Demi membalas budi kepada orang tua angkat yang membesarkannya, Eros Forger, CEO muda sukses, rela menerima perjodohan meski sudah memiliki kekasih yang dicintainya, Lura.
Ternyata, calon istrinya adalah Zenaya Harper, supermodel internasional yang cantik, mempesona, dan berhati tulus.
Awalnya Eros berusaha setia pada Lura, tetapi kebersamaannya dengan Zenaya perlahan menggoyahkan hatinya. Akankah ia tetap bertahan pada cinta pertamanya, atau justru jatuh cinta pada wanita yang semula tak pernah ia inginkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lalalicious, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JANJI DI MASA KECIL
BAB 3
Eros duduk terdiam di kursi ruang kerjanya. Tatapannya kosong menembus dinding kaca yang memperlihatkan gemerlap Kota Brussels.
Perlahan ia membuka laci meja kerjanya, lalu mengambil sebuah kotak kayu kecil yang selalu ia simpan dengan hati-hati.
Di dalam kotak itu tersimpan sebuah jepit pita berwarna lembut yang mulai memudar dimakan waktu.
Benda sederhana itu adalah harta paling berharga yang tak pernah ia tinggalkan. Dengan lembut jemarinya mengusap permukaan jepit pita tersebut hingga tanpa sadar bibirnya membentuk senyum tipis.
Kenangan belasan tahun lalu kembali memenuhi benaknya.
Flashback On
Beberapa bulan setelah kecelakaan pesawat yang merenggut kedua orang tuanya, Eros kecil tinggal di sebuah panti asuhan di Sydney.
Mansion keluarganya telah disita karena perusahaan sang ayah terlilit utang. Tidak ada lagi tempat yang bisa ia sebut rumah. Seorang pelayan keluarga akhirnya mengantarkannya ke panti itu.
Hari itu, seorang anak laki-laki berusia lima tahun berdiri di halaman sambil memperhatikan sepasang suami istri yang baru datang. Wajah mereka tampak asing baginya.
"Eros, sini, Nak,"
Panggil seorang wanita cantik berpakaian elegan sambil tersenyum hangat.
Eros mengernyit bingung. Bagaimana mungkin wanita itu mengetahui namanya, padahal mereka belum pernah bertemu?
Tatapannya beralih kepada Kartika, pengurus panti yang selama ini merawatnya.
"Ayo, berikan salam kepada mereka," ujar Kartika lembut.
Dengan sedikit ragu, Eros melangkah mendekat lalu mencium tangan keduanya.
"Ya ampun... ternyata kau sudah sebesar ini. Terakhir kali aku melihatmu, kau masih bayi," ucap wanita itu sambil mengusap pipi Eros penuh kasih.
"Ibu... mereka siapa?" tanya Eros kepada Kartika.
Kartika tersenyum.
"Lebih baik kita berbicara di dalam."
Mereka pun memasuki ruang tamu panti dan duduk berhadapan.
"Perkenalkan, aku Alice," ujar wanita itu ramah.
"Dan ini suamiku, Erwin. Kami adalah sahabat
kedua orang tuamu dari Brussels."
"Sahabat Mama dan Papa?" tanya Eros terkejut.
Alice mengangguk pelan.
"Benar, Sayang."
"Kami datang untuk menjemputmu," sambung Erwin dengan senyum hangat.
"Menjemputku?" Eros memandang bingung.
"Ke mana? Aku sudah tidak punya rumah. Rumahku sekarang menjadi milik orang lain karena utang perusahaan Papa. Bahkan Paman Harja dan Bibi Elin membuangku ke panti ini beberapa bulan yang lalu."
Mendengar ucapan itu, hati Erwin terasa sesak.
Anak sekecil ini sudah memahami kenyataan hidup seberat ini... Sikapnya benar-benar mirip Dario (Ayah Kandung Eros) . Tenang dan dewasa.
Alice memberi isyarat kepada Kartika.
"Ibu Kartika, sebaiknya Ibu yang menjelaskan."
Kartika mengusap kepala Eros dengan lembut.
"Nak, mulai hari ini kamu tidak akan tinggal di panti lagi. Tuan Erwin dan Nyonya Alice ingin membawamu pulang. Mereka ingin merawatmu, menyayangimu, dan membesarkanmu seperti anak kandung mereka sendiri."
"Maksudnya?" tanya Eros pelan.
"Kami ingin kau menjadi putra kami satu-satunya," ucap Alice dengan mata berkaca-kaca. "Kami akan memberikan kasih sayang yang selama ini hilang darimu."
"Kelak kami juga akan menyekolahkanmu sampai setinggi mungkin. Memangnya cita-citamu ingin menjadi apa?"
Eros memiringkan kepala.
"Cita-cita itu apa?"
Erwin tertawa kecil.
Ia baru sadar bahwa anak itu masih berusia lima tahun.
"Cita-cita adalah impianmu saat sudah dewasa nanti. Misalnya menjadi dokter, pilot, pengusaha..."
"Aku ingin menjadi miliarder!" seru Eros dengan mata berbinar.
Semua orang tertawa geli.
"Kau tahu arti miliarder?" tanya Alice.
Eros mengangguk mantap.
"Orang yang punya uang banyak dan uangnya tidak pernah habis."
Alice tertawa gemas.
"Anak pintar."
Erwin kemudian berkata dengan penuh keyakinan.
"Aku akan memastikan impianmu itu terwujud. Tapi ada satu syarat."
"Apa itu?"
"Kau harus ikut kami tinggal di Brussels."
Eros terdiam cukup lama. Wajah mungilnya tampak berpikir serius hingga membuat ketiga orang dewasa di hadapannya ikut menunggu dengan gugup.
Akhirnya ia mengangguk pelan.
"Baik... aku mau ikut."
Alice langsung memeluknya erat.
"Mulai sekarang panggil kami Mommy dan Daddy. Karena mulai hari ini, kau adalah anak kami."
Eros tersenyum malu.
"Baik... M-Mommy..."
Kartika ikut tersenyum bahagia. Akhirnya ada seseorang yang benar-benar tulus ingin memberikan keluarga baru untuk Eros.
Namun tanpa mereka sadari, di balik pintu ruangan, seorang gadis kecil berkuncir dua sedang menangis diam-diam.
Air matanya mengalir tanpa henti.
"Brussels itu di mana...?" gumamnya lirih. "Aku tidak tahu..."
Ia berlari menuju taman belakang panti lalu duduk di atas ayunan sambil memeluk boneka kesayangannya.
Beberapa saat kemudian, Eros telah berpamitan kepada seluruh penghuni panti. Namun ia menyadari satu orang belum terlihat.
"Di mana Lura?" tanyanya.
"Sejak tadi dia menangis di taman belakang," jawab salah seorang temannya.
Eros segera berlari ke sana.
Di bawah rindangnya pepohonan, Lura duduk di atas ayunan dengan kepala tertunduk.
"Kau kenapa?" tanya Eros lembut.
Lura terkejut. Ia buru-buru menghapus air matanya.
"Kau akan pergi meninggalkan panti ini, kan?"
"Iya. Aku berangkat hari ini."
Lura berusaha tersenyum meski matanya masih sembab.
"Selamat... sekarang kau punya orang tua baru. Semoga mereka memberikan kasih sayang dan kebahagiaan untukmu."
"Terima kasih, Lura. Jujur saja... aku juga berat meninggalkan panti ini. Terutama meninggalkanmu."
Lura menggeleng pelan.
"Aku tidak apa-apa. Kau harus baik-baik di sana."
Lalu gadis kecil itu mengulurkan jari kelingkingnya.
"Berjanjilah... jangan pernah melupakanku."
Eros tersenyum dan mengaitkan jari kelingkingnya.
"Aku berjanji. Aku tidak akan pernah melupakanmu."
Mereka saling tersenyum.
"Oh iya," tanya Lura polos, "Brussels itu di mana?"
"Yang aku tahu... tempat itu sangat jauh. Harus naik pesawat."
Eros memandang gadis kecil yang selama ini selalu menemaninya bermain.
Tiba-tiba Lura melepas jepit pita dari rambutnya.
"Ini untukmu."
Eros menatap benda kecil itu.
"Bawalah. Supaya kau selalu mengingatku."
Dengan hati-hati Eros menerimanya.
"Aku akan menjaganya."
Ia menggenggam jepit pita itu erat.
"Aku harus pergi sekarang. Orang tua baruku sudah menunggu."
"Jaga dirimu baik-baik ya, Eros."
"Kau juga, Lura."
Tak lama kemudian, mobil sport hitam membawa Eros meninggalkan panti.
Dari balik kaca mobil, ia melambaikan tangan kepada seluruh penghuni panti, sementara Lura terus berdiri memandang hingga mobil itu menghilang di kejauhan.
Flashback Off
Eros tersadar dari lamunannya. Jepit pita itu masih berada dalam genggamannya.
Bertahun-tahun telah berlalu.
Takdir kembali mempertemukan mereka.
Eros berhasil menemukan Lura yang kini telah tumbuh menjadi gadis cantik dengan kepribadian lembut dan sederhana.
Sejak pertemuan itu, benih-benih cinta yang dulu hanya berupa persahabatan kecil akhirnya berkembang menjadi sebuah hubungan yang begitu dalam.
Meski dipisahkan jarak karena Lura harus melanjutkan kuliah di Sydney, perasaan Eros tak pernah berubah.
Dan jepit pita yang selalu ia simpan itu menjadi saksi bahwa hingga hari ini, Eros tidak pernah sekalipun melupakan Lura.
Namun, takdir kembali mempermainkan mereka. Kebahagiaan yang baru saja mereka temukan harus terancam oleh sebuah perjodohan yang telah ditetapkan keluarga Forger.
Berat bagi Eros menerima kenyataan itu, tetapi ia merasa tidak memiliki pilihan.
Baginya, Erwin dan Alice Forger bukan sekadar orang tua angkat, melainkan orang tua yang telah memberinya kasih sayang, keluarga, dan kehidupan baru.
Karena itulah, ia tidak sanggup menolak keinginan mereka, meski keputusan tersebut mengharuskannya mengorbankan cinta yang selama ini ia jaga bersama Lura