NovelToon NovelToon
Jalan Dao Pendekar Mata Duitan

Jalan Dao Pendekar Mata Duitan

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: momon Joy

Di Benua Tianyu, kekuatan adalah segalanya.

Para kultivator menghabiskan seluruh hidup mereka untuk bermeditasi, berburu harta surgawi, dan mengejar puncak Dao.

Keluarga-keluarga besar berlomba melahirkan jenius.
Sekte-sekte kuat mencari murid berbakat.

Namun di tengah dunia yang memuja kekuatan itu, lahirlah seorang anak yang cukup aneh.

Namanya Feng Bai hu
Anak bungsu dari empat bersaudara keluarga Fang, keluarga kalangan menengah ,
Ketiga kakaknya dikenal sebagai jenius yang rajin berkultivasi dan menjadi kebanggaan keluarga.

Sedangkan Feng Bai hu terkenal karena satu hal:

Malas.
Ia sering kabur dari sesi latihan.
Tidur saat kelas kultivasi.
Menghilang ketika guru mengajarkan teknik baru.
Bahkan pelayan keluarga lebih sering melihatnya di pasar daripada di ruang latihan.

Namun yang membuat semua orang kesal adalah kenyataan bahwa meskipun malas, kultivasinya selalu mampu menyamai bahkan melampaui para jenius seusianya.
ayo ,, ikuti keseuan ceritanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon momon Joy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 Langkah Kecil

Cahaya pagi masuk perlahan melalui celah jendela kamar Feng Bai Hu.

Tidak terlalu terang, tidak pula redup. Hanya cukup untuk menerangi debu-debu halus yang melayang di udara, bergerak pelan mengikuti embusan angin dari halaman luar. Suara burung terdengar dari atas pohon plum tua di sudut kediaman, bercampur dengan suara sapu para pelayan yang mulai membersihkan halaman sejak fajar.

Di dalam kamar yang biasanya masih sunyi hari ini suasananya sedikit berbeda.

Feng Bai Hu duduk bersila di atas ranjang kayunya.

Matanya terpejam. Kedua tangannya membentuk segel sederhana di depan perut. Napasnya keluar masuk dengan ritme perlahan, tidak tergesa-gesa, mengikuti teknik pernapasan dasar milik Keluarga Feng.

Bagi anak-anak lain yang sejak kecil dididik untuk mengejar kekuatan, duduk bersila seperti ini adalah hal biasa. Bahkan ada yang bangun sebelum matahari terbit untuk menyerap energi spiritual pertama di pagi hari. Namun bagi Bai Hu, duduk diam tanpa menghitung uang, tanpa melihat harga barang, dan tanpa memikirkan peluang dagang adalah sesuatu yang nyaris terasa seperti hukuman.

Tetapi hari ini ia melakukannya.

Bukan karena tercerahkan oleh Dao.

Bukan pula karena ingin menjadi pahlawan besar yang namanya mengguncang langit.

Alasannya jauh lebih sederhana.

Dan jauh lebih menakutkan baginya.

Ancaman ayahnya masih terbayang jelas di telinganya. Jika dalam empat bulan kultivasinya tidak menunjukkan perkembangan, jatah bulanannya akan dipotong. Bukan hanya dipotong sedikit, tetapi dipangkas lebih dari setengahnya.

Empat batu roh tingkat rendah setiap bulan.

Empat puluh koin emas.

Dua Pil Penguat Tubuh.

Semua itu adalah sumber daya yang sangat penting. Bagi orang lain, mungkin itu hanya fasilitas keluarga untuk mendukung kultivasi seorang tuan muda. Namun bagi Bai Hu, itu adalah modal, peluang, keamanan, dan masa depan.

Ia tidak bisa membiarkan masa depannya dipotong begitu saja.

Energi spiritual perlahan berkumpul di sekitar tubuhnya. Mula-mula hanya seperti kabut tipis yang nyaris tidak terlihat, kemudian semakin lama semakin padat. Aliran itu memasuki tubuh Bai Hu melalui pori-porinya, bergerak melewati meridian, lalu turun menuju dantiannya.

Jika Zhen Hai atau para tetua keluarga berada di kamar itu, mereka mungkin akan terkejut.

Sebab kecepatan penyerapan energi Bai Hu sangat stabil. Tidak meledak-ledak, tetapi jernih dan bersih. Seolah-olah energi spiritual di sekitarnya memang sejak awal bersedia mendekat kepadanya. Tidak ada hambatan besar. Tidak ada penolakan. Bahkan teknik dasar yang biasa-biasa saja tampak menghasilkan efek jauh lebih baik di tubuhnya dibandingkan murid biasa.

Inilah Akar Spiritual Surgawi.

Bakat yang membuat seluruh keluarga Feng terkejut.

Bakat yang seharusnya membuat pemiliknya berbangga diri.

Sayangnya, pemilik bakat itu hanya peduli pada uang,, bahkan saat ini saat sedang berkultivasi ,, ia bahkan sibuk menghitung di dalam kepalanya.

Jika aku berkultivasi dua jam setiap pagi, berarti waktu ke pasar berkurang dua jam. Tapi kalau tidak berkultivasi, uang bulanan dipotong. Kerugian karena kehilangan uang bulanan jelas lebih besar daripada keuntungan pasar selama dua jam. Jadi, dua jam kultivasi masih masuk akal.

Alis Bai Hu sedikit berkerut.

Namun kalau lebih dari dua jam, itu mulai tidak efisien. Kecuali kalau kultivasiku naik lebih cepat dan ayah memberiku tambahan hadiah. Hm... apakah mungkin meminta bonus peningkatan alam?

Pikiran itu membuat sudut bibirnya sedikit terangkat.

Napasnya hampir kacau karena ia nyaris tertawa sendiri, tetapi Bai Hu cepat-cepat menenangkan diri. Ia tidak boleh gagal hanya karena memikirkan bonus. Kalau ayahnya tiba-tiba memeriksa dan mengetahui ia bermain-main, akibatnya bisa sangat buruk.

Energi spiritual terus berputar.

Satu putaran.

Dua putaran.

Tiga putaran.

Perlahan, rasa hangat muncul di perut bagian bawahnya. Dantian Bai Hu yang sebelumnya terasa kosong mulai terisi aliran energi lembut. Tidak banyak, tetapi cukup untuk membuat tubuhnya terasa lebih ringan. Rasa pegal akibat perjalanan ke Pegunungan Seribu Binatang beberapa hari lalu pun perlahan berkurang.

Bai Hu merasakan perubahan itu.

Awalnya ia tidak terlalu peduli. Namun setelah beberapa saat, ia menyadari sesuatu yang membuatnya membuka mata perlahan.

Tubuhnya terasa berbeda.

Bukan perbedaan besar seperti menerobos alam kultivasi, tetapi jelas ada peningkatan kecil. Pendengarannya lebih tajam. Napasnya lebih panjang. Bahkan rasa kantuk yang biasanya melekat di kepalanya setiap pagi terasa lebih ringan.

Ia mengepalkan tangan, lalu membuka telapak tangannya kembali.

“Jadi ini manfaat kultivasi...” gumamnya pelan.

Bai Hu menatap telapak tangannya cukup lama. Untuk pertama kalinya, ia tidak langsung mengeluh bahwa kultivasi membuang waktu. Ia mulai melihat nilai lain dari kekuatan.

Jika tubuhnya lebih kuat, ia bisa berjalan lebih jauh tanpa cepat lelah. Jika energinya lebih banyak, ia bisa membawa barang lebih lama. Jika kultivasinya naik, orang yang ingin menipunya di pasar akan berpikir dua kali. Dan jika ia cukup kuat, ia bisa mencari bahan langka sendiri tanpa harus menyewa penjaga.

Mata Bai Hu perlahan berbinar.

“Jadi kultivasi bukan hanya untuk bertarung,” katanya sambil mengangguk pelan. “Kultivasi juga bisa mengurangi biaya perlindungan, biaya perjalanan, dan risiko kerugian.”

Kesimpulan itu membuat wajahnya jauh lebih serius.

Bagi orang lain, ini mungkin pemahaman rendah dan terlalu duniawi. Namun bagi Bai Hu, ini adalah pintu baru. Ia akhirnya menemukan alasan yang benar-benar dapat diterima hatinya untuk berkultivasi.

Bukan demi kejayaan.

Bukan demi nama besar.

Melainkan demi mengurangi biaya dan memperbesar keuntungan.

Ia segera melompat turun dari ranjang, mengambil papan kayu kecil yang biasa ia gunakan untuk mencatat perhitungan, lalu mulai menulis dengan arang.

Manfaat kultivasi:

Pertama, uang bulanan aman.

Kedua, tubuh lebih kuat.

Ketiga, bisa pergi ke tempat berbahaya tanpa menyewa orang terlalu banyak.

Keempat, tidak mudah dirampok.

Kelima, bisa menjual jasa perlindungan kalau terpaksa.

Bai Hu berhenti menulis, lalu mengerutkan kening.

“Menjual jasa perlindungan... sepertinya melelahkan. Coret dulu.”

Ia mencoret poin kelima, lalu menambahkan tulisan baru.

Kelima, bisa mengancam orang kaya jahat agar membayar harga pantas.

Setelah membaca ulang catatannya, ia mengangguk puas.

“Bagus. Ini baru rencana kultivasi yang masuk akal.”

tiba-tiba Bai Hu menunduk menatap perutnya. Ekspresi seriusnya langsung runtuh.

“Benar juga. Kultivasi membutuhkan makanan. Makanan membutuhkan uang. Jadi kalau ingin berkultivasi lebih baik, aku harus makan lebih banyak. Kalau makan lebih banyak, biaya naik. Kalau biaya naik, aku harus menghasilkan lebih banyak.”

Ia memegang dagunya seperti seorang ahli strategi perang.

“Kesimpulannya, untuk berkultivasi, aku harus lebih rajin mencari uang.”

Entah bagaimana, semua pemikirannya selalu kembali ke titik yang sama.

Uang.

Setelah merasa menemukan kebenaran besar, Bai Hu menyimpan papan kayunya dengan hati-hati. Ia baru saja hendak pergi mencuci muka ketika pandangannya tertuju pada kotak kayu kecil di sudut kamar.

Langkahnya terhenti.

Kotak itu tampak biasa saja. Di dalamnya tersimpan beberapa barang yang ia sebut sebagai “investasi belum berhasil”, meskipun orang lain mungkin akan menyebutnya sampah yang dibeli karena tertipu. Di antara benda-benda itu, ada batu putih transparan yang ia dapatkan dari anak kecil di pasar.

Batu seharga sepuluh koin perak.

Mengingat harganya saja membuat Bai Hu kembali merasakan nyeri halus di dada.

Ia berjalan mendekat, membuka kotak itu, lalu mengambil batu putih tersebut. Benda itu masih sama seperti kemarin. Putih, halus, dingin, dan tidak menunjukkan tanda-tanda berharga. Tidak ada cahaya. Tidak ada energi spiritual. Tidak ada reaksi apa pun.

“Dasar batu aneh,” gumam Bai Hu.

Ia memutar batu itu di antara jarinya, lalu mendekatkannya ke arah cahaya matahari.

Tetap tidak ada apa-apa.

Bai Hu menghela napas.

“Kalau kau memang barang berharga, cepat tunjukkan nilaimu. Kalau tidak, aku akan menjualmu sebagai hiasan meja. Mungkin masih bisa kembali lima koin tembaga.”

Batu itu tentu saja tidak menjawab.

Bai Hu menatapnya sebentar lagi sebelum akhirnya meletakkannya kembali ke dalam kotak. Namun tepat ketika ujung jarinya meninggalkan permukaan batu, ada rasa dingin tipis yang menyentuh kulitnya.

Sangat singkat.

Bai Hu terdiam.

Ia kembali mengambil batu itu dan mengamatinya lebih dekat. Tidak ada perubahan. Batu itu masih terlihat mati. Ia mencoba mengalirkan sedikit energi spiritual yang baru saja ia kumpulkan ke dalamnya, tetapi batu itu tetap diam.

“Apakah aku salah ?”

Ia menyentuh batu itu dengan ibu jari, menunggu beberapa saat, lalu mendengus kecil.

“Baiklah. Sepertinya aku memang lapar sampai mulai berhalusinasi.”

Ia menyimpan batu itu kembali dan menutup kotak kayu. Tanpa ia sadari, sesaat setelah kotak tertutup, permukaan batu putih itu memancarkan cahaya redup, sangat tipis, seperti embun yang terkena sinar bulan. Cahaya itu muncul hanya sekejap, lalu menghilang tanpa meninggalkan jejak.

Di luar kamar, suara langkah kaki mendekat.

“Tuan Muda Bai Hu.”

Bai Hu menoleh ke arah pintu. “Ada apa?”

Seorang pelayan pria berdiri di luar dengan sikap hormat. Ia tampak ragu sejenak, mungkin karena tidak terbiasa melihat tuan muda bungsu keluarga sudah bangun sepagi ini.

“Tetua Guo Rong mengirim pesan. Beliau meminta Tuan Muda datang ke Aula Alkimia Setelah Berkultivasi.”

Bai Hu mengangkat alisnya.

Selesai berkultivasi?

Berarti Tetua Guo tahu ia sedang berkultivasi hari ini?

Pikiran itu hanya lewat sekilas sebelum perhatiannya langsung beralih pada hal yang jauh lebih penting.

Aula Alkimia.

Tetua Guo Rong.

Bintang Perak Biru.

Pil Penguat Tulang.

Mata Bai Hu perlahan berbinar. Rasa lapar yang tadi memenuhi perutnya seolah langsung berkurang setengah.

“Apakah Tetua Guo mengatakan pilnya sudah selesai?”

Pelayan itu menggeleng pelan. “Hamba tidak tahu, Tuan Muda. Beliau hanya berkata ada hal penting yang perlu Tuan Muda lihat sendiri.”

Hal penting.

Dua kata itu membuat hati Bai Hu bergerak tidak tenang.

Bisa berarti kabar baik.

Bisa juga kabar buruk.

Kalau kabar baik, mungkin pil yang dihasilkan lebih banyak dari perkiraan. Kalau kabar buruk, mungkin tungku meledak, bahan gagal, atau yang paling menyakitkan... hasilnya lebih sedikit dari yang dijanjikan.

Wajah Bai Hu berubah serius.

“Baik. Aku akan ke sana setelah sarapan.”

Pelayan itu membungkuk dan pergi.

Bai Hu berdiri diam beberapa saat. Ia menatap kotak kayu di sudut kamar, lalu menatap papan catatan di bawah ranjang, kemudian menepuk pipinya sendiri.

“Tenang, Feng Bai Hu, tidak boleh panik,, "

segera ia mencuci muka dan mengganti pakaian.

Pagi itu, ketika Bai Hu keluar dari kamarnya, halaman kediaman terasa jauh lebih hidup dibandingkan sebelumnya. Beberapa pelayan yang melihatnya berjalan lebih awal dari biasanya menunjukkan ekspresi terkejut. Biasanya pada jam seperti ini, tuan muda bungsu mereka masih bergelung di tempat tidur atau sedang pura-pura sakit agar tidak dipaksa berlatih.

Namun hari ini, Bai Hu berjalan dengan langkah cepat dan wajah penuh tujuan.

Di ruang makan, Liu Mei Lan sudah duduk sambil menikmati teh. Wanita itu menoleh ketika mendengar langkah putranya, lalu senyum lembut muncul di wajahnya.

“Kau bangun pagi hari ini?.”

Bai Hu duduk di kursinya dengan ekspresi tenang, meskipun tangannya langsung mengambil bakpao hangat di atas meja. “Aku berkultivasi, Bu.”

Gerakan Liu Mei Lan berhenti sejenak.

Ia menatap Bai Hu cukup lama, seolah ingin memastikan bahwa ia tidak salah dengar.

“Kau... berkultivasi?”

Bai Hu menggigit bakpao, lalu mengangguk dengan bangga. “Dua jam penuh.”

Senyum Liu Mei Lan melebar. Ada kehangatan di matanya yang tidak berusaha ia sembunyikan. Bagi seorang ibu, melihat anaknya mulai melangkah maju, sekecil apa pun langkah itu, tetaplah sesuatu yang membahagiakan.

“Bagus. Ayahmu pasti senang mendengarnya.”

Bai Hu hampir tersedak.

Ia buru-buru minum air sebelum berkata dengan wajah waspada, “Ibu, jangan beri tahu Ayah terlalu berlebihan. Kalau Ayah terlalu senang, nanti dia menaikkan target latihanku.”

Liu Mei Lan tidak bisa menahan tawa.

“Bukankah itu bagus?”

“Tidak bagus,” jawab Bai Hu cepat. “Segala sesuatu harus bertahap. Kalau terlalu cepat, fondasi bisa tidak stabil.”

Liu Mei Lan menatapnya dengan senyum menggoda. “Kau yakin itu alasanmu?”

Bai Hu terdiam sesaat, lalu dengan wajah sangat serius berkata, “Alasan kedua, kalau latihanku bertambah, waktu mencari uang berkurang.”

Bai Hu tersenyum lebar, lalu melanjutkan makan dengan lahap. Sarapan pagi itu terasa lebih hangat daripada biasanya. Liu Mei Lan tidak banyak menasihati, tetapi sesekali bertanya tentang tubuhnya setelah berkultivasi. Bai Hu menjawab dengan cara khasnya, mengeluh soal lapar, menghitung biaya makanan tambahan, dan bertanya apakah keluarga memiliki tunjangan khusus untuk jenius yang mulai rajin.

Liu Mei Lan hanya tertawa dan menyuruhnya menghabiskan sup.

Setelah selesai makan, Bai Hu berdiri dan merapikan pakaiannya. Wajahnya kembali berubah serius.

“Ibu, aku pergi ke Aula Alkimia dulu. Tetua Guo memanggilku.”

Liu Mei Lan mengangguk. “Pergilah. Tapi ingat, bicara dengan sopan. Tetua Guo adalah alkemis utama keluarga. Jangan membuat beliau sakit kepala.”

Bai Hu terlihat tersinggung. “Ibu, aku selalu sopan.”

Liu Mei Lan menatapnya tanpa bicara.

Bai Hu akhirnya mengalihkan pandangan. “Baiklah. Aku akan berusaha lebih sopan.”

“Dan jangan langsung membahas pembagian keuntungan sebelum beliau selesai bicara.” imbuh Liu Mei Lan

Langkah Bai Hu yang hendak pergi langsung terhenti.

Ia menoleh pelan. “Ibu... bagaimana Ibu tahu?”

Liu Mei Lan tersenyum lembut sambil mengangkat cangkir teh. “Karena aku ibumu.”

Bai Hu menggaruk pipinya dengan canggung, lalu buru-buru keluar sebelum ibunya menebak hal lain yang lebih memalukan.

Perjalanan menuju Aula Alkimia melewati beberapa halaman dalam keluarga Feng. Di sepanjang jalan, murid-murid muda sedang berlatih teknik dasar. Ada yang berlatih pukulan, ada yang mengayunkan pedang kayu, dan ada pula yang duduk bersila menyerap energi spiritual.

Beberapa dari mereka berhenti sejenak ketika melihat Bai Hu.

Sejak pengujian akar spiritual, tatapan orang-orang terhadapnya memang berubah. Dahulu ia hanya dikenal sebagai bocah gemuk yang suka tidur dan menghitung uang. Sekarang, ia adalah jenius dengan Akar Spiritual Surgawi.

Namun anehnya, Bai Hu tetap berjalan seperti biasa.

Tidak membusungkan dada.

Tidak memasang wajah angkuh.

Ia justru tampak lebih sibuk menghitung sesuatu dengan jarinya.

“Empat puluh batang Bintang Perak Biru. Jika satu batang menghasilkan rata-rata lima pil, total dua ratus pil. Enam puluh persen untukku berarti seratus dua puluh pil. Kalau kualitasnya tinggi dan harga pasar naik...”

Ia berhenti sejenak.

Senyumnya perlahan muncul.

“Hehehe...”

Beberapa murid yang mendengar tawa kecil itu spontan mundur setengah langkah.

“Tuan Muda Bai Hu tertawa seperti itu lagi.”

“Pasti akan ada yang dia buat rugi lagi.”

“Semoga bukan keluarga sendiri.”

Bai Hu mendengar bisikan itu, tetapi ia tidak marah. Ia justru menoleh dan berkata dengan wajah cerah, “Tenang saja. Selama kalian bukan orang kaya yang suka memainkan harga, kalian akan aman.”

Para murid terdiam.

Beberapa tidak tahu apakah harus tertawa atau takut.

Tidak lama kemudian, bangunan Aula Alkimia terlihat di hadapan Bai Hu. Bangunan itu besar dan kokoh, dindingnya terbuat dari batu abu-abu yang tahan panas. Dari beberapa cerobong di bagian atap, asap putih tipis mengepul ke udara. Aroma tanaman spiritual, logam panas, dan pil yang baru dimurnikan bercampur menjadi satu, menciptakan bau khas yang tidak bisa ditemukan di tempat lain.

Di halaman depan, para murid alkimia tampak sibuk. Ada yang memilah akar obat, ada yang membawa botol giok, ada yang mengipasi tungku kecil dengan wajah penuh keringat. Suasana di tempat itu jauh lebih tertib dibanding pasar, tetapi di mata Bai Hu, semuanya tetap terlihat seperti ladang keuntungan.

Begitu ia memasuki halaman, seorang murid senior segera menghampirinya.

“Tuan Muda Bai Hu, Tetua Guo sudah menunggu di ruang dalam.”

Bai Hu mengangguk. “Bagaimana suasana hati Tetua?”

Murid itu terkejut. “Suasana hati?”

“Iya. Apakah beliau tersenyum, marah, atau terlihat seperti orang yang gagal menghasilkan pil?”

Murid senior itu menahan ekspresi aneh di wajahnya. “Beliau... tampak cukup puas.”

Mendengar kata puas, Bai Hu langsung merasa separuh beban di dadanya terangkat.

Puas berarti hasilnya tidak buruk.

Tidak buruk berarti belum rugi.

Belum rugi berarti masih ada harapan untung besar.

“Bagus,” gumamnya.

Murid senior itu membawa Bai Hu melewati lorong panjang menuju bagian dalam Aula Alkimia. Semakin masuk, aroma obat semakin pekat. Suara tungku menyala terdengar dari beberapa ruangan tertutup. Sesekali terdengar suara murid yang ditegur karena salah mengatur api.

Bai Hu memperhatikan semuanya dengan mata tajam.

Dahulu ia hanya melihat alkimia sebagai cara mengubah tanaman menjadi pil yang lebih mahal. Namun setelah melihat aktivitas di aula ini dari dekat, ia mulai menyadari bahwa alkimia bukan hanya soal api dan bahan obat. Ada ketelitian, waktu, pengalaman, dan risiko besar di dalamnya.

Jika gagal sedikit saja, bahan bisa hancur.

Jika api terlalu kuat, pil bisa gosong.

Jika tenaga jiwa tidak stabil, seluruh tungku bisa rusak.

Untuk pertama kalinya, Bai Hu mulai merasa bahwa pembagian empat puluh persen untuk Tetua Guo mungkin tidak sepenuhnya tidak masuk akal.

Tentu saja, hanya “mungkin”.

Mereka akhirnya berhenti di depan pintu kayu besar.

Murid senior mengetuk pintu dengan hormat.

“Guru, Tuan Muda Bai Hu telah datang.”

Dari dalam terdengar suara Guo Rong yang berat, tetapi terdengar lebih ringan daripada biasanya.

“Suruh dia masuk.”

Pintu terbuka perlahan.

Bai Hu menarik napas kecil, menenangkan dirinya seperti seorang pedagang yang hendak melihat hasil investasi besar. Lalu ia melangkah masuk.

Di dalam ruangan, Tetua Guo Rong duduk di dekat tungku besar berwarna hitam kemerahan. Wajah tua alkemis itu tampak lelah, tetapi matanya bersinar puas. Di atas meja batu di depannya, berjajar beberapa botol giok putih yang tertutup rapat.

Bai Hu langsung melihat botol-botol itu.

Matanya membulat.

Jantungnya berdegup lebih cepat.

Tetua Guo Rong menatapnya, lalu tersenyum tipis.

“Tuan Muda Bai Hu,” katanya perlahan, “sepertinya hari ini kita perlu membicarakan ulang nilai tanaman yang kau bawa.”

Bai Hu tidak segera menjawab.

Ia menatap botol-botol giok itu, lalu menatap Tetua Guo Rong.

Sebuah firasat kuat muncul di hatinya.

Hari ini, keuntungan yang ia bayangkan mungkin jauh lebih besar daripada perhitungan awalnya.

Dan entah mengapa, cara Tetua Guo menatapnya membuat Bai Hu merasa bahwa percakapan hari ini tidak akan sesederhana pembagian pil.

Bersambung...

1
REY ASMODEUS
atau jadi tetua agung? 🤣🤣🤣🤣
omes
kocak novel yang sangat mengocakan 🤣🤣🤣
makasih sudah buat novel fantasi timur komedi gw harap lanjut
Gege
coba MC belajar alkemis kan bisa tuh Thor.. jadi kuat jadi hebat bisa kayah rayah dan engga mati muda...🤣
Joy: bisa juga itu,, terimakasi untuk masukanya kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!