Kau adalah milikku. Jika aku tidak mendapatkannya, maka tidak siapa pun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BumbleBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kau Nikmat
“Aggrrhh..”
“Oh shit,”
Alena dan Pax kompak berteriak, meringis kesakitan.
“Hidungmu berdarah,” ujar Alena, melihat darah segar bercucuran dari hidung mancung yang beberapa menit lalu ia bayangkan untuk bermain perosotan di atasnya.
Pax mengusapnya, tanpa melepaskan tatapan dari Alena. “Ya, wajar saja dia berdarah, aku bahkan merasakan tulangnya patah. Terbuat dari apa kepalamu itu?” Pax terlihat kesal, ia benci wajah yang ia jaga dan dikagumi banyak wanita itu harus terluka. Ia selalu menghindari pukulan dan serangan di wajah tampannya demi kesenangan para wanita yang mengaguminya. Ck, pria yang sangat pengertian sekali.
“Kepalaku juga benjol!’ Alena menunjuk jidatnya, Pax melihat ada memar di sana, ia pun segera ke luar kamar.
Alena mengembuskan napas begitu ia hanya sendirian di kamar. Tanpa sadar tangannya terangkat mengusap bibirnya, dan darahnya kembali berdesir hebat, degupan jantungnya tidak karuan, dan sekujur tubuhnya panas seakan tersengat aliran listrik.
“Sepertinya liurnya mengandumg rabies, aku merasa tidak sehat,” Alena bergumam sembari mengibas-ngibaskan tangan di depan wajahnya.
“Kenapa panas sekali, apa AC-nya rusak?’
Pintu terbuka, Pax datang membawa nampan yang berisi air es dan juga obat. “Kemarilah,” Pax memanggil Alena sembari memberi isyarat dengan sebelah tangannya. Alena tampak ragu, ia tidak ingin Pax kembali menyerangnya.
Melihat keraguan di wajah Alena, Pax berdecak. “Kemari dan duduk lah di sini,” Pax menepuk sofa, sisi yang kosong di sebelahnya. “Benjol di kepalamu perlu di obati,” pungkasnya.
Akhirnya dengan langkah berat, Alena mendekat dan duduk di sampingnya. Pax mengangkat kedua kakinya ke atas sofa dan duduk bersila, meminta Alena
melakukan hal yang sama. Keduanya kini saling berhadapan, Pax menggerekkan jari telunjuknya, agar Alena mendekatkan tubuhnya.
Alena melotot ke arahnya, “Jangan macam-macam!”
“Aku hanya ingin mengobati memar di wajah dan dahimu, mendekat lah,” jawab Pax dengan santai serta memasang wajah malaikat yang tak berdosa.
“Bagaimana bisa aku percaya padamu?” Alena masih meragu.
“Aku masih mencintai wajahku,” sahutnya enteng.
Alena pun akhirnya mendekat, dan Pax terlihat normal dan baik-baik saja. Dengan telaten ia mengompres memar di jidat bahkan di wajah Alena, “Wanita tidak boleh terluka. Kemulusan mereka adalah aset yang membuat para pria memuja dan menggila.”
“Lakukan dengan cepat, jangan banyak bacot!”
“Sepertinya aku harus belajar kembali untuk memahami bahasanya,” Pax bergumam sembari mengambil obat krim lalu mengoleskannya di jidat dan pipi Alena.
“Aku tidak suka berutang budi, setidaknya biarkan aku mengompres hidungmu,” tawar Alena yang disahut Pax dengan gidikan bahu tidak acuh.
Alena menekan pelan dan penuh hati-hati pangkal hidung pria itu, membersihkan sisa darah yang masih menempel. Alena melakukannya dengan sangat penuh konsentrasi sehingga tidak menyadari bahwa Pax sedang memperhatikannya dengan seksama.
Tatapan Pax turun dari mata ke bibir Alena yang terbuka sedikit seakan mengundang iblis dalam diri pria itu untuk kembali menyerbu.
Alena merasakan bulu romanya berdiri, menyadari aura mistis di sekitarnya ia mengangkat tatapannya, dan benar saja ia menangkap basah pria itu sedang memperhatikan bibirnya.
Alena segera mengatupkan bibirnya, dan Pax tak juga mengalihkan tatapannya, bahkan saat Alena sudah menyingkirkan tangannya dari hidung pria itu, Pax tetap fokus pada bibir Alena.
“Ehm,” Alena sengaja berdehem, sesungguhnya dorongan dari dalam dirinya ingin sekali menghajar pria itu kembali, tapi entah kenapa tubuhnya kaku, seakan tidak sejalan dengan pikirannya.
Mendengar deheman Alena, dengan gerakan lambat, Pax mengangkat tatapannya. Kedua manik mereka saling beradu. Kini Alena justru menyesal kenapa ia harus berdehem, karena melihat tatapan pria itu kembali membuat jantungnya bertalu-talu seperti genderang mau perang. Darahnya berdesir, pikiran liarnya tanpa dikomando membayangkan ciuman yang beberapa saat lalu terjadi.
“Jangan melukai tangan, kepala atau bagian tubuhmu lainnya hanya karena ingin menghajarku. Kau cukup menolak dengan memundurkan tubuhmu atau memalingkan wajahmu, maka aku tidak akan memaksa.” Ucapan Pax dengan nada tenang mendayu sehingga membuat Alena terhipnotis. Ia tidak tahu apa arti dari kalimat itu, tapi kini ia melihat wajah tampan pria itu kembali mendekat.
Apa yang harus kulakuan? Menghindar, ya aku harus menghindar. Alena berucap dalam hati, memerintah dirinya. Namun yang terjadi adalah sebaliknya, ia justru menutup kedua matanya begitu ia merasakan hembusan napas Pax di wajahnya.
Dan sekarang, bukan hanya hembusan napas yang ia rasakan, tapi benda kenyal yang kini menyapu bibir lembutnya. Berbeda dari ciuman yang berakhir gelut beberapa menit lalu, kini Alena merasakan ribuan kembang api meletup-letup di atasnya tatkala Pax memainkan perannya dengan sangat lihai. Ya, Pax sangat berpengalaman dalam hal itu dan ia juga jelas tahu kemampuannya itu.
Pax mengangkat tubuh Alena, memposisikannya duduk di atas pangkuannya, lalu mengangkat kedua tangan Alena untuk melingkar di belakang lehernya. Untuk hal ini, Pax melakukannya untuk pertama kali dalam hidupnya. Ia ingin merasakan sentuhan Alena di tubuhnya.
Pax semakin menggila, tangan Alena merangkak naik dari leher ke rambutnya, Alena meremas rambutnya dengan lembut dan sesekali memberikan usapan dan Pax senang akan hal itu. Ia menyukainya.
Ciuman itu cukup lama, walau Pax yang mendominasi tetap saja Alena hampir kehilangan napas dibuatnya. Pax melepaskan ciuman mereka, menangkup wajah Alena yang masih dengan mata terpejam dan bibir terbuka dan membengkak. Indah. Itulah yang diucapkan hati dan pikirannya.
Secara perlahan Alena membuka matanya, dan menemukan Pax yang sedang menatapnya dengan lembut yang membuat tingkat ketampanannya meningkat 360 derajat. Alena mengerjapkan matanya, ia cukup terkejut mendapati jarak mereka yang begitu dekat, dan astaga, ia juga tidak percaya melihat tangannya yang melingkar indah di belakang leher pria itu dan kaki pendeknya juga tidak kalah nakalnya, melingkar di pinggul Pax.
“Ke-kenapa aku ada di sini, maksudku, duduk di atasmu?” tanya Alena tanpa beringsut dari pangkuan pria itu.
“Aku mengangkatmu,” jawab Pax dengan nada lembut, selembut tatapannya yang membuat wanita mana saja menjerit histeris, termasuk Alena. Hanya saja teriakannya tidak keluar karena ia menahannya dengan cara menggigit lidahnya.
“Kau sangat nikmat,” Pax membelai wajah Alena dengan ibu jarinya. “Jadilah wanitaku, Alena.”
Alena kembali mengerjap, ia ingin sekali bertanya apa pria itu mempunyai cotton bud, karena menurutnya, ia perlu membersihkan telinga yang sepertinya membuat pendengarannya berkurang.
Khawatir pria itu menganggapnya jorok, akhirnya ia mengurungkan niatnya.
Dan hellow, kenapa aku harus khawatir terhadap penilaiannya, apa peduliku! Alena membatin di tengah debaran jantung yang semakin tidak terkontrol.
“Apa kau mengatakan sesuatu?” gumam Alena seakan sedang berkumur.
“Jadilah wanitaku, Alena.” Pax mengulangi ucapannya, dan ternyata ia memang tidak salah mendengar. Lalu sekarang apa yang harus ia jawab?