NovelToon NovelToon
The Reasons

The Reasons

Status: tamat
Genre:Angst / Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di balik gemerlapnya Los Angeles, Lara Giger (24) terjebak dalam neraka pernikahan bersama suaminya yang posesif dan manipulatif, Billy Davidson (29). Setiap malam tubuhnya disiksa, namun Lara memilih pasrah.
Alih-alih melarikan diri, Lara memilih bertahan di bawah siksaan suaminya demi menghindari caci maki keluarga besarnya yang sejak lama melabelinya sebagai "Anak Sial" dan pembawa petaka jika ia bercerai.

Namun, rahasia masa lalu perlahan mengusik belenggu pernikahan itu.

Di universitas tempatnya belajar, Lara harus berhadapan dengan Darion Vale Knight (25), dosen hukum muda sekaligus pria masa lalu yang memegang komitmen dengannya.

Darion, yang menyadari luka-luka fisik dan batin Lara, bertekad menggunakan keadilan hukum untuk membebaskannya. Sementara itu, Lara terus berjuang mendorong Darion menjauh demi melindunginya dari "kesialan" dirinya.

Di antara jeratan obsesi kejam sang suami dan perlindungan tulus sang mantan kekasih, mampukah Lara merobek sangkar emas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#19

Tiga minggu berlalu sejak pena di jemari Lara membubuhkan garis terakhir di atas berkas perceraiannya. Hari ini, Los Angeles disambut oleh langit biru yang bersih tanpa awan, membiaskan sinar matahari pagi yang hangat ke atas hamparan rumput hijau di kawasan elit Beverly Hills.

Kediaman utama keluarga Vale-Knight berdiri megah namun memancarkan kehangatan yang kontras dengan dinding-dinding dingin nan kaku milik kondominium Billy dulu.

Di area belakang rumah, sebuah greenhouse—rumah kaca bergaya Victoria yang dipenuhi berbagai tanaman bunga mawar, hidrangea, dan ivy yang merambat—menjadi tempat favorit baru bagi Lara Giger.

Lara berdiri di dekat meja kayu rustic di dalam rumah kaca itu. Ia mengenakan gaun katun longgar berwarna krem yang lembut, membiarkan rambut panjangnya terurai dan tertiup angin sepoi-sepoi yang masuk melalui ventilasi atas.

Memar di wajahnya telah pudar sepenuhnya, menyisakan kulit mulusnya yang kembali bercahaya. Meski rasa ngilu di tulang rusuknya sesekali masih muncul jika ia memutar tubuhnya terlalu cepat, stamina fisiknya telah pulih hampir delapan puluh persen.

Di tangannya, sebuah gunting tanaman berukuran sedang bergerak lincah merapikan tangkai-tangkai bunga mawar merah muda.

"Aku sudah menebak kau pasti ada di sini," suara bariton yang teramat dihafalnya bergema dari arah pintu kaca.

Lara menoleh dan menyunggingkan senyuman hangat. Darion melangkah masuk dengan gaya kasual yang jarang ia tunjukkan di luar rumah—kaus rajut tipis berwarna abu-abu dan celana kain santai.

Pria itu menenteng sebuah nampan kayu berisi dua cangkir teh chamomile dan piring kecil berisikan kue tart buah hasil buatan Mommy Suzzy tadi pagi.

"Dokter Elena bilang aku harus banyak menghirup udara segar dan melakukan aktivitas ringan," sahut Lara seraya meletakkan gunting tanamannya di atas meja. "Lagipula, berada di antara bunga-bunga ini jauh lebih menyenangkan ketimbang terus-menerus berbaring di kamar."

Darion meletakkan nampan itu di atas meja kayu di tengah rumah kaca, lalu menghampiri Lara. Tanpa ragu, pria itu melingkarkan kedua tangannya dengan lembut di pinggang Lara dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu wanita itu.

Aroma maskulin khas kayu cendana berbaur dengan wangi kopi dan sabun mandi hangat langsung menyergap indra penciuman Lara, memberikan rasa aman yang instan.

"Bagaimana sesi terapimu dengan Dokter Elena kemarin sore?" bisik Darion pelan di dekat telinga Lara, meresapi kehangatan tubuh wanita di pelukannya.

Lara menyandarkan kepalanya ke dada bidang Darion, membiarkan jemari tangannya mengusap lengan berotot pria itu.

"Luar biasa," jawab Lara jujur. "Dokter Elena membantuku memetakan sisa-sisa kilas balik PTSD yang kadang muncul saat aku mendengar suara pintu terbanting keras. Dia bilang, refleks ketakutanku adalah hal yang sangat wajar bagi seseorang yang bertahan dari dua tahun trauma penganiayaan. Tapi yang terpenting... aku tidak lagi merasa bersalah atas apa yang terjadi."

Darion mempererat dekapannya sedikit, mengecup leher Lara dengan lembut. "Kau memang tidak pernah bersalah, Lara. Kau adalah penyintas, bukan penyebab."

Lara berbalik di dalam pelukan Darion, menatap lurus ke dalam manik mata cokelat gelap pria itu. Binar mata Lara kini memancarkan kedalaman jiwa yang baru—bukan lagi wanita muda yang hancur dan bersembunyi di balik ketakutan, melainkan seorang perempuan dewasa yang telah melewati neraka dan keluar sebagai pemenang.

"Darion," panggil Lara dengan nada suara yang berubah menjadi lebih serius dan mantap.

"Hm?"

"Aku ingin mulai menata karirku kembali," ucap Lara tanpa ragu. "Aku tidak ingin masa laluku sebagai 'korban' menjadi satu-satunya identitas yang melekat padaku. Selama dua tahun ini, Billy mengunci seluruh akses pendidikan dan mimpiku. Sekarang, setelah aset dan kebebasanku kembali... aku ingin melanjutkan pendidikan magisterku di bidang hukum perlindungan perempuan dan anak."

Mendengar hal itu, mata Darion berbinar terang. Sebuah rasa bangga yang luar biasa meluap di dalam dadanya. Pria itu mengecup kening Lara dengan durasi yang lama, menyalurkan seluruh dukungan murni yang ia miliki.

"University of Southern California punya program pascasarjana terbaik untuk spesialisasi itu," pangkas Darion dengan senyuman lebar. "Dan jika kau butuh dosen pembimbing terbaik... kau sedang memeluknya sekarang."

Lara terkekeh merdu, sebuah tawa lepas yang kini sering menghiasi harinya. "Kau akan menjadi dosen pembimbing yang sangat nepotis, Profesor Knight."

"Aku tidak peduli," sahut Darion jenaka, lalu menarik lembut tangan Lara menuju kursi kayu di dekat meja teh. "Mari kita nikmati teh ini sebelum Mommy datang dan mengomeli kita karena membiarkan kue buatannya dingin."

Namun, ketenangan di dalam rumah kaca itu tidak berlangsung lama tanpa menyentuh realitas di luar sana.

Sekitar tiga puluh menit kemudian, Daddy Kaelor melangkah masuk ke dalam rumah kaca. Pria paruh baya itu mengenakan setelan jas lengkap, menenteng sebuah dokumen tebal dan iPad korporat di tangannya. Raut wajahnya tampak serius namun memancarkan kepuasan yang dingin.

"Daddy," panggil Darion seraya berdiri dari kursinya. "Ada perkembangan baru dari pengadilan?"

Kaelor mendudukkan dirinya di kursi kosong di hadapan Lara, mematikan layar iPad-nya dan meletakkannya di atas meja.

"Aku baru saja kembali dari rapat pemegang saham darurat Davidson Group bersama tim kurator independen," ujar Kaelor dengan suara tegasnya. "Perusahaan itu dalam kondisi kekacauan total."

Lara menaikkan alisnya, mendengarkan dengan seksama. "Apa yang terjadi pada Davidson Group?"

Kaelor menyunggingkan senyuman tipis yang tajam. "Publikasi luas mengenai kasus penganiayaan berat dan skandal perselingkuhan yang dilakukan Billy secara langsung menghancurkan nilai saham perusahaan mereka sebesar empat puluh lima persen hanya dalam waktu dua minggu. Para investor utama mencabut modal mereka secara massal. Ditambah lagi dengan keputusan hakim yang menyita lima puluh persen saham pribadi Billy untuk dialihkan ke atas namamu..."

Kaelor menatap Lara dengan binar kebanggaan. "...secara hukum, Lara, kau kini memegang hak suara mayoritas penentu dalam dewan direksi Davidson Group."

Lara tertegun sejenak. "Aku... pemegang saham mayoritas?"

"Tepat sekali," sambung Darion yang ikut tersenyum miring di sampingnya. "Si brengsek itu mengira dia bisa mengontrol seluruh hidupmu dengan uang dan kekuasaannya. Sekarang, roda berputar sempurna. Kau tidak hanya memegang kebebasanmu, tapi kau juga memegang tampuk kekuasaan atas perusahaan yang pernah ia banggakan."

Kaelor mendorong iPad di meja ke arah Lara, menampilkan draf restrukturisasi perusahaan. "Para direksi senior yang tersisa memohon audiensi darimu pekan depan. Mereka ingin kau menyetujui pemecatan permanen Billy Davidson dari posisi CEO dan mengganti nama entitas bisnis tersebut agar bisa menyelamatkan ribuan karyawan yang terancam PHK."

Lara memandangi layar iPad tersebut. Perasaan yang merayap di dadanya bukanlah rasa dendam yang liar, melainkan sebuah kepuasan atas keadilan mutlak.

Pria yang dulu memperlakukannya seperti barang milik yang bisa dipukuli dan diinjak-injak, kini tidak hanya berada di balik jeruji besi, tetapi juga harus menyaksikan seluruh warisan dan kejayaannya diserahkan langsung ke tangan wanita yang pernah ia siksa.

"Aku akan menghadiri rapat direksi itu pekan depan," tegas Lara, suara dan tatapan matanya mengeras penuh otoritas. "Tapi aku tidak akan menjual saham itu. Aku akan mengubah Davidson Group menjadi yayasan dan entitas bisnis yang berfokus pada pendanaan panti asuhan, lembaga bantuan hukum korban KDRT, dan pemulihan trauma perempuan."

Darion menatap Lara dengan rasa kagum yang kian membuncah. Pria itu meremas lembut bahu Lara. "Keputusan yang sangat berani dan elegan, Lara. Kau mengubah bekas luka menjadi perlindungan bagi orang lain."

"Lalu," tambah Kaelor seraya mengambil cangkir tehnya, "bagaimana dengan sidang pidana utama Billy yang akan digelar dua minggu lagi?"

"Tim jaksa penuntut umum telah menolak seluruh memori pembelaan dari pengacaranya," jawab Darion dingin. "Dengan seluruh bukti visum, rekaman medis, serta tuntutan tambahan mengenai penganiayaan berencana, kami menuntut hukuman maksimal lima belas tahun penjara tanpa remisi."

Lara menarik napas panjang, meresapi setiap kabar pergerakan keadilan tersebut.

Bayangan penjara dingin yang kini mengurung Billy, serta masa depan cerah yang terhampar di hadapannya bersama Darion dan keluarga Vale-Knight, meyakinkannya bahwa badai terhebat dalam hidupnya telah benar-benar berlalu.

Di dalam rumah kaca yang dipenuhi wangi mawar merekah, di bawah lindungan pria yang mencintainya tanpa syarat, Lara Giger siap melangkah memasuki babak puncak pertarungannya: berdiri tegak di ruang sidang untuk menutup rapat buku masa lalunya selamanya.

1
Mita Paramita
jangan seneng dan bahagia dulu lara🫣 mungkin aja nanti Billy kabur dari penjara terus menculik dan memisahkan lara & dorian🤣🤣🤣
Rosdianah 🌷: kak reader paling bisa deh🤭🫶
total 1 replies
nayla tsaqif
Takut banget billy kabur, trus menyakiti lara,, 😬
FoxVault
Cerita nya sangat seru kak 😁
Rosdianah 🌷: ma'aciww kak🥰
total 1 replies
Mia Camelia
kenapa kisah cinta keluarga knight selalu ber liku liku berkelok kelok meliuk liuk🤔🤔🤔
jadi gemes nih baca nya thor
Rosdianah 🌷: hihihi maaf ya kak🤭🤣
total 1 replies
Mia Camelia
keluarga knight , sukses semua ya thor...
ada pebinis, pembalap, doesen muda🥰🥰🥰kalo ini ada di dunia nyata, pasti sempurna banget nih🤔😄
Rosdianah 🌷: Lancar halu Author 🤣
total 1 replies
Mia Camelia
jangan2 billy punya 2 kepribadian kali nih🤔🤔🤔masa gampang banget berubah2 nya🤣🤣🤣haduh kasian lara😔
Rosdianah 🌷: huhuhu🥲
total 1 replies
Mia Camelia
ya ampun ini kejam sekali billy😂😂😂
Rosdianah 🌷: Modal gampar🥲
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!