa pelan. "Kau masih memikirkan itu? Sudah bertahun-tahun, Hendra. Polisi bilang kecelakaan. Asuransi selesai. Pemakaman selesai. Perusahaan harus jalan."

"Saya punya beberapa bukti."

"Bukti?" Rusli menatap map tipis itu, lalu kembali menatap Hendra. "Kalau kau punya bukti, kau tidak akan duduk di sini."

Benar.

Itulah alasan Hendra duduk di sana.

Ponsel di saku dalam jasnya sedang merekam. Satu cadangan kecil juga aktif di bawah map. File langsung naik ke penyimpanan cloud lewat jaringan restoran.

Kalau Rusli merebut ponsel, rekaman tetap hidup.

Kalau Rusli memecahkan alat kedua, salinan pertama sudah pergi.

"Saya tidak mau melawan Om lagi," kata Hendra. "Saya tahu saya kalah. Saya hanya ingin pergi dengan kepala tenang."

Rusli bersandar.

Di wajahnya, kehati-hatian mulai mencair menjadi rasa menang.

"Kau seharusnya sadar dari dulu."

"Jadi benar Om terlibat?"

"Hati-hati bicara."

"Kalau tidak benar, saya minta maaf."

Hendra menunduk sedikit.

Gerakan itu kecil.

Tapi bagi Rusli, itu tampak seperti penyerahan.

Hendra hampir bisa mendengar egonya membengkak.

"Ayahmu itu keras kepala," kata Rusli akhirnya. "Perusahaan butuh jalan yang lebih besar. Handoko punya modal. Om punya akses keluarga. Tapi ayahmu terus bicara soal amanah, soal nama Wijaya, soal tidak menjual kendali ke orang luar."

Napas Hendra tidak berubah.

Di dalam dadanya, sesuatu yang lama dan hitam bergerak pelan.

"Jadi Om menjualnya?"

"Om menyelamatkan perusahaan."

"Dengan membunuh mereka?"

Rusli memukul meja pelan.

Cangkir bergetar.

"Jangan sok suci. Dalam bisnis, orang lemah tersingkir. Kecelakaan itu hanya mempercepat hal yang memang harus terjadi."

Klik.

Di kepala Hendra, kata itu seperti pintu yang terkunci dari luar.

"Siapa yang memerintahkan?"

Rusli menatapnya curiga lagi.

Hendra segera menekan. "Saya sudah tahu sebagian. Saya hanya ingin memastikan apakah Om melakukan itu sendiri atau atas perintah Pak Handoko."

Nama Handoko membuat Rusli tersenyum tipis.

Ada rasa aman di balik nama itu.

Seolah selama Handoko masih berdiri, tidak ada yang bisa menyentuhnya.

"Kau tidak akan pernah bisa menyentuh Pak Handoko," katanya. "Dulu ayahmu saja tidak bisa menolak. Kau? Kau cuma anak sisa yang kebetulan memegang beberapa lembar saham."

"Berarti dia tahu."

"Dia yang membuka jalan. Om yang mengurus orang lapangan. Semua dapat bagian. Semua rapi. Sampai kau tiba-tiba membuat keributan dengan pengacara murahanmu."

Pengakuan itu jatuh lengkap.

Tidak indah.

Tidak dramatis.

Tapi cukup untuk menghancurkan wajah bersih mereka di depan publik.

Hendra mengambil map dari meja.

"Terima kasih, Om."

Rusli menyipitkan mata. "Terima kasih untuk apa?"

"Untuk jawaban."

Sesuatu pada nada Hendra membuat wajah Rusli berubah.

Ia baru sadar bahwa keponakan di depannya tidak terdengar seperti orang kalah.

Terlambat.

Hendra berdiri. "Ada tempat yang lebih aman untuk bicara lanjut. Om ikut saya."

Rusli tertawa kasar. "Kau pikir Om sopirmu?"

"Tidak. Saya pikir Om masih ingin tahu apa saja bukti yang saya punya."

Kata bukti menahannya.

Orang bersalah selalu ingin mengukur seberapa dalam lubangnya.

Mereka meninggalkan restoran dengan mobil berbeda.

Hendra mengemudi di depan. Rusli mengikuti dengan sopir pribadi sampai pinggiran kota, lalu Hendra meminta sopir itu menunggu di warung jalan dengan alasan pembicaraan keluarga. Rusli menolak sebentar, tapi rasa ingin tahunya lebih kuat daripada kewaspadaannya.

Di jalan kecil menuju perkebunan, sinyal ponsel naik turun.

Langit mulai merah.

"Kau mau bicara apa di tempat seperti ini?" Rusli bertanya dari kursi penumpang.

"Tentang orang tua saya."

"Kita sudah bicara."

"Belum cukup."

Mobil berhenti di tepi jalur tanah.

Di sekitar mereka, pohon jati berdiri berderet. Tanah lembap. Daun kering pecah di bawah sepatu. Tempat itu jauh dari rumah, kamera, dan saksi.

Rusli akhirnya sadar sesuatu.

Ia mundur satu langkah.

"Hendra, jangan bodoh. Kalau Om hilang, Handoko akan tahu."

"Dia akan tahu nanti."

"Kau mau apa? Uang? Saham? Om bisa bantu. Kita keluarga."

Keluarga.

Kata itu membuat ingatan lama naik tanpa izin.

Ayahnya di peti mati.

Ibunya dengan wajah tertutup kain putih.

Rusli menangis paling keras di depan tamu.

Lalu esoknya ia duduk di kursi direksi.

Hendra menatap pamannya.

"Saat mereka mati, Om juga bilang kita keluarga."

Rusli menelan ludah.

"Itu masa lalu."

"Bagi Om."

Hendra maju.

Rusli mengayunkan tongkat kecil dari balik jas. Bukan senjata besar, hanya alat kejut listrik yang mungkin biasa ia bawa untuk membuat dirinya merasa aman.

Tangan Hendra bergerak lebih dulu.

Cepat.

Terlalu cepat untuk mata Rusli.

Alat itu jatuh ke tanah.

Pergelangan Rusli tertekuk dengan suara pendek.

"Aaakh!"

Hendra menutup mulutnya.

"Jangan keras-keras," katanya. "Tempat ini sepi, tapi saya tidak suka suara kotor."

Mata Rusli membesar.

Baru sekarang ia melihat bahwa tubuh Hendra bukan lagi tubuh anak muda yang bisa ia tekan di ruang rapat.

Unsur Logam membuat genggaman Hendra seperti penjepit baja.

Hendra tidak banyak bicara lagi.

Beberapa utang tidak perlu pidato.

Beberapa nama tidak pantas diberi kesempatan terakhir.

Saat langit benar-benar gelap, Om Rusli Wijaya tidak lagi bernapas.

Hendra bekerja dalam diam.

Sekop, sarung tangan, plastik pelindung, kapur, dan pakaian ganti sudah ia siapkan sejak sebelum berangkat. Semua keluar dari bagasi seperti perlengkapan biasa. Yang tidak boleh terlihat, ia masukkan ke Ruang Penyimpanan. Yang harus hilang, ia bersihkan dengan sabar.

Tanah di bawah pohon jati itu menerima satu dosa lama.

Tidak ada upacara.

Tidak ada doa palsu.

Hendra hanya berdiri sebentar di depan gundukan itu.

Ponselnya bergetar.

File rekaman selesai terunggah.

Ia memutar beberapa detik.

Suara Rusli terdengar jelas.

"Dia yang membuka jalan. Om yang mengurus orang lapangan."

Hendra mematikan layar.

Besok, dunia akan mendengar suara itu.

Tapi malam ini, hutan lebih dulu mendengarnya.

Hendra memasukkan ponsel ke saku, menatap tanah baru itu sekali lagi, lalu berbalik menuju mobil.

Om Rusli pernah mengira ia mengubur masa lalu keluarga Wijaya bersama orang tua Hendra.

Sejak hari itu, giliran selalu menunggu di bawah tanah.

1
Alia Chans
Hadir ni... semangat nulis nya😉/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!