Ada alasan kenapa banyak orang menyebutnya Perfect Husband.
Leo J memiliki semua yang diimpikan seorang wanita. Ia setia, bertanggung jawab dan mencintai istrinya dengan cara yang membuat siapa pun iri.
Namun, cinta itu tidak pernah sederhana.
Leo J mencintai dengan cara yang berlebihan. Terlalu melindungi, terlalu posesif, terlalu takut kehilangan. Hingga terkadang, cintanya itu terasa menyesakkan.
Di masa lalu, pria yang kini begitu memuja istrinya itu... pernah mencintai wanita lain hingga rela memberikan seluruh dunianya.
Pada suatu hari, mereka dipertemukan dalam satu meja. Keheningan berubah menjadi sesak ketika Leo J menatap wanita yang pernah menjadi alasan hidupnya.
"Sekarang, Leo ada di depanmu, Kiara. Apa yang ingin kau katakan padanya?"
Yuna mengizinkan mereka berbicara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon F.A queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Makan Malam 2
Maaf jika isi partnya tidak sesuai ekspektasi kalian.
🍃🍃🍃
Saat waktu menunjukkan pukul 19.30 keluarga Mahaeswara datang dan sepuluh menit kemudian, keluarga dari Nora datang. Mereka berbincang sebentar sebelum makan malam bersama. Tapi Leo diam-diam pergi ke kamar samping di mana Yuna berada. Nora sudah tidak ada di sana. Wanita itu keluar saat keluarga besarnya datang. Dia ikut berbincang di ruang keluarga.
“Oh, sepertinya ada yang merindukanku,” seru Yuna saat melihat Leo masuk.
“Aku merindukan adikku,” jawab Leo dan itu membuat Neva tertawa kecil. Dia sudah sangat hafal bagaimana dua orang ini.
“Oh, ya ampun. Aku terlalu GeEr ternyata,” sahut Yuna dengan kesal yang dibuat-buat.
Leo duduk di samping Yuna, mengusap perutnya dan mencium pipinya. Segera setelah itu Neva memukul pelan lengan kakaknya.
“Sepertinya kau semakin bucin, Tuan muda,” ucapnya. “Kak Yuna bahkan baru satu jam disini dan kau sudah menyusulnya.”
Sebenarnya Leo tidak tahu arti bucin tapi dia menjawab kalimat Neva selanjutnya.
“Aku sudah bilang, jika aku merindukanmu,” jawab Leo memberi alasan.
“Bohong,” sahut Neva dengan cemberut. Dan Leo segera beralih duduk di sampingnya. Mencium keningnya dan mengulurkan tangan untuk mengusap perutnya halus.
“Bagaimana pemeriksaannya tadi siang?” tanyanya.
“Sangat baik, kantung janinnya sudah terlihat. Ada satu, posisinya sangat baik,” jawab Neva.
Leo mengangguk. “Sehat selalu, okey,” ucapnya.
Kini Neva yang mengangguk. “Nanti, dia manggil kakak apa?” tanya Neva.
“Daddy Lee,” jawab Leo.
“Daddy Leo,” sahut Yuna.
Leo dan Neva menatapnya.
“Daddy Leo,” Leo meralat ucapannya.
Neva dan Yuna mengangguk. Itu seperti Arai yang memanggil Dimas dengan panggilan Papi, seperti Kak Zora yang memanggilnya Papi.
Tak lama, Vano masuk dan tersenyum melihat ada Leo di samping Neva. Dia berpikir jika Leo ada di lantai atas tapi ternyata ada disini.
“Semua sudah menunggu untuk makan malam, yuk,” ajak Vano. Dia melangkah mendekat pada Neva.
“Biar aku yang menggendongnya,” ucap Leo.
Vano mengangguk mempersilahkan. Dia menata gaun Neva agar lebih rapi. Dan kemudian Leo mengangkatnya.
Neva melingkarkan kedua tangannya di leher kakaknya. Sementara Yuna berdiri di belakang Leo.
“Kemari, Mom,” pinta Leo. “Berjalanlah di sampingku.”
Yuna mengangguk dan segera berdiri di samping kanan Leo. Sementara Vano berdiri di kiri Leo. Dan mereka melangkah bersama. Vano, Neva, Leo dan Yuna. Mereka berempat, bukanlah manusia suci tanpa dosa. Bukan juga manusia sempurna tanpa cela. Mereka sudah melewati semuanya dan sekarang menjadi satu keluarga yang hangat. Dimas dan Nora hanya butuh waktu untuk menjadikan jalan terjal menjadi jalan yang penuh dengan bahagia. Ya, waktu adalah jawaban terbaik dalam menyelesaikan semuanya.
Saat mereka sampai di ruang makan yang luas itu, semuanya berdiri dan menyambut mereka. Tidak ada wajah yang tidak tersenyum. Ini adalah hari bahagia. Mereka menyapa semuanya dengan sopan.
Leo menurunkan Neva di tempat yang khusus untuk adiknya itu, lalu Vano menutup kaki Neva dengan kain sutra berenda yang halus. Dia kemudian duduk di samping kiri Neva. Sentara Yuna duduk di samping kanan Neva dan Leo duduk di samping Yuna. Itu yang Mama siapkan untuk mereka.
Mama kemudian mempersilahkan Papa untuk memimpin do’a. Untuk kesehatan, keselamatan, dan keberkahan dua putri mereka yang saat ini tengah mengandung.
Neva menunduk mengaminkan semua do’a yang papanya panjatkan. Dia menangis dengan haru. Akhirnya, Tuhan memberinya kesempatan untuk ini. Akhirnya, dia bisa menjadi wanita, istri dan menantu seutuhnya. Semoga, calon bayi ini selalu sehat hingga nanti. Semoga, semuanya dalam keadaan baik-baik saja seperti yang mereka harapkan.
Vano merangkulnya. Laki-laki itu menunduk dan tak henti-hentinya mengucap syukur. Matanya basah karena tangis bahagia penuh syukur.
Pun juga dengan Yuna. Dia menunduk dan ia meneteskan air mata. Dia teringat Ayahnya, teringat Ibunya. Diantara kebahagiaan yang luar biasa ini, tidak ada mereka disini.
Leo merangkulnya dengan sayang. Mengusap lengannya penuh perhatian. Dia mengerti keharuan yang Yuna rasakan. Leo mengaminkan do'a yang dipanjatkan papanya. Semoga istri dan adiknya selalu baik-baik saja.
Tidak akan ada takdir yang mengikuti bukan?? Yuna ... Tidak akan seperti ibunya, bukan? Leo mendekapnya penuh kasih.
Pun juga dengan semuanya. Menunduk dan mengaminkan setiap do’a yang terlantun tulus dari papa.
Betapa bersyukurnya Papa dan Mama Mahaeswara karena Vano menjadi bagian dari keluarga hangat dan penuh cinta ini. Mereka berjanji dalam hati untuk juga menyayangi Neva seperti putri kandung mereka sendiri, untuk menjadi mertua yang baik bagi gadis itu.
Keluarga Nora pun sama. Betapa mereka bersyukur karena putri mereka bisa menjadi bagian dari keluarga ini. Diterima dengan baik dan dianggap sebagai putri mereka sendiri.
Dalam tunduk pandangan matanya, Dimas menatap nanar pada semuanya. Mamanya, Papanya, adik-adiknya, putri-putrinya dan istrinya. Dia mengambil nafas dalam sungguh akan berlapang dada menerima masa lalu itu. Waktu akan mengobati luka itu secara perlahan.
Setelah do’a selesai. Papa mencium kening kedua putrinya bergantian dan kembali membisikkan do’a untuk Neva dan Yuna. Beliau juga mengusap perut Neva dan Yuna. Tak lupa, beliau berpesan pada Leo dan Vano untuk menjaga amanah ini dengan sangat baik.
Dan kemudian mereka makan malam bersama.
nah gitu aja,kalo Yuna lagi ngambek jawabnya i love you,i love you,i love you terus aja leo🤣🤣,ya Allah aku ngakak
yaelaaaah aq d bawa k alam mimpi pas ngetik komen🤣🤣🤣🤣