NovelToon NovelToon
Nafas Yang Mencekik

Nafas Yang Mencekik

Status: sedang berlangsung
Genre:Enhypen / Romansa / Dark Romance
Popularitas:87
Nilai: 5
Nama Author: rerevana

Hubungan Serena dan Heeseung selalu berada di antara lembut dan mencekik.

Setiap kali badai berlalu, Heeseung datang membawa janji dan ketenangan yang membuat Serena ingin percaya lagi. Tapi di balik perhatian dan perlindungan itu, ada rasa memiliki yang terlalu kuat untuk diabaikan.

Serena terjebak antara takut kehilangan dan takut tinggal.

Cinta yang awalnya terasa aman, perlahan berubah menjadi sesuatu yang sulit untuk dilepaskan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rerevana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dingin

Flashback.

Jam di dinding menunjukkan pukul 18.00.

Serena baru sadar. Hari ternyata sudah berlalu sejauh itu.

Ia merogoh tas. Mengeluarkan ponsel. Layarnya hitam. Mati.

"Guys..." Serena menatap Alya dan Rani. "Kayaknya aku nggak bisa nginep deh."

Rani langsung mengernyit. "Hah? Kok?"

"Iya, maaf ya." Serena tersenyum kecil, tapi canggung. "Aku balik aja malam ini."

Alya meletakkan pulpennya. "Kamu naik apa, Ren?"

"Aku cari taksi aja di depan." jawab Serena cepat. "Mau pesen online juga nggak bisa. HP aku mati."

"Yaudah aku pesenin ya." kata Alya sambil meraih ponselnya.

Setengah jam kemudian Serena sudah berdiri di pinggir trotoar. Angin sore menerpa rambutnya yang diikat asal.

Di tangannya ada tas dan laptop. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, menunggu taksi yang dipesan Alya.

Tiba-tiba suara motor berhenti di depannya.

"Serena?"

Serena menoleh.

Jake. Kaos putih, helm di tangan. Di belakangnya ada dua temannya yang langsung tancap gas duluan.

"Lo ngapain di sini?" tanya Jake.

Serena mengangkat bahu. "Abis nugas, Kak. Di rumah Alya."

Jake mengangguk. Lalu menatap jalanan yang mulai sepi.

"Mau gue anter?"

"Nggak usah, Kak." jawab Serena buru-buru. "Udah pesen taksi online kok."

"Oh." Jake mengangguk lagi. Ia tidak memaksa.

Sesaat hening. Lalu Jake seperti teringat sesuatu.

"Oh iya. Tadi Revan ke kampus. Kayaknya nyariin lo."

Dunia Serena berhenti selama 1 detik.

Ia terdiam. Kata-kata itu menggantung di udara. Serena melirik ke jari nanis nya. Tepat di mana cincin diamond pink itu melingkar.

Dari kejauhan, lampu taksi mulai terlihat. Menyorot ke arah mereka.

--

Pagi.

Lampu apartemen masih redup. Revan tertidur semalaman di sofa. Walaupun tidurnya tidak nyenyak, karena terus memandangi pintu kamar Serena. Jasnya terlipat asal di sandaran. Satu selimut tipis menutupi tubuhnya.

Jam 06.40.

Suara langkah Serena keluar dari kamar. Rambut dikuncir rapi. Kemeja putih, rok hitam. Wajahnya pucat, tapi rapi. Matanya bengkak, tapi ia tutupi dengan concealer.

Revan sudah berdiri di depan cermin. Kemeja hitam, dasi sudah rapi. Wajahnya datar. Ada lingkaran hitam di bawah matanya.

Mereka tidak saling menyapa.

Hanya suara teko dan sendok yang beradu di dapur. Canggung.

Revan menuang kopi. Ia melirik Serena sekilas.

"Mau diantar?"

Serena sedang mengancingkan tasnya. Tidak menoleh.

"Udah pesen taksi online, Kak."

Jawaban itu singkat. Datar. Seperti tembok.

Tangan Revan yang memegang mug mengepal kuat, hingga buku-buku jarinya memutih. Tapi ia menahannya.

"Oke."

Hening lagi.

5 menit kemudian bel berbunyi. Taksi sudah datang.

Serena melangkah ke pintu. Sebelum keluar, ia berhenti sebentar.

Tidak menoleh.

Lalu pintu tertutup. Klik.

Revan masih berdiri di tempat. Ia menghabiskan kopinya dalam satu teguk. Pahit.

Ia meraih kunci mobil.

 

20 menit kemudian.

Mobil hitam Revan berhenti tidak jauh dari gerbang kampus.

Dari kejauhan ia melihat Serena turun dari taksi. Jalan cepat menuju kelas tanpa menoleh ke belakang sekali pun.

Revan mematikan mesin. Tangannya mengetuk setir pelan.

Ia mengikutinya. Dari rumah. Sampai ke kampus.

Bukan untuk menjemput.

Hanya untuk memastikan ia sampai dengan selamat. Di depan Serena mungkin dia bersifat tenang. Tapi di belakangnya, dia sama sekali tidak bisa menghilangkan sifat posesif itu.

Karena marah boleh.

Tapi kehilangan, tidak.

 

Di kampus.

Serena dan Alya berjalan memotong lapangan kampus yang panas. Di kejauhan terdengar suara pengumuman kampus dan suara motor yang lalu-lalang di parkiran.

Dari arah gazebo, sudah terlihat beberapa teman Serena duduk lesehan. Jake dan teman-teman cowoknya juga ada di sana. Ada tumpukan kardus, spanduk, dan balon warna-warni untuk persiapan charity booth.

Langkah Serena langsung melambat. Keringat dingin turun di tengkuk nya. Ia menahan lengan Alya.

"Ngapain kita ke sana?" bisiknya pelan.

Alya menoleh, bingung. "Ren, kita kan emang ada tugas sama mereka buat charity booth. Udah janjian dari minggu lalu."

--

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!