~~
Demi aliansi politik, Iris von Draewyn—putri berambut perak dari Utara—terpaksa menikah dengan Grand Duke Darian von Ravengard, Panglima Tertinggi yang dikenal kejam dan berdarah dingin. Pernikahan mereka hampa dan dipenuhi jarak, hingga sebuah tragedi mengakhiri hidup Iris dalam kesendirian.
Namun, alih-alih mati, Iris justru terbangun di masa lalu dalam kondisi hamil muda—mengandung anak dari suami yang mengabaikannya.
~~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 5 PUDING MANGGA DAN PESAN SANG AYAH
***
Angin pagi yang dingin sejuk menyusup perlahan di sela tirai kamar Grand Duchess Iris von Draewyn. Langit Ravengard berwarna kebiruan pucat, pertanda musim semi perlahan datang. Di balkon kamar lantai dua, sang Duchess duduk bersandar di kursi rotan elegan, diselimuti syal wol tipis warna krem. Di atas meja kecil di sampingnya, semangkuk puding mangga yang baru saja disajikan masih menguarkan aroma segar manis yang menggoda.
Satu sendok... perlahan masuk ke mulut.
Iris memejamkan mata, merasakan tekstur lembut puding dan rasa manis asam mangga menyebar di lidahnya.
“Hahh... akhirnya. Kamu tahu nggak, ini... nikmat banget,” gumamnya pelan, meski tak ada seorang pun di sekitarnya.
Ia menatap mangkuknya dengan mata berbinar. “Ini bukan sekadar puding mangga. Ini penyelamat jiwa.”
Tangan kirinya bergerak pelan menyentuh perutnya yang mulai membuncit.
“Dan kau...” katanya sambil tersenyum. “Kau yang memintanya, ya? Cerdas sekali seleramu.”
Angin kembali berhembus, menggoyang perlahan helaian rambut perak berkilau milik Iris. Ia menoleh ke langit, lalu menunduk pada perutnya lagi.
“Ngomong-ngomong... apakah kau... merindukan ayahmu?”
Tanya itu keluar begitu saja. Lembut. Samar. Tapi di baliknya, tersembunyi getar yang sulit diabaikan.
Iris menggigit bibir bawahnya. Hati kecilnya yang bukan milik Iris asli sepenuhnya, namun warisan memori tubuh itu bergetar dengan rindu yang nyaris menyesakkan.
“Dia... sudah lama tidak datang, ya?” bisiknya. “Dulu dia sering datang, bukan? Bahkan sebelum kau ada di sini.”
Perutnya bergerak pelan. Seolah bayi itu merespon.
Iris terkesiap kecil, lalu tertawa pelan.
“Kau... menjawab ya? Jadi kau tahu?”
Ia menyentuh perutnya dengan kedua tangan. Hangat. Lembut.
“Apakah kau akan membantuku, hm?” lirihnya. “Membantu ibumu... bertemu lagi dengan ayahmu? Meskipun... aku tak tahu harus bilang apa jika itu terjadi.”
Angin kembali bertiup. Udara pagi Ravengard, meski dingin, terasa seperti obat yang meredakan luka.
“Aku tidak tahu kenapa... hatiku merasa rindu padanya. Padahal aku... bukan benar-benar aku. Atau... mungkin, aku sudah menjadi dia?” Iris menatap langit. “Aku bukan wanita yang dicintainya. Tapi aku adalah ibu dari anaknya. Apa itu cukup?”
Ia menunduk.
“Kalau aku bisa bicara langsung padanya... aku ingin bilang, aku tidak akan menuntut apapun. Aku hanya ingin... tahu seperti apa rasanya duduk bersamanya. Menikmati pagi seperti ini.”
Tiba-tiba, ia tertawa kecil sambil memakan satu sendok lagi puding.
“Ah, lihatlah diriku. Curhat pada bayi yang bahkan belum bisa menjawab. Tapi kurasa... kau lebih bisa mendengarkan daripada siapa pun di istana ini.”
Tak jauh dari sana, di seberang taman kecil yang membentang di halaman tengah istana, seorang pria berdiri di balkon menara pengawal yang menghadap langsung ke balkon kamar Grand Duchess.
Rambut hitamnya tertata rapi, mata kelabunya menatap lurus. Dingin. Jernih. Tapi dalam diam itu... ada gelombang yang samar.
Grand Duke Darian von Ravengard menyandarkan satu tangan di besi pagar balkon, memperhatikan dari kejauhan.
Ia melihat Iris duduk dengan santai, rambut peraknya diterpa angin, senyum kecil terulas saat menyuapkan puding. Ada sorotan kehidupan di matanya... meski wajahnya masih pucat.
Dan saat wanita itu menyentuh perutnya, berbicara pelan seperti berdialog dengan janin di dalamnya, Darian tidak bisa berpaling.
Ia tidak mendengar kata-kata yang diucapkan, namun gerakan lembut tangannya, ekspresi damainya… semuanya terasa asing. Terasa baru. Dan anehnya… terasa menyentuh sesuatu dalam dirinya yang telah lama tertidur.
“Dia... tidak seperti dulu,” gumam Darian pelan.
Salah satu ajudan di belakangnya, Arven, berdiri sambil menunduk. “Yang Mulia Grand Duke, pengawal sudah siap. Rombongan akan berangkat ke Istana Kekaisaran dalam dua puluh menit.”
Darian tidak menjawab.
Arven menunggu sejenak, lalu memberanikan diri melihat arah pandang tuannya.
“Apakah Anda ingin saya mengirim pesan pada Grand Duchess...?”
Darian akhirnya mengalihkan pandangan. “Tidak perlu,” ujarnya datar.
Namun saat hendak berbalik, matanya kembali terarah.
Dan di sana... Iris tertawa. Ringan. Lembut. Menatap langit sambil mengelus perutnya. Senyum itu... bukan senyum pura-pura seperti dulu. Itu adalah senyum seseorang yang benar-benar hidup.
Hatinya berdebar aneh.
“…Puding mangga…” gumam Darian. “Itu sebabnya dia menangis.”
Arven berkedip bingung. “Maaf, Tuan?”
Darian menggeleng pelan. “Tidak apa-apa.”
Ia berbalik. Namun langkahnya melambat saat melewati ambang pintu balkon.
Sejenak... ia ingin kembali. Mungkin mengetuk pintu. Mungkin masuk dan bertanya... “Apa kau sudah merasa lebih baik?”
Tapi jemarinya hanya mengepal diam.
Ia memilih melangkah pergi.
Namun dalam dirinya, suara tawa pelan wanita berambut perak itu terngiang. Bersama bayangan mangkuk puding mangga... dan tangan mungil yang menyentuh perut dengan kelembutan seorang ibu.
Dan Darian sadar...
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang penuh darah dan pertempuran, ia tidak tahu bagaimana menghadapi seorang wanita.
Aula Marmer Putih di jantung Istana Kekaisaran Valerieth senyap pagi itu. Meja bundar berbentuk elips, dengan ukiran naga bersayap dan lambang kerajaan berkilau di tengahnya, hanya diisi oleh empat pria dengan status tertinggi di seluruh kekaisaran.
Kaisar Severan Valeria, dengan jubah kebesaran biru keemasan, duduk di kepala meja. Mata peraknya yang dingin menyapu setiap wajah dengan ketegasan yang hanya bisa dimiliki oleh penguasa sejati.
Di sebelah kanan sang Kaisar, Grand Duke Darian von Ravengard, duduk dengan pakaian tempur hitam bertrim perak. Wajahnya dingin seperti biasa, tapi matanya untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun tidak fokus.
Di sisi lain meja, Count Eldwyn Theros of Viremont, penasihat perang dan diplomat utama kekaisaran, tengah menjelaskan rencana delegasi ke wilayah perbatasan selatan.
Dan duduk di seberangnya, dengan wajah setenang pegunungan utara, Duke Maelthorn Vaerenya of Draewyn, ayah dari Iris. Sosok yang terkenal dengan reputasi keras, cerdas, dan tak banyak bicara, kini diam mengamati menantunya.
“...Jika kita mengirim delegasi pada akhir bulan ini,” ujar Count Eldwyn, “maka perjanjian gencatan bisa ditandatangani sebelum musim dingin datang. Wilayah Trevalin takkan lagi menggugat perbatasan utara dan…”
“Darian.”
Suara Kaisar memotong dingin dan tajam, membuat semua kepala menoleh.
Darian terangkat sedikit dari lamunannya. Ia mengangguk cepat. “Ya, Yang Mulia?”
Kaisar Severan menyipitkan mata. “Kau bahkan tak mendengar laporan Count Eldwyn barusan.”
“Aku mendengar,” jawab Darian cepat. “Delegasi akan dikirim pada akhir bulan. Penandatanganan perjanjian sebelum musim dingin.”
Count Eldwyn memandangnya dengan heran, tapi tidak menyela.
Kaisar menyandarkan diri ke kursi. “Kau tidak seperti biasanya, Darian. Biasanya, kau memotong kalimat Eldwyn sebelum dia selesai bicara.”
Duke Maelthorn menyilangkan jemarinya. “Mungkin sang Grand Duke sedang memikirkan urusan rumah tangga. Itu terjadi pada sebagian pria... meski jarang terjadi pada klan Ravengard.”
Darian menoleh pelan, bertemu tatap dengan mertuanya. Wajah Maelthorn tetap datar, namun sorot matanya… penuh pengamatan tajam.
“Urusan rumah tangga... bukan wilayah pertempuran,” jawab Darian singkat.
Duke Maelthorn menanggapi dengan senyum tipis, hampir tak terlihat. “Benar. Tapi kau tahu, medan yang paling sulit ditaklukkan... bukan ladang perang. Tapi hati seorang wanita.”
Kaisar Severan menyipitkan mata, tapi memilih tak mencampuri. Ia hanya mengangkat tangan, tanda rapat selesai.
“Rapat ditutup. Persiapan delegasi akan dikawal oleh Count Theros dan Grand Duke sendiri. Tapi sebelum kau pergi, Darian... tetaplah di sini.”
Darian berdiri pelan. Count Eldwyn membungkuk lalu keluar. Duke Maelthorn bangkit, tapi sebelum melangkah keluar, ia menoleh sekilas ke arah Darian. Sorot matanya masih belum pergi dari wajah menantunya.
Begitu hanya mereka berdua di ruangan, Kaisar Severan bersandar ke kursinya, menatap adiknya lekat-lekat.
“Katakan, Darian. Apa yang mengusikmu?”
Darian diam sejenak. “Tidak ada.”
“Jangan berbohong padaku,” balas Severan dingin. “Bahkan saat kecil kau tak bisa menyembunyikan sesuatu dariku, apalagi sekarang.”
Darian menatap cermin besar di dinding aula. Wajahnya memantul, tetap setegas biasanya... tapi matanya mengandung sesuatu yang baru. Bimbang.
“Aku hanya... mendapati bahwa ada hal-hal... yang tidak bisa dikendalikan,” jawabnya akhirnya.
“Seperti wanita?” sang Kaisar bertanya pelan, seolah tahu jawabannya.
Darian tak menjawab.
“Dia... Grand Duchess Iris,” lanjut Severan. “Kau tidak bisa menghindari pertanyaan itu selamanya. Kau telah menikahinya atas nama politik. Tapi kini, dia sedang mengandung anakmu. Apa kau pernah melihatnya bukan sebagai bagian dari strategi, melainkan... seseorang?”
Darian memejamkan mata sejenak.
“Tadi pagi,” katanya lirih, “dia duduk di balkon. Makan puding mangga. Tertawa… sendirian. Seolah tak sadar bahwa seluruh istana memperhatikannya.”
Kaisar tersenyum samar. “Kadang yang paling lemah justru yang paling menggoyahkan. Hati wanita itu tak bisa dipahami hanya dengan pedang.”
Setelah percakapan mereka selesai, Darian melangkah ke luar aula.
Langkahnya terhenti di lorong panjang, ketika mendapati sosok berdiri tenang di ujung lorong marmer.
“Duke Maelthorn.”
“Aku tahu kau akan keluar lewat sini,” jawab ayah Iris pelan.
Darian mendekat. Keduanya berdiri sejajar, dua pria kuat, dua pemimpin dari belahan dunia yang dingin.
“Aku hanya ingin menanyakan... bagaimana keadaan putriku?” tanya Maelthorn langsung.
“Dia baik,” jawab Darian. “Kondisinya stabil. Hidup dengan kemewahan seperti biasa.”
Duke Vaerenya hanya tersenyum kecil. “Iris memang menyukai kemewahan. Tapi dia juga punya hati dan logika. Dia tahu kapan harus menikmati... dan kapan harus bertahan.”
Darian menahan napas.
“Apakah dia mengeluh?” tanyanya.
“Tidak. Iris bukan tipe yang mengeluh,” jawab Maelthorn. “Tapi aku mengenalnya. Di balik senyum dan kesopanan itu... dia haus akan pengakuan. Kau mungkin melihatnya sebagai putri bangsawan pemuja gaun dan berlian. Tapi dia... juga memiliki darah ibunya.”
Darian menoleh. “Duchess Elyra?”
Maelthorn mengangguk. “Wanita paling cantik dan paling bijak di Utara. Ia bisa membungkam pertemuan dewan hanya dengan satu kalimat. Tapi ketika sendirian, ia memelukku dan menangis karena tak pernah dianggap cukup oleh keluarga Kekaisaran.”
Darian diam.
“Iris mewarisi senyum ibunya. Dan juga... luka yang sama.”
Duke Maelthorn menatap menantunya dalam-dalam. “Aku tahu pernikahan kalian adalah kesepakatan politik. Tapi kesepakatan bukan alasan untuk menjadi asing. Kau telah menerima perjanjian itu. Maka hargailah orang yang kini mengandung anakmu.”
Darian menunduk perlahan.
Dan saat Maelthorn melangkah pergi, ia meninggalkan satu kalimat yang menusuk lebih dalam dari seribu pedang:
“Belajarlah mengenal wanita itu, Darian. Atau kelak kau akan kehilangan sesuatu... yang tak bisa dikembalikan.”
Bersambung.....