NovelToon NovelToon
Jejak Di Pinggir Hutan

Jejak Di Pinggir Hutan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:381
Nilai: 5
Nama Author: Thomaz3235

Rangga Hidayat, anak tunggal konglomerat properti, kehilangan kedua orang tuanya dalam pembunuhan berencana yang dikamuflase sebagai kecelakaan. Ia sendiri hampir tewas, lalu dibuang di tepi hutan dekat Desa Sumbermulyo. Seorang nenek miskin, Saroh, menemukannya dan merawatnya dengan penuh kasih. Di desa terpencil itu, Rangga belajar hidup sederhana: bertani, beternak, bermain, dan berteman. Ia mengalami ejekan, candaan, persahabatan, dan cinta pertama. Perlahan ia tumbuh menjadi pemuda tang gigih. Ketika dewasa, ia merantau ke kota untuk bekerja, menyelidiki kematian orang tuanya, dan menghadapi konflik batin antara balas dendam dan pengampunan. Novel ini mengikuti perjalanan emosionalnya dari anak manja menjadi lelaki dewasa yang bijaksana, dengan latar pedesaan yang hangat dan intrik kota yang kelam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thomaz3235, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: JOKO PERGI DAN SENJA YANG SEDIH

Persahabatan Rangga dengan Joko semakin erat seiring berjalannya waktu. Joko adalah teman pertama yang ia temui di desa, dan entah mengapa, mereka memiliki ikatan yang kuat—seperti saudara yang terpisah sejak lahir. Mereka sering menghabiskan waktu bersama, tidak hanya bermain, tetapi juga membantu satu sama lain. Rangga membantu Joko mengerjakan PR matematika yang sulit, sementara Joko membantu Rangga memanen kacang panjang di kebun Nenek Saroh. Mereka berbagi makanan ringan, saling meminjam mainan, dan selalu membela satu sama lain jika ada yang mengganggu. Rangga merasa Joko adalah anugerah terbesar setelah ia kehilangan segalanya—seorang sahabat yang menerimanya apa adanya, tanpa memandang masa lalunya yang kelam.

Namun suatu sore, saat mereka duduk di pinggir sawah sambil melepas lelah setelah seharian bermain gasing dan layangan, Joko tiba-tiba berkata dengan suara yang berbeda—suara yang berat, penuh dengan beban yang tidak biasa ia bawa. Biasanya Joko selalu ceria, selalu tertawa, selalu punya candaan untuk mencairkan suasana. Namun sore itu, Joko menunduk dalam-dalam, jari-jarinya memainkan rumput liar di tepi pematang sawah. Udara sore terasa lebih dingin dari biasanya, dan angin berhembus membawa aroma tanah basah yang khas.

"Rangga, aku harus pindah," kata Joko pelan, nyaris berbisik. Matanya tidak berani menatap Rangga.

Rangga terkejut. Dadanya berdebar kencang, seperti ada sesuatu yang menusuk di bagian paling dalam. "Pindah? Ke mana?" tanyanya, suaranya sedikit bergetar.

"Ke Jakarta," kata Joko, masih menunduk. "Ayahku dapat pekerjaan di sana. Kata ibuku, gajinya lebih besar, dan kami bisa hidup lebih layak. Ayahku sudah lama menganggur, Rangga. Kami hampir tidak punya uang untuk makan. Ibu sering menangis di malam hari karena tidak bisa membeli beras. Jadi ketika ada tawaran kerja ini, Ayah langsung menerimanya. Tapi… aku tidak mau. Aku tidak mau meninggalkan desa ini. Aku tidak mau meninggalkan teman-teman. Aku tidak mau meninggalkanmu." Suara Joko pecah di akhir kalimat, dan Rangga melihat setetes air mata jatuh ke pangkuan Joko.

Rangga terdiam. Hatinya terasa seperti ditusuk pisau dingin yang berulang kali menusuk. Ia baru saja menemukan sahabat sejati setelah kehilangan segalanya—ayah, ibu, rumah mewah, dan seluruh kehidupannya yang dulu. Dan kini sahabat itu akan pergi, meninggalkannya lagi. Ia menggenggam tangan Joko erat-erat, merasakan hangatnya tangan sahabatnya yang kasar karena kerja keras di ladang. "Kapan?" tanyanya, suaranya serak menahan tangis.

"Besok pagi-pagi. Sudah diurus semua. Ayahku menyewa truk kecil untuk mengangkut barang-barang kami. Kami hanya membawa yang penting-penting saja. Sisanya akan kami tinggalkan atau kami jual," jawab Joko, tangannya membalas genggaman Rangga dengan erat. "Aku sudah pamit ke Bu Siti dan teman-teman yang lain. Hanya kau yang belum aku beri tahu. Aku takut… aku takut melihat wajahmu sedih, Rangga."

Rangga menarik napas panjang, berusaha menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya. "Joko, kau sahabat terbaik yang pernah aku miliki. Sejak aku datang ke desa ini, kau adalah orang pertama yang menerimaku. Kau tidak pernah menanyakan masa laluku. Kau tidak pernah menghakimiku. Kau hanya… kau hanya menjadi teman. Itu lebih berharga dari apa pun."

Joko mengangkat kepalanya, matanya merah dan basah. "Aku juga merasakan hal yang sama, Rangga. Aku tidak pernah punya sahabat sepertimu. Sebelum kau datang, aku hanya punya Ucok, Dullah, dan Karti. Mereka baik, tapi mereka tidak pernah mengerti perasaanku seperti kau. Kau selalu mendengarkan, selalu peduli, selalu ada. Aku akan merindukan semua itu."

Malam itu, Rangga tidak bisa tidur. Ia berbaring di tikar pandan, memandangi langit-langit gubuk yang berlubang, sementara Nenek Saroh sudah terlelap di sudut ruangan. Pikirannya melayang ke hari-hari bersama Joko—saat mereka pertama kali bertemu di sawah, saat Joko mengajarinya menangkap belalang, saat mereka tertawa terbahak-bahak karena Rangga jatuh ke lumpur, saat Joko membelanya dari ejekan Ucok, dan saat mereka berbagi singkong rebus di bawah pohon beringin. Semua kenangan itu terasa begitu nyata, begitu indah, dan kini semuanya akan berakhir. Ia membayangkan hari-hari tanpa Joko—tanpa tawa Joko yang menggelegar, tanpa candaan Joko yang sering membuatnya tertawa sampai perut sakit, tanpa bantuan Joko saat ia kewalahan membawa sayuran ke pasar, tanpa kehadiran Joko yang selalu membuatnya merasa tidak sendirian.

Air mata mengalir di pipinya, tetapi ia tidak berani menangis keras-keras karena takut membangunkan Nenek. Ia memeluk bantalnya erat-erat, menahan isak tangis di dadanya. Dalam hatinya, ia bertanya-tanya, mengapa semua orang yang ia sayangi selalu pergi? Ayah, ibu, dan kini Joko. Apakah ia memang ditakdirkan untuk hidup sendirian? Apakah ia membawa sial sehingga semua orang di sekitarnya meninggalkannya?

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, semua anak desa berkumpul di depan rumah Joko—sebuah rumah panggung kecil dengan dinding bambu yang sudah lapuk. Mereka datang untuk mengucapkan selamat tinggal. Karti, gadis kecil berponi dua itu, menangis tersedu-sedu tanpa malu-malu. Wajahnya basah oleh air mata, dan ia memeluk Joko erat-erat. "Jangan pergi, Jok! Aku akan kangen banget!" Dullah, si anak gemuk yang biasanya selalu ceria, kini diam membisu dengan wajah cemberut dan bibir bergetar. Ia hanya menatap Joko, tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Ucok—yang biasanya paling usil, yang selalu punya candaan pedas untuk semua orang—bahkan menangis tanpa malu-malu. Air matanya mengalir deras, dan ia tidak peduli jika teman-temannya melihatnya lemah.

Rangga berdiri di samping pintu truk kecil yang sudah penuh dengan barang-barang Joko. Ia memandang sahabatnya yang sedang memasukkan tas terakhir ke dalam bak truk. Joko mengenakan baju terbaiknya—kemeja putih yang sedikit kusut dan celana panjang kain. Rambutnya yang biasa acak-acakan kini disisir rapi. Ia terlihat seperti orang dewasa, bukan anak kecil yang biasa bermain gasing di sawah.

"Joko…" Rangga memanggil, suaranya serak dan pecah.

Joko menoleh. Matanya merah dan bengkak, menunjukkan bahwa ia juga menangis semalaman tanpa tidur. "Rangga, aku akan kangen sama kita," katanya, suaranya bergetar. "Aku akan kangen sama sawah, sama sungai, sama pohon beringin tempat kita biasa main. Tapi yang paling aku kangen… ya kamu. Aku tidak akan pernah melupakanmu."

Mereka saling memandang, dan untuk beberapa detik, dunia terasa berhenti. Hanya ada mereka berdua, dua sahabat yang harus berpisah oleh takdir. Lalu tanpa kata, mereka berpelukan erat—pelukan yang terasa begitu hangat, begitu penuh makna. Rangga merasakan bahu Joko bergetar karena isak tangis yang tertahan. Ia memeluknya lebih erat, seolah jika ia melepaskan, Joko akan menghilang selamanya.

"Kau janji, ya, kita tetap sahabat. Jangan lupa sama aku," bisik Joko di telinga Rangga. "Kalau kau ke Jakarta, kau cari aku. Aku akan tinggal di kawasan Cempaka Putih. Ayahku sudah dapat alamat rumah. Aku akan tulis surat untukmu begitu kami tiba. Aku janji."

"Aku janji," jawab Rangga, air matanya mengalir deras tanpa bisa ia tahan lagi. "Dan kau janji, kalau sudah besar, kita ketemu lagi. Kita main gasing, main layangan, kita ke sungai lagi. Kita akan mengulang semua kenangan kita. Aku akan menunggumu."

"Siap!" Joko tersenyum sambil mengusap air matanya dengan punggung tangan. "Aku titip desa ini sama kamu, Rangga. Jagalah semuanya. Jagalah Nenek Saroh. Jagalah Ucok, Karti, Dullah. Dan jagalah dirimu sendiri. Kau adalah orang terkuat yang aku kenal. Aku yakin suatu hari kau akan menjadi seseorang yang hebat."

Truk itu akhirnya melaju, mesinnya menderu-deru meninggalkan desa. Rangga dan teman-temannya melambaikan tangan dengan penuh semangat, meskipun hati mereka hancur berkeping-keping. Mereka melambaikan tangan sampai truk itu menghilang di balik tikungan jalan, ditelan debu jalanan yang beterbangan ditiup angin pagi. Rangga masih berdiri di tempatnya, tangannya masih terangkat tinggi, meskipun tidak ada yang bisa ia lihat lagi selain debu dan kehampaan.

Angin pagi berhembus sejuk, membawa daun-daun kering beterbangan di sekelilingnya. Di kejauhan, matahari mulai naik di balik gunung, menyinari sawah-sawah yang menguning dengan cahaya keemasan. Namun bagi Rangga, pagi itu terasa suram dan dingin. Senja yang biasanya indah kini terasa lebih sendu dari biasanya. Seolah alam ikut bersedih atas kepergian sahabatnya.

Sepulangnya ke gubuk, Rangga duduk di teras tanpa bicara. Ia memandangi sawah di hadapannya, tetapi matanya kosong, tidak fokus pada apapun. Nenek Saroh, yang sudah mendengar kabar itu dari warga, mendekatinya perlahan dan duduk di sampingnya. Ia tidak langsung bicara. Ia hanya duduk di sana, menemani cucu angkatnya dalam kesedihan.

Setelah beberapa lama, Nenek berkata dengan suara lembut, "Nak, Nenek tahu kau sedih. Kehilangan sahabat itu berat, apalagi sahabat sebaik Joko. Tapi ingatlah, Nak, persahabatan sejati tidak berakhir oleh jarak. Selama kau mengingatnya, selama kau mendoakannya, Joko akan selalu bersamamu."

Rangga menunduk, air matanya menetes di pipi dan jatuh ke pangkuannya. "Nenek, kenapa orang-orang yang aku sayangi selalu pergi? Ayah, Ibu, sekarang Joko… apakah aku memang ditakdirkan sendiri? Apa ada yang salah denganku?"

Nenek Saroh memeluknya erat, tangannya yang keriput dan kasar mengusap rambut Rangga dengan lembut. "Tidak, Nak. Tidak ada yang salah dengan dirimu. Kau adalah anak yang baik, anak yang berbakti, anak yang penuh cinta. Joko pergi bukan karena kau jahat, tetapi karena hidup memang membawa orang ke jalan yang berbeda. Seperti sungai yang bercabang, kadang kita harus berpisah untuk bertemu lagi di lautan yang lebih luas. Dan Nenek yakin, suatu hari kau dan Joko akan bertemu kembali. Karena persahabatan yang tulus tidak akan pernah mati."

Rangga menangis di pangkuan Nenek. Ia menangis untuk ayahnya, untuk ibunya, dan kini untuk Joko. Namun di sela-sela tangisnya, ada perasaan aneh yang tumbuh—seperti ada kekuatan baru yang perlahan menguat di dalam dadanya. Ia belajar bahwa kehilangan adalah bagian dari hidup, dan bahwa ia harus terus berjalan meskipun hati terasa hancur berkeping-keping. Ia belajar bahwa cinta dan persahabatan tidak selalu berarti memiliki, tetapi kadang juga berarti melepas dengan ikhlas.

Hari-hari berikutnya, Rangga memang merasa ada yang hilang. Ia terbiasa mencari Joko di bawah pohon beringin, tetapi yang ia temukan hanya ketiadaan. Ia terbiasa mendengar tawa Joko di kejauhan, tetapi kini yang ia dengar hanya suara angin dan burung. Namun ia tidak membiarkan kesedihan menguasainya. Ia mengingat janjinya: ia akan menjaga desa ini. Ia akan belajar keras, ia akan membantu Nenek, dan suatu hari, ia akan bertemu Joko lagi sebagai pribadi yang lebih baik.

Suatu sore, saat Rangga duduk sendirian di bawah pohon beringin, Ucok, Dullah, dan Karti mendatanginya. Ucok membawa gasing baru—gasing kayu dengan ukiran burung yang indah. Ia duduk di samping Rangga tanpa bicara, lalu meletakkan gasing itu di pangkuan Rangga.

"Rangga, ayo main. Joko sudah pergi, tapi kita masih ada. Kau jangan sedih terus. Nanti muka kau keriput kayak nenek-nenek!" kata Ucok, berusaha terdengar ceria meskipun matanya masih sembab.

Rangga tertawa kecil, meskipun tawanya masih terasa berat. "Mulutmu masih usil, ya, Ucok. Joko tidak ada, tapi kau tetap saja suka mengejek."

"Sudah biasa," kata Ucok sambil mengangkat bahu, lalu ia terdiam sejenak. Wajahnya berubah serius. "Tapi aku serius, Rangga. Kita sahabat. Mungkin tidak sedekat kau dengan Joko, tapi kita tetap di sini. Kita akan selalu di sini. Dan suatu hari, ketika Joko kembali, kita semua akan berkumpul lagi. Itu janjiku."

Rangga menatap teman-temannya—Ucok yang dulu usil tetapi kini menunjukkan sisi baiknya, Karti yang selalu peduli, dan Dullah yang pendiam tetapi setia. Mereka memang bukan Joko, tetapi mereka adalah bagian dari kehidupannya yang baru. Dan ia menyadari bahwa meskipun kehilangan terasa sakit, ia masih memiliki orang-orang yang peduli padanya. Maka ia bangkit, mengusap matanya, dan tersenyum.

"Ayo, main gasing. Siapa yang berani menantang juara baru?" katanya dengan semangat, meskipun hatinya masih berat.

Mereka pun bermain sampai senja. Tawa mereka kembali menggema di bawah pohon beringin, mengusir sisa-sisa kesedihan. Saat gasing Rangga berputar dengan stabil di atas tanah, ia memandang ke langit yang mulai berwarna jingga. Dan dalam hatinya, ia berbisik pada Joko yang entah di mana: "Aku akan kuat, Jok. Aku akan menjadi seseorang. Dan suatu hari, kita akan bertemu lagi. Aku janji."

---

[Bersambung...]

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!