Emma dan Ella Taylor, sepasang gadis kembar, terpisah sejak kecil akibat perceraian orang tua. Emma tumbuh di New York menjadi wanita pemarah dan sulit mengendalikan emosi, sementara Ella yang dibesarkan di Inggris justru bersifat pendiam, penakut, dan terbiasa mengalah.
Setelah dua puluh tahun, mereka bertemu secara tak terduga di atas kapal pesiar mewah.
Saling bercerita tentang beban hidup masing-masing, keduanya mengambil keputusan nekat untuk bertukar identitas dan menjalani hidup satu sama lain.
Akankah pertukaran ini menjadi jalan keluar, atau justru menjerumuskan mereka ke dalam masalah yang jauh lebih rumit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raya Abc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehidupan Yang Bukan Milikku
Satu minggu kemudian...
Dua pesawat mendarat di dua negara yang berbeda.
Satu di Bandara Heathrow, London.
Satu lagi di Bandara Internasional John F. Kennedy, New York.
Pada hari yang sama...
Dua wanita dengan wajah yang sama memulai kehidupan yang bukan milik mereka.
Emma menatap keluar jendela mobil Rolls-Royce hitam yang melaju mulus meninggalkan pusat kota London.
Hujan gerimis membasahi kaca jendela.
Pemandangan gedung-gedung modern perlahan berganti menjadi jalanan yang lebih tenang, dipenuhi pepohonan dan kawasan elite yang dijaga ketat.
Emma mengembuskan napas panjang.
Tangannya menggenggam ponsel.
Layar masih menampilkan pesan terakhir dari Ella.
"Ingat, jangan memanggil Ralph dengan nama lengkapnya. Di rumah cukup panggil Ralph. Jangan terlalu banyak bicara saat makan malam. Kepala pelayan bernama Mr. Howard. Pengurus taman Mr. Lewis. Jangan lupa Ibu biasanya menelepon setiap Sabtu sore."
Emma membaca pesan itu untuk kesekian kalinya.
Ia hafal.
Namun tetap saja...
Itu hanya tulisan.
Bukan pengalaman.
"Apakah Nyonya merasa kurang sehat?"
Suara sopir membuat Emma menoleh.
Pria tua itu menatapnya melalui kaca spion.
Emma baru teringat.
Sekarang ia bukan Emma.
Ia adalah...
Ella Alexander.
"Tidak. Aku baik-baik saja."
Jawabannya singkat.
Sopir mengangguk hormat.
"Perjalanan sekitar lima belas menit lagi."
Emma kembali menatap jendela.
Lima belas menit.
Artinya...
Lima belas menit lagi ia akan tinggal serumah dengan pria yang bahkan tidak dikenalnya.
Ia teringat percakapan terakhir bersama Ella sebelum berpisah.
"Ralph tidak jahat."
Emma mendengus pelan.
"Tidak jahat, tapi tidur di kamar terpisah dengan istrimu? Definisi baikmu rendah sekali, Ella."
------
Di belahan dunia lain...
Ella berdiri mematung di depan pintu sebuah penthouse mewah di Manhattan.
Gedung itu menjulang tinggi, dipenuhi kaca yang memantulkan langit New York.
Seorang petugas keamanan tersenyum ramah.
"Selamat datang kembali, Miss Taylor."
Ella membalas dengan senyum gugup.
"Terima kasih."
Pintu apartemen terbuka menggunakan kartu akses yang diberikan Emma.
Begitu melangkah masuk...
Ella langsung terdiam.
Apartemen itu begitu luas.
Didominasi warna hitam, abu-abu, dan putih.
Modern.
Minimalis.
Tidak ada hiasan berlebihan.
Semuanya tampak rapi...
Terlalu rapi.
Seolah pemiliknya hanya datang untuk tidur.
Tak ada foto keluarga.
Tak ada tanaman.
Tak ada barang-barang lucu yang menunjukkan kehangatan.
Hanya rak buku yang penuh dengan buku bisnis, strategi, ekonomi, dan psikologi.
Ella berjalan perlahan.
Di atas meja ruang tamu terdapat sebuah papan jadwal elektronik.
08.00 Meeting Direksi.
10.30 Presentasi Proyek Asia.
13.00 Makan siang bersama investor.
15.00 Evaluasi Divisi.
18.00 Terapi.
Ella mengernyit.
Terapi?
Ia membuka map kecil yang ditinggalkan Emma.
Di dalamnya terdapat beberapa dokumen.
Lalu...
Sebuah kartu janji temu.
Dr. Michael Foster
Anger Management Therapy
Ella menatap kartu itu cukup lama.
Dadanya terasa sesak.
Emma hanya berkata bahwa dirinya sulit mengendalikan emosi.
Namun ternyata...
Sudah sejauh ini.
Perlahan Ella terduduk di sofa.
Ia membayangkan saudari kembarnya menjalani semua itu sendirian.
Tak ada ibu.
Tak ada saudara.
Tak ada pasangan.
Hanya apartemen besar yang terasa sunyi.
Ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk.
Emma.
"Kau sudah sampai?"
Ella segera membalas.
"Sudah. Apartemenmu sangat indah."
Balasan datang kurang dari satu menit.
"Jangan tertipu penampilannya. Isinya cuma tempat tidur dan pekerjaan. Kau sudah lihat jadwalku?"
Ella tersenyum tipis.
"Sudah. Aku juga melihat jadwal terapimu."
Beberapa menit...
Tak ada balasan.
Baru kemudian layar kembali menyala.
"Kita bicarakan nanti. Fokus dulu menjalani peran kita."
Ella membaca pesan itu berulang kali.
Emma tidak ingin membahas terapinya.
Ia menghormati keputusan itu.
------
Mobil yang ditumpangi Emma akhirnya memperlambat laju.
Gerbang besi hitam perlahan terbuka.
Emma mengangkat wajah.
Matanya langsung membesar.
"Astaga..."
Di hadapannya berdiri sebuah mansion bergaya klasik Inggris yang megah, dikelilingi taman luas dengan air mancur di tengahnya.
Bangunan itu lebih menyerupai istana kecil daripada rumah tinggal.
Emma spontan bergumam pelan,
"Ella... kau benar-benar tinggal di tempat seperti ini?"
Ralph Alexander berdiri di ambang pintu utama mansion keluarga Alexander.
Setelan jas tiga potong berwarna abu-abu gelap membalut tubuh tegapnya dengan sempurna. Wajahnya tetap tenang seperti biasa, nyaris tanpa ekspresi.
Mobil Rolls-Royce hitam berhenti tepat di depan anak tangga.
Seorang sopir segera turun dan membukakan pintu belakang.
Wanita yang keluar lebih dulu membuat seluruh pelayan menahan napas.
Bukan karena mereka tidak mengenalnya.
Melainkan...
Karena penampilannya.
Rambut panjang bergelombang berwarna cokelat yang selama bertahun-tahun menjadi ciri khas Nyonya Alexander telah menghilang.
Kini rambut itu dipotong sebahu.
Lurus.
Berwarna pirang keemasan yang berkilau diterpa sinar matahari sore.
Tak hanya itu.
Mantel panjang berwarna putih gading yang dikenakannya dipadukan dengan sepatu hak tinggi hitam dan tas bermerek yang terlihat mencolok.
Jauh lebih modern.
Jauh lebih berani.
Jauh lebih... mencuri perhatian.
Beberapa pelayan saling berpandangan.
Bahkan kepala pelayan, Mr. Howard, tampak sedikit kehilangan kata-kata.
Emma menutup pintu mobil sendiri.
Ia melepas kacamata hitamnya dengan satu tangan.
Tatapannya langsung bertemu dengan Ralph.
Untuk sesaat...
Tak satu pun dari mereka berbicara.
Ralph memperhatikan wajah istrinya.
Lalu pandangannya perlahan beralih ke rambut pirang itu.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama...
Ada perubahan kecil pada ekspresinya.
Alisnya sedikit terangkat.
"Kau memotong rambutmu."
Emma mengangguk santai.
"Ya."
"Dan mewarnainya."
"Ya."
Jawaban singkat itu membuat suasana kembali sunyi.
Ralph kembali menatap rambut pirang istrinya beberapa detik.
"Perubahan yang cukup drastis."
Emma mengangkat bahu seolah hal itu bukan sesuatu yang perlu dibahas.
"Aku bosan."
"Bosan?"
"Memiliki penampilan yang sama selama bertahun-tahun juga melelahkan."
Jawaban itu terdengar begitu ringan.
Namun bagi seluruh penghuni rumah...
Itu terdengar asing.
Sangat asing.
Selama ini Ella selalu meminta pendapat Ralph bahkan untuk memilih gaun menghadiri jamuan makan.
Hari ini...
Ia mengubah seluruh penampilannya tanpa mengatakan apa pun.
Ralph tetap memasang wajah datar.
Meski begitu, dalam hatinya muncul pertanyaan kecil.
"Apa yang terjadi selama liburan itu?"
"Silakan masuk."
Emma mendahuluinya melangkah ke dalam mansion.
Begitu melewati pintu utama, matanya langsung menyapu seluruh ruangan.
Langit-langit tinggi.
Lampu kristal raksasa.
Tangga melengkung dengan ukiran klasik.
Dinding dipenuhi lukisan dan ornamen antik.
"Sial... rumah ini bahkan lebih besar daripada hotel tempatku menginap semalam."
Ia hampir bersiul kagum.
Untung saja berhasil menahannya.
Mr. Howard mendekat sambil sedikit menundukkan kepala.
"Selamat datang kembali, Nyonya."
Emma mengangguk.
"Terima kasih."
Pelayan itu kembali terdiam.
Biasanya...
Ella akan tersenyum hangat.
Menanyakan kabarnya.
Bahkan mengucapkan terima kasih lebih dari sekali.
Hari ini hanya dua kata.
Singkat.
Tegas.
Emma sama sekali tidak menyadari bahwa semua orang sedang memperhatikannya.
Ia justru sibuk mengingat pesan Ella.
"Jangan panik. Jangan terlihat kebingungan."
Seorang pelayan wanita datang menghampiri.
"Nyonya, koper Anda akan kami letakkan di kamar."
Emma menyerahkan koper itu begitu saja.
"Silakan."
"Baik, Nyonya."
Pelayan itu pergi dengan langkah cepat.
Namun sebelum benar-benar menghilang, ia sempat melirik rekan-rekannya dengan wajah bingung.
Nyonya mereka...
Berubah.
Dan perubahan itu terasa terlalu besar hanya dalam waktu satu minggu.
Sementara itu Ralph masih berdiri beberapa langkah di belakang Emma.
Tatapannya mengikuti setiap gerakan wanita itu.
Cara berjalan.
Cara berdiri.
Bahkan cara mengamati ruangan.
Semuanya...
Berbeda.
Namun ia tidak mengatakan apa pun.
Sebagai seorang bangsawan, Ralph terbiasa mengamati lebih dulu sebelum mengambil kesimpulan.
Emma akhirnya menoleh.
"Apa?"
Ralph menggeleng pelan.
"Tidak ada."
"Kalau begitu jangan menatapku seperti sedang menginterogasi."
Kalimat itu keluar begitu saja.
Spontan.
Beberapa pelayan langsung menegang.
Mr. Howard bahkan menahan napas.
Ella..
Tidak pernah berbicara seperti itu kepada suaminya.
Ralph sendiri tampak sedikit terdiam.
Tatapannya tetap tenang.
Namun kini rasa penasarannya semakin besar.
"Aku hanya memastikan perjalananmu tidak terlalu melelahkan."
Emma baru menyadari ucapannya terdengar terlalu tajam.
Ia segera mengingat pesan Ella.
"Ralph bukan musuhmu."
Emma berdeham pelan.
"Maaf."
Satu kata itu terdengar canggung.
Ralph mengangguk singkat.
"Tidak masalah."
Lalu ia berbalik.
"Makan malam dimulai pukul tujuh."
Tanpa menunggu jawaban, pria itu berjalan menuju ruang kerjanya dengan langkah tenang.
Emma memperhatikan punggungnya hingga menghilang di balik lorong.
Lalu tanpa sadar bergumam pelan,
"Pria itu memang sedingin kulkas."
Untungnya...
Tak seorang pun mendengar kalimat terakhirnya.
mulai ngikuti sepertinya menarik