NovelToon NovelToon
Kontrak Hamil Anak Bos

Kontrak Hamil Anak Bos

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Sinopsis

Sarah Lestari, seorang personal assistant, menerima tawaran kontrak untuk mengandung anak bosnya, Samudra Grayson, CEO muda pemilik berbagai perusahaan di Eropa. Awalnya hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan, tetapi seiring waktu benih cinta tumbuh di antara keduanya. Saat kontrak berakhir, mereka harus memilih antara menepati perjanjian atau memperjuangkan cinta yang tak pernah direncanakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: Malam yang Canggung

Samudra Grayson belum pernah menyetir mobilnya sendiri secepat ini dalam hidupnya. Biasanya, ia selalu duduk di kursi belakang, membiarkan Felix atau sopir pribadinya yang mengemudi. Tapi malam ini, begitu ia membaca pesan Sarah dari klinik, ia langsung meminta Felix mengirimkan alamat apartemen Sarah dan mengambil alih kemudi mobil sport hitamnya.

Rapat di Roma yang sedianya berlangsung hingga malam ia pangkas habis. Ada sesuatu yang mendorongnya untuk segera berada di sisi Sarah. Ia tidak mau mengakui, bahkan pada dirinya sendiri, bahwa perasaan itu bukan hanya tentang kontrak.

Perjalanan dari Roma ke Milan memakan waktu sekitar tiga jam. Di tengah perjalanan, ia mampir di sebuah trattoria tepi jalan yang terkenal dengan hidangan sehatnya. Ia memesan beberapa bungkus makanan: sup minestrone kaya sayuran, pollo al limone (ayam lemon) yang dipanggang tanpa minyak, serta seporsi salad dengan ricotta dan buah ara. Ia juga membeli sekantong anggur merah Italia dan beberapa jenis buah-buahan segar.

Saat mobilnya melaju memasuki kawasan apartemen mewah di pusat Milan, jam di dasbor menunjukkan pukul 20.30. Samudra memarkir mobil di area parkir bawah tanah, lalu berjalan cepat menuju lift. Ia menekan tombol lantai 12. Di dalam lift, ia merapikan kerah kemejanya dan menghela napas. Untuk pertama kalinya, ia merasa gugup.

Sementara itu, di dalam apartemennya, Sarah baru saja selesai mandi. Semenjak pulang dari klinik, ia tidak bisa berhenti tersenyum. Ia menatap bayangannya di cermin kamar mandi, tangannya masih menempel di perut yang rata.

"Aku hamil," bisiknya pelan, masih tidak percaya.

Ia melangkah keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit rambut panjangnya yang masih basah. Ia hanya mengenakan sleeping dress tipis berwarna krem, tanpa bra, karena memang sudah jadi kebiasaannya di rumah. Rambutnya yang basah meneteskan air di bahunya, membuat kain tipis itu sedikit menempel pada tubuhnya.

Sarah berjalan ke ruang tamu, berniat mencari hair dryer untuk mengeringkan rambutnya. Ia tidak menyangka akan ada tamu malam ini, apalagi tamu spesial. Saat ia melewati dapur untuk mengambil segelas air, tiba-tiba bel pintu apartemennya berbunyi.

Ding-dong.

Sarah mengerutkan kening. "Felix, ya? Tumben dia malam-malam begini datang, mungkin mau kasih kabar tentang Bos yang masih di Roma," pikirnya.

Ia berjalan ke pintu tanpa berpikir panjang, menarik gagang pintu, dan membukanya.

"Felix, kamu kok—"

Kalimat Sarah langsung terpotong. Matanya membulat sempurna. Di depan pintu, berdiri Samudra Grayson dengan kemeja putih lengan panjang yang digulung hingga siku, membawa beberapa kantong kertas berisi makanan dan sekantong buah. Wajahnya datar seperti biasa, tapi ada sedikit kerutan di alisnya yang menunjukkan bahwa ia sedang menahan sesuatu.

"Pak... Bos?" Sarah terbata-bata, tubuhnya membeku di ambang pintu.

Samudra menatap Sarah dari ujung kepala hingga ujung kaki. Matanya menangkap rambut Sarah yang basah, meneteskan air ke bahu mulus yang hanya ditutupi kain tipis berwarna krem. Ia bisa melihat siluet tubuh Sarah di balik kain yang sedikit basah itu. Tanpa sadar, otot rahang Samudra menegang. Ia mengalihkan pandangannya dengan cepat, menatap langit-langit lorong apartemen.

"Aku... bawa makanan malam. Felix bilang kamu belum makan," ujar Samudra, suaranya terdengar sedikit serak.

Sarah baru saja menyadari sesuatu. Astaga. Aku nggak pakai bra, dan bajuku tipis banget!

Wajah Sarah langsung memerah padam. Ia panik, melangkah mundur ke dalam apartemen. "M-Maaf, Pak. Silakan masuk dulu, saya... saya mau ganti baju dulu!"

Sarah berbalik dan berlari kecil menuju kamarnya, meninggalkan Samudra yang masih berdiri di depan pintu. Samudra menghela napas panjang, menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri, lalu melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya.

Ia meletakkan kantong-kantong makanan di atas meja makan. Matanya mengitari apartemen Sarah. Tempat itu tidak terlalu besar, tapi tertata rapi dengan sentuhan feminin. Ada beberapa pot tanaman hias di sudut ruangan, dan di sofa ada selimut berbulu tebal berwarna pastel. Samudra duduk di kursi makan, mencoba menenangkan detak jantungnya yang tiba-tiba berdebar tidak karuan.

"Otakku kok bisa ngaco begini," gumamnya dalam hati. "Dia hanya asistenku. Dan ini hanya kontrak."

Sekitar lima menit kemudian, pintu kamar Sarah terbuka. Sarah keluar dengan pakaian yang sudah diganti: celana panjang berbahan katun tebal dan kemeja kaos berwarna putih yang sopan. Rambutnya masih setengah basah, tapi ia sudah mengeringkannya dengan handuk. Wajahnya masih merah, namun ia mencoba tersenyum canggung.

"Maaf, Pak, tadi saya kaget," ucap Sarah, duduk di kursi di seberang Samudra.

"Tidak apa-apa," jawab Samudra datar, menyingkirkan pandangannya. "Sebaiknya kamu segera mengeringkan rambutmu. Kamu baru saja selesai prosedur. Kalau kedinginan, bisa sakit."

Sarah mengangguk pelan. "Iya, Pak. Nanti saya keringkan."

Samudra membuka salah satu kantong makanan dan mengeluarkan beberapa kotak takeaway. "Aku membeli sup sayur, ayam panggang, dan salad buah. Kamu harus makan yang bergizi, terutama di awal kehamilan ini."

Sarah menatap makanan di atas meja. Ada sesuatu yang mengharukan di hati kecilnya. Samudra Grayson, yang biasa disibukkan dengan transaksi milyaran euro, kini membawakan makanan malam untuknya. Padahal ia baru saja pulang rapat dari Roma.

"Terima kasih, Pak. Bapak benar-benar baik," ucap Sarah pelan.

Samudra menatapnya. "Ini tanggung jawabku. Aku yang memintamu untuk ini. Jadi aku harus menjagamu."

Ada jeda. Sarah membuka kotak sup dan mulai menyeruputnya perlahan. Supnya hangat dan menenangkan perutnya yang terasa sedikit mual. Samudra hanya diam, memperhatikannya.

Saat Sarah mengambil sepotong ayam, ia menatap Samudra. "Pak, Bapak sudah makan? Atau Bapak juga mau?"

Samudra menggeleng. "Aku sudah makan sebelumnya."

"Tapi Bapak kan belum pulang ke apartemen Bapak. Ini perjalanan tiga jam dari Roma," Sarah membalas. "Bapak pasti capek. Makanlah sedikit."

Samudra ragu. Tapi melihat tatapan Sarah yang tulus, ia akhirnya mengambil garpu dan mencicipi sepotong ayam. Suasana makan malam itu terasa canggung, tapi juga hangat. Keduanya sesekali saling menatap, lalu buru-buru mengalihkan pandangan.

Setelah beberapa saat, Sarah menghabiskan makanannya. Ia mengeringkan rambutnya dengan hair dryer, lalu kembali duduk. Rasa mengantuk mulai menyerangnya karena efek kehamilan muda. Matanya mulai sayu.

Samudra melihat itu. "Kamu sudah mengantuk. Istirahat saja. Aku akan... pulang sekarang."

Samudra berdiri dan mengambil jaketnya. Sarah juga berdiri, mengantarnya ke pintu. Saat Samudra melewati pintu, ia berhenti sejenak dan menatap Sarah.

"Besok pagi, Felix akan mengantar makanan sarapan. Jangan lupa makan," pesannya.

"Baik, Pak. Terima kasih atas makan malamnya," jawab Sarah.

Samudra tersenyum tipis. Sebelum ia melangkah pergi, matanya menangkap bercak kecil di kerah kemejanya. Ternyata tadi saat ia memotong ayam, saus lemon itu menciprat. Ia mengerutkan kening.

Sarah melihat itu. "Pak, baju Bapak kena saus."

"Ah, iya. Biar saja, nanti dicuci," jawab Samudra cuek.

Sarah mengambil selembar tisu basah dari dapur dan mendekati Samudra. "Saya bersihkan sebentar, Pak. Nanti susah hilang kalau sudah kering."

Sarah mengangkat tangannya dan mulai mengusap kerah kemeja Samudra dengan lembut. Gerakannya pelan dan teliti. Samudra membeku. Jarak mereka sangat dekat. Ia bisa mencium aroma sabun mandi yang segar dari rambut Sarah, dan juga aroma lemon dari tisu basah itu.

Perasaannya bergejolak. Hatinya berteriak untuk meraih tangan Sarah, tapi logikanya menahan.

Sarah menyelesaikan usapannya dan mundur selangkah. "Sudah bersih, Pak."

Samudra menatapnya dalam. "Terima kasih, Sarah. Selamat malam."

"Selamat malam, Pak."

Samudra melangkah pergi, berjalan menuju lift. Saat pintu lift tertutup, ia menatap langit-langit lift dan menghela napas panjang.

"Kau dalam masalah besar, Samudra," bisiknya dalam hati.

Dan Sarah, di balik pintu apartemennya, bersandar pada pintu dan menutup matanya. Ia memegang perutnya.

"Aku tidak seharusnya merasakan ini. Tapi... kenapa rasanya begitu sulit untuk berpaling?"

Di balik kontrak, di balik perjanjian, ada getaran yang tidak tertulis. Dan malam itu, di apartemen kecil di Milan, dua orang yang saling mengaku hanya terikat kertas, mulai merasakan ada tali yang lebih kuat yang mulai melilit hati mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!