NovelToon NovelToon
Love Story: Menemukan Cinta Sejati

Love Story: Menemukan Cinta Sejati

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / CEO
Popularitas:402
Nilai: 5
Nama Author: Irma Nirmala

kisah seorang wanita yang berusaha melupakan mantannya yang mengkhianati kepercayaan.

diperjalanan menemukan jati diri dan kehidupan baru

sebuah kisah cinta yang manis namun penuh komedi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma Nirmala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25

...****************...

Malam di mansion keluarga Andreas masih diselimuti keheningan.

Tidak ada seorang pun yang langsung berbicara setelah Antonio menyampaikan usulannya.

Arseno menyandarkan tubuh di sofa sambil memejamkan mata beberapa detik.

Sedangkan Evelyn memandangi cangkir teh di hadapannya seolah berharap akan menemukan jawaban di dalamnya.

Akhirnya...

Arseno membuka suara lebih dulu.

"Ayah."

"Hm?"

"Kalau kami menerima usulan ini..."

"...berapa lama sandiwara ini harus berlangsung?"

Antonio menjawab tanpa ragu.

"Sampai kita menemukan siapa dalang di balik semua fitnah ini."

"Kalau enam bulan?"

"Jalani enam bulan."

"Kalau satu tahun?"

Antonio mengangguk.

"Kalau memang diperlukan."

Evelyn langsung membelalakkan mata.

"Satu tahun?"

Antonio tersenyum tipis.

"Itu hanya kemungkinan."

Evelyn memijat pelipisnya.

"Nenek..."

Renata menatap cucunya.

"Ya?"

"Tolong selamatkan aku."

Renata justru tersenyum kecil.

"Nenek tidak bisa."

"Evelyn..."

"Ini menyangkut nama baik keluarga Hills."

Evelyn mengembuskan napas panjang.

Antonio kemudian meletakkan sebuah map di atas meja.

"Ini bukan pertunangan sungguhan."

"Ini sebuah kesepakatan."

Arseno membuka map tersebut.

Di halaman pertama tertulis besar.

Perjanjian Kerja Sama Strategis.

Evelyn mengernyit.

"Kenapa bentuknya seperti kontrak bisnis?"

Antonio tersenyum.

"Karena kalian berdua lebih mudah memahami kontrak daripada perasaan."

Naomi spontan menundukkan kepala agar tidak tertawa.

Sedangkan Kosta sampai batuk kecil.

Arseno menghela napas.

"Ayah..."

"Apa?"

"Itu terdengar menyindir."

"Ayah memang sedang menyindir."

Antonio mulai menjelaskan.

"Selama masa pertunangan ini..."

"Kalian tetap menjalankan kehidupan masing-masing."

"Tidak tinggal bersama."

"Tidak ada kewajiban di luar acara keluarga atau urusan perusahaan."

"Kalian hanya akan tampil bersama ketika memang diperlukan."

Evelyn mengangguk pelan.

"Itu masih masuk akal."

Antonio melanjutkan.

"Dan yang paling penting..."

"Kalian tidak boleh saling menjatuhkan di depan publik."

Evelyn langsung menoleh ke arah Arseno.

"Itu sulit."

"Lho?"

"Dia hobinya menyindir."

Arseno langsung membalas.

"Yang lebih sering mulai itu siapa?"

"Aku hanya membela diri."

"Kau menyebutku pria mesum selama berbulan-bulan."

"Itu sudah berhenti."

"Diganti pria menyebalkan."

Ruangan kembali dipenuhi tawa.

Naomi kemudian mengangkat tangan.

"Maaf, saya ingin bertanya."

Antonio mengangguk.

"Silakan."

"Kalau nanti media bertanya bagaimana awal hubungan mereka..."

Antonio berpikir sejenak.

"Lalu?"

Naomi tersenyum canggung.

"Kita tidak mungkin menjawab..."

'Awalnya karena tendangan di parkiran restoran.'

Evelyn langsung menutup wajahnya.

"Ya Tuhan..."

Kosta tak mampu lagi menahan tawa.

Arseno sampai menggeleng sambil tertawa kecil.

"Itu memang awal pertemuan kami."

Antonio bahkan ikut tertawa.

"Kalau cerita itu keluar..."

"...wartawan pasti lebih heboh lagi."

Renata kemudian ikut memberi pendapat.

"Menurutku..."

"Kalian perlu membuat beberapa aturan sendiri."

Evelyn langsung mengangguk.

"Setuju."

Ia mengambil sebuah buku catatan.

"Baik."

"Peraturan nomor satu."

Ia menulis cepat.

"Tidak saling mengganggu jam kerja."

Arseno mengangguk.

"Setuju."

"Nomor dua."

"Tidak menelepon tengah malam."

"Setuju."

"Nomor tiga."

"Tidak boleh ikut campur urusan pribadi."

"Setuju."

"Nomor empat."

Evelyn menatap Arseno.

"Kalau makan di restoran..."

"...jangan mengomentari jumlah makananku."

Ruangan langsung hening.

Arseno menghela napas panjang.

"Lagi?"

"Itu penting."

"Bagi siapa?"

"Bagiku."

"Baik."

Arseno akhirnya mengangguk.

"Tapi kau juga harus menerima satu aturan dariku."

"Apa?"

"Kalau kau memesan terlalu banyak..."

"...kau wajib menghabiskannya."

Evelyn tersenyum lebar.

"Itu malah menguntungkan."

Naomi berbisik kepada Kosta.

"Nona memang tidak pernah kalah soal makanan."

Kosta mengangguk.

"Pak Arseno juga sepertinya sudah menyerah."

Setelah suasana kembali tenang...

Antonio berkata dengan nada serius.

"Mulai besok."

"Kita akan mengadakan konferensi pers."

Evelyn langsung terdiam.

"Besok?"

Antonio mengangguk.

"Semakin lama kita diam..."

"...semakin liar spekulasi mereka."

Arseno menatap ayahnya.

"Bagaimana isi pernyataannya?"

"Kalian hanya akan mengatakan bahwa hubungan kalian sedang menuju tahap yang lebih serius."

Evelyn langsung menyela.

"Pak Antonio..."

"Itu membuat orang mengira kami benar-benar bertunangan."

Antonio tersenyum tipis.

"Itulah tujuannya."

Evelyn memejamkan mata.

"Aku mulai pusing."

Setelah pembahasan selesai...

Naomi dan Kosta keluar lebih dulu membawa dokumen.

Di lorong mansion...

Naomi berbisik pelan.

"Pak Kosta."

"Ya?"

"Menurut Bapak..."

"Mereka bisa menjalankan sandiwara ini?"

Kosta berpikir beberapa detik.

"Kalau soal bisnis..."

"Saya yakin."

"Kalau soal akting..."

Ia menoleh ke arah pintu ruang keluarga.

"...semoga mereka tidak bertengkar di depan wartawan."

Naomi tertawa kecil.

"Itu juga yang saya khawatirkan."

Di dalam ruang keluarga...

Evelyn dan Arseno kini berdiri berhadapan.

"Evelyn."

"Hm?"

"Kalau nanti ada wartawan..."

"Tolong jangan memukulku lagi."

Evelyn langsung tertawa.

"Aku tidak pernah memukulmu."

"Kau menendang."

"Itu refleks."

"Semoga refleksmu sudah membaik."

Evelyn menyeringai.

"Itu tergantung tingkah lakumu."

Arseno menggeleng pelan.

"Aku sudah bisa membayangkan masa-masa sulit ke depan."

Evelyn tersenyum jahil.

"Aku juga."

Meski saling menyindir, keduanya mulai menyadari satu hal.

Mulai hari esok...

Mereka bukan hanya rekan bisnis.

Di depan dunia...

Mereka harus memainkan peran sebagai sepasang tunangan.

Di tempat lain...

Victor Lau sedang membaca laporan terbaru.

"Sesuai dugaan."

"Mereka mulai berkumpul dengan keluarga."

Anak buahnya bertanya,

"Apakah kita lanjutkan tahap berikutnya?"

Victor tersenyum tipis.

"Tentu."

"Tapi kali ini..."

"Aku ingin melihat seberapa lama mereka mampu mempertahankan sandiwara itu."

Ia mematikan layar tabletnya.

Tanpa ia sadari...

Rencana yang ia susun untuk menghancurkan Evelyn dan Arseno perlahan berubah menjadi sesuatu yang sama sekali berada di luar perhitungannya.

Dan bagi Evelyn maupun Arseno...

Permainan baru saja dimulai.

...****************...

1
Nanda Sa
oke 👍❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!