Rosa Evalina, hanya seorang anak pelayan yang menggantikan Ibunya menjadi pelayan di rumah keluarga Hartanto. Lalu, tiba-tiba anak dari majikannya meminta dia untuk menggantikannya dalam sebuah perjodohan. Tidak bisa menolak, akhirnya dia terjebak dalam permainan sandiwàra ini.
"Seharusnya aku tidak pernah jatuh cinta padamu, karena nyatanya kamu tetap tidak akan di takdirkan untukku"
Sementara Albyan Danuel, seorang pria tampan yang sudah matang. Memiliki pribadi yang hangat, lembut dan sopan. Dia yang tidak pernah mengenal cinta, akhirnya menemukan perempuan yang membuatnya nyaman. Namun, apa yang akan terjadi ketika dia tahu jika perempuan itu hanyalah seseorang yang bersandiwara?
Bisakah mereka bersama dalam kisah yang berliku, tentang cinta yang dimulai dari sandiwara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Byan Akan Menikahimu?
Kelopak mata yang tertutup itu, mulai terbuka dengan perlahan. Sinar lampu ruangan membuatnya merasa silau. Mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya. Eva masih terlihat linglung, bingung dimana dirinya berada sekarang. Samar terdengar suara yang memanggilnya, ketika dia mengerakan matanya melirik ke arah seseorang yang berada di sampingnya.
"M-mas Bi" Suaranya serak, lirih, dan hampir tidak terdengar.
"Sayang, akhirnya kamu sadar. Bagaimana perasaanmu? Apa yang kamu rasakan? Sebentar lagi Dokter datang"
Byan tidak sadar sudah memberikan banyak pertanyaan pada Eva yang baru saja sadar. Namun, itu adalah panik yang dia rasakan saat melihat kekasih hatinya terbaring terluka di ranjang pasien. Eva juga belum bisa menjawab apapun, bahkan dia masih mencoba mengingat jelas apa yang sudah terjadi padanya.
Ketika Dokter datang dan memeriksa keadaan Eva, Byan hanya menunggu dengan cemas, melihat Eva yang meringis saat kakinya di pegang oleh salah satu perawat. Ketika Dokter berbalik dan menghampirinya, Byan sudah siap dengan pertanyaannya tentang keadaan wanitanya.
"Bagaimana Dok?"
"Semuanya sudah aman, kita bisa menjadwalkan operasi kakinya besok pagi. Tapi harus ada persetujuan dulu dari pihak keluarga"
"Lakukan apa saja yang terpenting dia kembali sehat dan normal seperti biasa"
Byan membubuhkan tanda tangan di surat persetujuan tindakan itu. Setelah Dokter dan perawat itu pergi, dia segera menghampiri Eva yang sudah terlihat lebih baik. Eva sudah ingat dengan apa yang terjadi padanya.
"Sayang, kamu tidak perlu pikirkan apapun lagi. Besok pagi kita akan melakukan operasi pada kakimu, pokoknya semuanya akan baik-baik saja"
"Aku akan tetap bisa berjalan 'kan?"
"Tentu saja" ucap Byan sambil mengelus lembut pipi wanitanya. "Kakimu tidak papa, hanya perlu melakukan sedikit tindakan saja"
Eva menatap Byan dengan lekat, kejadian tadi masih terbayang nyata dalam ingatannya. Ketika Eva merasakan jelas tubuhnya di hantam keras oleh motor itu hingga melayang dan jatuh membentur jalanan.
"Sayang, aku takut sekali. Takut tidak akan bisa membuka mata lagi"
"Tidak boleh bicara seperti itu!" tekan Byan, justru dia yang lebih takut saat mendengar ucapan Eva barusan. "Kamu akan baik-baik saja, aku yang akan selalu melindungimu, Sayang"
Suara ketukan pintu membuat Byan menoleh, lalu dia melihat Laila muncul di balik pintu. "Boleh masuk?"
"Masuklah" ucap Byan.
Ternyata tidak hanya Laila yang datang, tapi juga bersama kedua orang tuanya. Eva tersenyum tipis pada orang tua Laila sebagai bentuk hormatnya.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Laila, terlihat jelas khawatir di wajahnya.
Eva menggeleng pelan, dia tersenyum sebelum menjawab. "Ya, seperti yang Nona lihat. Besok harus melakukan operasi di kaki"
"Tidak papa, yang penting kamu baik-baik saja. Percaya saja semuanya pada Dokter, pasti kamu akan kembali pulih seperti biasa"
"Eva, cepat sembuh ya. Saya juga kaget mendengar kamu mengalami kecelakaan. Tuan sedang membantu mencari orang yang sudah menabrak kamu" ucap Ibu Lisma.
Eva tersenyum, meski Tuan Hartanto terkadang terlihat sangat dingin dan Eva selalu merasa segan padanya. Tapi tetap, dia mempunyai kepedulian padanya.
"Terima kasih Ibu, Tuan sudah repot-repot datang kesini. Saya baik-baik saja kok, dan terima kasih Tuan karena sudah mau membantu mencari orang yang sudah menabrak saya"
"Bukan masalah, asal kau cepat pulih saja. Saya juga tidak suka dengan cara orang yang kabur setelah melakukan kesalahan"
Ibu Lisma dan Tuan Hartanto pulang lebih dulu, sementara Laila masih disana. Menemani Eva, dari wajahnya benar-benar terlihat sangat khawatir.
"Eva, aku benar-benar takut kalau kamu sampai meninggalkan aku. Nanti siapa yang bakal dengar setiap cerita aku kalau kamu tidak ada"
Eva tersenyum, dia menatap Laila yang seperti Kakaknya sendiri. Seseorang yang takut kehilangannya, padahal mereka tidak ada ikatan darah. Namun pedulinya memang sudah seperti saudara sedarah saja.
"Tidak akan Nona"
"Oh ya, aku dengar Byan akan menikahimu ya?"
Nada bicaranya terdengar sangat antusias dan penuh penasaran. Ketika tatapan matanya menatap Eva dengan penuh rasa penasaran.
"Nona dengar darimana?"
Laila tersenyum penuh arti, lalu dia melirik sekilas Byan yang sedang berada diluar ruangan, seperti sedang menelepon seseorang. Hanya terlihat punggungnya saja dari kaca pintu ruangan.
"Tadi pas aku mau masuk kesini dan kamu belum sadar, Byan menangis dan mengatakan jika dia akan segera menikahimu. Jadi, apa itu benar? Ayolah, aku penasaran sekali ini"
Eva tersenyum lucu melihat Laila yang sudah terang-terangan ingin mengetahui tentang kebenaran ini. "Dia sudah pernah membicarakan ini denganku, tapi aku belum mengiyakan"
"Kenapa belum? Ayo langsung terima saja Eva. Kamu dan dia memang saling mencintai 'kan? Jadi, apalagi yang di ragukan?"
Eva menghela napas pelan, dia sedikit membenarkan posisinya meski belum bisa untuk bangun atau sekadar duduk saja. Keadaan kakinya yang masih sulit untuk di gerakan.
"Mas Byan memang mengajak menikah, tapi orang tuanya tidak akan tahu. Karena mereka tidak suka padaku"
Laila terdiam, soal ini tentu saja dirinya sudah lebih dulu tahu. Melihat bagaimana cara orang tua Byan memperlakukannya di acara saat itu, sudah cukup membuat tahu semua orang jika hubungan Byan dan Eva tidak mendapatkan restu.
"Tidak papa, restu bisa di dapatkan seiring berjalannya waktu. Kamu bisa berusaha mendapatkan restu orang tuanya setelah kalian menikah saja"
"Apa itu akan berhasil, Nona? Jika benar kita tidak pernah mendapatkan restu itu, bagaimana?"
"Ya tidak papa, kalian yang menjalani, kalian yang saling mencintai. Kalau memang Byan mencintaimu dengan tulus, maka dia akan selalu berusaha melindungimu, meski itu dari orang tuanya sendiri. Jadi, menunggu apalagi? Terimalah Byan dan menikahlah. Cukup kita saja yang tahu, tidak papa"
Eva hanya tersenyum tipis, masih terus memikirkan hal itu. Apa mungkin menerima Byan untuk menikah saat ini menjadi pilihan terbaik?
"Sudah, sekarang fokus saja pada kesembuhanmu. Nanti urusan menikah itu bisa kamu pikirkan lagi. Aku akan selalu mendukung apapun keputusanmu"
"Terima kasih ya Nona"
"Iya"
Byan masuk ke dalam ruangan setelah beberapa saat berada di luar ruangan. Dia menghampiri Eva dan mengecup keningnya yang terpasang perban dengan lembut.
"Bagaimana keadaanmu sekarang?"
"Sudah lebih baik"
Laila melihat jelas bagaimana keduanya saling mencintai dengan ketulusan. "Sudahlah, kamu pulang saja. Biar aku yang jaga Eva disini"
Byan menoleh pada Laila, sedikit ragu saat menatapnya. "Benarkah? Aku ada urusan sebentar"
"Ya, pergilah. Eva aman bersamaku, kalau ada apa-apa aku akan segera menghubungimu"
"Baiklah, Sayang aku pergi dulu. Ada urusan sebentar"
"Iya Mas, pergilah"
Bersambung
minta maaf gak segampang itu, istri saudaranya di jadikan pembantu dan menjadi alat untuk mengancam saudaranya sendiri hanya untuk menguasai harta warisan 😡
tetap semangat 🤗