Aku selalu berpikir bahwa pernikahan rahasia ini akan berjalan mudah asalkan kami tetap menjaga jarak di tempat kerja. Sebagai resepsionis, tugas utamaku adalah mengarahkan tamu, bukan menarik perhatian sang CEO. Namun, Bastian yang kutemui di rumah sebagai suami yang acuh tak acuh, perlahan-lahan menunjukkan intensitas yang berbeda di kantor. Dia mulai mengawasiku dari jauh dan membuat keputusan-keputusan sepihak yang memengaruhi pekerjaanku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Fajar Rizky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lamaran Mendadak
Saat Bastian melamarku, aku sedang duduk di tangga rumah kontrakan sambil makan mi instan.
Dia datang mengenakan setelan jas lengkap dengan dasi, menampilkan ekspresi wajah yang terlihat dingin dan acuh tak acuh. Suapan mi yang baru saja kutelan hampir membuatku tersedak melihat kedatangannya.
"Nikahi aku," kata Bastian, tegas dan tanpa basa-basi.
Hujan deras sedang mengguyur halaman. Beberapa tetangga kontrakan yang belum tidur mulai menjulurkan kepala dari jendela untuk mengintip. Aku terbatuk beberapa kali dengan susah payah, lalu berdiri. "Kita bicara di dalam saja."
Namaku Amara, dan hubunganku dengan Bastian memang agak rumit.
Kalau dibilang kami berpacaran, rasanya kurang tepat. Mengingat perbedaan status sosial kami yang seperti bumi dan langit, kami tidak pernah secara terbuka mengakui hubungan ini di depan orang lain (kecuali saat kami sedang berdua di dalam kamar).
Di kantor, dia adalah CEO Group Wijaya yang berwibawa dan ditakuti para karyawan, sedangkan aku hanya seorang resepsionis di lobi utama.
Lalu, apakah kami hanya teman tapi mesra? Nyatanya, Bastian tidak pernah dekat dengan wanita lain selain aku.
Setelah masuk ke dalam rumah, aku mengambil handuk dan melemparkannya ke arah Bastian. Aku kemudian berjalan ke meja kecil dan menenggak air putih hingga habis.
"Bawa kartu tanda penduduk dan kartu keluargamu. Kita ke Kantor Urusan Agama sekarang," ucap Bastian lagi, suaranya tetap terdengar datar.
Aku kembali terbatuk karena rasa tersedak tadi belum sepenuhnya hilang. Aku berbalik menatapnya. "Bastian, apa hujan di luar membuat otakmu bermasalah?"
Belakangan aku baru tahu bahwa hari ini sebuah masalah besar sedang menimpa keluarga Wijaya. Kakek Bastian, sang kepala keluarga sekaligus pendiri perusahaan, baru saja meninggal dunia. Sekarang, posisi Bastian di keluarga itu terancam oleh ibu tirinya dan anak kandung dari ibu tirinya.
Bastian mendadak terisolasi, dikelilingi oleh orang-orang yang siap menjatuhkannya demi harta warisan.
Keluarga Wijaya memiliki aturan yang ketat: jika ingin mengamankan posisi tertinggi sebagai CEO, seseorang harus sudah menikah sebelum menginjak usia tiga puluh tahun. Peraturan ini berlaku bagi siapa pun yang menjadi ahli waris utama.
Bastian sendiri sudah berusia dua puluh delapan tahun, dan selama ini hidupnya hanya dihabiskan untuk bekerja.
Membujuknya untuk memikirkan pernikahan sama sulitnya dengan mengajaknya bernegosiasi kontrak bisnis bernilai ratusan miliar. Di dunianya, jangankan wanita, bahkan hewan peliharaan di rumahnya pun semuanya jantan.
Oleh karena itu, kesempatan mendadak ini jatuh ke tanganku, dan membuatku benar-benar bingung.
Proses dari ijab Kabul di KUA hingga pengurusan pemakaman Kakek Wijaya hanya memakan waktu satu setengah hari.
Setengah hari kuhabiskan untuk pindahan rumah dan mengurus masalah pernikahan, sementara satu hari penuh berikutnya digunakan untuk menghadiri prosesi pemakaman.
Setelah seluruh rangkaian pemakaman selesai, Bastian melemparkan satu set kunci rumah kepadaku. Dia sendiri memilih tinggal di vila lain. Cara menatapnya kepadaku pun masih terasa asing, hampir tidak ada bedanya dengan cara dia menatap orang yang baru dikenal.
Aku memandangi kunci yang tergeletak di atas lemari koridor, lalu mengambilnya dan memutar-mutar gantungan kunci tersebut di jariku. Saat sedang melamun, ponselku berdering. Ada telepon dari sahabatku, Siska.
"Kamu sudah dengar kabar tentang meninggalnya Komisaris Utama kita?"
"Aku Sudah tahu," jawabku pendek.
"Terus, kamu tahu tidak kalau CEO kita tiba-tiba sudah menikah?"
"Aku Tahu juga."
"Ra! Kamu bisa habis sekarang. Kalau sampai istri Pak Bastian tahu tentang hubungan rahasia kalian selama ini, kamu bisa dikeluarkan dari kantor, atau bahkan lebih parah! Sudah dari dulu aku bilang, tabung uangmu dan jangan cuma memikirkan cinta.
Sekarang kalau begini kejadiannya, kamu mau bagaimana?"
Siska terus mengomel di seberang telepon. Aku menghentikan gerakan jariku dan menggenggam erat kunci di tanganku.
Aku menyukai Bastian. Itu adalah rahasia terbuka yang sebenarnya sudah diketahui oleh hampir semua orang di kantor, bahkan mungkin sampai ke petugas kebersihan juga ikut tahu.
Memang, Mungkin sejak awal keputusanku sudah mengundang tanda tanya. Untuk seorang lulusan universitas negeri ternama sepertiku, memilih bekerja sebagai resepsionis di sebuah perusahaan yang saat itu hampir bangkrut adalah hal yang tidak masuk akal.
Waktu aku pertama kali masuk, Group Wijaya sedang mengalami krisis keuangan yang cukup hebat. Para petinggi dan manajer senior berbondong-bondong mengundurkan diri untuk menyelamatkan diri masing-masing.
Jika ada penghargaan untuk masa bakti staf resepsionis yang paling setia bertahan di masa sulit, pasti akulah orangnya.
Mendengar aku hanya diam, Siska menghela napas dan menurunkan nadanya. "Amara, ini sudah bertahun-tahun. Mungkin ini saatnya kamu mulai membuka hati untuk orang lain."
Baru mampir, sepertinya ceritanya menarik