Di siang hari, Rania adalah sekretaris magang yang paling menyedihkan. Berkacamata bulat, rambut di Cepol asal dan baju yang kedodoran selalu menjadi makanan empuk sang CEO perusahaan yang tampan namun berdarah dingin, perfeksionis dan tak memiliki belas kasihan.
Namun, demi melunasi hutang ibunya yang menumpuk, Rania dengan ikhlas menjalani hidupnya di bawah tekanan bahkan Rania rela melakukan pekerjaan lainnya yang cukup ekstrem di malam hari.
Dengan berubah menjadi sosok gadis bernama "milky" bermata abu-abu yang imut dan kostum gotik yang menggemaskan di sebuah Dark Moon Maid Cafe.
Petaka berawal ketika seorang pelanggan VVIP misterius bermasker hitam datang dan memesan tempat khusus bersamanya.
Begitu pria itu membuka suara, Rania nyaris terkena serangan jantung.
Pria yang meminta pelayanan imut bermantra 'Moe-moe Kyun' tidak lain adalah bosnya sendiri di kantor yang paling dia benci !
Untungnya, Arkan bosnya sama sekali tidak mengenalinya.
baca ceritanya untuk lanjut🫶🏻
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By.DarkRose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Perhatian Tersembunyi
...Rania mengerjapkan matanya pelan. ...
...Cahaya lampu ruangan terasa sangat terang hingga membuatnya harus menutup mata kembali. ...
...Ia merasakan punggungnya berada di permukaan yang empuk dan harum, sangat berbeda dari kursinya yang keras di bilik kerjanya....
..."Sudah bangun?"...
...Suara itu berat dan datar. ...
...Rania segera membuka matanya lebar-lebar. ...
...Ia melihat Arkan duduk di kursi kerjanya, membelakanginya, sambil menatap layar monitor....
...Rania segera duduk, kepalanya masih terasa sedikit berat, tapi jauh lebih baik dari tadi. ...
...Ia melihat ke sekeliling. ...
...Kopi yang tumpah tadi sudah tidak ada, lantai sudah bersih....
..."Bapak... saya minta maaf," kata Rania pelan....
... "Saya tadi pingsan, ya? Saya benar-benar minta maaf karena sudah merepotkan Bapak."...
...Arkan tidak menoleh. ...
...Dia masih sibuk dengan dokumen di layarnya....
... "Bukan merepotkan. Kamu cuma membuat kerjaan saya tertunda sepuluh menit karena harus menunggu kamu sadar. Jangan berlebihan."...
...Rania terdiam. ...
...Ia merasa malu. ...
..."Baik, Pak. Saya akan segera kembali ke meja saya untuk menyelesaikan sisa laporan—"...
..."Duduk di situ," potong Arkan cepat....
...Rania mengurungkan niatnya untuk berdiri....
... "Tapi Pak, saya harus—"...
..."Saya bilang duduk. Itu perintah," Arkan memutar kursinya, menatap Rania dengan pandangan tajam....
... "Kamu baru saja pingsan. Kalau kamu jatuh lagi di depan klien, itu bakal jadi masalah buat perusahaan....
... Saya tidak mau reputasi divisi saya rusak gara-gara sekretaris yang tidak tahu cara menjaga kesehatan."...
...Rania menunduk. "Iya, Pak. Terima kasih."...
...Tiba-tiba, pintu ruangan diketuk....
... Seorang OB masuk dengan membawa kantong plastik putih. ...
...OB itu meletakkannya di meja kecil samping sofa, lalu mengangguk hormat ke arah Arkan sebelum keluar....
...Arkan berdiri dari kursinya dan berjalan mendekati sofa. ...
...Ia mengambil kantong plastik itu dan melemparkannya ke samping Rania....
..."Makan," kata Arkan singkat....
...Rania membuka kantong itu....
... Isinya bubur ayam dan satu strip obat penurun panas. ...
...Rania menatap bubur itu, lalu menatap Arkan yang sudah kembali duduk di mejanya....
..."Ini... Bapak yang belikan?" tanya Rania ragu....
...Arkan mendengus keras. ...
..."Tentu saja bukan saya. Saya menyuruh OB. Daripada saya harus melihat kamu pingsan lagi di kantor saya, lebih baik kamu segera makan itu. Itu pun kalau kamu tidak mau dianggap sebagai beban."...
..."Oh," Rania mengangguk pelan....
... Ia membuka tutup bubur itu. Rasanya masih hangat. ...
..."Terima kasih, Pak. Bapak baik sekali."...
...Arkan langsung menoleh, matanya membelalak kaget....
... "Apa? Jangan salah paham. Saya melakukan ini supaya kamu cepat sembuh dan bisa kembali bekerja dengan benar. Jangan berpikir macam-macam. Saya tidak suka pegawai yang terlalu baper."...
...Rania menahan senyumnya. Ia tahu Arkan sedang berusaha menutupi sesuatu....
... "Iya, Pak. Saya mengerti. Bapak memang sangat perhatian... pada produktivitas perusahaan."...
...Arkan membuang muka, ia kembali sibuk dengan komputernya....
... "Bagus kalau kamu sadar."...
...Rania mulai menyuap bubur itu pelan-pelan. ...
...Rasanya enak, jauh lebih enak daripada rasa pusing yang tadi menyerangnya. ...
...Setelah menghabiskan setengah porsinya, ia meminum obat yang diberikan....
..."Sudah selesai?" tanya Arkan tanpa menoleh....
..."Sudah, Pak."...
..."Kalau sudah, segera pulang," Arkan berdiri dan mengambil tas Rania yang tadi tergeletak di lantai, lalu melemparkannya ke arah Rania. ...
...Untungnya Rania bisa menangkapnya....
..."Pulang? Tapi Pak, ini baru jam sepuluh pagi. Pekerjaan saya masih banyak," kata Rania bingung....
...Arkan berjalan ke arah pintu dan membukanya lebar-lebar....
... "Saya tidak mau melihat wajah pucat kamu lagi di sini hari ini. Kamu hanya akan membuat suasana kantor jadi suram. Anggap saja ini cuti sakit setengah hari. Tapi ingat, besok saya mau kamu kembali dengan performa seratus persen. Jangan sampai saya dengar kamu pingsan lagi."...
...Rania berdiri, ia merasa sedikit lebih bertenaga sekarang....
... "Terima kasih banyak, Pak Arkan. Besok saya janji tidak akan mengecewakan Bapak."...
...Arkan tetap berdiri di dekat pintu, tidak menatap Rania....
... "Sudah sana pergi. Jangan berterima kasih terus. Itu sangat mengganggu."...
...Rania berjalan melewati Arkan....
... Sebelum keluar, ia sempat berhenti sejenak....
... "Pak Arkan?"...
...Arkan menoleh sedikit. "Apa lagi?"...
..."Buburnya enak. Terima kasih," kata Rania singkat, lalu berjalan cepat keluar ruangan sebelum Arkan sempat marah....
...Arkan mematung di ambang pintu. ...
...Wajahnya perlahan memerah....
... Ia menutup pintu ruangannya dengan sedikit keras....
..."Bubur ayam lima ribu rupiah saja bangga," gumam Arkan pada dirinya sendiri di dalam ruangan yang sunyi. ...
...Ia kembali duduk ke kursinya, tapi kali ini dia tidak fokus ke layar komputer....
... Ia malah menatap pintu yang tertutup tadi, sambil diam-diam berharap besok Rania benar-benar sudah sehat....
...Di koridor, Rania berjalan menuju lift dengan senyum kecil di wajahnya. ...
...Ia tahu bosnya itu memang benar-benar tsundere. ...
...Dingin di luar, tapi ternyata punya sisi perhatian juga. ...
...Meski harus diakui, cara Arkan menunjukkan perhatian itu sangat menyebalkan....
...Rania masuk ke dalam lift dan menekan tombol lantai dasar....
... Sambil menunggu lift turun, ia berpikir tentang malam nanti....
... Sekarang dia punya waktu lebih banyak untuk istirahat sebelum harus berubah menjadi Milky....
... Ia merasa sedikit bersalah karena Arkan sudah sebaik ini padanya, padahal Arkan tidak tahu kalau Rania adalah orang yang sama dengan pelayan yang Arkan sukai di kafe....
...Ting....
...Pintu lift terbuka. ...
...Rania keluar menuju parkiran taksi. Ia harus segera pulang dan tidur. ...
...Besok dia harus kembali menghadapi Arkan di kantor, dan malamnya, dia harus kembali menghadapi Arkan di kafe. ...
...Kehidupan ganda ini memang sangat melelahkan, tapi setidaknya sekarang dia tahu, di balik wajah dingin itu, Arkan bukan orang yang benar-benar jahat....
...Rania masuk ke taksi dan menyandarkan kepalanya di jendela....
...Ia memejamkan mata, membiarkan pikirannya tenang sejenak sebelum harus kembali berakting besok....