Ini adalah buku lanjutan dari buku sebelumnya, mengisahkan perjalanan seorang Nova Arvena untuk menjadi seorang kultivator muda terkuat dan membawa kedamaian bagi seluruh mahluk hidup yang ada.
Bagaimana kisahnya, silahkan simak cerita lanjutan ini, semoga teman-teman suka!
kali ini season ke 2 akan menggunakan alur cepat, dan banyak harem.
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENNYA TEMAN-TEMAN😇
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mochamad Fachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 Serangan dadakan
Nova mengikuti pelayan menuju kamar yang telah disiapkan untuknya. Kamar itu berada di lantai tiga Penginapan Awan Abadi, menghadap langsung ke jalan utama Kota Yunfeng.
Begitu pintu kayu spiritual dibuka, Nova sedikit menganggukkan kepala. Ruangan itu jauh lebih nyaman daripada yang ia bayangkan.
Lantainya terbuat dari batu giok putih yang memancarkan hawa sejuk, sementara dindingnya dipenuhi formasi penenang jiwa yang membuat energi spiritual di dalam ruangan mengalir jauh lebih stabil. Sebuah tempat tidur besar, meja kayu cendana, rak buku, serta tungku pembakar dupa spiritual tertata rapi tanpa kesan berlebihan.
Di sudut ruangan bahkan terdapat formasi pengumpul energi sederhana yang terus menyerap energi spiritual dari luar.
"Pelayanan di dunia ini memang luar biasa," gumam Nova pelan.
Setelah pelayan membungkukkan badan dan menutup pintu dari luar, ruangan kembali sunyi.
Nova menghembuskan napas panjang.
Sejak tiba di Planet Galastos, hampir tidak ada waktu baginya untuk benar-benar beristirahat. Kini, untuk pertama kalinya, ia bisa menikmati ketenangan.
Ia berjalan perlahan menuju jendela kayu yang terbuka menghadap pusat kota. Dari sana, pemandangan Kota Yunfeng tampak begitu hidup.
Kereta spiritual berlalu-lalang di jalan utama, para kultivator melayang di udara menggunakan pedang terbang, sementara cahaya dari berbagai paviliun mulai menyala seiring matahari yang perlahan bergerak ke arah barat.
Tatapan Nova kemudian tanpa sengaja bergeser ke bangunan megah yang berdiri tepat di seberang penginapan.
Bangunan itu tampak jauh lebih mewah, dengan balkon-balkon luas yang dihiasi tirai sutra tipis.
Saat itulah...
Karena salah satu jendela di bangunan tersebut belum tertutup rapat, Nova tanpa sengaja melihat sesosok gadis muda yang sedang berganti pakaian di dalam kamarnya, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang sempurna dan nyaris tanpa cacat. Dua benda kembar berguncang ketika gadis itu bergerak.
Nova langsung membeku.
"..."
Refleks, ia segera memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Maaf..." gumamnya lirih, meskipun gadis itu jelas tidak mungkin mendengarnya.
Di dalam lautan jiwa, Tian Long yang menyaksikan semuanya justru tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha!"
"Baru sehari tiba di Galastos, kau sudah mendapat keberuntungan seperti ini?"
Nova mengusap dahinya sambil menggeleng.
"Itu tidak sengaja."
"Tentu saja tidak sengaja."
Nada suara Tian Long dipenuhi godaan.
"Kalau sengaja, kau pasti masih berdiri di sana."
Nova hanya menghela napas panjang, memilih mengabaikan godaan naga tua itu. Ia berjalan menjauh dari jendela dan menuangkan secangkir teh spiritual yang telah disediakan di atas meja.
Namun... pada saat yang hampir bersamaan, di bangunan seberang, gadis itu selesai mengenakan jubah barunya. Ketika hendak menutup jendela, ia sempat melirik ke arah luar.
Tatapannya bertemu sekilas dengan sosok Nova yang saat itu justru sedang memalingkan badan menjauh dari jendela.
Gadis itu sedikit mengernyit. "Penghuni baru?" gumamnya pelan.
Ia tidak melihat ada gerak-gerik mencurigakan dari pemuda tersebut. Bahkan sesaat setelah pandangan mereka berpapasan, Nova justru langsung menjauh dari jendela tanpa berusaha melihat lagi.
Ekspresi gadis itu yang sempat dingin perlahan kembali tenang.
"Mungkin memang kebetulan."
Ia pun menutup jendela dengan perlahan, lalu melanjutkan kegiatannya tanpa terlalu memikirkan kejadian singkat itu.
Sementara itu, Nova hanya menggeleng pelan sambil tersenyum masam. "Sepertinya aku harus lebih berhati-hati."
Tian Long kembali terkekeh.
"Itu namanya takdir, bocah."
"Siapa tahu gadis itu nanti justru menjadi bagian dari perjalananmu di Planet Galastos."
Nova hanya tertawa kecil mendengar ucapan naga tua itu. "Jangan mulai membuat cerita yang aneh."
Meski begitu, Nova sama sekali tidak menyadari bahwa pertemuan singkat yang terjadi secara tidak sengaja itu telah membuat seseorang di bangunan seberang mengingat wajahnya. Di dunia para kultivator, takdir sering kali bermula dari peristiwa-peristiwa kecil yang tampak sepele.
Nova menutup kembali daun jendela dengan perlahan sebelum kembali duduk di kursi kayu yang berada di dekat meja.
Ruangan kembali dipenuhi keheningan. Hanya suara langkah para tamu di lorong penginapan serta hiruk-pikuk Kota Yunfeng yang terdengar samar dari luar.
Nova mengangkat cangkir teh spiritual yang masih mengepulkan uap tipis. Begitu cairan hangat itu menyentuh lidahnya, ia sedikit terkejut.
Rasanya jauh lebih segar dibanding teh apa pun yang pernah ia minum di Bumi. Bahkan setelah beberapa teguk saja, tubuhnya terasa sedikit lebih ringan.
"Lumayan," gumam Nova pelan.
"Bahkan minuman biasa di dunia ini mengandung energi spiritual."
Di dalam lautan jiwa, Tian Long menganggukkan kepalanya.
"Itulah perbedaan dunia tingkat rendah dan dunia tingkat tinggi."
"Di Galastos, hampir segala sesuatu tumbuh di bawah pengaruh energi spiritual."
"Air, tumbuhan, bahkan hewan liar telah menyerap energi langit dan bumi sejak lahir."
Nova mengangguk pelan.
Semakin lama ia berada di Planet Galastos, semakin ia memahami bahwa dunia ini benar-benar berbeda dari Bumi.
Setelah menghabiskan secangkir teh, Nova mengeluarkan sebuah gulungan kosong dari gelang penyimpanannya.
Ia kemudian mulai menggambar beberapa garis sederhana menggunakan pena spiritual yang tersedia di meja.
"Itu apa?" tanya Tian Long.
"Peta," jawab Nova singkat.
"Peta?"
"Aku harus mulai menyusun semua informasi yang kudapat."
Nova menggambar sebuah lingkaran besar. Di bagian tengahnya ia menulis...
Planet Galastos, di bawahnya, ia mulai menambahkan beberapa catatan.
Kota Yunfeng, tujuh Planet Agung Semesta Orion, sekte-sekte besar, rumah lelang, aula Informasi. Kemudian, di sudut kanan gulungan, ia menulis satu nama dengan huruf yang sedikit lebih besar.
Zira.
Tatapannya berhenti cukup lama pada nama tersebut. "Aku pasti akan menemukanmu," gumamnya lirih.
Di dalam lautan jiwa, Tian Long tidak mengatakan apa pun. Ia memahami tekad Nova. Namun ia juga mengetahui betapa luasnya Semesta Orion.
Mencari seseorang di dunia sebesar itu bukanlah perkara mudah.
Tok... Tok... Tok...
Ketukan pelan tiba-tiba terdengar dari balik pintu kamar.
Nova segera menggulung kembali petanya. "Masuk."
Pintu terbuka perlahan, yang muncul ternyata adalah Yan Mei.
Gadis bertombak itu masih mengenakan pakaian perjalanan, hanya saja rambut panjangnya kini diikat lebih sederhana.
Ia tersenyum ketika melihat Nova. "Aku tidak mengganggumu, kan?"
Nova menggeleng. "Tidak."
Yan Mei melangkah masuk sambil melihat sekeliling ruangan.
"Aku hanya ingin memberitahumu."
"Senior Lin mengajak semua orang berkumpul di ruang makan satu jam lagi."
Nova sedikit heran. "Ada sesuatu?"
Yan Mei menganggukkan kepala. "Besok pagi kami akan menuju Aula Informasi."
"Sebelum itu, Senior Lin ingin menjelaskan beberapa aturan Kota Yunfeng."
Nova mengangguk pelan. "Itu memang penting."
Yan Mei tersenyum. "Selain itu..."
Ia menggaruk pipinya sambil terkekeh kecil.
"Aku juga penasaran."
Nova mengangkat sebelah alisnya. "Penasaran tentang apa?"
Yan Mei memperhatikan Nova beberapa saat sebelum akhirnya bertanya. "Tempat asalmu..."
"Apakah semua orang di sana memasak makanan seenak mie instan itu?"
Nova tidak mampu menahan tawanya. "Jadi kau masih memikirkan mie?"
"Tentu saja!"
Yan Mei langsung menjawab tanpa ragu. "Seumur hidup aku belum pernah makan makanan seperti itu."
"Bahkan masakan koki Paviliun Seratus Rasa masih kalah."
Nova menggeleng sambil tersenyum. "Kalau begitu nanti akan kubuatkan lagi."
Mata Yan Mei langsung berbinar. "Sungguh?"
Nova mengangguk. "Masih banyak persediaan."
Yan Mei mengepalkan kedua tangannya dengan wajah gembira. "Bagus!"
"Kalau begitu aku akan menunggu."
Melihat ekspresi gadis itu, Nova kembali tersenyum kecil. Di dunia yang asing ini...
Memiliki beberapa orang yang mulai bersikap ramah kepadanya membuat suasana terasa sedikit lebih hangat.
Namun tepat ketika Yan Mei hendak meninggalkan kamar...
BUUUMM!
Suara ledakan keras tiba-tiba mengguncang seluruh penginapan. Lantai bergetar cukup kuat hingga cangkir teh di atas meja ikut bergoyang.
Ekspresi Yan Mei langsung berubah serius.
"Itu..."
Nova juga segera berdiri. Di luar, suara teriakan para kultivator mulai terdengar bersahutan.
"Monster roh!"
"Monster roh menyerang kota!"
"Aktifkan formasi pertahanan!"
Dalam sekejap, suasana Kota Yunfeng yang semula damai berubah menjadi kacau. Di kejauhan, terdengar raungan menggelegar yang dipenuhi tekanan spiritual, seolah seekor makhluk buas berkekuatan luar biasa baru saja muncul di luar tembok kota.