Seorang ayah angkat yang secara terpaksa menikahi putri angkat nya. Dia melakukan hal itu karena memenuhi janjinya kepada almarhumah sahabat nya untuk melindungi nya.
Sebenarnya dia telah gagal memenuhi janjinya karena nasib malang yang menimpa Artika. Ternyata masih memiliki hubungan darah dengan nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virgo kelabu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MCT 10
"Ngomong - ngomong dia seperti apa?
"Apanya?"
" Yaitu. Gadis pilihan mu."
"Oh! Dia.... sangat cantik dan baik. Ceria dan mudah bergaul. Sederhana tapi istimewa." Aldri menggambarkan sosok Antika dengan wajah penuh cinta. Siapa pun dapat melihatnya dengan jelas bahwa pria itu saat ini sedang jatuh cinta.
"Seperti nya Dia benar-benar gadis yang istimewa sampai kamu bisa jatuh cinta seperti ini." Aldri yang mendengarkan ungkapan sahabatnya terdiam. Ia mempertanyakan dalam hati untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa hatinya memang benar-benar jatuh cinta saat ini.
"Aku sangat bersyukur mendengarnya. Aku benar-benar bahagia untukmu sobat. Akhirnya kamu bisa melupakan Tiara. Selama ini aku selalu berusaha menghindari menyebut nama itu karena aku tidak ingin kamu sedih dan terluka."
"Trims, Gi. Kamu memang sahabat terbaik." Aldri tersenyum tulus. "Sejujurnya aku masih belum yakin dengan semua ini. Ada banyak hal yang menjadi penyebabnya. Salah satu nya adalah...."
"Apa? Jangan katakan kalau kamu menikahinya sebagai pelarian saja. Karena usiamu yang sudah tua dan tidak enak dengan ibu atau semua orang. Itu sudah kuno, Al! Kamu lihat aku baik-baik saja dengan statusku saat ini apalagi kamu seorang pria."
"Bukan. Bukan itu."
"Lalu apa?"
"Gadis itu....dia anak Tiara."
"APA, Al?"
" Iya, Gi. Dia adalah Antika. Bayi mungil yang dulu pernah kamu gendong."
"Al, apa maksud semua ini? Jujur saja aku tidak dapat memahami semua ini."
Aldri akhirnya mau tak mau harus menceritakan semua dari awal. Apa yang menjadi penyebab keputusan yang dia ambil. Sesekali air mata Egi meleleh. Meskipun ia wanita tomboy, hatinya selembut kapas. Bagaimana pun Antika sudah di anggap seperti putrinya sendiri bahkan kedua nya sering berkomunikasi di aplikasi hijau.
"Al, aku tahu kamu sangat menyayangi Antika. Tapi kami harus ingat. Dia bukanlah Tiara."
Aldri menghela nafas lelah. Hampir semua orang selalu mengatakan hal yang sama. Apakah dirinya tampak serendah itu?
"Gi, aku sangat sadar bahwa Tika bukan lah Tiara. Meskipun aku akui terkadang aku melihat sosok Tiara dalam dirinya. Karena bagaimanapun mereka ibu dan anak. Bukan nya kemiripan itu hal wajar? Tapi, sejak aku membuat keputusan untuk menikahi nya. Sama sekali tidak ada pikiran ku menganggap bahwa Tika adalah Tiara."
"Apakah kamu yakin?"
"100 persen yakin."
" Jadi kamu benar - benar mencintai nya sebagai seorang wanita dewasa?" Aldri terdiam.
"Itu yang aku belum yakin." Akhirnya Aldri menjawab. "Selama ini aku menyayanginya seperti putri ku sendiri. Tapi setelah aku tahu hubungan nya dengan pemuda brengsek itu. Aku...." Aldri menjeda kalimat nya. "Aku merasa sudah tidak mengenal diriku yang sebenarnya."
"Aku mengerti." Egi berdiri memberikan laporan yang telah ia kelola selama ini bersama Aldri. "Lupakan masalah pribadi. Sekarang kita kerja dulu. Nanti kita makan bareng, aku tidak menerima penolakan."
Sementara itu di rumah.
Setelah menyelesaikan pekerjaan rumah membantu Indira dan Bi Minah, Antika mencoba menata isi lemarinya agar tampak lebih rapi. Namun ada perasaan yang mengganjal dalam hatinya. Indira masuk ke kamar Antika.
"Ada apa, sayang? Apa ada yang tidak ada?" karena Indira melihat sepertinya Antika mencari sesuatu.
"Nggak ada apa-apa kok, Bu. Hanya saja rasanya aneh. Baju- baju ini seperti nya bukan milikku."
Indira merasa bersalah. Ia dan Aldri sengaja membeli pakaian - pakaian yang baru untuk Antika. Mereka tidak ingin Antika mengalami ingatan buruk yang menimpa nya. Semuanya serba baru bahkan suasana rumah nya pun baru.
"Mengapa, Tika berkata demikian, Nak? Semua pakaian ini milikmu, sayang."
"Iya, sih, Bu. Entah lah aku nggak tau kenapa pikiran ku seperti itu. Mungkin juga karena rumah yang baru ini."
"Oh, iya, Bu. Kok aku nggak lihat foto-foto pernikahan kami?"
Deg!
Indira sama sekali tidak pernah berpikir sejauh itu.
"Oh, itu. Coba nanti kamu tanyakan sendiri pada suami mu ya!. Ya, sudah ibu tunggu di depan. Ibu mau ajak kamu merangkai bunga."
"Baik, Bu."
Ibu Aldri segera chat Aldri dan memberitahukan semuanya. Ia berharap Aldri memiliki alasan yang tepat atas pertanyaan Antika.
Tepat pukul 17.00 WIB Aldri sudah sampai rumah. Baru saja dirinya melangkah masuk sudah di sambut sosok cantik dengan senyum manis nya. Sejenak Aldri terdiam. Ia memakai wajah cantik di hadapannya dalam dinding hatinya.
"Darling, kok nggak ngucapin salam.?"
"Astagfirullah.... Assalamualaikum, sayang. Maaf aku sedang terpesona dengan di sambut bidadari surga sampai lupa ngucapin salam."
Antika tertawa sambil membalas salam. Ia membantu membawakan tas Aldri. Namun pria itu menolak. Aldri justru memilih menggenggam tangan Antika.
"Kamu pasti lelah. Aku dan Ibu sudah masak istimewa."
"Terima kasih, sayang. Kita makan usai sholat Maghrib,ya. Aku gerah mau mandi dulu."
"Baiklah, Sayang."
Aldri melepas penat di kamar mandinya. Ia sengaja membasahi badannya dengan air dingin sedikit lebih lama, karena terlalu banyak hal yang ia pikirkan. Aldri keluar kamar mandi hanya berbalut handuk sepinggang.
"Darling!" Antika memandang takjub pahatan sempurna tubuh Aldri. Ia spontan membalikkan badannya.
"Tika! Kamu sedang apa disini?
"Ma- maaf. Tadi ibu nyuruh aku memanggil kamu, karena kamu dari tadi nggak datang-datang. Kami sudah nunggu kamu untuk sholat jamaah." Antika meremas kedua tangannya.
"Ah. Iya maaf. Sebentar layaku kesana."
"I- iya aku pergi dulu." Antika menunduk malu dan gegas keluar kamar. Di balik pintu jantung nya berdebar tak karuan.
~Duh bego kenapa aku harus malu, sih? Bukan nya dia suami ku? Tapi... Rasanya aneh. Melihat tubuhnya yang kekar aku jadi malu. Ah! Udah lah dasar Antika mesum.~
Aldri masih mengatur napasnya. ini pertama kalinya Antika melihatnya seperti ini.
Usai makan malam bersama Aldri sengaja mengajak Antika duduk di tepi kolam renang.
"Ada apa, Darling?"
"Tika, aku dengar kamu bertanya soal foto pernikahan kita?"
"Iya?"
"Maafkan aku. Sebenarnya ada beberapa hal yang kamu lupa semenjak kecelakaan itu."
"Tika kita belum sempat melaksanakan resepsi pernikahan. Saat itu setelah akad nikah kita mengalami kecelakaan. Maafkan atas semua nya karena keteledoran ku semua ini terjadi."
Memang benar semua kejadian buruk menimpa Antika semua karena kesalahan nya. Bagaimana seandainya ingatan nya kembali dan mengingat semua kejadian itu? Apakah ia akan membenci Aldri? Semua itu yang menjadi pertanyaan besar Aldri.
"Jadi gitu ceritanya? Nggak apa-apa kok, Darling. Kenapa pula kamu nggak cerita sejak awal. Jadi.... Kita... belum....."
"Apa?" Aldri sengaja memotong kalimat Antika dan pura-pura tak memahami arah pembicaraannya.
"Oh, Nggak. Nggak apa-apa."
"Bagaimana kalau besok kita foto pernikahan?"