Hendry Pratama, menantu keluarga Mahendra di Kota Biru, sudah tiga tahun menjadi bahan hinaan.
Mertua perempuannya, Mama Ayu, setiap hari memaki dan menuntut perceraian. Istrinya, Jessica, bersikap dingin. Satu-satunya yang menyayanginya hanyalah putri kecilnya, Daun.
Sampai suatu hari, telepon misterius mengubah segalanya.
"Pak Hendry, semua aset atas nama Anda sudah siap. Total: 576 miliar Rupiah."
Ternyata, Hendry adalah putra tunggal Hartanto Pratama — konglomerat terbesar yang pernah menguasai seluruh Asia Tenggara. Dia bukan menantu miskin. Dia adalah pewaris kerajaan bisnis triliunan.
Sekarang, semua orang yang pernah meremehkannya... akan berlutut.
"Kau pikir aku cuma sopir? Lihat baik-baik siapa yang sebenarnya menguasai kota ini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Bab 23: Sembilan Eyang
Kantor PT Daun Kreasi seperti baru dilewati badai.
Kaca pintu depan pecah.
Meja resepsionis terbalik.
Dua komputer jatuh di lantai, layarnya retak seperti wajah orang yang dipaksa menahan tamparan.
Di sudut ruangan, seorang staf perempuan menangis sambil memegang lengan yang memar. Staf lain duduk di kursi, dahinya sudah dibalut perban darurat.
Jessica berdiri di tengah kekacauan itu.
Wajahnya pucat.
Matanya merah.
Tapi ia masih memaksa diri mengatur orang.
"Tina, catat barang yang rusak. Jangan buang apa pun. Pak Golianto, tolong antar Raka ke klinik dulu. Biaya ditanggung kantor."
Suaranya bergetar, tetapi tidak patah.
Saat Hendry masuk, Jessica baru benar-benar berhenti.
"Hendry..."
Ia seperti ingin berjalan cepat, tetapi kakinya lemas.
Hendry segera mendekat dan memegang bahunya.
"Kamu terluka?"
Jessica menggeleng.
"Aku tidak. Mereka hanya mendorongku. Tapi stafku..."
Ia menatap ruangan yang hancur, lalu menahan tangis lagi.
"Mereka cuma bekerja. Kenapa harus dipukul?"
Hendry melihat perban di kepala staf itu.
Matanya turun, lalu kembali tenang.
Terlalu tenang.
"Kamu sudah melakukan hal benar. Jangan sentuh barang bukti."
Jessica menatap Rizal dan Bagus di belakang Hendry.
"Mereka..."
"Orangku."
Jawaban Hendry pendek.
Jessica tidak bertanya lagi.
Dalam keadaan seperti ini, ia hanya ingin ada seseorang yang bisa diandalkan.
Rizal sudah bergerak.
Ia tidak banyak bicara. Ia berjalan ke pintu depan, menunduk melihat pecahan kaca, lalu memotret bekas sepatu di lantai. Setelah itu ia mengambil flashdisk kecil dari saku dan berdiri di depan DVR CCTV.
Dimas muncul lewat panggilan video di ponsel Hendry.
"Pak Hendry, saya sudah masuk ke sistem kamera kantor. File lokal rusak sebagian, tapi backup cloud masih hidup. Untung Bu Jessica pernah minta upgrade keamanan setelah kejadian rumah."
Rizal menatap layar.
"Tarik rekaman pukul dua lewat sepuluh sampai dua lewat dua puluh lima."
"Sudah."
Di layar, enam pria masuk.
Mereka memakai masker dan topi, tetapi gerak tubuh mereka jelas bukan perampok biasa. Mereka tidak mencari uang. Mereka langsung menghancurkan meja, komputer, papan contoh desain, dan lemari dokumen proyek.
Salah satu dari mereka menunjuk kamera.
Lalu memukulnya dengan tongkat pendek.
Gambar berhenti.
Bagus menggeram pelan.
"Bukan pencuri. Mereka datang untuk memberi pelajaran."
Jessica menggenggam ujung bajunya.
"Sebelum pergi, salah satu bilang... kami tidak tahu diri karena mengambil proyek orang."
Rizal menatap Jessica.
"Proyek apa yang baru dimenangkan PT Daun Kreasi?"
Jessica menarik napas.
"Renovasi interior kantor cabang Koperasi Samudra. Nilainya tidak terlalu besar, tapi penting untuk portofolio kami. Tendernya kami menang dua hari lalu."
Rizal mengetik sesuatu di ponselnya.
Sepuluh detik.
Dua puluh detik.
Lalu namanya muncul di layar.
"Pesaing yang kalah: PT Rancang Karya Utama. Pemegang saham minoritasnya terhubung ke seorang pria bernama Hendra Pratiwi."
Hendry menoleh.
"Pratiwi?"
Rizal mengangguk.
"Hendra Pratiwi adalah orang luar. Tapi di belakangnya ada jaringan lama Kota Biru. Nama yang lebih besar: Karyo Wicaksono."
Tina yang berdiri di dekat lemari langsung pucat.
"Eyang Karyo?"
Jessica menatapnya.
"Kamu kenal?"
Tina menelan ludah.
"Saya tidak kenal langsung, Bu. Tapi orang Kota Biru tahu nama itu. Dulu dia pegang banyak wilayah pelabuhan, gudang, parkir, keamanan pasar. Sekarang katanya sudah pensiun. Orang masih panggil dia Eyang Karyo."
Bagus menyipit.
"Dunia bawah."
Rizal berkata datar, "Dunia bawah yang sudah duduk di ruang tamu orang kaya."
Hendry berdiri diam.
Tangan Jessica masih gemetar di sampingnya.
Stafnya terluka.
Perusahaan kecil yang ia bangun dengan sisa harga diri dirusak hanya karena memenangkan proyek.
Hendry bertanya, "Alamatnya?"
Rizal sudah tahu pertanyaan itu akan datang.
"Puri Nusantara. Rumah besar di bukit utara. Pengamanan pribadi. Tidak menerima tamu tanpa janji."
Jessica segera memegang lengan Hendry.
"Jangan gegabah. Kalau dia benar orang seperti itu..."
Hendry menatapnya.
"Kalau hari ini aku diam, besok mereka akan datang lagi."
"Tapi..."
"Aku tidak akan membuat masalah tanpa alasan."
Suara Hendry lembut kepada Jessica.
Lalu ia menoleh ke Rizal dan Bagus.
"Kita pergi."
Puri Nusantara berdiri di ujung jalan menanjak, jauh dari bising kota.
Gerbang besinya tinggi.
Di balik pagar, pohon-pohon tua menutup sebagian bangunan utama. Lampu taman menyala meski hari belum gelap, membuat tempat itu terasa seperti rumah keluarga tua yang menyimpan terlalu banyak rahasia.
Mobil Hendry berhenti di depan gerbang.
Belum sempat Bagus turun, empat pria berbadan besar sudah mendekat.
"Ada urusan apa?" tanya salah satu dengan nada malas.
Hendry turun.
"Saya Hendry Pratama. Saya ingin bertemu Eyang Karyo."
Pria itu menatap Hendry dari atas sampai bawah.
Lalu tertawa.
"Hendry Pratama? Oh, menantu keluarga Mahendra itu?"
Yang lain ikut tersenyum.
"Zaman sekarang menantu numpang hidup juga berani datang ke Puri Nusantara?"
Bagus maju satu langkah.
Hendry mengangkat tangan, menahannya.
"Katakan pada Eyang Karyo. Orangnya merusak kantor istri saya. Saya datang meminta penjelasan."
Wajah pria itu berubah dingin.
"Kalau Eyang tidak mau kasih penjelasan?"
"Maka saya masuk dan bertanya langsung."
Keheningan turun.
Lalu pria itu meludah ke samping.
"Coba saja."
Tangannya baru bergerak ke bahu Hendry.
Rizal sudah hilang dari tempatnya.
Jejak itu belum benar-benar hilang.
Terlalu cepat.
Pergelangan pria itu terlipat ke belakang. Tubuhnya berputar setengah lingkaran dan lututnya menyentuh tanah sebelum ia sempat menjerit.
Pria kedua mengayunkan pukulan.
Rizal masuk ke bawah siku, menekan titik di lehernya, lalu orang itu jatuh seperti kabel listrik dicabut.
Pria ketiga dan keempat mundur.
Bagus maju.
Satu dorongan bahu.
Satu sapuan kaki.
Dua tubuh terlempar ke pagar besi.
Dari dalam pos keamanan, delapan orang berlari keluar.
Hendry tidak bergerak.
Rizal dan Bagus bergerak.
Tiga puluh detik kemudian, gerbang Puri Nusantara terbuka.
Tidak ada teriakan berlebihan.
Hanya suara napas berat dan tubuh-tubuh yang menahan sakit di tanah.
Hendry berjalan masuk.
Di aula utama, seorang lelaki tua duduk di kursi kayu gelap.
Usianya lebih dari tujuh puluh.
Rambutnya putih, tapi punggungnya tegak. Matanya tajam seperti elang tua yang sudah lama berhenti berburu, namun belum lupa cara membunuh.
Di sampingnya berdiri beberapa pengawal yang tidak berani sembarangan maju.
Lelaki tua itu menatap Hendry.
"Anak muda."
Suaranya pelan.
Tapi seluruh ruangan seperti harus mendengar.
"Kamu tahu sedang berdiri di rumah siapa?"
Hendry berhenti tiga langkah di depannya.
Ia membungkuk sedikit.
Tidak menjilat.
Tidak menantang kosong.
"Saya tahu Anda Eyang Karyo."
Mata lelaki tua itu menyipit.
"Kalau tahu, kenapa masih berani masuk?"
"Karena orang Anda menghancurkan kantor istri saya dan melukai staf yang tidak bersalah."
Hendry menatapnya lurus.
"Saya datang meminta tanggung jawab."
Seorang pengawal tua membentak, "Jaga mulutmu!"
Eyang Karyo mengangkat satu jari.
Pengawal itu langsung diam.
Eyang Karyo tersenyum tipis.
"Tanggung jawab?"
"Ya."
"Kamu pikir dunia berjalan dengan kata tanggung jawab?"
"Tidak selalu."
Hendry menjawab tenang.
"Tapi kalau tidak ada yang meminta, orang lemah akan terus diinjak."
Ruangan menjadi lebih dingin.
Eyang Karyo menatap Hendry lama.
Di saat itulah suara mobil lain berhenti di luar.
Budiman Suryadi masuk dengan langkah cepat.
Untuk pertama kalinya, wajah Budiman tidak sepenuhnya tenang.
Ia melihat Hendry, lalu Eyang Karyo.
"Eyang Karyo."
Eyang Karyo menoleh.
Matanya berubah sedikit.
"Budiman Suryadi. Lama tidak datang. Begitu datang, membawa keributan ke rumahku?"
Budiman membungkuk hormat.
"Saya minta waktu sepuluh menit. Bicara empat mata."
Pengawal di aula saling pandang.
Eyang Karyo diam.
Lalu ia berdiri.
"Ikut aku."
Mereka masuk ke ruang dalam.
Pintu tertutup.
Sepuluh menit itu terasa lebih panjang daripada satu jam.
Bagus berdiri kaku.
Rizal menatap lantai, seolah menghitung semua jalan keluar.
Hendry tetap berdiri di tempatnya.
Ia tidak tahu apa yang sedang dikatakan Budiman.
Tapi ia tahu satu hal.
Rasa takut kepada Eyang Karyo tidak membawa Budiman ke tempat itu.
Budiman datang karena ada rahasia yang belum boleh pecah terlalu kasar.
Pintu ruang dalam akhirnya terbuka.
Eyang Karyo keluar lebih dulu.
Wajahnya sudah berbeda.
Ketajaman matanya masih ada, tetapi dinginnya hilang.
Ia berjalan mendekati Hendry.
Lalu, di depan semua pengawalnya, lelaki tua itu membungkuk.
Cukup dalam.
Semua orang membeku.
"Anak muda," kata Eyang Karyo, suaranya kini lebih berat, "ini kesalahan orangku."
Hendry menatapnya.
Eyang Karyo melanjutkan, "Kerugian PT Daun Kreasi akan saya ganti tiga kali lipat. Staf yang terluka, biaya pengobatan dan kompensasinya saya tanggung. Mulai hari ini, di Kota Biru, tidak ada orang yang boleh menyentuh perusahaan istrimu."
Salah satu pengawal terkejut sampai mengangkat kepala.
Eyang Karyo menoleh sedikit.
Pengawal itu langsung menunduk lagi.
"Kalau ada yang berani," kata Eyang Karyo, "berarti dia menantang aku."
Hendry tidak segera menjawab.
Perubahan ini terlalu mendadak.
Terlalu besar.
Budiman berdiri di belakang Eyang Karyo dan memberi isyarat kecil.
Terima dulu.
Hendry menarik napas.
"Saya menerima tanggung jawab itu. Tapi saya ingin satu hal jelas. Istri saya bukan alat orang untuk diajari pelajaran."
Eyang Karyo menatapnya.
Lalu ia mengangguk pelan.
"Benar."
Ia berkata kepada pengawal tua, "Cari semua orang yang ikut merusak kantor itu. Bawa ke hadapanku sebelum matahari terbit."
"Baik, Eyang."
Hendry meninggalkan Puri Nusantara dengan dada penuh pertanyaan.
Di dalam mobil, Bagus beberapa kali membuka mulut, tetapi tidak jadi bicara.
Rizal pun diam.
Hendry akhirnya menatap Budiman.
"Apa yang Anda katakan kepadanya?"
Budiman memandang jalan di depan.
Lampu kota bergerak di kaca mobil seperti garis-garis tipis.
"Pak Hendry, ada hal yang seharusnya belum Anda ketahui."
"Tapi hari ini saya sudah melihatnya."
Budiman diam beberapa detik.
Lalu ia berkata pelan, "Eyang Karyo punya posisi lebih dalam daripada orang tua dunia bawah Kota Biru."
Hendry menunggu.
"Nama aslinya Karyo Wicaksono."
Jantung Hendry seperti berhenti setengah detik.
Pratiwi.
Nama keluarga ibunya.
Budiman melanjutkan, "Di keluarga Pratiwi, beliau adalah adik dari kakek buyut pihak ibu Anda. Orang lama menyebutnya Eyang Kesembilan."
Hendry menatap Budiman.
"Jadi..."
"Ya."
Suara Budiman makin rendah.
"Beliau adalah Sembilan Eyang Anda. Masih darah keluarga Nyonya Wulan Pratiwi."
Di luar jendela, Kota Biru tetap ramai.
Tapi bagi Hendry, suara kota itu tiba-tiba menjauh.
Ibunya.
Wulan Pratiwi.
Nama yang selama ini ia simpan seperti luka lama, ternyata menyambung ke orang tua berbahaya yang mampu membuat satu kota menunduk.
"Kenapa saya baru tahu sekarang?"
Budiman menatapnya.
Di wajah lelaki tua itu ada kesetiaan.
Dan beban.
"Karena semakin banyak Anda tahu, semakin berbahaya hidup Anda."
Hendry tidak menjawab.
Budiman menambahkan dengan suara hampir berbisik.
"Ada pintu yang kalau dibuka terlalu cepat, bisa menyeret lebih banyak bahaya masuk."
Mobil melaju melewati lampu merah yang baru berubah hijau.
Hendry menatap pantulan wajahnya di kaca.
Malam itu, ia menyelesaikan masalah Jessica.
Tapi ia membuka satu pertanyaan yang jauh lebih besar.
Siapa sebenarnya ibunya?