NovelToon NovelToon
Istri Yang Kau Sebut Mandul, Kini Menjadi Ratu

Istri Yang Kau Sebut Mandul, Kini Menjadi Ratu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: @Pipin

Ditinggalkan tanpa harta yang sebenarnya adalah haknya, membuat Shella tidak mempunyai apapun, tapi siapa sangka, dia malah di dekati oleh pria yang lebih berkuasa dari suami lama nya, yang sudah ditemani nya sejak NOL..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Pipin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua dunia yang berbeda

"Ya ampun, Mbak Shella! Hahaha!"

Tawa Nia pecah seketika di trotoar yang sepi itu. Suara tawanya begitu renyah dan keras, seolah-olah rasa sakit dan lemas akibat demam yang ia rasakan sejak seminggu lalu menguap tuntas begitu saja, luruh oleh kalimat penutup dari mulut racun teman barunya itu.

"Ck, lagian bagaimana aku tidak berpikir kalau dia itu penganut sekte pelangi?" seloroh Shella berapi-api, merapikan tasnya dengan dongkol.

"Kamu tidak lihat tadi bagaimana dia memusuhi wanita sepertiku? Padahal kalau di luar sana, speksifikasi bentukan seperti aku ini diperebutkan oleh banyak lelaki, loh! Waras tidak dia?"

Nia masih memegangi perutnya yang kram karena terlalu banyak tertawa. "Tapi setahu aku, Pak Reygan itu normal, Mbak..."

"Halah, palingan itu cuma tameng kosmetik doang buat menutupi dosa aslinya. Yakin aku, di balik jas mahalnya yang sok steril itu, aslinya dia hobi adu mekanik sesama pria di ranjang. Pedang ketemu pedang!" tuding Shella asal jiplak dengan wajah super serius.

Nia kembali terbahak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya heran. Bersamaan dengan itu, sebuah angkutan umum kosong melintas di depan mereka. Nia segera mengangkat tangannya untuk menyetop mobil tersebut, lalu naik ke pintu belakang.

Sebelum angkot itu melaju, Nia melongokkan kepalanya dari jendela dan melambaikan tangan.

"Mbak Shella! Semoga besok pagi kamu tidak langsung dapat surat pemecatan ya!" sorak Nia setengah meledek.

Shella hanya mengangguk pasrah sambil mengacungkan jempolnya. "Tenang saja! Lambungku punya daya tahan yang kuat untuk menghadapi bos cabe-cabean!"

Jarak dari restoran ke rumah kontrakan barunya sebenarnya tidak terlalu jauh, hanya sekitar sepuluh menit jika ditempuh dengan berjalan kaki.

Anggap saja sekalian membakar kalori dan lemak-lemak jahat dari tubuhnya, hibur Shella dalam hati, mencoba melipur lara kemiskinannya.

Langkah kaki Shella terhenti di sebuah persimpangan jalan karena lampu penyeberangan masih berwarna merah. Jalanan ibu kota malam itu cukup padat oleh kendaraan mewah. Shella berdiri di tepi trotoar, memeluk tubuhnya sendiri karena embusan angin malam yang mulai menembus kardigan tipisnya.

Tepat di barisan paling depan lampu merah, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam metalik berhenti. Shella sangat mengenali pelat nomor dan jenis mobil itu—itu mobil Bramantyo.

Melalui kaca mobil yang tidak terlalu gelap, Shella bisa melihat dengan jelas pemandangan di dalam sana. Bramantyo sedang menyetir dengan satu tangan, sementara tangan kirinya sibuk mencubit gemas pipi Saskia. Di sampingnya, Saskia tertawa manja, lalu bersandar mesra di bahu pria yang dulu jadi miliknya.

Mereka berdua terlihat sangat bahagia. Sangat kontras dengan Shella yang kini berdiri di pinggir jalan bak anak hilang.

Dada Shella berdenyut nyeri untuk sesaat, namun kali ini tidak ada air mata yang menetes. Rasa sedihnya telah bertransformasi menjadi bahan bakar dendam yang membara. Jemarinya mengepal kuat di dalam saku kardigan.

'Tertawalah selagi kalian bisa... karena aku bersumpah, suatu hari nanti, aku akan berdiri di tempat yang jauh lebih tinggi dari kalian. Aku akan jauh lebih bahagia, sampai tawa kalian berubah menjadi tangisan darah!'

PIIIP!

Lampu hijau menyala, dan mobil mewah itu melesat pergi.

Shella mengembuskan napas panjang, menenangkan detak jantungnya yang sempat berpacu cepat. Ia kemudian menunduk, menatap sebuah kantong plastik putih yang sejak tadi setinggi dada ia dekap erat-erat.

Di dalam plastik itu, ada sebuah wadah makanan berisi lauk sisa restoran yang tadi siang sengaja ia minta izin kepada Pak Anto untuk dibawa pulang. Isinya masih sangat layak—sepotong ayam bakar madu berukuran besar dan tumis sayur yang belum tersentuh.

Setidaknya, harga dirinya yang hancur malam ini terbayar dengan jaminan perut kenyang untuk sarapan besok pagi.

"Untung tadi aku tidak gengsi membawa pulang lauk sisa ini. Lumayan sekali untuk menghemat pengeluaran esok hari," gumam Shella, kini dengan senyum tulus yang tersungging di bibirnya. "Ayo pulang, Shella! Besok kamu harus bangun pagi untuk menghadapi si Tuan CEO Mulut Cabe!"

1
Lili Inggrid
lanjut..
Pipin: mksih udh mmpir kk, siap ☺
total 1 replies
𝓮𝓵𝓯𝓪𝓷𝓪𝔂𝓪 ₳ⱤⱤ₣₳₳ 🕸🌪
semoga shella dpt yg lebih² segalanya dari reygan
Pipin: Kedepan kita liat alur nya kak 😍
total 1 replies
𝓮𝓵𝓯𝓪𝓷𝓪𝔂𝓪 ₳ⱤⱤ₣₳₳ 🕸🌪
shella shella bucin emang bikin orang bego sih
Pipin: Dmana aja sama kk 😂
total 1 replies
Adinda
semoga shella didekatin CEO ganteng biar Reagan cemburu
Pipin: kwkwkwk, apa msukin tokoh lain ya 😍
total 1 replies
Firmahadi
halo bos ku izin mampir
Pipin: hallo
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!