NovelToon NovelToon
MAHKOTA Yang Retak Dan Mawar Beduri

MAHKOTA Yang Retak Dan Mawar Beduri

Status: sedang berlangsung
Genre:Kerajaan / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:429
Nilai: 5
Nama Author: Anggi Septianti

Putri Aurelia dari Kerajaan Oakhaven menghabiskan seluruh hidupnya seperti burung di dalam sangkar emas, terisolasi di menara kaca istana yang megah. Namun, kedamaian semu itu berakhir ketika ia menginjak usia dua puluh satu tahun. Demi menyelamatkan kerajaannya yang mulai runtuh dan menghentikan perang tiga dekade yang berdarah, Aurelia terpaksa menjadi tumbal politik. Ia harus bertunangan dengan Pangeran Cassian dari Kerajaan Valenica di Utara—seorang panglima perang yang dikenal kejam, dingin, dan dijuluki "monster medan perang."
Pertemuan pertama mereka di Aula Agung langsung memicu percikan ketegangan. Alih-alih tunduk pada intimidasi sang Pangeran yang memiliki tatapan sepekat badai, Aurelia justru menyambutnya dengan keberanian dan lidah yang tajam. Keteguhan hati Aurelia justru memikat rasa ingin tahu Cassian, yang terbiasa menghadapi kepatuhan yang membosankan.
Di balik kemegahan rencana pernikahan mereka, bahaya besar sedang mengintai. Aurelia tidak hanya harus beradaptasi dengan calon suaminya yang penuh teka-teki, tetapi ia juga harus belajar bertahan hidup di tengah dinding istana yang dipenuhi intrik politik, racun, dan pengkhianatan. Ini adalah kisah tentang dua jiwa dari dunia yang bertolak belakang, yang harus memilih antara saling menghancurkan atau bersatu demi menyelamatkan sebuah kekaisaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Septianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 : bidak catur pertama

Kamar tidur Raja Alistair beraroma menyengat oleh campuran dupa herbal, minyak kayu putih, dan bau samar kematian yang enggan pergi. Cahaya matahari pagi menyaring malas melalui tirai beludru merah yang tebal, menyinari sosok sang Raja yang terbaring lemah di atas ranjang besarnya. Wajahnya yang dahulu perkasa kini tampak seperti tengkorak yang dilapisi kulit keriput keabu-abuan.

Aurelia duduk di tepi ranjang, menggenggam erat tangan ayahnya yang terasa dingin dan kering. Setiap kali ayahnya terbatuk, dada Aurelia terasa berdenyut nyeri. Di atas meja nakas di samping ranjang, berdiri sebuah cawan perak berisi ramuan obat yang baru saja diantarkan oleh pelayan pribadi Duke Valerius.

Aurelia menatap cairan gelap di dalam cawan itu dengan kebencian yang mendalam. Racun yang lambat, kata pamannya kemarin. Cairan yang seharusnya menyembuhkan ayahnya justru merupakan malaikat maut yang dikirim secara perlahan ke dalam aliran darah sang Raja.

"Aurelia..." suara Raja Alistair terdengar seperti gesekan daun kering. Matanya yang sayu perlahan terbuka, menatap putrinya dengan sisa-sisa kasih sayang yang ia miliki. "Kenapa kau... belum bersiap? Hari ini ada pertemuan dewan."

"Saya hanya ingin menemani Ayahanda sebentar lagi," jawab Aurelia, berusaha keras menahan getaran pada suaranya. Ia ingin berteriak, memberi tahu ayahnya bahwa adiknya sendiri adalah dalang di balik penyakitnya. Namun, bayangan peringatan Cassian kemarin malam menahan lidahnya. Tanpa bukti, tuduhannya hanya akan menjadi senjata bagi Valerius untuk mengurungnya atas tuduhan pengkhianatan atau kegilaan.

"Pergilah, Nak," bisik Raja Alistair lemah. "Jangan biarkan... orang-orang Utara itu berpikir kita lemah karena Raja mereka tidak bisa bangkit dari tempat tidur."

Aurelia mengecup kening ayahnya dengan lembut sebelum bangkit berdiri. Sebelum melangkah keluar, ia dengan sengaja menyenggol meja nakas dengan lipatan gaunnya yang lebar. Cawan perak itu jatuh, menumpahkan seluruh isi ramuan beracun itu ke atas lantai batu yang dingin.

"Oh, maafkan kebodohan saya, Ayah. Saya akan meminta pelayan untuk membuatkan yang baru nanti," ujar Aurelia dengan wajah bersalah yang dibuat-buat. Ia hanya bisa menunda racun itu untuk beberapa jam, tetapi itu lebih baik daripada tidak sama sekali.

Aula Dewan Istana terasa tegang saat Aurelia melangkah masuk. Duke Valerius sudah duduk di kursi kehormatannya di sebelah kanan takhta kosong, tampak begitu berkuasa dengan jubah militer berlogo singa Oakhaven. Lord Brandon duduk di sudut lain, menghindari kontak mata dengan Aurelia.

Di sisi lain meja panjang, Pangeran Cassian berdiri tegak dengan tangan bersendekap di dada. Di belakangnya, dua pengawal Valenica berzirah besi hitam berdiri seperti patung batu tanpa ekspresi.

Begitu Aurelia duduk di kursi keluarga kerajaan, Cassian langsung mengambil alih perhatian ruangan.

"Kondisi kesehatan Raja Alistair semakin memburuk, dan stabilitas di perbatasan utara tidak bisa menunggu lebih lama lagi," ujar Cassian dengan suara berat yang memenuhi seluruh aula dewan. "Valenica mengusulkan agar upacara pernikahan dan perayaan tidak perlu dilakukan di Oakhaven. Kita akan mempercepat jadwal. Putri Aurelia harus berangkat ke Valenica lusa."

Suasana aula seketika gempar. Beberapa menteri mulai berbisik-bisik panik.

Duke Valerius langsung bangkit dari kursinya, wajahnya mengeras dalam ekspresi kemarahan yang dibuat-buat. "Ini keterlaluan, Pangeran Cassian! Putri Aurelia adalah permata Oakhaven. Keberangkatannya harus dipersiapkan dengan megah, sesuai dengan kehormatan kerajaan kami. Perjalanan ke Utara membutuhkan persiapan berminggu-minggu demi keselamatan sang Putri."

Aurelia mengepalkan tangannya di bawah meja. Ia tahu persis mengapa pamannya ingin menunda keberangkatan. Duke Valerius membutuhkan waktu untuk merencanakan "kecelakaan tragis" yang akan menewaskannya di perjalanan, sekaligus memastikan racun di tubuh ayahnya menyelesaikan tugasnya.

"Saya setuju dengan Pangeran Cassian," suara Aurelia memotong perdebatan, terdengar jernih dan tegas di seluruh ruangan.

Duke Valerius menoleh cepat ke arah keponakannya, matanya menyipit penuh selidik. "Aurelia, kau tidak tahu apa yang kau bicarakan. Ini menyangkut keselamatanmu—"

"Ini menyangkut keselamatan Oakhaven, Paman," balas Aurelia, menatap langsung ke dalam mata pamannya yang penuh tipu daya. "Ayahanda semakin lemah setiap harinya. Keinginan terakhirnya adalah melihat aliansi ini terbentuk dengan damai. Jika menunggu berminggu-minggu hanya untuk pesta pora yang tidak perlu, sementara perbatasan kita terancam, maka saya adalah putri yang egois. Saya bersedia berangkat lusa."

Cassian menatap Aurelia dengan sudut bibir yang terangkat tipis—sebuah apresiasi bisu atas keberanian sang Putri yang mampu memainkan perannya dengan sempurna.

"Keputusan telah dibuat," ujar Cassian dingin, menatap Duke Valerius dengan pandangan mengancam. "Lusa pagi, iring-iringan pengantin akan meninggalkan Oakhaven. Dan saya sendiri yang akan memastikan keselamatan calon istri saya hingga kami tiba di Valenica."

Duke Valerius mengepalkan tangannya di balik jubah beludrunya, rahangnya mengeras karena rencana matangnya mendadak berantakan. Namun, ia tidak memiliki pilihan selain membungkuk hormat, menyembunyikan amarahnya di balik senyuman palsu yang mematikan.

Permainan catur telah dimulai, dan Aurelia baru saja menggerakkan bidak pertamanya.

*•*

*•*

*•*

*•*

*•*

1
Anisa Nur Afifah
haii kak baguss bngett sukaaa ceritanyaaa,

ehh iya kalo ada waktuu mampir jugaa yaa ke novel kuu "Tak Semua Tangis Memiliki suara"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!