"Kamu di diagnosa kanker otak stadium 3,tapi masih gejala awal jadi tingkat kesembuhan masih ada 75 % lagi,asal secepatnya operasi"
"Jika aku tidak operasi?"
"Jangan gila,kau bahkan tidak akan bertahan sampai 5 bulan"
"Kalau begitu biarkan saja"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hantari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan terima
"Baik kalau begitu,urus saja. Berikan pada ku setelah surat cerai nya keluar,aku akan segera pergi meninggalkan rumah ini"
Pada saat itu Damar tiba-tiba bungkam,Ia tidak mengerti dengan dirinya sendiri kenapa tiba-tiba merasakan sesak di dadanya setelah mendengar ucapan kenyataan yan akan terjadi setelah mereka berpisah.
"Kau tidak perlu keluar dari rumah ini,aku akan memberikan nya pada mu.Aku juga akan memberikan kompensasi setengah dari harta pribadi ku"
Adeline sedikit terkesiap mendengar ucapan suaminya yang sebentar lagi akan menjadi mantan suaminya,Setengah harta pribadi pria itu bukanlah jumlah yang main-main.
Pria itu sudah bekerja sejak usia belasan tahun dalam perusahaan keluarga nya,Ia juga sudah menjabat menjadi CEO sudah lebih dari 5 tahun,bahkan harta Gono gini keluarga Pradipta juga sudah terbagi masing-masing pada mereka dengan jumlah yang begitu fantastis,warisan yang Damar dapat bisa menghidupinya bersama keluarganya 7 keturunan tanpa melakukan apapun.
"Tidak perlu membuat janji seperti itu,aku juga akan tetap menandatangani surat perceraian meski tanpa kompensasi,jika itu yang menjadi keinginan mu"
"Tidak,itu memang hak mu.Bagaiamanapun kau sudah merawat ku selama ini dengan baik,kau juga sudah menjadi menantu keluarga Pradipta cukup lama,kau pantas mendapatkan nya"
Mendengarnya, Ia hanya tersenyum.Itu tidak akan pernah terjadi dan Ia bisa menjaminnya.
Akhirnya Ia berbalik dan kembali menaiki satu persatu anak tangga,tanpa mempedulikan apapun lagi atau mengucapkan sepatah katapun lagi.
Setelah Adeline menghilang dari pandangannya,Damar masih diam di tempatnya melihat tempat wanita itu berdiri sejak tadi.Ia menatapnya lama dan datar,tidak akan pernah ada yang bisa menebak pikiran seorang Damar Pradipta.
"Aku pikir itu sepadan"
Setelahnya Itu, Ia pergi dari rumah itu dengan kondisi yang sedikit kacau,Ia melonggarkan dasinya karna merasa udara semakin menipis sehingga membuat nya merasa sesak.
Sebelum pergi,Ia menoleh ke lantai atas,dimana kamar yang selama 4 tahun ini Ia tempati bersama Adeline tampak gelap.
Namun Ia tidak memikirkan apapun dan menghidupkan mesinnya dan meninggalkan rumah itu.
qqqqqqqqqqqqQ vs
Tanpa tau kalau ternyata Adeline melihat dari jendela,"Akhirnya hari ini datang,tapi aku tidak menyangka kalau hari ini akan datang secepat itu"
***
Keesokan harinya ibu mertuanya menghubungi nya untuk datang ke mansion,bahkan sudah mengirimkan supir yang sudah di depan rumah.
"Sudahlah, mungkin ini juga akan menjadi hari terakhir ku menginjakkan kaki di rumah itu", gumamnya karena sebenarnya berat sekali langkahnya pergi ke tempat itu.
Ia bersiap-siap cepat dan menyempatkan untuk sarapan, setelahnya Ia baru pergi masuk ke dalam mobil yang sudah menjemput nya.
Sesampainya di mansion,Ia segera di sambut oleh Helen ibu mertuanya dan ayah mertua nya.
"Adeline terima kasih kau datang,ayo masuk dan duduklah dulu.Mama akan minta pelayan buatkan teh,apakah kau sudah makan"
Ia tersenyum,"Sudah ma"
"Kalau begitu teh saja dan cemilan, tolong bawakan yah", perintah ibu mertuanya itu pada pelayan.
Ia merasa sedikit tidak biasa dengan sikap ibu mertuanya itu,yang tiba-tiba berubah sikap lembut dan perhatian.Padahal biasanya,kapan saja Ia datang tanpa kenal waktu,Ia akan meminta nya untuk memasak makanan kesukaan nya dan tidak pernah mempedulikan apakah Ia sudah makan atau menghidangkan teh, dan tidak pernah bisa duduk dengan tenang,justru Ia yang akan selalu menghidangkan teh.
Sementara ayah mertuanya memang jarang berbicara dengan nya,dan sangat jarang duduk di ruangan yang sama dengan nya,karna sejak awal Ia sudah mengatakan dengan terang-terangan tidak menginginkan nya sebagai menantu,hanya karna permintaan ayahnya saja.
"Adeline mama mau meminta maaf soal kejadian semalam, sebenarnya mama tidak tau kalau kejadian itu akan terjadi,semuanya terjadi begitu tiba-tiba dan mendesak.Kau juga tau di sana semuanya tamu-tamu penting dan mama tidak ingin keluarga Pradipta malu"
"Mm...dan bukannya mama tidak ingin mengundang mu,hanya saja mama terlalu sibuk dan tidak ingat untuk mengundang mu", lanjutnya lagi merasa sedikit gugup karna melihat menantunya yang mudah tersenyum dan selalu nampak ceria itu diam,Helen merasa sedikit bingung dan tidak enak hati.
Sementara itu Adeline memang tidak punya tenaga lagi untuk berbicara panjang lebar dengan ibu mertuanya itu, batinnya selalu ikut lelah dan tersiksa hanya berbicara dengan nya saja,karna mama mertuanya itu begitu manipulatif, tidak jahat namun juga tidak baik tapi yang pasti dia tidak menyukai nya sebagai menantu keluarga Pradipta.
Entah karena melihat istrinya diam,ayah mertuanya itu yang sejak tadi diam akhirnya membuka suara.
"Sebenernya kami mengundang mu kemari ingin menanyakan sesuatu hal untuk memastikan kebenaran"
"Ini soal hubungan mu dengan Damar,kami sudah tau kalian sudah sepakat untuk bercerai,tapi kami ingin berterus terang ada sesuatu hal penting yang ingin kami sampaikan pada mu"
"Sepakat?"
Sementara itu Helen tampak memegang ujung kemeja suaminya itu,tampak mengode sesuatu yang kemudian membuat suaminya diam hingga Ia mendekat ke arah Adeline,Ia kemudian memegang tangan menantu nya itu dan memasang wajah sendu."Damar mengatakan kalau dia akan memberikan setengah dari hartanya pada mu,apa itu benar?"
"Ternyata karena hal ini"
Adeline akhirnya paham dengan sikap ibu mertuanya itu hari ini yang berbeda.
Helen Kemudian semakin menatapnya dalam."Adeline,mama tau setelah bercerai kau juga harus mendapatkan harta Gono-gini milik Damar sebagai kompensasi perceraian,tapi untuk setengah dari harta Damar mohon pikirkan lagi untuk menerima nya."
"Coba pikiran Damar akan menikah lagi dan jika dia memberikan setengah dari hartanya pada mu, bagaimana dia akan menafkahi dan membahagiakan keluarga nya selanjutnya"
Bahkan ibu mertuanya itu sudah memikirkan pernikahan suami nya sebelum mereka resmi bercerai.Dia bahkan tidak memikirkan perasaan nya sama sekali setelah mengatakan nya.
Dadanya sesak,Ia tidak sanggup mengucapkan sepatah kata lagi karena setiap ucapan ibu mertuanya itu benar-benar menyakitikan dan menikam.
"Kau jangan khawatir,kau tetap akan mendapatkan kompensasi perceraian dengan jumlah besar,kau tidak akan kesulitan setelah bercerai"
Tambah ayah mertuanya itu,dia memang selalu berbicara dingin dan tegas.
Dengan menahan air mata Ia mengangkat pandangan nya menatap mereka dengan tatapan tenang namun terlihat menutupi lukanya,bahkan setelah mereka menyakitinya berulang kali Ia tetap tidak bisa benar-benar membenci mereka,hanya saja hatinya terlalu sakit.
"Ma Pa"
Ia tersenyum dengan bibir bergetar menahan air mata.
"Selama 4 tahun aku menikah dengan putra kalian, apakah tidak pernah sekalipun kalian menganggap ku,kalian tidak pernah mengenal ku"
***
Bersambung...
pengen lihat adel bangkit dan melihat karma si dua perempua jahat itu
jangan mau Terima apapun dr mereka Adeline..