NovelToon NovelToon
Mahar 1 Miliar: Menikahi Pria Tuli

Mahar 1 Miliar: Menikahi Pria Tuli

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Orang Disabilitas / Tamat
Popularitas:372.9k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Dara Calya Sania, seorang gadis pincang yang hidupnya penuh dengan penderitaan. Dara dijual pamannya untuk menikahi Gavin Mahardika Abyakta, pria tuli cucu dari pemilik perkebunan teh, Juragan Darmawan, dengan mahar satu miliar rupiah.

Dara yang sejak kecil sudah yatim-piatu, tidak bisa menolak. Terlebih lagi uang mahar itu untuk bayar biaya hidupnya selama tinggal bersama Rama dan Tina.

Bagaimana reaksi Dara ketika tahu Gavin adalah orang yang pernah ditolongnya dahulu dan membuat kakinya pincang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Keheningan yang sempat memenuhi kamar perlahan berubah menjadi suasana yang lebih hangat. Tawa kecil Gavin masih terukir di sudut bibirnya. Sementara Dara merasa lega karena pertanyaan polosnya ternyata tidak membuat suaminya tersinggung.

Untuk beberapa saat, keduanya kembali terdiam. Namun kali ini, keheningan itu tidak lagi terasa canggung.

Gavin bangkit dari sofa. Ia berjalan menuju meja kecil di dekat tempat tidur, lalu membuka laci paling atas.

Dara memperhatikannya dengan rasa penasaran.

Pria itu mengambil sebuah amplop putih yang tampak cukup tebal. Setelah kembali duduk di hadapan Dara, Gavin mengeluarkan sebuah kartu ATM berwarna hitam dengan logo salah satu bank nasional. Ia mengulurkan kartu itu kepada Dara.

"Ini untuk kamu"

Dara berkedip bingung. "Apa ini?"

"Di dalam rekening itu ada uang maharmu. Satu miliar rupiah."

Mata Dara langsung membelalak. "Apa?"

Tangannya yang semula berada di atas pangkuan perlahan terangkat menerima kartu itu. Ia membolak-balik kartu tersebut beberapa kali.

"Ini mahar aku?"

Gavin menganggukkan kepala. "Iya."

Dara mengerutkan dahi. "Tapi, bukannya tadi waktu akad ada pigura besar berisi uang?"

"Itu hanya replika."

"Replika?"

"Iya." Gavin tersenyum tipis melihat wajah polos istrinya. "Itu hanya simbol penyerahan mahar."

Dara masih tampak bingung. "Lalu uang aslinya?"

"Ada di rekening ini." Gavin menunjuk kartu ATM yang sedang digenggam Dara. "Kamu kira uang satu miliar cukup dimasukkan ke dalam pigura?"

"Benar juga."

Dara langsung menunduk malu. Ia baru menyadari betapa polos pertanyaannya. Dalam benaknya, uang satu miliar memang sulit dibayangkan jumlahnya.

Dara menatap kembali kartu ATM itu. Benda kecil itu tampak biasa saja, namun nilainya jauh melebihi apa pun yang pernah ia miliki selama hidupnya.

Dengan hati-hati, Dara menggenggam kartu itu menggunakan kedua tangannya. Seolah takut benda kecil tersebut tiba-tiba menghilang.

Gavin memperhatikan tingkah istrinya dengan sudut bibir yang kembali terangkat. "Nanti setiap bulan aku juga akan mengirim uang bulanan ke rekening itu."

Dara mengangkat kepala. "Untuk aku?"

"Iya."

"Tapi ...."

"Mulai sekarang kamu adalah istriku. Aku ingin semua kebutuhanmu terpenuhi." Nada suara Gavin tetap datar, tetapi terdengar tegas. "Aku hanya berharap kamu menggunakan uang itu dengan bijak."

Dara mengangguk pelan. "Iya, Den."

Beberapa detik kemudian, senyum kecil muncul di wajah Dara. Raut wajahnya yang sejak tadi tegang mendadak berubah cerah.

Melihat perubahan itu, Gavin mengernyit. "Ada apa?"

Dara menggenggam kartu ATM itu sedikit lebih erat. Ia tersenyum malu.

"Kalau begini Paman dan Bibi tidak bisa mengambil uang mahar aku."

Kalimat itu membuat senyum di wajah Gavin perlahan menghilang. Tatapannya berubah serius.

"Maksudmu?"

Dara yang baru menyadari ucapannya spontan menutup mulut. Wajahnya langsung kaku.

"E, itu ...."

Gavin menatap lurus ke arah istrinya. Sorot matanya berubah tajam.

"Dara. Jelaskan!" Nada suaranya rendah, justru terdengar lebih menekan.

Dara menundukkan kepala. Jemarinya saling menggenggam erat. Ia sebenarnya tidak ingin membuka aib keluarganya sendiri. Apalagi di malam pertama pernikahan mereka. Namun, tatapan Gavin membuatnya sadar bahwa pria itu tidak akan berhenti sebelum mengetahui kebenarannya.

"Maaf, aku tidak berniat menyembunyikan apa pun," ucap Dara lirih. Ia menarik napas panjang sebelum mulai bercerita.

"Waktu Paman dan Bibi bertemu Juragan Darmawan untuk menjodohkan aku dengan Den Gavin, mereka meminta mahar satu miliar rupiah," kata Dara dengan suara bergetar.

Alis Gavin langsung bertaut.

"Mereka bilang uang mahar itu untuk balas jasa karena sudah merawat aku sejak kecil."

Ruangan mendadak sunyi. Dara melanjutkan dengan kepala yang semakin tertunduk.

"Aku menolak. Karena mereka tidak boleh memanfaatkan pernikahan ini demi mendapatkan uang. Aku juga mengingatkan kalau biaya hidup saya selama ini tidak sebesar yang mereka katakan."

Dara tersenyum pahit. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

"Aku tidak ingin pernikahan ini menjadi alat untuk mencari keuntungan."

Gavin tetap diam. Tatapannya tidak lepas dari wajah Dara.

"Sebelum menerima lamaran aku bahkan sempat meminta Juragan Darmawan untuk berpikir sekali lagi." Dara kembali melanjutkan.

Gavin tampak terkejut. "Kamu mengatakan itu?"

Dara mengangguk. "Aku bilang, kalau keluarga aku membuat Den Gavin atau keluarga Juragan kecewa, lebih baik pernikahan ini dibatalkan."

"Lalu apa jawaban Kakek?"

Dara tersenyum kecil ketika mengingat ucapan pria tua itu.

"Juragan berkata, 'Kalau kamu sampai berkata seperti itu, berarti aku tidak salah memilih calon cucu menantu. 'Aku percaya kamu akan menjadi istri yang selalu berdiri di samping Gavin.'"

Ruangan kembali sunyi. Gavin menatap Dara cukup lama. Ia mencoba mencari kebohongan di wajah gadis itu. Namun, yang ia temukan hanyalah kejujuran.

Tatapan mata Dara begitu jernih. Tidak ada keserakahan atau kepura-puraan. Yang ada hanyalah rasa bersalah karena harus membuka keburukan keluarganya sendiri.

Perlahan, rahang Gavin yang semula mengeras mulai mengendur. Rasa kesalnya tidak lagi tertuju kepada Dara. Melainkan kepada Rama dan Tina.

Kini Gavin mengerti. Mengapa sejak awal Dara tampak begitu cemas. Mengapa gadis itu berkali-kali meminta keluarganya berpikir ulang. Ternyata wanita itu sedang berusaha melindungi keluarganya dari keserakahan orang-orang yang ingin memanfaatkan dirinya.

"Kamu tidak perlu meminta maaf." Suara Gavin kini jauh lebih lembut.

Dara mengangkat kepala. Dia merasa dadanya menjadi jauh lebih ringan. Setidaknya ada satu orang yang mau mempercayainya.

Sementara itu di rumah Rama suasananya sangat berbeda. Tidak ada sedikit pun kebahagiaan yang terlihat di wajah penghuni rumah itu.

Tina mondar-mandir di ruang depan sambil menggigit kuku jarinya. Sesekali ia melirik ke arah pintu seolah berharap seseorang datang membawa kabar baik.

"Kenapa belum juga diserahkan?" gerutu wanita itu kesal.

Rama yang duduk di kursi bambu mengusap wajahnya kasar. "Gara-gara Juragan jatuh, semuanya jadi berantakan."

Tina menghentikan langkahnya. "Tapi uang itu tetap harus kita ambil."

Rama mengangkat kepala. Ia mengembuskan napas panjang.

"Bagaimana caranya? Tadi pigura mahar itu diambil Nyonya Sherly. Entah disimpan di mana. Kalau sudah dibawa ke ibu kota bagaimana?"

Mendengar itu, wajah Tina semakin masam. "Jangan sampai! Itu hak kita!"

Rama tidak menjawab. Meski di dalam hati ia juga menginginkan uang itu, ia sama sekali tidak tahu harus berbuat apa.

Di sudut ruangan, Kiara masih rebahan di atas dipan sambil memainkan ponselnya. Meski matanya menatap layar, pikirannya sama sekali tidak fokus. Bayangan hidup mewah di kota terus memenuhi kepalanya.

Dengan uang satu miliar ia bisa membeli barang apa pun yang dia mau. Tidak perlu lagi iri melihat teman-teman kuliahnya yang berasal dari keluarga kaya.

Tiba-tiba mata Kiara berbinar. Ia langsung bangkit dari tidurnya. Kiara tersenyum penuh percaya diri.

"Bu, bukankah Dara akan tinggal di rumah Juragan selama beliau sakit?"

"Iya."

"Sedangkan Nyonya Sherly akan kembali ke ibu kota," lanjut Kiara mengangguk mantap. "Berarti tidak ada yang menghalangi."

Rama mulai penasaran. "Lalu?"

"Kita suruh saja Dara mengantarkan uang mahar itu ke rumah. Bilang saja uang itu memang milik kita."

Ucapan itu membuat Tina terdiam beberapa detik. Kemudian, senyum lebar perlahan merekah di wajahnya. Ia menepuk bahu putrinya dengan bangga.

"Nah! Itu baru anak Ibu!" Tina tersenyum lebar.

Rama pun ikut tersenyum puas. "Kamu memang cerdas."

Ketiganya saling berpandangan. Tanpa mereka sadari keserakahan telah membuat mereka lupa. Bahwa uang mahar itu bukan milik mereka. Dara juga bukan lagi gadis kecil yang bisa mereka perintah sesuka hati.

1
uhuuuyyy
ndak bosan lhooo tp seruuu ikutan dag dig dug
uhuuuyyy
apakah mrk bersahabat???dan karim dlu menyukai nirmala??
Paryantikebondalem
ikut bahagia punya mama mertua yang baik
Paryantikebondalem
AA Gavin I love you, kamu perhatikan sama Dara ikut bahagia deh
Paryantikebondalem
AA Gavin , cocok
Paryantikebondalem
puji Tuhan Dara diterima di keluarga suami
Paryantikebondalem
semoga Fara bahagia
Dini
🤣🤣 hadeuuuh daraaa
Muhammad Arifin
knp tidak di jelaskan kak bagaimana cara Gavin berkomunikasi.agar tidak terkesan Gavin orang normal
🌸 Sunshine 🌸: Gavin pakai alat pendengaran dan bisa berkomunikasi layaknya orang normal.
total 1 replies
uhuuuyyy
hizzz tuker aja itu paman n bibi nya ke tukang rombeng
Kukun Sabarno
orang jahat susah mati sebelum bertobat
Andi_Gunawan
semoga DARA cepat menjadi istri, terus gantian paman dan bibi nya di tampar wkwkwk
Ila Lee
kalinya sudah bertemu dari dara kecil dan Gavin remaja itulah jodoh
Ila Lee
ternyata Gavin yg dara, selamat kN waktu itu sehingga kali nya cacat
Ila Lee
nasib baik tak dipecat Gavin bibibtina🤭🤭🤭🤭🤭
Ila Lee
mampus kau Tina dara sekarang Nyonya muda kalau kau lupa isteri tuan muda Gavin bibi tina dan kN itu
Ila Lee
jgn harapan kalau boleh DPT bibi tina💪🤣🤣🤣🤣
Ila Lee
Gavin pasti bangga punya isteri canyik😍😍😍😍😍
Ila Lee
alhamdulillah punya mertua dan suami yg baik tunjuk kN dada pada ninja dan sepupu mu itu yg dara lebih cantik 😍😍😍😍😍
Ila Lee
ya dara selang kamu ia sri tuan muda syok belanja Shopping🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!