Novel ini adalah sequel dari Novel karya author yang berjudul Perjalanan Istimewa.
Novel ini berkisah tentang Shima Killa Danurdara, Adik bungsu dari Bopo Arjuna dan juga Bahuraska Adiwangsa, putra Arjuna yang merupakan Bopo Muda Desa Banyu Alas.
Tak hanya itu, di Novel ini juga menceritakan mengenai Bima, adik angkat Aka yang menjadi orang paling dekat dengan Aka dan selalu menemani setiap langkah Aka.
Bagaimanakah perjalanan masa kecil mereka?
Ikuti kisah Shima dan Bahuraska (Aka) juga Bimantara di Novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Anak Perempuan.
Hari pertama sekolah, Aka dan Bima di antar oleh Arjuna dan Meshwa. Dua bocah itu tampak antusias dengan hari pertama di sekolah.
"Romo sama Mbun pulang aja. Adek sama Mamas gak usah di tungguin." Kata Bima.
"Beneran? Yang lain masih di tungguin lho, Nak, hari pertama sekolah." Kata Arjuna.
"Adek sama Mamas kan pemberani, Mo. Jadi gak perlu di tungguin." Jawab Bima yang di sambut anggukan setuju oleh Aka.
"Yaudah kalau gitu, Romo sama Mbun pulang ya. Nanti di jemput lagi kalo udah pulang." Pamit Arjuna.
"Adek sama Mamas gak boleh nakal, ya. Adek jangan nyariin Mamas, kan kelas Adek gak sama dengan Mamas." Kata Meshwa.
"Kenapa kelas adek sama Mamas gak sama, Mbun? Nanti Mamas gak bisa jagain Adek." Tanya Aka.
"Ya memang harusnya di pisah, Nang. Kan usia Mamas sama Adek berbeda, jadi tahapan pembelajarannya juga berbeda." Jawab Meshwa.
"Adek berani gak?" Tanya Aka.
"Berani lah! Mamas tenang aja." Jawab Bima yang membuat Meshwa dan Arjuna tersenyum.
"Yasudah, Romo sama Mbun pulang dulu." Pamit Arjuna dan Meshwa.
"Romo beneran pulang?" Tanya Bima.
"Enggak lah! Romo mau pacaran sama Mbun. Wong wes kadung njaluk libur kok e. (Orang sudah terlanjur minta libur kok)." Jawab Arjuna sambil merangkul istrinya.
"Ih! Romo jangan peluk - peluk Mbun. Ini Mbunku." Kata Aka sambil menepis tangan Arjuna yang melingkar di pinggang istrinya.
"Kenapa sih, Mas. Ini kan istrinya Romo. Lagian kalo gak ada Romo, kalian tuh gak jadi." Kata Arjuna.
"Jadi lah! Kan Mbun bisa hamil dan melahirkan sendiri." Jawab Aka yang membuat Arjuna dan Meshwa menyemburkan tawa.
"Emang Mbunmu ini Siti Maryam, Ibunya Nabi Isa." Kekeh Arjuna.
"Mbun Amoeba, Mo. Bisa membelah diri." Sahut Meshwa di sela - sela tawanya.
"Udah sana baris sama temen - temennya yang lain." Kata Meshwa.
"Oke, Mbun!" Jawab Bima.
Bima kemudian menyalami Arjuna dan Meshwa, di susul dengan Aka yang juga menyalami Meshwa kemudian menyalami Arjuna sambil menatap Romonya dengan tatapan sinis.
"Peh, jabang bayik! Anak mu, Mbun. Isoh - isoh e melorok i Romone koyo ngono kuwi. (Anakmu, Mbun. Bisa - bisanya melototi Romonya kayak gitu)." Kekeh Arjuna sambil geleng - geleng kepala.
"Romo juga sih, ndadak pamer kemesraan di depan Mamas. Udah tau anaknya jealous kalo Romo nempelin Mbun." Jawab Meshwa yang membuat Arjuna tertawa.
Meshwa dan Arjuna kemudian beranjak dari TK tempat sekolah Aka dan Bima. Mereka berdua pergi ke rumah Orang Tua Meshwa sembari menunggu jam pulang Aka dan Bima.
Saat jam istirahat, Aka dan Bima berbaur bersama teman - teman baru mereka. Mereka bermain di halaman sekolah yang memiliki banyak macam permainan. Aka dan Bima tampak begitu riang bermain bersama teman - teman seusianya.
Saat sedang bermain, ada seorang pria paruh baya yang menghampiri Aka. Pri itu tersenyum pada Aka dan tiba - tiba mengajak Aka mengobrol. Aka yang memang selalu bersikap hangat dan sopan pada orang lain pun meladeni obrolan pria paruh baya itu dengan sopan.
Anehnya, tiba - tiba pria paruh baya itu meminta sedikit darah Aka dengan mengiming - imingi sebuah coklat. Pria itu memberikan sebuah jarum untuk melukai tangan Aka agar ia bisa meminta sedikit darah Aka.
Aka yang merasa tak keberatan pun kemudian meraih jarum itu untuk melukai tangannya. Namun, saat hendak melukai ujung jari telunjuknya, Bima dengan cepat menghalangi.
"Aduuuhhhh!" Seru Bima yang menahan jarum itu dengan jarinya.
"Loh! Dek! Ya Allah." Panik Aka yang langsung membuang jarum yang tadi mengenai Bima.
"Maafin Mamas ya, Dek. Sakit gak?" Tanya Aka saat Bima memegangi jarinya yang sedikit mengeluarkan darah.
"Sakit, Mas..." Jawab Bima. Meski begitu, ia sama sekali tak menangis.
Aka pun mengajak Adiknya untuk mencuci tangan untuk membersihkan jejak darah di tangan Bima. Aka melupakan pria paruh baya yang bersamanya karena merasa panik setelah melukai Bima.
"Kamu kenapa naro jarimu di situ. Emang gak lihat kalau Mamas megang jarum?" Tanya Aka sambil mencuci tangan Bima.
"Lihat! Aku sengaja biar Mamas gak luka." Jawab Bima.
"Kenapa Mamas mau kasih darah ke orang itu?" Tanya Bima.
"Tadi aku denger waktu dia minta darah." Imbuhnya kemudian.
"Gak apa - apa, lagian kan dia cuma minta sedikit." Jawab Aka.
"Tapi kan aneh, Mas. Kenapa minta darah? Harusnya minta permen atau jajan Mamas." Kata Bima yang membuat Aka terdiam.
Aka pun memikirkan ucapan Bima. Benar juga jika pria itu tampak aneh. Aka pun hanya bisa menghela nafas setelah menyadari hal itu.
Setelah selesai mencuci tangan, Aka dan Bima kemudian kembali ke tempat bermain. Namun, Aka tak menemukan pria paruh baya yang tadi menghampirinya.
"Pakde tadi kok gak ada ya, Dek?" Tanya Aka pada Bima.
"Mungkin dia pulang, Mas." Jawab Bima yang hanya menebak - nebak.
"Ayo kita main lagi, Mas!" Ajak Bima yang di jawab anggukan setuju oleh Aka.
Hingga waktu pulang sekolah, semua baik - baik saja. Sepulang sekolah, Arjuna dan Meshwa pun mengajak putra mereka untuk makan siang di salah satu Restoran yang ada di Kecamatan.
Bima dan Aka terus berceloteh mengenai keseruan hari pertama sekolah mereka. Namun, keduanya tak menceritakan mengenai orang asing yang mengajak Aka mengobrol dan meminta darah Aka.
Mereka seolah lupa dengan kejadian yang membuat Bima tertusuk jarum itu. Mereka hanya menceritakan tentang teman baru dan juga guru - guru mereka yang baik.
"Mbun... Mbun... Masak tadi temanku ada yang ngompol." Cerita Bima.
"Lho, kok bisa ngompol?" Tanya Meshwa.
"Iya, dia nangis karena minta di tungguin Ibunya di dalam kelas. Padahal Ibunya nungguin di teras kelas lho, Mbun, sambil ngintip dari jendela. Tapi, temenku itu tetep nangis sampe ngompol." Jawab Bima.
"Cemen banget ya, Mbun. Gak kayak Adek yang pemberani." Kata Bima yang membuat Aka, Meshwa dan Arjuna tertawa.
"Sombong banget sih gayamu, Le... Le..." Kekeh Arjuna.
"Mamas sama Adek gak iri, waktu lihat temen - temen masih di tungguin?" Tanya Arjuna.
"Enggak lah! Ada juga kok, temen lain yang gak di tungguin sama orang tuanya." Jawab Aka.
"Maa syaa Allah. Hebat banget ya, anak - anak Romo ini." Puji Arjuna.
"Anaknya Mbun, ya. Gak mau jadi anak ya Romo." Jawab Aka.
"Aku juga anaknya Mbun." Timpal Bima.
"Astaghfirullah..." Lirih Arjuna sambil mengusap dada, sementara Meshwa hanya bisa terkikik geli melihat ekspresi suaminya yang di musuhi dua putranya.
"Ayolah Mbun, kita buat anak perempuan untuk Romo. Biar Romo ada temennya, ada yang belain." Ujar Arjuna.
"Emang buatnya gimana, Mo?" Tanya Bima.
"Pake telur, tepung sama gula. Abis itu di kasih margarin gek di oven." Jawab Arjuna.
"Loh! Kok di oven sih? Nanti gosong dong." Kata Aka.
"Ya itu, makanya Mamas sama Adek hitam, Mbun telat ngangkat waktu di oven." Kata Arjuna yang membuat Meshwa terbahak - bahak.
perpaduane Aksa, Arjuna plus Dipta
🤣🤣🤣🤣