Demi membiayai operasi ayahnya, Natalie nekat menjual keperawanannya pada seorang pria yang tidak ia kenal. Namun pria yang datang ternyata seorang dokter berhati baik yang justru ingin menyelamatkannya dari jalan buntu itu.
Setelah melewati malam yang penuh gairah, Drake malah kecanduan dengan tubuh Natalie, padahal dia tahu kalau wanita itu hanya mengejar uang.
Saat rahasia tergelap mereka terbongkar, mampukah hubungan rapuh dan terlarang ini tetap bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1
Hingar bingar memenuhi setiap sudut ruangan Eclipse Club, klub malam paling ramai di pusat kota yang tak pernah tidur. Lampu neon berwarna merah dan biru menyapu lantai dansa seperti gelombang badai, sementara bass musik DJ menggelegar begitu keras hingga terasa getarannya di dada. Suara teriakan dan tawa para pengunjung bercampur aduk menjadi satu simfoni kekacauan yang tak kenal ampun. Asap rokok dan uap alkohol menggantung di udara, membuat napas terasa berat bagi siapa pun yang baru pertama kali masuk.
Di tengah hiruk-pikuk itu, seorang perempuan cantik bergerak lincah di antara meja-meja. Rok pendek hitam ketat membalut pinggulnya, atasan crop top berbahan mengkilap yang nyaris tak meninggalkan ruang imajinasi, dan sepatu hak tinggi yang membuat langkahnya terlihat percaya diri meski hatinya jauh dari itu. Senyumnya lebar, tapi matanya kosong seperti boneka yang diprogram untuk terus bergerak.
Malam ini, sama seperti malam-malam sebelumnya, ia mengantar minuman ke setiap meja, cocktail berwarna-warni, botol whiskey mahal, dan bir dingin yang tak pernah habis permintaannya.
Natalie merasakan tatapan lapar dari para pria yang duduk di sofa VIP. Beberapa di antaranya berani menyentuh pinggangnya saat ia meletakkan nampan. Ia hanya tersenyum manis, menggumamkan kata-kata manja yang sudah dihafalnya di luar kepala, “Selamat menikmati, Tuan,” sambil dalam hati menahan mual. Setiap kali tangan asing menyentuh kulitnya, ia merasa seperti sedang menjual jiwa sedikit demi sedikit. Tapi ia tak punya pilihan.
Sudah enam bulan Natalie bekerja di tempat ini. Semuanya bermula dari kecelakaan yang dia alami dengan sang ayah. Malam yang kelam dua tahun lalu, ketika ia pulang terlambat dari kampus dan memaksa ayahnya menjemputnya di tengah hujan deras. Ayahnya, seorang sopir taksi yang selalu sabar, mengemudi dengan hati-hati meski lelah. Tapi sebuah truk kontainer yang melaju ugal-ugalan menabrak mobil mereka. Natalie selamat dengan luka ringan. Ayahnya... lumpuh dari pinggang ke bawah. Tulang belakangnya rusak parah. Dokter bilang, pengobatan intensif dan fisioterapi rutin bisa memberi harapan kecil agar ia bisa duduk tegak lagi suatu hari nanti. Tapi harapan itu mahal.
Dyah, ibu Nathalie dulu sangat lembut, namun karena peristiwa itu berubah menjadi monster. Dia selalu menyalahkan Nathalie.
“Ini semua salahmu, Nathalie. Kalau kamu tidak ngotot minta dijemput, ayahmu tidak akan begini. Kamu harus menangung semua pengobatan ayahmu, dan kehidupan kita” katanya berulang kali, setiap kali Natalie pulang dengan wajah lelah. Ibunya menuntut uang tanpa henti. Tagihan rumah sakit, obat-obatan, sewa rumah, bahkan kebutuhan sehari-hari ayahnya, semuanya menjadi beban di pundak Natalie.
“Kamu tanggung jawabnya. Kamu yang bikin ayah cacat, jadi kamu yang harus bayar,” ucap Dyah dengan suara dingin yang menusuk.
Malam itu, jam menunjukkan pukul tiga dini hari ketika Natalie akhirnya bisa melepas sepatu haknya di ruang ganti karyawan. Kakinya perih, bahunya pegal, dan bau alkohol menempel di kulitnya meski sudah mandi cepat. Ponselnya bergetar di dalam loker. Dengan tangan gemetar karena kelelahan, ia membuka pesan masuk.
Dari Ibu.
“Cepat kirim uang sebanyak seratus juta, atau aku menghentikan pengobatan ayahmu. Besok pagi aku sudah tidak mau lihat dia menderita lagi kalau tidak ada uangnya.”
Natalie membaca pesan itu berkali-kali. Angka seratus juta terasa seperti tamparan keras di wajahnya. Ia baru saja mengirim delapan puluh juta minggu lalu dari tips dan gajinya yang pas-pasan. Dari mana ia harus mencari sisanya dalam waktu semalam? Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, tapi ia buru-buru mengusapnya sebelum ada yang melihat.
Ia meremas ponselnya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih. Matanya terpejam rapat, berusaha menahan gejolak yang membara di dada. Rasa marah, sedih, putus asa, dan rasa bersalah yang tak pernah hilang bercampur menjadi satu badai di dalam dirinya. Kenapa harus aku? Kenapa hidupku harus seperti ini? batinnya menjerit tanpa suara.
Bayangan ayahnya terbayang di benaknya, pria yang dulu selalu tersenyum lebar, yang suka bercerita tentang masa kecil Natalie sambil minum kopi hitam di teras rumah. Kini ayahnya hanya bisa terbaring di ranjang sempit, memandang langit-langit kamar dengan mata kosong, sesekali meringis kesakitan saat obatnya habis. Dan ibunya, wanita yang seharusnya menjadi tempat berlindung malah menjadi algojo.
Natalie bersandar di dinding ruang ganti yang dingin, napasnya tersengal. Musik dari lantai dansa masih terdengar samar-samar, mengingatkannya bahwa dunia di luar sana terus berputar tanpa peduli penderitaannya. Ia harus mencari cara. Mungkin meminta pinjaman lagi dari teman, atau bekerja shift ekstra besok malam meski tubuhnya sudah hampir ambruk. Tapi berapa lama ia bisa bertahan seperti ini?
Dengan tangan masih gemetar, Natalie membuka aplikasi transfer bank. Jari-jarinya berhenti di atas layar. Air matanya akhirnya jatuh juga, menetes ke layar ponsel yang sudah buram. “Maafkan aku, Yah...” bisiknya pelan, suaranya hilang ditelan dentuman musik yang tak pernah berhenti di kejauhan.
Malam itu, di tengah hiruk-pikuk kota yang tak peduli, Natalie Grace merasa semakin tenggelam dalam kegelapan yang ia ciptakan sendiri, atau setidaknya, itulah yang selalu dikatakan ibunya. Dan entah berapa lama lagi ia mampu menahan beban ini sebelum benar-benar hancur.
Setelah lelah menangis, Nathalie keluar dari ruangan tersebut.
"Kamu kenapa menangis Nat?" tanya Miska, teman kerja Nathalie. Dia melihat mata temannya sedikit sembab.
"Oh...aku tidak apa-apa" jawab Nathalie bohong.
Miska tidak percaya begitu saja, di mendekati Nathalie sambil mengusap bahunya. "Kalau ada masalah cerita aja, siapa tahu aku bisa bantu" ucapnya.
Nathalie menghela nafas panjang, sambil berpikir sejenak. Sepertinya dia memang harus bercerita supaya meringankan pikirannya.
"Aku butuh uang seratus juta untuk operasi ayahku, Mis" cicitnya lirih.
Miska menghela nafas dalam."Aku tidak punya uang sebanyak itu, tapi aku bisa membantumu untuk mendapatkan uangnya" ucapnya.
"Caranya?" tanya Nathalie sambil mengeryitkan keningnya bingung.
"Jual tubuhmu"