NovelToon NovelToon
Cemara Juga Punya Luka

Cemara Juga Punya Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Idola sekolah / Teen / Balas Dendam
Popularitas:425
Nilai: 5
Nama Author: Sifanursiami

Di balik rumah yang hangat, semua orang memakai topeng paling rapi
Bagi dunia luar, Haseena adalah remaja berprestasi kebanggaan Abah. Namun di balik tawanya, Haseena menderita gangguan kecemasan dan terpaksa meminum obat penenang secara sembunyi-sembunyi selama lima tahun lalu.
Haseena mengira hanya dia yang punya rahasia. Sampai suatu malam, dia menemukan botol obat misterius di saku jaket abangnya, melihat kode lampu senter berkedip tiga kali di kegelapan sawah belakang rumah, dan kakak perempuannya yang bersikeras ingin pergi jauh
"Kini, Haseena terjebak dalam sandiwara sempurnanya. Berpura-pura menjadi gadis ceria untuk menutupi paranoia, sambil diam-diam mengumpulkan kepingan teka-teki yang mungkin akan menghancurkan hidupnya selamanya. Haseena harus memilih: tetap menjadi 'Ahli Ngeles' yang dicintai publik, atau membuka kotak Pandora tentang hilangnya sang kakak—meskipun itu berarti ia harus kehilangan segalanya, termasuk pria yang baru saja ia percayai."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sifanursiami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumah yang Membisu

Genggaman Rayyan di pergelangan tangan Zafran tidak terlalu kuat, tetapi cukup untuk menghentikan langkah putranya.

"Abah cuma mau bicara sebentar."

Zafran mengembuskan napas panjang. Bahunya naik turun menahan sesuatu yang sejak tadi terus bergolak di dalam dada.

"Aku capek, Bah."

"Sebelum kamu masuk kamar... jawab dulu pertanyaan Abah."

Zafran akhirnya berbalik. Wajahnya tampak lebih kurus dibanding beberapa hari yang lalu. Bekas luka kecil menghiasi pelipisnya, sementara matanya yang dulu hangat kini dipenuhi kelelahan.

"Dari mana saja kamu selama tiga hari ini?" tanya Rayyan pelan.

Tak ada jawaban.

"Abah sama Haseena nyari kamu ke mana-mana."

Tetap diam.

"Kamu tahu kami khawatir?"

Keheningan kembali menjadi jawaban.

Haseena yang sejak tadi berdiri beberapa langkah di belakang mulai merasa suasana berubah tidak nyaman.

"Bang... jawab aja dulu. Biar Abah nggak kepikiran."

Zafran menoleh sekilas ke arah adiknya. Tatapan itu begitu dingin hingga membuat Haseena spontan menundukkan kepala.

"Aku baik-baik aja."

Hanya itu.

Jawaban singkat yang justru membuat Rayyan semakin gelisah.

"Baik-baik saja?" ulang Rayyan. "Kalau memang baik-baik saja, kenapa kamu pergi tanpa kabar? Kamu tahu Ibu..."

Kalimat itu terhenti. Tenggorokan Rayyan terasa tercekat ketika mengingat Syafa.

Ia menarik napas panjang, mencoba kembali mengendalikan emosinya.

"Abah kehilangan Ibu."

"Haseena kehilangan Ibu."

"Lalu kamu juga menghilang."

"Abah harus cari siapa dulu, Zafran?"

Mata Zafran perlahan memerah.

"Akhirnya keluar juga."

Rayyan mengernyit.

"Maksud kamu?"

"Ibu."

"Kalian cuma ngomongin Ibu."

Nada suaranya masih pelan.

Namun setiap katanya terasa semakin tajam.

"Terus Kak Husna?"

Suasana mendadak membeku.

"Sejak Kak Husna hilang... apa yang kalian lakuin?"

"Kita cari, Bang," sela Haseena cepat.

"Kita ikut tim pencarian, kita sebar informasi, kita—"

"Terus berhenti."

Ucapan Zafran memotong kalimat Haseena.

"Kalian berhenti."

"Bukan begitu..."

"Bukannya begitu?"

Zafran tertawa pelan.

Tawa yang sama sekali tidak terdengar bahagia.

"Begitu Ibu masuk rumah sakit..."

"Semua lupa sama Kak Husna."

Rayyan menggeleng pelan.

"Kami tidak pernah melupakan Husna."

"Benarkah?"

Zafran melangkah mendekati Abah.

Kalau dulu ia selalu menatap Rayyan dengan penuh hormat, kali ini tatapannya dipenuhi kekecewaan.

"Kalau nggak lupa..."

"Kenapa nggak ada yang nyusul aku?"

Rayyan terdiam.

"Kamu pergi cari Husna?" tanyanya lirih.

Zafran tidak menjawab.

Diamnya justru menjadi jawaban yang paling menyakitkan.

"Abah tahu nggak..." suara Zafran mulai bergetar. "Aku muterin hutan."

"Aku nyari setiap jalur yang mungkin dilewati Kak Husna."

"Aku teriak manggil namanya sampai suara aku habis."

"Tapi aku sendirian."

Setetes air mata jatuh dari sudut matanya.

"Bahkan keluargaku sendiri nggak datang."

Haseena menggigit bibirnya.

Dadanya terasa sesak.

"Bang..." ucapnya pelan. "Aku juga pengen ikut nyari Kak Husna."

"Aku juga kangen Kakak."

"Aku juga nangis setiap malam."

"Tapi waktu itu Ibu..."

"Ibu butuh kita."

Zafran langsung menatapnya tajam.

"Lalu Kak Husna nggak butuh kita?"

Kalimat itu membuat Haseena kehilangan kata-kata.

Ia memang tidak punya jawaban.

Karena apa pun yang ia katakan...

Tidak akan mengubah kenyataan bahwa Husna masih belum ditemukan.

Rayyan melangkah mendekat.

"Abah ngerti kamu kecewa."

"Tapi apa yang kamu lakukan juga salah."

"Kamu pergi tanpa kabar."

"Kamu bawa tabungan keluarga."

Kalimat terakhir itu membuat Zafran membeku.

Tatapannya berubah.

Untuk pertama kalinya sejak pulang...

Ada sesuatu yang menyerupai rasa bersalah muncul di wajahnya.

"Kamu pikir Abah nggak tahu?" tanya Rayyan.

"Laci itu kosong."

"Perhiasan Ibu juga hilang."

Haseena spontan menoleh ke arah Zafran.

Dadanya berdegup semakin cepat.

"Bang..."

"Benarkah...?"

Zafran mengepalkan kedua tangannya.

Namun ia tetap memilih diam.

Rayyan menahan napas.

"Abah nggak peduli soal uangnya."

"Yang Abah pedulikan..."

"Kenapa kamu harus pergi sendirian?"

Keheningan kembali memenuhi rumah.

Tak ada satu pun dari mereka yang mampu memecahnya.

Hanya suara detak jam dinding yang terdengar pelan.

Tik...

Tik...

Tik...

Di dalam rumah itu...

Tiga orang yang sama-sama kehilangan orang tercinta kini justru saling menyalahkan.

Dan tanpa mereka sadari...

Retakan kecil yang selama ini muncul di dalam keluarga itu perlahan berubah menjadi jurang yang semakin sulit dijembatani.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!